Gereja Pentakosta Indonesia

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari

Gereja Pentakosta Indonesia adalah sebuah kelompok gereja Kristen di Indonesia yang berawal di daerah Tapanuli, provinsi Sumatera Utara. Merupakan perkembangan dari Gereja Pentakosta Tanah Batak Tapanuli dan Gereja Pentakosta Sumatera Utara. Tidak termasuk ke dalam jaringan Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI).

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Sejarah Gereja Pentakosta Indonesia tidak dapat dipisahkan dari riwayat pendirinya yaitu Pendeta (Pdt.) Evangelis Renatus Siburian. Pendeta Siburian adalah satu-satunya pioner gerakan Pentakosta yang paling berhasil dan pertama di daerah Tapanuli Utara khususnya dan kemudian Sumatera Utara. Perjuangannya menyebarkan Injil dari hanya seorang tamatan Sekolah Alkitab yang bersaksi dari rumah ke rumah, dari dusun ke dusun diberkati Tuhan menjadi ratusan ribu orang yang telah diselamatkan dan puluhan organisasi gereja aliran Roh Kudus yang independen di Sumatera Utara.

Tahun 1938[sunting | sunting sumber]

Di akhir tahun 1938 Pdt. Siburian menginjil dan membuka gereja di Berastagi, tetapi mendapat halangan dari Pemerintah Belanda karena besleit atau izin untuk menginjil belum juga dikeluarkan oleh Gubernur General. Setelah mendapat halangan dari Pemerintah Belanda di Berastagi, Pendeta Siburian pindah ke kota Medan, ibukota provinsi Sumatera Utara untuk menginjil. Hanya beberapa bulan di sana banyak yang telah bertobat dan berhasil membuka siding yang semua anggotanya terdiri dari orang Tionghoa. Di sini pemerintah Belanda kembali memanggil Pendeta Siburian dan menyatakan bahwa dia tidak boleh membuka siding di kota itu karena besleit (izin) penginjil tidak ada atau belum keluar dari Gubernur.

Tahun 1939[sunting | sunting sumber]

Oleh karena tekanan Pemerintah Belanda pada Pdt. Siburian sedah begitu gencar, maka Pdt. Siburian pindah ke satu kota kecil bernama Kisaran, dan bekerja sebagai guru agama di gereja HCB (Huria Christian Batak), satu gereja beraliran Protestan. Dengan demikian dia dapat melakukan kegiatan penginjilannya di sekitar daerah itu dengan gerakan Roh Kudus di daerah Asahan dan Labuhan Batu. Bahkan pada saat itu banyak orang yang dibaptiskannya (baptisan selam) termasuk beberapa anggota gereja HCB tadi.

Tahun 1941[sunting | sunting sumber]

Oleh karena merasa gerakan penginjilannya terbatas di daerah tersebut lebih sebagai guru agama HCB, maka dia menuju kota Balige di Tapanuli Utara, dan mulai mengadakan gerakan penginjilan di daerah itu. Kemudian daripada itu Pendeta Simanjuntak dating dan dia bekerjasama dengan Pendeta Siburian. Sementara itu izin dari Gubernur General tidak dapat diharapkan lagi bias diterima oleh Pendeta Siburian sebab Pemerintah Belanda telah mencapnya sebagai Nasionalist, yang pada waktu itu sangat dibenci oleh Belanda. Sampai saat itu Pendeta Siburian belum lagi membuka organisasi agama walaupun sebenarnya orang yang bertobt sudah demikian banyak.

Pada mulanya Pendeta Siburian beranggapan bahwa tidak perlu untuk membuka organisasi agama, yang penting adalah menginjil. Tetapi masalah yang timbul adalah bahwa orang-orang yang telah bertobat tadi yang telah dibabtis yang jumlahnya sudah ribuan orang , tidak mempunyai tempat peribadahan yang tetap. Sebab sudah sudah tentu tidak diterima lagi di dalam gereja asalnya kalau dahulu mereka mempunyai gereja asal. Demikian juga bagi mereka yang bertobat dari sipelebegu (animisme), mereka menginginkan tempat tertentu unutk beribadah. Selain itu mereka yang telah bertobat tadi banyak yang sudah dikucilkan dari addat masyarakat kampung dan organisasi desa sebab mereka dianggap manusia aneh, dengan cara mereka beribadah, tepuk tangan dalam puji-pujian, berdoa dengan suara yang kuat, dan lebih mementingkan pekerjaan Tuhan dari lainnya. Hal yang baru ini belum dapat diterima banyak orang pada waktu itu. Sehingga pengucilan kepada orang-orang lahir baru ini terjadi hampir di segala pelosok.

