Gusti Jamhar Akbar

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Gusti Jamhar Akbar
Gusti Jamhar Akbar.jpg
Nama lain Kai Jamhar
Lahir 7 November 1942 (umur 76)
Bendera Indonesia Alalak, Indonesia
Pekerjaan seniman
Pasangan Nur Asia (Chen Kwan Chen)
Anak Nur Aina
Ruwaida
Mahrita
Pansurna
Aminin
Mursalin
Orang tua Raden Rosmono (ayah)
Gusti Ardiani (ibu)

Gusti Jamhar Akbar (lahir di Alalak, Kalimantan Selatan, 7 November 1942; umur 76 tahun) adalah seniman Indonesia, khususnya dalam bidang seni bertutur, yakni Lamut[1].

Dialah seniman yang sampai sekarang setia balamut (memainkan seni lamut). Jamhar menjadi pelamutan (orang yang menyampaikan cerita lamut) sejak umur 10 tahun. Ia menekuni kesenian ini selama 54 tahun. Kepandaian balamut dia dapatkan karena sejak kecil selalu diajak bapaknya bermain lamut.

Dalam keluarga Jamhar, kesenian ini diwariskan secara turun-temurun. Dia adalah keturunan keempat. Pertama kesenian lamut dikuasai oleh datunya (buyut), Raden Ngabe Jayanegara dari Yogyakarta. Raden Ngabe belajar lamut saat menjadi utusan Kerajaan Banjar yang bertugas di Amuntai, kini ibu kota Kabupaten Hulu Sungai Utara[1].

Masa keemasan Jamhar mulai tahun 1960-an hingga 1985-an. Saat itu, setiap kali ia memainkan lamut, penonton berdesakan. Mereka tak beranjak semalam suntuk mendengarkan kisahnya. Pada masa itu hampir setiap malam ia diundang warga untuk balamut. Undangan tak hanya di Kalsel, tetapi dia berlamut sampai ke Jakarta, Surabaya, dan beberapa kota di Kalimantan Tengah.

Pada masa itu Jamhar hanya bisa istirahat pada malam jumat. Cerita lamut yang dibawakan Jamhar bisa dimainkan bersambung selama 27 malam. Cerita dia kembangkan berdasarkan perjalanan hidupnya.

Belakangan ia hanya balamut untuk satu malam, selama sekitar lima jam. Dalam balamut, ia sisipkan pesan moral, kritik, dan saran. "Kini yang mengundang lamut sudah jarang, sebulan paling banyak tiga," tutur pelamutan yang pernah menerima honor Rp 1 juta setiap sekali main ini.

Di Banjarmasin, selain Jamhar, Gusti Nafsiah yang tinggal di Kampung Melayu juga bermain teater tutur ini. Nafsiah pernah ikut dengan Jamhar sebelum bermain sendiri.

Seni lamut bisa dikatakan bernasib malang karena kini di ambang punah. Satu per satu pelamutan meninggal dunia, sementara proses pewarisan dan regenerasi kesenian itu mandek. Seni berkisah itu juga semakin ditinggalkan karena generasi muda tak lagi tertarik memainkannya. Karena itulah, meski sudah tua, Jamhar terus memainkan lamut di Radio Republik Indonesia (RRI) Banjarmasin, setiap Jumat malam. Kegiatan ini ia jalani dalam dua tahun terakhir. Sebelumnya, Jamhar juga balamut di Radio Nirwana, Banjarmasin, selama enam tahun.

Jamhar mengibaratkan lamut sebagai anak tiri yang tersisihkan. Pada 1982 di Kalsel ada 112 pelamutan. Kala itu, Jamhar, yang berusia 40 tahun, termasuk pelamutan muda. Kini, tak ada organisasi atau lembaga yang peduli kepada lamut, apalagi membina munculnya pelamutan baru.

Lamut semakin meredup seiring masuknya berbagai musik modern. "Lamut makin ditinggalkan orang setelah karaoke sampai ke desa-desa. Di Banjarmasin hanya saya dan Gusti Nafsiah. Salah satu anak saya masih malu memainkannya," ucapnya. "Hanya satu-dua jam saya balamut. Warga harus tahu lamut masih ada. Kesenian ini sangat berharga bagi Kalsel," kata Jamhar yang mendapat honor siaran Rp 350.000 per bulan.

Kehidupan pribadi[sunting | sunting sumber]

Kehidupan Kai Jamhar, panggilan Gusti Jamhar Akbar, memang sederhana. Pria berbadan kurus ini tinggal di permukiman padat. Untuk sampai ke rumahnya di Gang Mujahid Aman, Kelurahan Alalak Selatan, Kecamatan Banjar Utara, Banjarmasin, Kalimantan Selatan, orang harus jalan perlahan karena hanya bisa dilewati satu sepeda motor.

Di rumah kayu itu tak ada meja makan. Jamhar menerima tamu dengan duduk di lantai di ruang tamu. Maklum, kursi tamu plastik yang tersedia hanya dua. Di ruang itu terpasang foto Raden Rosmono, bapaknya, serta tiga piagam penghargaan yang diterima Jamhar. Kondisi yang kontras dengan peran besarnya dalam pelestarian kesenian tradisional Kalsel.

Lamut juga digemari warga keturunan Tionghoa di Banjarmasin. Mereka kerap minta lamut dimainkan saat hendak sembahyang di Pulau Kembang di tengah Sungai Barito di Banjarmasin.

"Mereka gemar mendengar cerita Bujang Maluwala karena ada kisah perkawinan dengan orang China," kata Jamhar yang beristri keturunan China dan penggemar lamut juga.

Referensi[sunting | sunting sumber]