Hadis Qudsi

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dari Hadits Qudsi)
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

Hadits Qudsi (bahasa Arab: الحديث القدسي, translit. al-ḥadīṡ al-qudsīHarkan kepada Tuhannya. Secara sederhana dikatakan hadits qudsi adalah perkataan Nabi Muhammad, tentang wahyu Allah yang diteriadits Qudsiy) salah satu jenis hadits di mana perkataan Nabi Muhammad disandarkan kepada Allah atau dengan kata lain Nabi Muhammad meriwayatkan perkataan Allah.[1]

Etimologi[sunting | sunting sumber]

Hadits ( الحديث ) Segala yang dinisbahkan kepada Nabi Muhammad, baik berupa ucapan, perbuatan, persetujuan, atau karakter, kemudian Qudsi ( القدسي ) secara bahasa diambil dari kata quddus, yang artinya suci. Disebut hadis qudsi, karena perkataan ini dinisbahkan kepada Allah, القدس al-Quddus, yang artinya Dzat Yang Maha Suci.

Secara istilah (terminologis) adalah sesuatu (hadits) yang dinukil kepada kita dari Nabi Muhammad yang disandmanya secara langsung, atau dengan perantaraan malaikat Jibril.

Perbedaan antara hadits qudsi dan al-Qur`an[sunting | sunting sumber]

Terdapat perbedaan yang banyak sekali antara keduanya, di antaranya adalah:

  1. Al-Quran Al-Karim adalah kalamullah yang diwahyukan kepada Rasulullah ﷺ dengan lafazh-Nya.
  2. Al-Quran al-Karim dinisbahkan hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sedangkan hadits Qudsi kadang diriwayatkan dengan disandarkan kepada Allah Ta’ala.
  3. Al Quran semuanya mutawatir, sedangkan hadits qudsi hukumnya bermacam-macam
  4. Al-Quran lafazh dan maknanya dari Allah. Sedangkan Hadits Qudsi makna dari Allah, sementara lafazh dari Rasulullah ﷺ
  5. Membaca al-Quran merupakan ibadah, sedangkan pahala membaca hadits qudsi bersifat umum.
  6. Al-Quran tidak disentuh kecuali oleh orang yang telah bersuci sedangkan hadits qudsi bisa disentuh orang yang dalam keadaan suci maupun tidak.
  7. Diharamkan meriwayatkan al-Quran secara makna. Adapun hadits qudsi tidak diharamkan meriwayatkan secara makna.
  8. Satu kalimat dari al-Quran al-Karim dinamakan ayat dan sejumlah ayat dinamakan surat. sedangkan hadits-hadits qudsi tidak dinamakan sebagiannya dengan ayat maupun surat berdasarkan kesepakatan para ulama.
  9. Disyariatkan untuk menyatukan antara mambaca ta’awudz dan basmalah saat membaca al-Quran namun tidak demikian halnya dengan hadits qudsi. [Dirosat fi ulumil quran, Fahd Ar-Rumi, hal. 23-24][2] Sumber Terjemahan [3]

Jumlah hadits qudsi[sunting | sunting sumber]

Dibandingkan dengan jumlah hadits-hadits nabi, maka hadîts qudsi bisa dibilang tidak banyak. Jumlahnya ada 4444, tetapi tidak banyak yang mengetahui, umumnya kurang lebih 200 hadits yang diketahui secara umum.

Karena Hadits qudsi sebenarnya adalah untuk Muhammad sebagai pribadi nabi, bukan sebagai rosul, maka nabi pun "pilih-pilih" dalam memberikannya kepada sahabat-sahabatnya. Hanya sahabat-sahabat terpilih yang mempunyai kecerdasan tinggi saja yang menerimanya. Karena memang Hadits qudsi bukan untuk konsumsi umum. Sampai sekarang pun masih banyak kalangan umat Islam yang tak mampu menerima "kebenaran" hadits qudsi. Tinggi kandungan "isi"-nya adalah penyebabnya. Hanya sahabat-sahabat khusus saja yang menerima hadits qudsi dari Nabi Muhammad, semisal Sayyidina Ali bin Abu Tholib dan sahabat Abu Hurairah.