Tahun 1942[sunting | sunting sumber]

Barulah pada tahun ini Pendeta Siburian membentuk suatu organisasi keagamaan yang dinamakan "Gereja Pentakosta Tanah Batak Tapanuli". Ini dimungkinkan karena pada waktu itu adalah peralihan pemerintahan Belanda ke pemerintahan Jepang. Itulah sebabnya semasa hidupnya Pendeta Siburian berkata bahwa Kemerdekaan Indonesia baginya sangat mendalam sekali. Oleh karena kemerdekaanlah maka dia dapat hidup sebagai orang yang mempunyai hak untuk dapat menganut dan menjalankan tugas Injilnya dengan baik. Dan organisasi gereja ini adalah independent, tidak berafiliasi dengan organisasi lain. Ada yang beranggapan bahwa gereja ini berinduk kepada GPdI, tetapi hal ini tidak benar, sebab gereja yang dibentuk ini tidak pernah mendaftarkan diri kepadda organisasi lain. Ketuanyapun pada waktu pendirian organisasi gereja itu adalah Pdt. Renatus Siburian. Organisasi Gereja Pentakosta ini pertama kali didirikan di Paranginan, Tapanuli Utara.

Sejak itu penginjilan dengan nama Gereja Pentakosta ini mengembang sampai ke seluruh pelosok Tapanuli Utara. Boleh dikatakan tidak ada pelosok Tapanuli Utara yang tidak dijelajahi untuk menyebarkan Injil Yesus. Gereja ini berkembang dengan baik dan kemudian menyebar sampai ke Sumatera Timur. Pada waktu penyebaran Injil dan perkembangan gereja ini tidak sedikit percobaan. Pemerintah Jepang mulai dipengaruhi oleh orang-orang tertentu supaya Gereja Pentakosta ditutup saja, sebab dari satu Gereja yang didirikan sekarang sudah ratusan gereja yang dibuka. Dan ini terjadi pula di daerah Simalungun di mana banyak gereja di bawah pimpinan Pendeta Siburian ditutup oleh pemerintah Jepang, tetapi setelah Pendeta Siburian menghadap Gudsebu Pemerintahan Jepang kemudian diizinkan untuk membuka kembali.

Pengembangan penginjilan yang demikian pesat adalah ditunjang oleh banyaknya tanda-tanda heran dan mujizat yang terjadi di setiap kebaktian massal (KKR) maupun kebaktian rutin. Gereja ini berkembang menjadi Evangelical Church yang murni. Gereja tersebut berkembang menjadi gereja Injili yang fungsinya bukan lagi hanya menampung orang-orang percaya tetapi menjadi pusat gerakan penginjilan di seluruh Tanah Batak dan kemudian Sumatera Timur (sekarang masuk Sumatera Utara). Gereja ini tentu menjadi penggerak penginjilan pentakostawi.

Tahun 1944[sunting | sunting sumber]

Gereja Pentakosta Tapanuli ini mengadakan synode yang langsung dipimpin oleh Pdt. Renatus Siburian. Melihat perkembangan yang sudah melebar sampai luar Tapanuli (kabupaten) maka di synode itu diputuskan untuk mengganti nama gereja ini menjadi Gereja Pentakosta Sumatera Utara ("Sumatera Utara" adalah nama provinsi).

Tahun 1945[sunting | sunting sumber]

Pendeta Siburian mendaftarkan organisasi gereja ini ke Pemerintah Republik Indonesia di pulau Jawa melalui Jawatan agama Tapanuli/Pulau Jawa. Visi Pendeta Siburian mengenai gereja ini terbuka, ketika dia sadar bahwa gereja ini bisa berkembang ke segala pelosok. Pada mulanya dia berpikir bahwa gerakan ini hanya terjadi di sekitar Tapanuli saja. Namun Tuhan bermaaksud lain, dan ini dengan cepat disadari. Penginjilan ini tidak dapat dibatasi oleh garis perbatasan daerah, sebab penginjilan ini adalah untuk semua manusia.

