Lompat ke isi

Egbert dari Wessex

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Egbert
Penggambaran Egbert dari Genealogical Chronicle of the English Kings, sebuah manuskrip dari akhir abad ke-13 di British Library
Raja Wessex
Berkuasa802–839
PendahuluBeorhtric
PenerusÆthelwulf
Raja Essex dan Kent
Berkuasa825–839
PendahuluBaldred
PenerusÆthelwulf
Meninggal839
Pemakaman
AyahEalhmund dari Kent
KeturunanÆthelwulf dari Wessex
WangsaWessex

Egbert (wafat 839), juga dieja Ecgberht, Ecgbert, Ecgbriht, Ecgbeorht, atau Ecbert, adalah Raja Wessex dari tahun 802 hingga wafatnya pada tahun 839. Ayahnya adalah Raja Ealhmund dari Kent. Pada dekade 780-an, Egbert dipaksa hidup dalam pengasingan di istana Charlemagne di Kekaisaran Franka oleh Raja Offa dari Mercia dan Beorhtric dari Wessex. Namun, setelah kematian Beorhtric pada tahun 802, Egbert kembali dan menduduki takhta.

Sedikit yang diketahui mengenai 20 tahun pertama masa pemerintahan Egbert, tetapi ia diduga mampu mempertahankan kemerdekaan Wessex dari Mercia, yang pada saat itu mendominasi kerajaan-kerajaan Inggris selatan lainnya. Pada tahun 825, Egbert mengalahkan Beornwulf dari Mercia, mengakhiri Supremasi Mercia dalam Pertempuran Ellendun, dan melanjutkan langkahnya untuk mengambil alih kendali atas wilayah-wilayah bawahan Mercia di tenggara Inggris. Pada tahun 829, ia mengalahkan Wiglaf dari Mercia dan mengusirnya dari kerajaannya, sehingga sempat memerintah Mercia secara langsung untuk sementara waktu. Kelak pada tahun yang sama, Egbert menerima pernyataan tunduk dari raja Northumbria di Dore. Kronik Anglo-Sakson kemudian menggambarkan Egbert sebagai seorang bretwalda atau 'penguasa luas' atas tanah-tanah Anglo-Saxon.

Egbert tidak mampu mempertahankan posisi dominan ini, dan dalam waktu satu tahun Wiglaf berhasil merebut kembali takhta Mercia. Meskipun demikian, Wessex tetap mempertahankan kendali atas Kent, Sussex, dan Surrey; wilayah-wilayah ini diserahkan kepada putra Egbert, Æthelwulf, untuk diperintah sebagai raja bawahan di bawah Egbert. Ketika Egbert wafat pada tahun 839, Æthelwulf menggantikannya; kerajaan-kerajaan di wilayah tenggara tersebut akhirnya melebur sepenuhnya ke dalam Kerajaan Wessex setelah kematian putra Æthelwulf, Æthelbald, pada tahun 860. Keturunan Egbert memerintah Wessex dan, di kemudian hari, seluruh Inggris secara terus-menerus hingga tahun 1013.

Para sejarawan memiliki perbedaan pendapat mengenai asal-usul silsilah Egbert. Kronik Parker, versi tertua dari Kronik Anglo-Sakson, diawali dengan kata pengantar silsilah yang merunut mundur garis keturunan Æthelwulf (putra Egbert). Silsilah tersebut ditarik melewati Egbert, Ealhmund (diduga Raja Ealhmund dari Kent), serta Eafa dan Eoppa yang tidak dikenal dalam catatan lain, sebelum akhirnya bermuara pada Ingild, saudara laki-laki Raja Ine yang turun takhta pada tahun 726. Garis keturunan ini terus ditarik mundur hingga Cerdic, pendiri Wangsa Wessex.[1] Silsilah Egbert sebagai keturunan Ingild diterima oleh Frank Stenton, tetapi ia meragukan keabsahan silsilah yang lebih awal yang merunut hingga Cerdic.[2]

Heather Edwards, dalam artikel mengenai Egbert di Oxford Dictionary of National Biography, berargumen bahwa Egbert sebenarnya berasal dari Kent dan klaim sebagai keturunan Saxon Barat kemungkinan sengaja direkayasa selama masa pemerintahannya demi memberikan legitimasi kekuasaan.[3] Namun, Rory Naismith menilai bahwa asal-usul yang murni dari Kent sangat kecil kemungkinannya. Ia mengakui adanya kemungkinan hubungan kekerabatan dengan wangsa penguasa Kent maupun Saxon Barat, tetapi menyimpulkan bahwa berdasarkan sumber-sumber tertulis paling andal yang masih bertahan, "Egbert lahir dari garis keturunan murni keluarga kerajaan Saxon Barat".[4]

Nama istri Egbert tidak diketahui. Sebuah kronik dari abad kelima belas yang kini disimpan oleh Universitas Oxford menyebut namanya sebagai Redburga, yang diduga merupakan kerabat Charlemagne yang dinikahinya ketika ia diasingkan ke Francia. Namun, klaim ini ditolak oleh para sejarawan akademis karena kronik tersebut ditulis jauh setelah masa hidupnya.[5]

