Dadapayam, Suruh, Semarang
Dadapayam | |||||
|---|---|---|---|---|---|
Peta lokasi Desa Dadapayam | |||||
| Negara | |||||
| Provinsi | Jawa Tengah | ||||
| Kabupaten | Semarang | ||||
| Kecamatan | Suruh | ||||
| Kode pos | 50776 | ||||
| Kode Kemendagri | 33.22.04.2017 | ||||
| Luas | 8,4687 km² | ||||
| Jumlah penduduk | 6103 jiwa | ||||
| Kepadatan | 718 jiwa/km² | ||||
| |||||
Dadapayam adalah sebuah desa di kecamatan Suruh, Semarang, Jawa Tengah, Indonesia. Desa Dadapayam terletak di bagian paling utara Kecamatan Suruh, dengan jarak sekitar 12 kilometer dari pusat kecamatan. Lokasinya berada sekitar 15 kilometer sebelah timur Kota Salatiga, 50 kilometer tenggara dari Kota Ungaran, dan 64 kilometer dari Kota Semarang. Secara administratif, desa ini terbagi menjadi 13 dusun dan 7 RW, yaitu: Krajan, Pojok, Ngenjer, Bulu, Ngroto, Gempol, Kringin, Jambe, Plaosan, Blimbing, Janglengan, Plasan, dan Kleco. Desa Dadapayam berbatasan dengan:
| Utara | Desa Rejosari, Lembu |
| Selatan | Desa Cukilan |
| Barat | Desa Pucung, Semowo, Tukang, Terban |
| Timur | Kec. Wonosamudro, Kab. Boyolali |
Untuk mencapai Desa Dadapayam dari Kota Salatiga, terdapat dua rute utama yang bisa ditempuh. Rute pertama melewati Jalan Nanggulan menuju timur melalui Jalan Salatiga–Dadapayam dengan waktu perjalanan sekitar 35 menit. Alternatif lainnya adalah melalui Jalan Patimura dan Jalan Salatiga–Semowo–Dadapayam, yang lebih singkat dengan waktu tempuh sekitar 25 menit menggunakan kendaraan roda empat. Sebagian besar jalan di desa ini sudah beraspal, meskipun masih terdapat beberapa ruas yang bergelombang dan mengalami kerusakan, terutama di kawasan Dusun Blimbing dan Plaosan. Fasilitas penerangan jalan pada malam hari masih terbatas dan hanya tersedia di beberapa titik tertentu.
Etimologi
[sunting | sunting sumber]Nama Dadapayam cukup dikenal oleh masyarakat di sekitar Kota Salatiga, meskipun asal mula penamaannya masih menjadi bahan perbincangan. Wilayah yang dimaksud sebagai Dadapayam secara administratif merujuk pada Dusun Krajan, pusat pemerintahan desa saat ini.
Sebagian pihak menduga bahwa kata "Dadap" mengacu pada keberadaan pohon dadap atau hutan kecil (alas) di wilayah barat Dusun Krajan, tepatnya di area Deglok. Pendapat lain mengaitkannya dengan kisah rakyat tentang Mbok Rondo Dadapan. Sementara itu, kata "ayam" kemungkinan besar berasal dari legenda ayam milik tokoh Cindelaras.
Pada masa sebelum kedatangan kolonial Belanda, kawasan ini merupakan perkampungan kecil dengan jumlah penduduk yang terbatas dan mayoritas bekerja sebagai petani. Mereka menanam padi, jagung, singkong, serta berbagai jenis tanaman palawija. Padi saat itu kemungkinan hanya ditanam satu musim karena belum dikenal sistem padi gogo. Ketika masa kolonial tiba, berbagai perubahan mulai terjadi, seperti diperkenalkannya teknik pertanian baru dan penanaman beragam komoditas pangan. Selain itu, pembangunan Bendung Dresi turut mendorong pertumbuhan ekonomi dan menjadikan kawasan ini sebagai salah satu sentra ekonomi penting di wilayah timur Salatiga.
Sejarah
[sunting | sunting sumber]Pada masa kolonial Hindia Belanda, Desa Dadapayam memiliki peran penting sebagai salah satu pos pertahanan Belanda. Pos ini terletak di perbatasan strategis antara wilayah kekuasaan kolonial Belanda dan Kesultanan Surakarta, khususnya di wilayah Gilirejo. Letak geografisnya yang berada di titik batas membuat Dadapayam menjadi titik pertahanan militer vital, guna mengamankan wilayah administrasi kolonial dari pengaruh politik dan potensi konflik dengan wilayah kesultanan yang masih memiliki otonomi.
Selain fungsi militernya, Dadapayam juga dikenal sebagai salah satu dari sepuluh perkebunan kecil yang dikelola langsung oleh Belanda di wilayah Regentschap Semarang. Perkebunan ini menjadi sektor strategis dalam mendukung ekonomi kolonial, terutama untuk tanaman ekspor seperti kopi, tembakau, dan tanaman pangan lainnya. Hasil produksi dari perkebunan ini sebagian besar diekspor ke Eropa, menjadikan Dadapayam sebagai pusat pertanian komersial skala kecil yang dikuasai bangsa Eropa.