Tahun 1948[sunting | sunting sumber]

"Gereja Pentakosta Sumatera Utara" mengadakan Synode (dipimpin oleh Pendeta Ev. R Siburian ) yang diadakan di kota Balige, Tapanuli Utara dan juga memutuskan nama "Gereja Pentakosta Sumatera Utara" menjadi "Gereja Pentakosta Indonesia", yang dipakai sampai sekarang. Belakangan hari ada orang yang memakai nama Organisasi Gereja Pentakosta Sumatera Utara, tetapi itu bukanlah lanjutan dari Gereja Pentakosta Sumatera Utara yang didirikan oleh Pendeta Siburian tetapi orang yang keluar atau memisahkan diri dari gereja pimpinan pendeta Siburian mendirikan gereja yang bernama tersebut.

Tahun 1950[sunting | sunting sumber]

Pendeta Siburian sebagai ketua Gereja ini, kembali mendaftarkan Organisasi Gereja ini ke pemerintahan Republik Indonesia di Jakarta dan mendapat Surat Pengukuhan dari menteri kehakiman dan Kementerian Agama di Jakarta.[1]

Tahun 1959[sunting | sunting sumber]

Rombongan Pendeta Siburian mengadakan kunjungan Penginjilan ke Pulau Nias sebuah pulau yang pada waktu itu ditempum empat hari naik kapal kecil lautan Hindia. mereka menginjil dan membuka Gereja disana bersama -sama dengan penduduk setempat antara lain Pendeta Harefa. Sekarang Gereja Pentakosta Indonesia ada 172 sidang di pulau tersebut.

Tanggal 20 Juni 1987[sunting | sunting sumber]

Hamba Tuhan Pendeta Evanggelis Renatus Siburian dipanggil oleh Tuhan Yesus di Sorga untuk beritirahat dari segala kesusahan dan perjuangan salibnya di atas bumi ini. Dia telah menyelesaikan pekerjaan dan panggilannya dengan baik dan penuh pengabdian. Dia meninggalkan begitu besar pekerjaan untuk jemaatnya, dan dia ingin agar jemaat yang ditinggalkannya dapat meneladaninya sebagaimana dia telah meneladani Kristus. Ketika upacara pengebumiannya diadakan, lebih dari 12.000 orang yang hadir dan ribuan orang yang hadir siang malam di rumah duka (selama 4 hari) untuk mengucapkan salam akhir mereka kepada Bapak Rohani umat Pentakosta.

Jemaat[sunting | sunting sumber]

Tahun 1987[sunting | sunting sumber]

Gereja Pentakosta Indonesia ketika Pdt. Ev. R. Siburian (Bapak Pendiri Gereja Pentakosta Indonesia) meninggal :

  • Jemaat sebanyak 670 sidang di 11 provinsi
  • Pendeta sebanyak 130 orang
  • Guru Injil, Sintua, Penginjil sebanyak 2500 orang

Tahun 2011[sunting | sunting sumber]

Gereja Pentakosta Indonesia pada tahun 2011 berjumlah 1117 Gereja dan di semua provinsi di Indonesia, bahkan dalam perkembangan selanjutnya, Gereja Pentakosta Indonesia segera akan mengembangkan misinya ke luar negeri.

Pengurus[sunting | sunting sumber]

Pengurus GPI 2011-2016

  • Ketua Umum  : Rev. DR. M.H Siburian, M.Min
  • Wakil Ketua 1  : Pdt. DR. B. Siburian, S.H,M.H,D.Th
  • Wakil Ketua 2  : Pdt. P. Silaban, S.E,M.Min
  • Seketaris  : Pdt. Drs. J. Manurung
  • Wasekjend 1  : Pdt. J. Silalahi, BE
  • Wasekjend 2  : Pdt. A. Tarigan, S.Th
  • Bendahara  : Pdt. Drs. J. W. Panjaitan
  • Wakil Bendahara 1  : Pdt. M. Rumapea
  • Wakil Bendahara 2  : Pdt. M. Sihombing
  • Pembantu Umum  :
    • Pdt.Ev.Drs.D.Rajagukguk (Koordinator)
    • Pdt. J. Sitanggang
    • Pdt. AY. Butar butar
    • Pdt. L. Lumban Tungkup
    • Pdt. DR. E. Rajaguguk
    • Pdt. D. Gultom
    • Pdt. CH. Simare-Mare, M.Si
    • Pdt. MT. Lumban Raja