Ia juga dikabarkan memiliki seorang saudari tiri bernama Alburga, yang di kemudian hari diakui sebagai seorang santa karena mendirikan Wilton Abbey. Alburga menikah dengan Wulfstan, ealdorman Wiltshire. Setelah suaminya wafat pada tahun 802, ia menjadi seorang biarawati dan menjabat sebagai Abdis Wilton Abbey.[6]

Konteks politik dan kehidupan awal

[sunting | sunting sumber]
Nama Egbert, yang dieja Ecgbriht, dari entri tahun 827 dalam manuskrip C Kronik Anglo-Sakson

Offa dari Mercia, yang bertakhta dari tahun 757 hingga 796, merupakan kekuatan dominan di Inggris Anglo-Saxon pada paruh kedua abad kedelapan. Hubungan antara Offa dan Cynewulf, yang menjabat sebagai Raja Wessex dari tahun 757 hingga 786, tidak didokumentasikan dengan baik. Kendati demikian, Cynewulf tampaknya tetap mempertahankan sejumlah kemerdekaan dari pertuanan Mercia. Bukti mengenai hubungan antar-raja ini dapat ditemukan dalam piagam, yaitu dokumen hibah tanah kepada para pengikut atau pemuka agama yang disaksikan langsung oleh raja yang memiliki wewenang untuk memberikan tanah tersebut.

Subregulus

[sunting | sunting sumber]

Dalam beberapa kasus, seorang raja tercatat dalam piagam sebagai subregulus (raja bawahan), yang memperjelas posisi dirinya yang berada di bawah kendali seorang penguasa tertinggi.[7][8] Cynewulf muncul dengan gelar "Raja Saxon Barat" dalam sebuah piagam milik Offa pada tahun 772, dan pada tahun 779, ia dikalahkan oleh Offa dalam Pertempuran Bensington. Kendati demikian, tidak ada bukti lain yang menunjukkan bahwa Cynewulf tidak berkuasa penuh atas wilayahnya sendiri, dan ia tidak pernah diketahui mengakui Offa sebagai penguasa tertinggi.[9]

Offa memang memiliki pengaruh kuat di wilayah tenggara pulau tersebut: sebuah piagam dari tahun 764 memperlihatkan dirinya mendampingi Heahberht, yang mengindikasikan bahwa pengaruh Offa turut membantu menempatkan Heahberht di atas takhta.[10] Sejauh mana kendali Offa atas Kent antara tahun 765 dan 776 masih menjadi perdebatan di kalangan sejarawan, tetapi dari tahun 776 hingga sekitar 784, raja-raja Kent tampaknya memiliki kemerdekaan yang cukup besar dari Mercia.[10][11]

Egbert lainnya, Egbert II dari Kent, memerintah di kerajaan tersebut sepanjang dekade 770-an; namanya terakhir kali disebut pada tahun 779 dalam sebuah piagam hibah tanah di Rochester.[10] Pada tahun 784, seorang raja baru Kent bernama Ealhmund muncul dalam Kronik Anglo-Sakson. Berdasarkan sebuah catatan pinggir, "raja Ealhmund ini adalah ayah Egbert [yaitu Egbert dari Wessex], Egbert adalah ayah Æthelwulf". Hal ini didukung oleh kata pengantar silsilah dari teks A Kronik tersebut, yang mencantumkan nama ayah Egbert sebagai Ealhmund tanpa rincian lebih lanjut. Kata pengantar tersebut kemungkinan berasal dari akhir abad kesembilan, sedangkan catatan pinggirnya berada pada manuskrip F dari Kronik tersebut, yang merupakan versi Kent dari sekitar tahun 1100.[12]

Ealhmund tampaknya tidak bertahan lama di tampuk kekuasaan karena tidak ada catatan mengenai aktivitasnya setelah tahun 784. Namun, terdapat bukti kuat mengenai dominasi Offa atas Kent selama akhir dekade 780-an, dengan ambisi yang tampaknya melampaui sekadar pertuanan hingga aneksasi penuh atas kerajaan tersebut,[10] dan ia digambarkan sebagai "saingan, alih-alih penguasa tertinggi, dari raja-raja Kent".[13] Ada kemungkinan bahwa Egbert muda melarikan diri ke Wessex sekitar tahun 785; sebuah entri di kemudian hari dalam Kronik secara tersirat mengindikasikan bahwa Beorhtric, penerus Cynewulf, membantu Offa untuk mengasingkan Egbert.[10]

