Gedung Dalom

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Simbol GEDUNG DALOM
Simbol Istana.jpg
Kawik Buttokh Simbol dari pada Istana Gedung Dalom Sekala Brak
Informasi umum
Gaya arsitekturIstana Sekala Brak
KotaKabupaten Lampung Barat
Negara

Istana Sekala Brak dengan sebutan lainnya Istana Gedung Dalom adalah Gedung Dalom pada awalnya berada di Hanibung titik lokasi kebesaran ibu Negeri dari Kepaksian Pernong Sekala Brak[1] bahwasanya di dapat dari berbagai sumber di dalam sejarah bahwa perkampungan pada jaman itu berada di dataran daerah mandi angin, Humbahuwong dan sebagian lagi berada di sekitaran Gedung dalom di Hanibung di perkirakan pada abad ke-12 pada jaman Umpu Pernong Gelar Sultan Ratu Buay Pernong. Sedangkan pada jaman berikutnya dari jaman Umpu Semula Jadi Gelar Sultan Ratu Semula Jadi sampai dengan jaman Pangeran Purba Gelar Sultan Pangeran Purba Jaya wilayah perkampungan tersebut menyebar sampai yang tercatat di dalam tambo kulit kayu yang di sebut tambo paksi dengan berbahasa Lampung adalah sebagai berikut:

MULAI JAK BAGINJING WAI NARIMA NGABELAH BALASA KAPAPPANG TURUN DI BAWAN SANGUN NGADAPOKKO HUMARA WAI TUTUNG NUTUK WAI TUTUNG CAKAKDI BUKIT SAWA TERUS NUTUK BUKIT SAWAI DOH HAN NUTUK UWAI MALEBUI NUTUK WAI MALABUI SAPAI DI HUMARANA DI WAI SAMAKA UNGGAK UNGGAK AN NUTUK WAI SAMAKA CAKAK DI HAMA BERUK NGADAPOKKO HULU WAI LIHA TURUN DI HAM SARUKUK NGABELAH HAM KADUPANG TURUN DI WAI SAMAKA TEBONG KARINJING NUTUK WAI SAMAKA UNGGAK UNGGAK AN CUTIK DITEBING SAHUWOK LAJU DISIRING TELA NGABELAH KARATUNG DOH NGADAPO K BAWANG SAKELING TURUN DI TEBA KAMILING TURUN DI WAI SA MAKA UNGGAK UNGGAK CUTIK NUTUK WAI SAMAKA NGADAPOK KO HUMARA WAI SARIMOL LAJU UWAI RAMELAI UNGGAK UNGGAKAN SAPAI DI PACUR PUNGAH TERUS NYAMABUT PANEPON SAKEDI NUTUK PANEPON SAKEDI NGABELAH PANYIN DANGAN RAGOH DI HUMARA WAI KULAK NYAMBERANG WAI RAMELAI JAK TARUGAK CAKAK DI TAMANOH LACAR NGADAPOK KO HUMARA WAI KATUBAN UNGGAK UNGGAK AN NUTUK WAI HILIYAN RUBOK CAK (CAKAK) DI BAGINJING WAI RIMA (NARIMA).

Pada jaman ini sekitar abad ke-16 Istana Sekala Brak (Gedung Dalom) yang di Batu Brak ini sudah pernah didirikan dan di tempati oleh para Sultan di Sekala Brak kala itu sebelum terjadinya kebakaran pada sekitar tahun 1898. Sedangkan pada jaman Pangeran Alif Jaya sekitar tahun 1746 membangun pesanggerahan besar di Liwa dari era Pangeran Alif Jaya Gelar Sultan Pangeran Alif Jaya sampai jaman Pangeran Dalom Merah Dani Gelar Sultan Makmur Dalom Natadiraja pada masa ini para Sultan Kemana-mana membawa nama besar Pesanggerahan tersebut yang berada di Liwa, Sebagai Wadah (Kendaraan) dari pada Sultan-sultan pada masa itu.