Departemen[sunting | sunting sumber]

  • Departemen Pemuda : Pdt. Arifin Sihombing, M.Si
  • Departemen Wanita : Ny. Rev. DR. M.H Siburian br Sitompul, S.Th
  • Departemen Diakonia/Sosial : Pdt. E. Manalu, SH
  • Departemen Penginjilan : Pdt. S. Siburian
  • Departemen KKR : Pdt. Dj. G. Sitinjak, S.Th
  • Departemen Media & Humas : Pdt. Drs. Pardomuan Simbolon, M.Div, D.Th
  • Departemen Litbang : Pdt. Ir. Douglas Manurung, MBA
  • Departemen Sekolah Minggu : Pdt RT. Togatorop

Pembantu Umum Wilayah[sunting | sunting sumber]

Pematang Siantar – Simalungun[sunting | sunting sumber]

  1. Pdt. A.Y. Butar-Butar (Koordinator)
  2. Pdt. J. Silalahi, BE
  3. Pdt. A. Tarigan,S.Th
  4. Pdt. L. Lumban Tungkup
  5. Pdt. O. Sijabat
  6. Pdt. A.B. Siahaan
  7. Pdt. J. Siburian
  8. Pdt. A. Simbolon
  9. Pdt. B. Manurung
  10. Pdt. E. Sitorus
  11. Gr. V.E. Manullang, S.Pd
  12. Phb. Miduk Panjaitan, SH
  13. Pdt. K. Siboro, S.Th.
  14. Pdt. A Simatupang
  15. Pdt.J. Simbolon
  16. S. Situmorang
  17. Gr. B. Tindaon
  18. Pdm. Ir. M. Parhusip

Samosir[sunting | sunting sumber]

  1. Pdt. Mt Lumbanraja (Koordinator)
  2. Pdt. D.J. Sinaga
  3. Pdt. J. Lumbanraja
  4. Pdt. J.M. Sinaga
  5. Pdt. B. Sinaga
  6. Pdt. H. Sinaga
  7. Pdt. Samosir
  8. Pdt. Ba. Sinaga
  9. Pdt. S. Sitinjak
  10. Pdt. K. Hutabalian
  11. Gr. H. Lumbanraja

Toba Habinsaran[sunting | sunting sumber]

  1. Pdt. I. Sitorus
  2. Pdt. A. Sitorus
  3. Pdt. Mk. Sitorus
  4. Pdt. S. Hasibuan
  5. Gr. W. Silalahi
  6. Pdt. M. Lubis
  7. Pdt. P. Siburian
  8. Pdt. S. Sitohang
  9. Pdt. M. Tamba
  10. Pdt. R. Sianturi
  11. St. A. Silaen
  12. Pdt. T. Sinaga
  13. Pdt. Marudut Sianipar
  14. Pdt. A. Simaremare, M.Th
  15. Gr. L. Hasibuan
  16. Gr. A. Pasaribu

Humbang[sunting | sunting sumber]

  1. Pdt. M. Bakkara
  2. Pdt. A. Gultom
  3. Pdt. L. Manullang
  4. Pdt. K. Simanjuntak
  5. Pdt. Taronggal Sihombing
  6. Pdt. R. Siburian
  7. Pdt. Sm. Nababan
  8. Pdt. Tobu Sihombing
  9. Pdt. W. Rajagukguk
  10. Gr. K. Sianturi
  11. Gr. R. Sitohang

Silindung-Sipahutar-Garoga[sunting | sunting sumber]

  1. Pdt. J. Lumbantungkup (Koordinator)
  2. Pdt. A. Simaremare
  3. Pdt. Jt. Pasaribu
  4. Pdt. K. Ritonga
  5. Pdt. Y. Pasaribu
  6. Gr. K. Gultom
  7. Gr. K. Lumbanraja
  8. Gr. H. Hutabarat
  9. Pdt. B. Pardede
  10. Pdt. L. Simanjuntak

Dairi/Pakpah Barat[sunting | sunting sumber]