Lafazh-Lafazh periwayatannya[sunting | sunting sumber]

Bagi orang yang meriwayatkan hadits qudsi, maka dia dapat menggunakan salah satu dari dua lafazh-lafazh periwayatannya:

  1. Rasulullah ﷺ pada apa yang diriwayatkannya dari Rabb-nya 'Azza Wa Jalla
  2. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, pada apa yang diriwayatkan Rasulullah ﷺ dari-Nya

Contoh hadits-hadits qudsi sebagai berikut:

  1. "Aku adalah sekutu yang paling tidak memerlukan persekutuan. Barangsiapa melakukan suatu amalan kemudian dia mempersekutukan diri-Ku dengan yang lain, maka Aku akan meninggalkannya dan meninggalkan sekutunya." Dalam riwayat yang lain disebutkan: "Maka dia akan menjadi milik sekutunya dan Aku berlepas diri darinya."
  2. Dari Abu Hurairah dari Rasulullah ﷺ yang meriwayatkan dari Allah Azza wa Jalla: '"Tangan Allah penuh, tidak dikurangi lantaran memberi nafkah, baik di waktu siang maupun malam."'
  3. Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah ﷺ berkata: '"Allah ta`ala berfirman: Aku menurut sangkaan hamba-Ku terhadap-Ku. Aku bersamanya bila ia menyebut-Ku. Bila menyebut-Ku di dalam dirinya, maka Aku pun menyebutnya di dalam diri-Ku, dan bila ia menyebut-Ku di kalangan orang banyak, maka Aku pun menyebutnya di dalam kalangan orang banyak lebih dari itu."'

Buku mengenai hadits qudsi[sunting | sunting sumber]

Di antara buku yang paling masyhur mengenai hadits qudsi adalah kitab Al-Ithâfât as-Saniyyah Bi al-Ahâdîts al-Qudsiyyah karya 'Abdur Ra`uf al-Munawiy. Di dalam buku ini terkoleksi 272 buah hadits. Sebenarnya hadits qudsi tidak pernah dibukukan (kodifikasi) secara resmi, sebagaimana Al Qur'an yang dibukukan secara resmi pada zaman Khalifah Utsman dengan nama Al Qur'an Mushaf Utsmani (yang berarti jika ada Al Qur'an di luar itu maka itu adalah Al Qur'an palsu). Yang ada Hadits qudsi tersimpan pada pribadi-pribadi sahabat nabi dan disampaikan lewat mulut ke mulut. Karena "isinya" yang tinggi, hadits qudsi tercecer hanya pada sahabat-sahabat khusus saja, yang menyimpannya bagi dirinya sendiri dan kemudian menurunkannya pada orang-orang tertentu pula. Sebagaimana Abu Hurairah berkata, "Aku menerima sekantung ilmu dari rosululloh. Separuh kantung aku bagikan kepada kamu semua dan separuhnya lagi aku simpan buat aku sendiri. Karena jika yang separuh lagi itu aku bagikan juga, niscaya kalian akan mengkafirkanku dan menggantungku."

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]

Catatan kaki[sunting | sunting sumber]

  1. ^ "Glossary of Islamic Terms and Concepts, USC-MSA". Diarsipkan dari versi asli tanggal 2006-10-01. Diakses tanggal 2006-09-24. 
  2. ^ "الفرق بين القرآن والحديث القدسي". www.alukah.net (dalam bahasa Arab). 2018-11-04. Diakses tanggal 2021-09-16. 
  3. ^ "Pengertian Hadits Qudsi, Contoh & Perbedaannya Dengan Al Quran". PabrikJamMasjid.com (dalam bahasa Inggris). 2021-09-07. Diakses tanggal 2021-09-16. 

Rujukan[sunting | sunting sumber]

  1. Taysîr Musthalah al-Hadits, karya DR.Mahmûd ath-Thahhân, h.127-128
  2. Ilmu Hadits (Bagian 3): Ringkasan Penjelasan Hadîts Qudsiy Diarsipkan 2016-03-06 di Wayback Machine.- di Situs www.mediamuslim.info
  3. http://arsipmoslem.wordpress.com/2007/02/16/ilmu-hadits-bagian-3-ringkasan-penjelasan-hadits-qudsiy/
  4. http://smeedo.com/blog/kumpulan-hadist-qudsi/ Diarsipkan 2012-03-14 di Wayback Machine.