Cynewulf dibunuh pada tahun 786. Perebutan takhta yang terjadi setelahnya sempat ditentang oleh Egbert, tetapi ia berhasil dikalahkan oleh Beorhtric, kemungkinan berkat bantuan dari Offa.[14][15] Kronik Anglo-Sakson mencatat bahwa Egbert menghabiskan waktu selama tiga tahun di Francia sebelum akhirnya naik takhta sebagai raja akibat diasingkan oleh Beorhtric dan Offa. Teks asli kronik tersebut menggunakan angka Romawi "iii" (tiga), tetapi hal ini diduga merupakan kesalahan salin oleh juru tulis, di mana pembacaan yang benar seharusnya adalah "xiii" (tiga belas) tahun. Masa pemerintahan Beorhtric sendiri sebenarnya berlangsung selama enam belas tahun, bukan tiga belas. Meskipun seluruh manuskrip Kronik yang tersisa kompak menuliskan angka "iii", banyak kajian modern yang meyakini bahwa Egbert sebenarnya menghabiskan waktu selama tiga belas tahun di Francia. Asumsi ini mengharuskan adanya anggapan bahwa kesalahan penyalinan tersebut terjadi secara massal di setiap manuskrip Kronik Anglo-Sakson. Banyak sejarawan menerima asumsi kekeliruan ini, sementara sebagian lainnya menolak karena menilai kesalahan yang seragam sangat kecil kemungkinannya terjadi pada sumber-sumber yang begitu konsisten.[16] Bagaimanapun juga, Egbert kemungkinan besar mulai diasingkan pada tahun 789, yaitu ketika Beorhtric yang menjadi saingannya menikahi putri Offa dari Mercia.[17]

Pada saat Egbert berada dalam pengasingan, Francia diperintah oleh Charlemagne. Sang kaisar terus menjaga pengaruh bangsa Franka di Northumbria dan dikenal kerap mendukung musuh-musuh Offa di wilayah selatan. Orang buangan lainnya di Galia pada masa ini adalah Odberht, seorang pendeta yang hampir bisa dipastikan merupakan orang yang sama dengan Eadberht III Præn, sosok yang di kemudian hari menjadi Raja Kent. Menurut seorang kronikus di masa kemudian, William dari Malmesbury, Egbert memanfaatkan waktunya selama di Galia untuk mempelajari seni mengelola pemerintahan.[18]

Awal masa pemerintahan

[sunting | sunting sumber]

Ketergantungan Beorhtric terhadap Mercia terus berlanjut hingga masa pemerintahan Cenwulf, yang naik takhta menjadi Raja Mercia beberapa bulan setelah kematian Offa.[9] Beorhtric wafat pada tahun 802, dan Egbert naik ke takhta Wessex, kemungkinan besar berkat dukungan dari Charlemagne dan mungkin juga pihak kepausan.[19]

Orang-orang Mercia terus menentang Egbert. Pada hari penobatan dirinya, suku Hwicce (yang awalnya membentuk kerajaan terpisah tetapi saat itu telah menjadi bagian dari Mercia) melancarkan serangan di bawah pimpinan ealdorman mereka, Æthelmund. Weohstan, seorang ealdorman Wessex, menghadang serangan tersebut bersama pasukan dari Wiltshire;[12] menurut sebuah sumber dari abad ke-15, Weohstan telah menikahi Alburga, saudari Egbert, sehingga ia merupakan ipar sang raja.[20] Suku Hwicce berhasil dikalahkan, meskipun Weohstan tewas dalam pertempuran tersebut bersama dengan Æthelmund.[12]

Tidak ada catatan lain mengenai hubungan Egbert dengan Mercia selama lebih dari dua puluh tahun setelah pertempuran ini. Egbert tampaknya tidak memiliki pengaruh di luar batas wilayahnya sendiri. Namun di sisi lain, tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa ia pernah tunduk pada pertuanan Cenwulf. Cenwulf memang memegang kendali atas wilayah Inggris selatan lainnya, tetapi dalam piagam-piagam Cenwulf, gelar "penguasa tertinggi Inggris selatan" tidak pernah muncul, yang diduga kuat terjadi sebagai konsekuensi dari kemerdekaan yang dipertahankan oleh Kerajaan Wessex.[21]

Pada tahun 815, Kronik Anglo-Sakson mencatat bahwa Egbert membumihanguskan seluruh wilayah dari kerajaan Briton yang tersisa, yaitu Dumnonia, yang dikenal oleh penulis Kronik sebagai wilayah Welsh Barat; wilayah mereka kurang lebih setara dengan daerah Cornwall saat ini.[12][22] Sepuluh tahun kemudian, sebuah piagam tertanggal 19 Agustus 825 mengindikasikan bahwa Egbert kembali memimpin kampanye militer di Dumnonia. Hal ini kemungkinan berkaitan dengan sebuah pertempuran yang dicatat dalam Kronik di Gafulford pada tahun 823, yang mempertemukan orang-orang Devon dengan bangsa Briton dari Cornwall.[23]

Pertempuran Ellendun

[sunting | sunting sumber]
Peta Inggris pada masa pemerintahan Egbert

Pada tahun 825 pula salah satu pertempuran paling penting dalam sejarah Anglo-Saxon terjadi, ketika Egbert mengalahkan Beornwulf dari Mercia di Ellandun—yang sekarang bernama Wroughton, dekat Swindon. Pertempuran ini menandai berakhirnya dominasi Mercia di Inggris selatan.[24]

Kronik tersebut menceritakan bagaimana Egbert menindaklanjuti kemenangannya: "Kemudian ia mengirim putranya, Æthelwulf, dari pasukannya, bersama Ealhstan, uskupnya, dan Wulfheard, ealdorman-nya, ke Kent dengan sepasukan besar." Æthelwulf mendesak Baldred, Raja Kent, ke utara melewati Sungai Thames. Menurut Kronik, rakyat Kent, Essex, Surrey, dan Sussex kemudian menyatakan tunduk kepada Æthelwulf "karena sebelumnya mereka dipisahkan secara paksa dan keliru dari sanak kerabatnya."[12]