  1. Pdt. Dp. Pandiangan
  2. Pdt. E. Marpaung, S. Pak
  3. Pdt. M. Silaban
  4. Pdt. J. Sihotang
  5. Pdt. M. Simanullang
  6. Pdt. Mt. Situmorang
  7. Gr. M. Lumban Gaol
  8. Gr. Porlan Panjaitan
  9. Gr. Edy P. Pandiangan, Sh

Tapteng/Tapsel/Madina/Sibolga[sunting | sunting sumber]

  1. Pdt. J. Sitanggang (Koordinator)
  2. Pdt. Sm. Situmorang
  3. Pdt. J. Pasaribu
  4. Pdt. J. Sihombing
  5. Pdt. A. Simamora
  6. Pdt. W. Sitanggang
  7. Pdt. P. Sitorus, S.Th
  8. P. M. Hutagalung
  9. Pdt. T. Silalahi
  10. Pdt. Sd. Simanjuntak
  11. Pdt. M. Sianturi
  12. Pdt. S. Togatorop
  13. Gr. P. Nainggolan
  14. Gr. J. Pasaribu
  15. Gr. M. Butar-Butar, M.Pd
  16. Gr. A. Purba
  17. Gr. P. Sitinjak
  18. Gr. H. Siregar
  19. Gr. K. Sitanggang
  20. Gr. U. Situmeang
  21. Gr. A. Silitonga
  22. St. B. Pandiangan

Nias[sunting | sunting sumber]

  1. Pdt. Tehenasokhi Harefa, Ma, M.Th (Koordinator)
  2. Pdt. Iradat Hura, S.Th, S.Pdk
  3. Pdt. Elifati Zalukhu
  4. Pdt. Taha’aro Zega
  5. Pdt. Tali Aro Zega
  6. Pdt. Azuizaro Lawolo, S.Pd
  7. Pdt. Fatiziduhu Harefa
  8. Pdt. Temali Halawa
  9. Pdt. Alirudin Halawa
  10. Pdt. Faogonaso Harefa
  11. Pdt. Fonaha Laia
  12. Pdt. Wa’onaso Giawa
  13. Gr. Aso’ Ala Halawa
  14. Gr. Bualana Nama
  15. Gr. Bowoli Zandroto
  16. Gr. Tali Atulo Waruhu, S.Pd

Nias Selatan[sunting | sunting sumber]

  1. Pdt. Tahomano Telaumbanua (Koordinator)
  2. St. Yamarudi Giawa, S.Kom
  3. Gr. Sarombowo Ge’e, S.Pd
  4. Gr. Martinus Telaumbanua
  5. Pdt. Faonasokhi Halawa
  6. Pdt. Sokhi Ato Ndruru
  7. Pdt. Sofuziduhu Tafona’o
  8. Pdt. Talizduhu Zebua
  9. Pdt. Nitehe Laia
  10. Pdt. Atoni Halawa
  11. Pdt. Tongoziduhu Hulu, A.Ma.Pd
  12. Pdt. Bazisokhi Zebua

Tanah Karo + Aceh Tenggara[sunting | sunting sumber]

  1. Pdt. J. Sitorus (Koordinator)
  2. Pdt. W. Sibarani
  3. Pdt. J.Sitohang
  4. Pdt. Mh. Sianipar
  5. Pdt. M. Gultom

Lubuk Pakam + Langkat[sunting | sunting sumber]

  1. Pdt. M. Simarmata (Koordinator Lubuk Pakam)
  2. Pdt. M. Sihombing, B.Sc (W.Koordinator Lubuk Pakam)
  3. Pdt. M. Sinaga (Koordinator Langkat)
  4. Pdt. B. Samosir
  5. Pdt. S. Hutabalian
  6. Pdt. A. Silaen, A.Md
  7. Pdt. Drs. S. Hutabalian
  8. Pdt. B. Rajagukguk
  9. Pdt. Andreas Suyanto
  10. Pdt. P. Nadeak
  11. Gr. S. Hutagaol
  12. Gr. Drs. A. Simarmata

Kota Medan[sunting | sunting sumber]

