Gangguan stres pascatrauma

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Gangguan stres pascatrauma
SpesialisasiPsikiatri, psikologi klinikal Sunting ini di Wikidata

Gangguan stres pascatrauma (bahasa Inggris: post-traumatic stress disorder atau disingkat PTSD, dahulu disebut shell shock pada Perang Dunia I) adalah gangguan kecemasan parah yang dapat berkembang setelah terpapar setiap peristiwa yang menghasilkan trauma psikologis. Kejadian ini dapat memicu ancaman kematian diri sendiri maupun orang lain bahkan merusak potensi integritas fisik, seksual, atau psikologis individu. Sebagai efek dari sebuah trauma psikologis, biasanya menunjukkan frekuensi gejala yang tidak sering muncul namun berlangsung cukup lama bila dilihat dan dibandingkan gejala pada penderita stress akut.dan merupakan kumpulan gejala gejala stress yang berat.

Penyebab[sunting | sunting sumber]

Kekerasan[sunting | sunting sumber]

Kekerasan merupakan salah satu pengalaman traumatis karena korbannya tidak menghendaki terjadinya hal tersebut dan mengalami penderitaan yang mendalam. Kerentanan seseorang menderita gangguan stres pascatrauma tergantung pada jenis dan tingkat yang dialaminya. Tingkat kerentanan tertinggi ada pada korban kekerasan yang mengalami pengalaman traumatis pada individu yang baru memasuki usia dewasa. [1]

Pelecehan seksual dan pemerkosaan[sunting | sunting sumber]

Trauma yang mendalam dapat terjadi kepada para korban pelecehan seksual dan pemerkosaan. Timbulnya trauma diakibatkan adanya perasaan negatif yang dirasakan oleh korban. Pengalaman traumatis inilah yang menyebabkan timbulnya stres pada korban dan mengakibatkan terjadinya gangguan stres pascatrauma.[2]

Bencana alam[sunting | sunting sumber]

Gangguan stres pascatrauma juga dapat dialami oleh korban bencana alam.[3] Penderitanya memiliki pengalaman traumatis secara tidak langsung maupun langsung terhadap bencana alam. Salah satu contohnya adalah remaja korban tsunami. Suara dari gemuruh, dentuman dan angin yang menderu dapat memberikan rasa ketakutan yang mendalam bagi dirinya.[4]

Gejala[sunting | sunting sumber]

Gejala yang muncul pada anak-anak dan remaja penderita gangguan stres pascatrauma dapat berbeda dengan gejala yang muncul pada orang dewasa. Adanya perbedaan ini menandakan bahwa kebutuhan diagnosis dengan kondisi tertentu. Pada anak pra-sekolah, diagnosis atas gejala gangguan stres pascatrauma harus dalam kondisi kejiwaan yang stabil dengan perkembangan yang sensitif.[5]

Diagnosis[sunting | sunting sumber]

Gangguan stres pascatrauma dibahas di dalam DSM-4. DSM-4 menerapkan tiga kriteria diagnostik untuk penyakit ini, yaitu pendedahan, pengalaman ulang dan penghindaran.[6] Dalam DSM-4 disebutkan sebanyak 17 item yang menjadi gejala dari gangguan jiwa pascatrauma.[7] Pada tahun 2000, depresi dimasukkan sebagai gangguan suasana hati dalam DSM-4-TR.[8]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Paramitha, R. G., dan Kusristanti, C. (2018). "Resiliensi Trauma dan Gejala Posttraumatic Stress Disorder (PTSD) pada Dewasa Muda yang Pernah Terpapar Kekerasan". Jurnal Psikogenesis. 6 (2): 187–188. 
  2. ^ Dirgayunita, Aries (2016). "Gangguan Stres Pasca Trauma pada Korban Pelecehan dan Pemerkosaan". Journal An-Nafs. 1 (2): 188. 
  3. ^ Zuhri, Mursid (2009). "Post Traumatic Stress Disorder (Gangguan Stress Pasca Trauma Bencana) di Jawa Tengah". Jurnal Litbang Provinsi Jawa Tengah. 7 (2): 141–142. 
  4. ^ Tubin, ed. (2016). Trauma dan Pemulihannya: Sebuah Kajian Berdasarkan Kasus Pasca Konflik dan Tsunami (PDF). Banda Aceh: Dakwah Ar-Raniry Press. hlm. 3–4. ISBN 978-602-60756-3-5. 
  5. ^ Ayuningtyas, Ira Palupi Inayah (2017). "Penerapan strategi penanggulangan penanganan PTSD (Post Traumatic Stress Disorder) pada anak-anak dan remaja" (PDF). Proceeding International Conference 1st ASEAN School Counselor Conference on Innovation and Creativity in Counseling: 48. 
  6. ^ Hatta, Kusumawati (2016). Tubin, ed. Trauma dan Pemulihannya: Sebuah Kajian Berdasarkan Kasus Pasca Konflik dan Tsunami (PDF). Banda Aceh: Dakwah Ar-Raniry Press. hlm. 45. ISBN 978-602-60756-3-5. 
  7. ^ Mahfuzhah. A. S., dkk. (2021). "Screening of Post-Traumatic Stress Disorder AMong Adolescent Vic-tims of The Garut Flash Flood in 2016". NurseLine Journal. 6 (1): 9. ISSN 2541-464X. 
  8. ^ Sulistyorini, W., dan Sabarisman, M. (2017). "Depresi: Suatu Tinjauan Psikologis". Sosio Informa. 3 (2): 156. 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]