Hal ini kemungkinan merujuk pada campur tangan Offa di Kent pada saat ayah Egbert, Ealhmund, menjadi raja. Jika demikian, catatan dari kronikus tersebut juga bisa mengindikasikan bahwa Ealhmund memiliki hubungan kekerabatan di tempat lain di tenggara Inggris.[19]

Versi kejadian dalam Kronik memberikan kesan bahwa Baldred terusir tak lama setelah pertempuran, tetapi kenyataannya kemungkinan tidak demikian. Sebuah dokumen dari Kent yang masih bertahan mencantumkan penanggalan Maret 826 sebagai tahun ketiga pemerintahan Beornwulf. Hal ini mengindikasikan bahwa Beornwulf kemungkinan besar masih memiliki otoritas di Kent pada waktu tersebut selaku penguasa tertinggi Baldred; dengan demikian, Baldred tampaknya masih memegang kekuasaan.[23][25] Di Essex, Egbert mengusir Raja Sigered, meskipun waktu pastinya tidak diketahui. Pengusiran ini mungkin tertunda hingga tahun 829 karena seorang kronikus di masa kemudian mengaitkan peristiwa tersebut dengan kampanye militer Egbert melawan orang-orang Mercia pada tahun tersebut.[23]

Kronik tidak menyebutkan siapa pihak agresor di Ellendun, tetapi sebuah kajian sejarah terbaru menegaskan bahwa Beornwulf hampir dipastikan merupakan pihak yang menyerang. Menurut pandangan ini, Beornwulf kemungkinan memanfaatkan momentum kampanye militer Wessex di Dumnonia pada musim panas tahun 825. Motivasi Beornwulf untuk melancarkan serangan diduga dipicu oleh ancaman keresahan atau ketidakstabilan di wilayah tenggara: hubungan dinasti dengan Kent membuat Wessex menjadi ancaman bagi dominasi Mercia.[23]

Dampak dari Pertempuran Ellendun meluas melampaui hilangnya kekuasaan Mercia secara mendadak di wilayah tenggara. Menurut Kronik, rakyat Anglia Timur meminta perlindungan Egbert dari orang-orang Mercia pada tahun yang sama, yaitu tahun 825, meskipun ada kemungkinan bahwa permintaan tersebut baru diajukan pada tahun berikutnya. Pada tahun 826, Beornwulf menginvasi Anglia Timur, yang diduga kuat bertujuan untuk memulihkan kembali kekuasaan tertingginya di sana. Namun, ia tewas terbunuh dalam invasi tersebut. Nasib serupa juga menimpa penerusnya, Ludeca, yang menginvasi Anglia Timur pada tahun 827 dengan alasan yang sama jelasnya.

Ada kemungkinan bahwa orang-orang Mercia sempat mengharapkan dukungan dari Kent. Terdapat alasan untuk menduga bahwa Wulfred, sang Uskup Agung Canterbury, merasa tidak puas dengan pemerintahan Saxon Barat. Hal ini dikarenakan Egbert telah menghentikan peredaran mata uang milik Wulfred dan mulai mencetak mata uangnya sendiri di Rochester dan Canterbury,[23] serta adanya catatan bahwa Egbert menyita aset-aset milik keuskupan Canterbury.[26] Pada akhirnya, hasil pertempuran di Anglia Timur menjadi malapetaka besar bagi orang-orang Mercia, yang sekaligus mengukuhkan kekuatan Saxon Barat di wilayah tenggara.[23]

Kekalahan Mercia

[sunting | sunting sumber]
Entri untuk tahun 827 dalam manuskrip C Kronik Anglo-Saxon, yang mencantumkan delapan bretwalda

Pada tahun 829, Egbert menginvasi Mercia dan mengusir Wiglaf, Raja Mercia, ke pengasingan. Kemenangan ini memberikan Egbert kendali atas Pencetakan Uang London, dan ia menerbitkan koin-koin sebagai Raja Mercia.[23] Setelah kemenangan inilah juru tulis Saxon Barat menggambarkannya sebagai seorang bretwalda, yang berarti 'penguasa luas' atau mungkin 'penguasa Britania', dalam sebuah penggalan teks terkenal di Kronik. Bagian yang relevan dari catatan tahunan tersebut, dalam manuskrip C dari Kronik, berbunyi:[27]

⁊ þy geare geeode Ecgbriht cing Myrcna rice ⁊ eall þæt be suþan Humbre wæs, ⁊ he wæs eahtaþa cing se ðe Bretenanwealda wæs.

Dalam bahasa Inggris modern:[28]

And the same year King Egbert conquered the kingdom of Mercia, and all that was south of the Humber, and he was the eighth king who was 'Wide-ruler'.

Dalam bahasa Indonesia:

Dan pada tahun yang sama Raja Egbert menaklukkan kerajaan Mercia, dan seluruh wilayah di sebelah selatan Humber, dan ia adalah raja kedelapan yang menjadi 'Penguasa Luas'.

