Dongeng Anjing Api

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Dongeng Anjing Api
Dongeng Anjing Api.jpg
PengarangSindu Putra
BahasaBendera Indonesia Indonesia
PenerbitArti Foundation Denpasar
Tanggal terbit
2008
Halaman121
ISBNISBN 978-979-11-4517-6

Dongeng Anjing Api adalah judul buku kumpulan puisi karya Sindu Putra yang diterbitkan oleh Arti Foundation, pada tahun 2008. Buku setebal 121 halaman dengan ISBN 978-979-1145-17-6, ini mengantarkan Sindu Putra memenangi Penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa untuk kategori Puisi pada tahun 2009. Dongeng Anjing Api mengangkat tema lingkungan, kritik sosial, kritik budaya, ketuhanan, kehilangan, percintaan, pencarian jati diri, cerita rakyat (folklore), mitologi, dan perubahan akibat modernisasi.[1][2][3][4]

Latar belakang[sunting | sunting sumber]

Buku Dongeng Anjing Api memuat 100 sajak pilihan Sindu Putra yang terbagi menjadi dua bagian: Periode Bali (1994-2000) dan Periode Lombok (2001-2007). Lima puluh sajak dalam Periode Bali dikerjakan Sindu di Bali saat dia belum menikah. Sedangkan 50 sajak Periode Lombok dikerjakan Sindu ketika dia sudah menikah dan menetap di Lombok.

Sajak-sajak Sindu memuat sejumlah kata yang secara umum dianggap kurang bernilai puisi. Namun Sindu, dengan leluasa dan tanpa beban, menggunakan kata-kata itu. Tidak mudah memasukkan kata-kata berbau modern ke dalam puisi, sebab memerlukan pergulatan batin dalam memilih kata dan keterampilan berbahasa tingkat tinggi. Artinya, penyair sudah tidak ada persoalan lagi dengan bahasa dan cara ungkap.

Sajak-sajak dalamDongeng Anjing Api menjelajahi berbagai kemungkinan kata dan metafora. Sindu termasuk penyair yang terus gelisah untuk beternak sajak dalam dirinya, membiakkan anak-anak sajak dengan berbagai rupanya. Selalu saja terdapat kejutan-kejutan metafora yang dibangun dari keliaran imajinasi dan penjelajahannya terhadap kata. Tema-tema yang digarap Sindu juga sangat luas dan beragam, seperti masalah dan kritik ekologi/lingkungan, kritik sosial, kritik budaya, ketuhanan, kehilangan, percintaan, pencarian jati diri, cerita rakyat (folklore), mitologi, dan perubahan akibat modernisasi. Terkadang dalam sebuah sajak Sindu, terdapat lebih dari satu pokok persoalan, atau sebuah tema yang membias ke berbagai arah layaknya cahaya yang ditembakkan ke dalam prisma. Misalnya persoalan ekologi campur-aduk dengan mitologi dan perubahan akibat modernisasi.

Sindu juga cukup piawai mengolah dongeng ke dalam sajaknya. Bahkan tampak kecenderungan sajak-sajak Sindu adalah mendongeng, dengan berbagai imajinasi liar dari negeri antah berantah bercampur aduk dengan serakan kata-kata dan metafora dari dunia modern. Misalnya, dalam sajak Ritus Tantri, dia mengaitkan atau memparodikan dongeng Tantri dengan raja penderita insomnia dan impotensi, bahkan raja yang paranoid. Dalam sajak Dongeng Kini Manusia Bali, Sindu malah memelesetkan namanya menjadi Artupudnis (kebalikan Sinduputra), seakan nama tokoh dari mitologi Yunani kuno.

Sajak-sajak Sindu bukanlah akhir dari zaman liris yang menurut Nirwan Dewanto telah hancur, menjadi puing dan telah berada di ambang senjakala. Justru sajak-sajak Sindu memperkaya lirisme dengan berbagai variannya. Sindu mampu memadukan, mengaduk dan meramu kata-kata dari berbagai bidang ilmu sehingga sajak-sajaknya terkesan unik dan mengagetkan bagi banyak kalangan yang masih tertib dengan lirisme. Idiom-idiom dokter hewan, dunia peternakan, pertanian, modernisasi, merasuk ke dalam sajak-sajaknya. Orang sering heran, bagaimana bisa Sindu dengan berani mencantumkan kata-kata yang secara umum tidak puitis ke dalam sajaknya. Seperti kata televisi, kondominium, impotensi, dan lain sebagianya. Namun justru di sinilah kehebatan Sindu yang tidak terlalu silau dengan kata-kata, idiom-idiom, metafora-metafora yang secara umum disepakati bernilai sastra dan mampu membangun kerangka kuat sebuah sajak.

Sebagai penyair, Sindu tidak hanya asyik dengan dunia batinnya sendiri. Ia mengamati, merasakan, berempati, bersimpati pada berbagai kejadian, dan dengan cermat menuangkan ke dalam sajak-sajaknya. Hanya saja, terkadang Sindu terlalu hanyut dengan kegelapan dan keruwetan metafora sehingga beberapa sajaknya menjadi keruh. Karena salah satu tantangan penyair adalah justru menggapai kejernihan dalam pergulatannya dengan puisi.

Kelebihan Sindu sebagai penyair adalah kemampuannya untuk berenang dan bermain dalam samudera kata-kata dan imajinasi liar, sehingga melahirkan sajak-sajak yang terkesan unik. Kalau perjuangan penyair adalah menemukan metafora yang segar, maka Sindu sudah melakukannya.

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]