  1. Pdt. Drs. Jw. Panjaitan, S.Th
  2. Pdt. Dj. Sitinjak, BA
  3. Pdt. J. Lumbanraja
  4. Pdt. J. Silalahi
  5. Pdt. At. Panjaitan, S.Th.
  6. Pdt. B. Sihite, S.Th.
  7. Pdt. Bm. Sinurat, SH
  8. Pdt. J. Pasaribu, S.Th., Mpdk
  9. Pdt. As. Purba, SE
  10. Pdt. A. Simanjuntak, BA
  11. Pdt. P. Sibarani, SH
  12. Pdt. Drs. Ra. Siburian
  13. Pdt. Fh. Sinaga
  14. Pdt. Drs. T. Parhusip
  15. Pdt. R. Siburian, Sth, M.Th.
  16. Pdt. Drs. A. Sihombing, MSi
  17. Pdt. Ir. A. Parhusip
  18. Pdt. E. Manalu, SH
  19. Pdt. My. Hutagalung, S.Th.
  20. Pdt. B. Parhusip, Sth, M.Th.
  21. Pdt. S. Simanullang, SE
  22. Pdt. M. Nainggolan, SE, S.Th.
  23. Gr. Ir. Poltak Hutagalung

Tebing Tinggi – Sergei[sunting | sunting sumber]

  1. Pdt. Drs. J. Manurung, S.Th.
  2. Pdt. S. Gultom, S.Th.
  3. Pdt. K. Saragi
  4. Pdt. T. Simaremare, S.Th.
  5. Pdt. T. Sianipar
  6. Pdt. M. Siburian
  7. Pdt. H. Sitorus
  8. Pdt. O. Rajagukguk
  9. Pdt. S. Marbun
  10. Pdt. P. Samosir
  11. Pdt. S. Sirait, SE
  12. Pdt. J. Marbun,St, M.Th.
  13. Pdt. M. Nainggolan
  14. Gr. Drs. H. Pakpahan
  15. Gr. Manik, S.Th.

Asahan-Batubara-Tg.Leidong- Tanj. Balai[sunting | sunting sumber]

  1. Pdt. H. Simbolon
  2. Pdt. A. Gultom
  3. Pdt. H. Saragi, S.Th.
  4. Pdt. S. Sihombing
  5. Pdt. P. Manurung
  6. Pdt. L. Tambunan
  7. Pdt. E. Tambunan, S.Sos
  8. Pdt. Th. Pandiangan
  9. Gr. S. Manik
  10. Pdt. Sabar Siburian

Labuhan Batu ( Kab. Labura, Labusel, Lab.Batu & Paluta )[sunting | sunting sumber]

  1. Pdt. B. Sinaga (Koordinator I)
  2. Pdt. H.L. Tobing (Koordinator II)
  3. Pdt. J. Manurung
  4. Pdt. K. Lumban Raja
  5. Pdt. R. Tambunan
  6. Pdt. M. Sianturi
  7. Gr. Tb. Simanjuntak
  8. Gr. B. Sihombing
  9. Pdt. K. Sibarani
  10. Pdt. L. Sihombing
  11. Pdt. M. Manullang
  12. Pdt. H. Nainggolan

Riau Daratan[sunting | sunting sumber]

  1. Pdt. Rt. Togatorop (Koordinator)

Rayon Kota Pekan Baru[sunting | sunting sumber]

1. Pdt. M. Tambunan 2. Pdt. Rh. Hutabarat 3. Gr. M. Simangunsong

Rayon Kab. Pelalawan[sunting | sunting sumber]

4. Pdt. A. Nainggolan, M.Th 5. Pdt. M. Simangunsong 6. Gr. E. Harianja 7. Gr. L. Situmorang

Rayon Kab. Bengkalis[sunting | sunting sumber]

8. Pdt. G. Sinaga 9. Pdt. K. Siburian 10. Pdt. O. Manullang 11. Pdt. T. Sinaga 12. Pdt. A. Simangunsong 13. Pdt. D. Rumapea 14. Pdt. M. Lumbanraja 15. Pdt. W. Situmorang

Rayon Kab. Rokan Hilir[sunting | sunting sumber]

  1. Pdt. J. Batuara
  2. Pdt. Bn. Marbun
  3. Pdt. E. Siringoringo
  4. Pdt. M. Sinaga
  5. Pdt. L. Sinaga
  6. Pdt. K. Sinaga
  7. Pdt. S. Silaban
  8. Gr. H. Hutabalian

Rayon Kab. Kampar[sunting | sunting sumber]

  1. Pdt. S. Lumbantobing
  2. Pdt. M. Sagala
  3. Pdt. A. Gultom

Rayon Kab.Siak[sunting | sunting sumber]