Tujuh bretwalda sebelumnya juga disebutkan oleh sang kronikus, yang mencantumkan tujuh nama yang sama dengan daftar penguasa imperium menurut Beda, dimulai dari Ælle dari Sussex hingga Oswiu dari Northumbria. Daftar ini kerap dianggap tidak lengkap karena melewatkan beberapa raja Mercia yang dominan, seperti Penda dan Offa. Arti pasti dari gelar tersebut telah lama diperdebatkan; ada yang menggambarkannya sebagai "sebuah istilah dalam puisi pujian",[29] tetapi ada pula bukti yang menunjukkan bahwa gelar ini mengisyaratkan peran kepemimpinan militer yang nyata.[30]

Kelak pada tahun 829, menurut Kronik, Egbert menerima pernyataan tunduk dari orang-orang Northumbria di Dore (sekarang menjadi wilayah pinggiran Sheffield); Raja Northumbria saat itu kemungkinan besar adalah Eanred.[31] Menurut seorang kronikus di masa kemudian, Roger dari Wendover, Egbert sempat menginvasi dan menjarah Northumbria sebelum Eanred menyatakan tunduk: "Ketika Egbert telah menguasai seluruh kerajaan selatan, ia memimpin pasukan besar ke Northumbria, membumihanguskan provinsi tersebut dengan penjarahan yang hebat, dan memaksa Raja Eanred membayar upeti." Roger dari Wendover diketahui memasukkan catatan tahunan Northumbria ke dalam versi kroniknya, sementara Kronik sendiri tidak menyebutkan peristiwa penjarahan tersebut.[32] Meskipun demikian, hakikat dari pernyataan tunduk Eanred ini diragukan oleh para ahli: seorang sejarawan berpendapat bahwa pertemuan di Dore kemungkinan besar sebenarnya merupakan bentuk saling mengakui kedaulatan masing-masing.[33]

Pada tahun 830, Egbert memimpin sebuah ekspedisi militer yang sukses melawan orang-orang Wales, yang hampir dipastikan bertujuan untuk memperluas pengaruh Saxon Barat ke tanah-tanah Wales yang sebelumnya berada dalam lingkup pengaruh Mercia. Peristiwa ini menandai titik puncak dari pengaruh Egbert.[23]

Penurunan pengaruh setelah tahun 829

[sunting | sunting sumber]
Koin Raja Egbert

Pada tahun 830, Mercia merebut kembali kemerdekaannya di bawah pimpinan Wiglaf—Kronik tersebut sekadar menyatakan bahwa Wiglaf "memperoleh kerajaan Mercia kembali",[12] tetapi penjelasan yang paling masuk akal adalah bahwa hal ini merupakan hasil dari pemberontakan Mercia melawan kekuasaan Wessex.[34]

Piagam S 1438, di mana Raja Egbert dan Uskup Agung Canterbury menjanjikan dukungan timbal balik antara pihak gereja dan mahkota Saxon Barat dalam Konsili Kingston pada tahun 838.

Dominasi Egbert atas Inggris selatan berakhir seiring dengan kembalinya Wiglaf ke tampuk kekuasaan. Kembalinya Wiglaf ini segera diikuti oleh bukti-bukti yang menunjukkan kemerdekaannya dari Wessex. Beberapa piagam mengindikasikan bahwa Wiglaf memiliki otoritas di Middlesex dan Berkshire. Dalam sebuah piagam dari tahun 836, Wiglaf menggunakan frasa "para uskup, duces (pemimpin), dan hakim saya" untuk menggambarkan sekelompok tokoh yang mencakup sebelas uskup dari episkopat Canterbury, termasuk para uskup dari wilayah keuskupan di teritori Saxon Barat.[35] Kemampuan Wiglaf untuk mengumpulkan tokoh-tokoh terkemuka semacam itu sangatlah signifikan; orang-orang Saxon Barat sendiri tidak pernah mengadakan konsili serupa, sekalipun mereka mampu melakukannya.[26][36]

Wiglaf mungkin juga membawa Essex kembali ke dalam lingkup pengaruh Mercia pada tahun-tahun setelah ia merebut kembali takhtanya.[23][37] Di Anglia Timur, Raja Æthelstan mencetak mata uangnya sendiri, kemungkinan paling awal pada tahun 827, tetapi tampaknya baru terlaksana ca830 setelah pengaruh Egbert menyusut akibat kembalinya Wiglaf ke tampuk kekuasaan di Mercia. Unjuk kemerdekaan dari pihak Anglia Timur ini tidak mengejutkan, karena Æthelstan pulalah yang kemungkinan besar bertanggung jawab atas kekalahan dan kematian Beornwulf serta Ludeca.[23]

Kebangkitan kekuasaan Wessex yang mendadak pada akhir dekade 820-an, serta kegagalan berikutnya untuk mempertahankan posisi dominan ini, telah diteliti oleh para sejarawan yang mencari penyebab mendasarnya. Salah satu penjelasan masuk akal untuk rangkaian peristiwa pada tahun-tahun tersebut adalah bahwa kejayaan Wessex, sampai batas tertentu, bergantung pada dukungan Karoling. Bangsa Franka pernah mendukung Eardwulf ketika ia merebut kembali takhta Northumbria pada tahun 808, sehingga masuk akal jika mereka juga mendukung penobatan Egbert pada tahun 802. Pada perayaan Paskah tahun 839, tidak lama sebelum kematiannya, Egbert sempat menjalin komunikasi dengan Louis yang Saleh, Raja Franka, untuk mengatur perjalanan yang aman menuju Roma. Oleh karena itu, hubungan yang berkelanjutan dengan bangsa Franka tampaknya menjadi bagian penting dari konstelasi politik Inggris selatan selama paruh pertama abad kesembilan.[23]