Pada jaman Colonial Belanda masuk ke liwa Pesanggerahan Besar tersebut dikuasai oleh belanda. Kemudian pada saat Kekalutan di marga Liwa karena sedang Puguh Pesanggerahan Besar tersebut diserahkan kembali oleh Pemerintah Colonial Belanda kepada Sultan, pada saat itu Kekacauan masih tetap berlangsung di marga liwa Kerusuhan antara Pangeran Komala Raja dengan asisten Kidemang, pada saat menentukan jalan Kubuperahu, Balik Bukit, Lampung Barat simpangan ke arah Keresidenan Bengkulen[2]. Pada saat itu Sultan meninggalkan Pesanggerahan dengan membawa Putra dari Indra Patih Cakra Negara, pada jaman itu Keresidenan Bengkulen tidak bisa melengserkan Putra dari Indra Patih Cakra Negara karena adanya Kerajaan Adat Paksi Pak Sekala Brak.

Keresidenan Bengkulen mengetahui bahwa Struktur keadatan dari Kerajaan Adat Kerajaan Adat Paksi Pak Sekala Brak[3] tetap membayang-bayangi di belakang kemargaan yang sudah dipecah-pecah di kerdilkan menjadi puluhan marga oleh Colonial Belandan akan tetapi Colonial Belanda masih merasakan denyut dari pada kekuasaan Sultan-Sultan pendahulu di wilayahnya masing-masing, marga-marga yang terbentuk itupun adalah keluaran dari Sekala Brak walaupun pengaruh dari Colonial Belanda yang sangat kuat serta mencengkram mendokterin mereka untuk mengikuti aturan dari pemerintahan belanda akan tetapi para Sultan-Sultan ini juga tidak mau meninggalkan sebuah Tradisi karena bagaimanapun juga kebesaran dari Paksi Pak Sekala Brak itu adalah kebesaran pangkal (asal). Kemudian anggaran-anggaran dihentikan dan akhirnya Putra dari Indra Patih Cakra Negara Membawa putra pertamanya bersama sekitar tiga ratusan orang, meninggalkan Liwa berangkat nyussuk pekon mendirikan negeri baru di Negara batin Semaka, serta putra ketiga nya berangkat menuju sukau, dan putra yang kedua mendirikan Liwa (kota) sehingga menjadi tegak Jukhai (baca-Jurai) di Batu Brak. Pada saat sekitar tahun 1898 Istana Gedung Dalom (Gedung Dalom) terjadi Kebakaran di Batu Brak sehingga Pesanggerahan besar yang berada di Liwa di pindahkan ke Istana Gedung Dalom yang berada di Pekon Balak, Batu Brak, Lampung Barat saat ini, di ceritakan berpindahnya Istana Gedung Dalom itu dari kejauhan sekitar 15 kilometer tidak dicopot atau dibongkar melainkan diangkat ramai-ramai dan dibawa perlahan-pelahan menuju lokasi sekarang Selama 1 (satu) tahun kisaran tahun 1899-1900 Masehi sepulangnya Pangeran Dalom Merah Dani Gelar Sultan Makmur Dalom Natadiraja menunaikan ibadah haji bersama 100 rakyat sekala brak serta membawa hadiah dari Sultan Turki Utsmaniah berupa Gelar Sultan, Bendera berwarna hitam tertulis lailahaillallah muhammadarrasulullah dan Dua Pedang Istambul. Hingga jaman Pra-sejarah Istana Gedung Dalom (Gedung Dalom) hingga saat ini masih dapat di jumpai di Desa Pekon Balak, Batu Brak, Lampung Barat Provinsi Lampung[4].

Bacaan Lanjutan[sunting | sunting sumber]

  1. Lampung

Referensi[sunting | sunting sumber]

Karya sendiri

  1. ^ https://lampungbaratkab.go.id/detailpost/budaya
  2. ^ https://medialampung.co.id/sai-batin-marga-liwa-dukung-gerakan-literasi/
  3. ^ https://radarlampung.co.id/kepaksian-pernong-gelar-hippun-adat-ini-sebabnya/
  4. ^ file:///C:/Users/ASUS/AppData/Local/Temp/9312-17910-1-PB.pdf