  1. Pdt. R. Saragih
  2. Pdt. M. Sinaga
  3. Pdt. G. Siregar
  4. Pdt. R. Sinaga
  5. Gr. Hf. Simbolon

Rayon Kab. Rokan Hulu[sunting | sunting sumber]

  1. Pdt. M . Lumban Raja
  2. Pdt. W. Situmorang
  3. Pdt. O. Manullang

Rayon Kab. Indra Giri Hilir[sunting | sunting sumber]

  1. Pdt. M. Hutabarat

Kepulauan Riau[sunting | sunting sumber]

  1. Pdt. Dj. Nadeak (Koordinator I)
  2. Pdt. B. Fresly Sihombing (Koordinator II)

Rayon Dumai Sekitarnya[sunting | sunting sumber]

  1. Pdt. T. Sihombing, S.Th.
  2. Pdt. T. Napitupulu
  3. Pdt. J. Sihombing, S.Th.
  4. Pdt. O. Silaban

Rayon Batam Kota[sunting | sunting sumber]

  1. Pdt. A. Aritonang
  2. Pdt. D. Manik
  3. Gr. M. Situmorang

Rayon Pulau Bintan Tanjung Pinang[sunting | sunting sumber]

  1. Pdt. K. Butar-Butar
  2. Pdt. Am. Simbolon
  3. Gr. Drs. T. Sianturi

Rayon Karimun[sunting | sunting sumber]

  1. Pdt. T. Sinaga, SH, M.Th.

Rayon A Sebarelang[sunting | sunting sumber]

  1. Pdt. S. Situmorang
  2. Pdt. B. Sitorus
  3. Pdt. H. Silaen

Jambi[sunting | sunting sumber]

  1. Pdt. M. Rumapea (Koordinator)
  2. Pdt. B.A. Sitanggang
  3. Pdt. Ir. J. Gultom

Bengkulu[sunting | sunting sumber]

  1. Pdt. J.B. Hutabarat (Koordinator)

Sumatera Selatan (Sumsel)[sunting | sunting sumber]

  1. Pdt. M. Rumapea (Koordinator)
  2. Pdt. H. Nainggolan

Bangka Belitung[sunting | sunting sumber]

  1. Pdt. L. Sinaga (Koordinator)

Lampung[sunting | sunting sumber]

  1. Pdt. M. Rumapea (Koordinator)
  2. Pdt. E. Situmorang
  3. Pdt. L. Nainggolan
  4. Pdt. M. Situmorang
  5. Pdt. S. Situmorang
  6. Pdt. Jonny Sitorus, S.Si
  7. Pdt. Drs. M. Siregar
  8. Pdt. R.P. Simanjuntak, SH
  9. Pdt. B. Manihuruk

Pulau Jawa[sunting | sunting sumber]

  1. Pdt. Ev.Drs.D.Rajagukguk (Koordinator)
  2. Pdt. D.Gultom
  3. Pdt. DR. E. Rajagukguk, M.Sc, M.Th
  4. Pdt. DR. B. Siburian, S.H, M.H,D.Th
  5. Pdt. P. Silaban, S.E,M.Min
  6. Pdt. Yansen Lumbanraja
  7. Pdt. DR.TP. Sinurat,M.Th
  8. Pdt. SBP. Silitonga
  9. Pdt. M. Hutabalian
  10. Pdt. Drs. Dapot Manurung, Apt
  11. Pdt. Drs. Pardomuan Simbolon, M.Div, M.Th
  12. Pdt. P.J.Sinaga, M.Th
  13. Pdt. P. Sitorus, SE, M.Th
  14. Pdt. P. Hutabalian, M.Th

Kalimantan Timur[sunting | sunting sumber]

  1. Pdt. G. Dj. Sitinjak, S.Th (Koordinator)

Kalimantan Barat[sunting | sunting sumber]

  1. Pdt. Hm. Silalahi (Koordinator)
  2. Pdt. B. Batubara
  3. Pdt. M. Butarbutar

Papua[sunting | sunting sumber]

  1. Pdt. Ch. Simaremare, S.Th (Koordinator)

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Surat Pengukuhan No D/11/13176 tertanggal 24 September 1951 dari Kementerian Agama, dan No 1A 5/114/21 tertanggal 24-9-1952, dari Departemen Kehakiman.