Dukungan Karoling mungkin menjadi salah satu faktor yang membantu Egbert meraih kesuksesan militer pada akhir dekade 820-an. Namun, jaringan perdagangan Rhenish dan Franka runtuh sekitar kurun waktu 820-an atau 830-an. Selain itu, sebuah pemberontakan meletus pada bulan Februari 830 melawan Louis yang Saleh—yang menjadi awal dari serangkaian konflik internal yang berlangsung sepanjang dekade 830-an dan seterusnya. Pengalihan fokus ini kemungkinan mencegah Louis untuk memberikan dukungan kepada Egbert. Dalam pandangan ini, hilangnya pengaruh Franka memaksa Anglia Timur, Mercia, dan Wessex untuk mencari keseimbangan kekuasaan baru tanpa bergantung pada bantuan luar.[23]

Terlepas dari hilangnya dominasi tersebut, kesuksesan militer Egbert secara mendasar mengubah lanskap politik Inggris Anglo-Saxon. Wessex tetap mempertahankan kendali atas kerajaan-kerajaan di wilayah tenggara, dengan kemungkinan pengecualian pada Essex, sementara Mercia gagal merebut kembali kendali atas Anglia Timur.[23] Kemenangan Egbert menandai berakhirnya eksistensi independen dari Kerajaan Kent dan Sussex. Wilayah-wilayah taklukan tersebut sempat dikelola sebagai kerajaan bawahan untuk sementara waktu, termasuk Surrey dan kemungkinan Essex.[38]

Walaupun Æthelwulf berstatus sebagai raja bawahan di bawah Egbert, ia jelas mempertahankan rumah tangga istananya sendiri yang menemaninya melakukan perjalanan keliling kerajaan. Piagam-piagam yang diterbitkan di Kent menggambarkan Egbert dan Æthelwulf sebagai "raja-raja Saxon Barat dan juga rakyat Kent". Ketika Æthelwulf wafat pada tahun 858, surat wasiatnya—yang mewariskan Wessex kepada salah satu putranya dan kerajaan tenggara kepada putranya yang lain—memperjelas bahwa integrasi penuh antar-kerajaan tersebut baru benar-benar terjadi setelah tahun 858.[39] Kendati demikian, Mercia tetap menjadi ancaman; putra Egbert, Æthelwulf, yang ditetapkan sebagai Raja Kent, memberikan tanah-tanah hibah kepada Christ Church, Canterbury, kemungkinan besar untuk membendung pengaruh apa pun yang mungkin masih dimiliki orang-orang Mercia di sana.[23]

Di wilayah barat daya, Egbert dikalahkan di Carhampton oleh bangsa Dane pada tahun 836, tetapi pada tahun 838, ia berhasil memenangkan pertempuran melawan mereka dan sekutu mereka, orang-orang Welsh Barat, dalam Pertempuran Hingston Down di Cornwall. Silsilah kerajaan Dumnonia masih terus berlanjut setelah masa ini, tetapi pada tahun inilah kemerdekaan dari salah satu kerajaan Briton terakhir tersebut dapat dianggap telah berakhir.[23]

Rincian mengenai ekspansi Anglo-Saxon ke Cornwall sangat sedikit tercatat dalam sejarah, tetapi beberapa bukti dapat ditemukan melalui toponimi (nama tempat).[40] Sungai Ottery, yang mengalir ke timur menuju Sungai Tamar di dekat Launceston, tampaknya menjadi batas penanda: di sebelah selatan Sungai Ottery, nama-nama tempat sebagian besar menggunakan bahasa Cornwall, sedangkan di sebelah utara, nama-namanya secara masif dipengaruhi oleh para pendatang Inggris.[41]

Peti mati jenazah dari abad ke-16, salah satu dari rangkaian peti yang dibuat oleh Uskup Foxe di Katedral Winchester, yang diklaim berisi tulang-belulang Egbert

Dalam sebuah konsili di Kingston upon Thames pada tahun 838, Egbert dan Æthelwulf menghibahkan tanah kepada keuskupan Winchester dan Canterbury sebagai imbalan atas janji dukungan terhadap klaim takhta Æthelwulf.[26][35][42]

Uskup Agung Canterbury, Ceolnoth, juga menerima Egbert dan Æthelwulf sebagai tuan dan pelindung biara-biara di bawah kendali Ceolnoth. Kesepakatan-kesepakatan ini, bersama dengan piagam di kemudian hari ketika Æthelwulf mengonfirmasi hak-hak istimewa gereja, mengindikasikan bahwa pihak gereja telah mengakui Wessex sebagai kekuatan politik baru yang harus diperhitungkan.[23]

Para pemuka agama mentahbiskan raja dalam upacara penobatan, serta membantu menyusun surat wasiat yang menentukan ahli waris raja; dukungan mereka memiliki nilai yang sangat penting dalam mengukuhkan kendali Saxon Barat dan memastikan suksesi yang mulus bagi garis keturunan Egbert.[43] Baik catatan Konsili Kingston maupun piagam lain pada tahun tersebut memuat rumusan kalimat yang identik, yaitu bahwa syarat dari hibah tersebut adalah "kita sendiri dan ahli waris kita harus selalu mendapatkan persahabatan yang kokoh dan tak tergoyahkan dari Uskup Agung Ceolnoth dan jemaatnya di Christ Church kelak."[42][44][45]

Meskipun tidak ada informasi mengenai klaim takhta dari pihak lain, kemungkinan besar ada keturunan Cerdic (yang dianggap sebagai leluhur dari semua raja Wessex) yang masih hidup dan berpotensi memperebutkan kerajaan tersebut. Egbert wafat pada tahun 839. Menurut catatan yang ditemukan dalam surat wasiat cucunya, Alfred yang Agung, surat wasiat Egbert hanya mewariskan tanah kepada anggota keluarga laki-laki agar aset-aset tersebut tidak lepas dari wangsa kerajaan akibat pernikahan.

Kekayaan Egbert yang diperoleh melalui penaklukan tak pelak menjadi salah satu alasan kemampuannya untuk mengamankan dukungan dari lembaga gereja di wilayah tenggara; kehati-hatian finansial dalam surat wasiatnya menunjukkan bahwa ia memahami betapa pentingnya kekayaan pribadi bagi seorang raja.[43] Takhta Wessex sebelumnya sering kali diperebutkan di antara berbagai cabang garis keturunan kerajaan, dan keberhasilan Egbert dalam memastikan suksesi Æthelwulf yang berjalan tanpa hambatan merupakan sebuah pencapaian yang patut dicatat.[43] Selain itu, pengalaman Æthelwulf dalam memimpin kerajaan bawahan yang dibentuk dari wilayah taklukan Egbert di tenggara menjadi modal yang sangat berharga baginya saat ia naik takhta.[46]

Egbert dimakamkan di Winchester, begitu pula putranya, Æthelwulf, cucunya, Alfred yang Agung, dan cicitnya, Edward si Tua. Sepanjang abad kesembilan, Winchester mulai menunjukkan tanda-tanda urbanisasi, dan rangkaian pemakaman para penguasa ini kemungkinan besar mengindikasikan bahwa Winchester sangat dihormati oleh garis keturunan kerajaan Saxon Barat.[47]

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. Garmonsway, G. N. ed., The Anglo-Saxon Chronicle, London, J. M. Dent & Sons, Ltd., hlm. xxxii, 2, 4
  2. Stenton, Anglo-Saxon England, hlm. 65–66
  3. Edwards, Ecgberht
  4. Naismith, hlm. 16
  5. Kronik tersebut (Hardy, Vol III, No. 326) menggambarkan istri Egbert sebagai "Redburga regis Francorum sororia" (saudara perempuan atau ipar perempuan Kaisar Franka). Beberapa sejarawan abad kesembilan belas mengutip manuskrip tersebut untuk mengidentifikasi Redburga sebagai istri Egbert, seperti W. G. Searle dalam karyanya tahun 1897 Onomasticon Anglo-Saxonicum dan (sebagai Rædburh) dalam karyanya tahun 1899 Anglo-Saxon Bishops, Kings and Nobles. Sejarawan lain pada masa itu bersikap skeptis, seperti William Hunt, yang tidak menyebut nama Redburga dalam artikelnya tentang Egbert di Dictionary of National Biography yang asli pada tahun 1889 (Hunt, "Egbert", hlm. 619–620). Pada abad kedua puluh, para pakar silsilah dan sejarawan populer mengikuti Searle dalam menamai Redburga sebagai istri Egbert, tetapi para sejarawan akademis mengabaikannya ketika membahas Egbert. Selain itu, artikel tahun 2004 karya Janet Nelson mengenai putranya, Æthelwulf, dalam Oxford Dictionary of National Biography menyatakan bahwa nama ibunya tidak diketahui.
  6. Farmer, D. H.: The Oxford Dictionary of Saints, hlm. 10
  7. Hunter Blair, Roman Britain, hlm. 14–15.
  8. P. Wormald, "The Age of Bede and Æthelbald", dalam Campbell et al., The Anglo-Saxons, hlm. 95–98
  9. 1 2 Stenton, Anglo-Saxon England, hlm. 208–210.
  10. 1 2 3 4 5 Kirby, Earliest English Kings, hlm. 165–169
  11. Stenton, Anglo-Saxon England, hlm. 207.
  12. 1 2 3 4 5 6 Swanton, The Anglo-Saxon Chronicle, hlm. 58–63.
  13. Wormald, "Bede, the bretwaldas and the origins of the Gens Anglorum", dalam Wormald et al., Ideal and Reality, hlm. 113; dikutip dalam Kirby, Earliest English Kings, hlm. 167., dan catatan kaki 30.
  14. Fletcher, Who's Who, hlm. 114.
  15. Yorke, Kings and Kingdoms, hlm. 141.
  16. Misalkan Fletcher yang berasumsi bahwa Egbert menghabiskan hampir seluruh masa pemerintahan Beorhtric di Francia; lihat Fletcher, Who's Who, hlm. 114. Senada dengan itu, Swanton memberikan catatan pada frasa "3 tahun" dengan "sebenarnya tiga belas tahun . . . kesalahan ini umum terjadi di semua manuskrip." Lihat catatan kaki 12 dalam Swanton, Anglo-Saxon Chronicle, hlm. 62–63. Naismith mengusulkan bahwa masa pengasingan Egbert mungkin berlangsung selama tiga belas tahun dari tahun 789, yaitu tahun pernikahan Beorhtric dengan putri Offa, hingga tahun 802 ketika ia naik takhta: lihat Naismith, hlm. 3. Di sisi lain, Stenton menerima angka tiga tersebut apa adanya: lihat Stenton, Anglo-Saxon England, hlm. 220. Stenton menambahkan dalam catatan kaki bahwa "sangat berbahaya untuk menolak sebuah teks bacaan yang didukung oleh bukti yang sangat kuat".
  17. Stenton, Anglo-Saxon England, hlm. 220.
  18. Kirby, Earliest English Kings, hlm. 176–177.
  19. 1 2 Kirby, Earliest English Kings, hlm. 186.
  20. Sumber tersebut, sebuah puisi dalam Chronicon Vilodunense, digambarkan oleh Yorke sebagai "harus diakui . . . jauh dari ideal". Lihat Barbara Yorke, "Edward as Ætheling", dalam Higham & Hill, Edward the Elder, hlm. 36.
  21. Stenton, Anglo-Saxon England, hlm. 225.
  22. Perbatasan telah didesak mundur hingga ke Sungai Tamar, di antara Devon dan Cornwall, oleh Ine dari Wessex pada tahun 710. Lihat Kirby, Earliest English Kings, hlm. 125.
  23. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 Kirby, Earliest English Kings, hlm. 189–195.
  24. Stenton, Anglo-Saxon England, hlm. 231.
  25. "Anglo-Saxons.net: S 1267". Sean Miller. Diakses tanggal 8 Agustus 2007.
  26. 1 2 3 P. Wormald, "The Age of Offa and Alcuin", hlm. 128, dalam Campbell et al., The Anglo-Saxons.
  27. "Manuscript C: Cotton Tiberius C.i". Tony Jebson. Diakses tanggal 12 Agustus 2007.
  28. Terjemahan didasarkan pada Swanton; perhatikan bahwa kata bretwalda (yang diterjemahkan Swanton sebagai 'pengendali Britania') dalam manuskrip A muncul sebagai brytenwealda dan variasinya dalam manuskrip-manuskrip lainnya; di sini istilah tersebut diterjemahkan sebagai 'penguasa luas' (*wide-ruler*), sesuai dengan Swanton. Lihat Swanton, Anglo-Saxon Chronicle, hlm. 60–61.
  29. Stenton, Anglo-Saxon England, hlm. 34–35.
  30. Kirby, Earliest English Kings, hlm. 17.
  31. Kirby, Earliest English Kings, hlm. 197.
  32. P. Wormald, "The Ninth Century", hlm. 139, dalam Campbell et al., The Anglo-Saxons.
  33. Yorke, Kings and Kingdoms, hlm. 96.
  34. Stenton mengutip catatan tahunan untuk tahun 839, yang menyebutkan bahwa Æthelwulf "menganugerahkan" atau "memberikan" kerajaan Kent kepada putranya, sebagai contoh bahasa yang akan digunakan andaikata Wiglaf dianugerahi kerajaan tersebut oleh Egbert. Lihat Stenton, Anglo-Saxon England, hlm. 233–235
  35. 1 2 Stenton, Anglo-Saxon England, hlm. 233–235
  36. P. Wormald, "The Ninth Century", hlm. 138, dalam Campbell et al., The Anglo-Saxons.
  37. Yorke, Kings and Kingdoms, hlm. 51.
  38. Yorke, Kings and Kingdoms, hlm. 32.
  39. Abels, Alfred the Great, hlm. 31.
  40. Yorke, Kings and Kingdoms, hlm. 155.
  41. Payton, Cornwall, hlm. 68.
  42. 1 2 "Anglo-Saxons.net: S 1438". Sean Miller. Diakses tanggal 1 September 2007.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  43. 1 2 3 Yorke, Kings and Kingdoms, hlm. 148–149.
  44. "Anglo-Saxons.net: S 281". Sean Miller. Diakses tanggal 8 Agustus 2007.
  45. P. Wormald, "The Ninth Century", hlm. 140, dalam Campbell et al., The Anglo-Saxons.
  46. Yorke, Kings and Kingdoms, hlm. 168–169.
  47. Yorke, Wessex, hlm. 310.
Sumber Pertama
Sumber Kedua

Pranala luar

[sunting | sunting sumber]
Gelar kebangsawanan
Didahului oleh:
Beorhtric
Raja Wessex
802–839
Diteruskan oleh:
Æthelwulf
Didahului oleh:
Baldred
Raja Kent
825–839