Pengelolaan lahan oleh Belanda membawa perubahan besar dalam tatanan sosial dan ekonomi masyarakat setempat. Petani pribumi yang sebelumnya mengelola lahannya secara mandiri mulai terserap ke dalam sistem kerja kolonial, dengan berbagai ketentuan mengenai tenaga kerja, pembagian hasil, dan pengawasan produksi. Dalam banyak kasus, masyarakat lokal dijadikan buruh tani di perkebunan Belanda, sedangkan pihak kolonial mendapatkan keuntungan ekonomi yang signifikan.
Perkembangan sektor perkebunan turut mendorong pembangunan infrastruktur di sekitar kawasan Dadapayam. Pembangunan jalan penghubung, irigasi, serta infrastruktur pendukung lainnya seperti Bendung Dresi turut memperkuat posisi ekonomi desa ini. Bendung Dresi memainkan peran vital dalam penyediaan air bagi lahan pertanian dan perkebunan, sehingga kawasan ini berkembang sebagai pusat agrikultur produktif di wilayah timur Salatiga.
Namun, dominasi kolonial Belanda dalam sektor pertanian dan pertahanan juga menimbulkan ketegangan sosial yang berkepanjangan. Penindasan dan eksploitasi sumber daya lokal memicu benih-benih perlawanan rakyat, yang kemudian berkembang menjadi bagian dari gerakan perjuangan kemerdekaan Indonesia. Keberadaan pos militer Belanda dan sistem tanam paksa menjadi latar belakang konflik sosial dan politik yang mewarnai sejarah lokal Dadapayam.
Status Administratif Historis
[sunting | sunting sumber]- Tahun 1700–1800-an: Dadapayam merupakan bagian dari Residentie Semarang, dalam wilayah administratif Regentschap Semarang, dengan pusat pemerintahan lokal di bawah Districtshoofd Salatiga. Berdasarkan peta Belanda tahun 1861
- Tahun sekitar 1906: Wilayah Dadapayam tercatat sebagai bagian dari Residentie Semarang, Regentschap Semarang, namun dengan distrik administratif yang telah bergeser ke Districtshoofd Tengaran. Pergeseran ini sejalan dengan reorganisasi administratif kolonial pada awal abad ke-20.
- Era pasca-kemerdekaan Indonesia: Setelah proklamasi 1945 dan penataan pemerintahan Republik Indonesia, Dadapayam masuk ke dalam wilayah administratif Kecamatan Suruh, Kabupaten Semarang, Provinsi Jawa Tengah, seperti yang berlaku hingga saat ini.
Agresi Militer Belanda II
[sunting | sunting sumber]Pada tanggal 11 Juni 1948, Kepala Kepolisian Negara, Tjiptopranoto melaporkan akan situasi militer dan gerakan Belanda Kepada Delegasi Indonesia. Ia melaporkan bahwa Belanda akan menuju Solo dengan melalui daerah Susukan dan Karanggede, kemudian menuju Simo, Penasen dan Solo (ANRI: Delegasi Indonesia No.555). Dengan adanya laporan itu, maka pejuang-penjuang RI bersiap-siap untuk menghadapi Belanda yang akan melewati daerah RI.
Pada tanggal 20 Desember 1948 sebelum pasukan mulai bergerak, dari markas artileri di Ngebul, Belanda melancarkan serangan dengan senjata senjata beratnya ke berbagai penjuru. Akibatnya, pertahan kesatuan militer RI kocar-kacir, banyak desa hancur, dan rakyat menjadi korban. Selanjutnya dari Salatiga, konvoi pasukan Belanda bergerak maju ke Solo dikawal sejumlah senjata berat dan pesawat udara. Walaupun TNI berhasil menghancurkan jembatan Kali Ketanggi, tetapi tidak banyak menghambat gerak maju musuh, tetapi seorang tentara Belanda bernama Karel berhasil ditangkap (Wawancara R.Poniman Tonys, Juli 2008).
Di Tengaran pasukan Belanda dihadang TNI sehingga pertempuran meletus. Dalam pertempuran tersebut gugur lima orang anggota Barisan Kyai, yaitu Kyai Mawardi, Kyai Zahrodji, Kyai Badjuri, Kyai Amri, dan Kyai Dulbari, yang terjebak dalam kepungan musuh sewaktu TNI bergerak mundur. Akibat cegatan itu, Belanda lalu menumpahkan kemarahannya pada rakyat desa di sekitarnya.

Banyak rumah dibakar dan penduduknya ditangkap. Mereka yang ketahuan rumahnya dijadikan markas atau dapur umum, tanpa ampun langsung ditembak mati. Pada tanggal 1 Maret 1949, di Salatiga terjadi serangan umum terhadap pos-pos Belanda di Dadapayam, Tengaran, dan Bawangan. Serangan dilakukan secara besar-besaran dan serentak pada malam hari. Penduduk desa dimsekitarnya memukul kentongan dan lain-lain sehingga suasana menjadi hiruk-pikuk. Berapa besar kerugian pihak musuh tidak diketahui, tetapi peristiwa itu berhasil meningkatkan moril pasukan dan menambah kepercayaan rakyat. Pertempuran kecil secara sporadis terjadi di sana-sini, seperti di desa Mongkrong, Jatirejo, Tajuk, Tengaran, Gunung Tumpeng, Kalik-Rumpung, dan beberapa tempat lainnya (Balai Penelitian Sejarah dan Nilai Tradisional Yogyakarta, 2006:137).
Sektor PP4A dibagi menjadi dua COP yang terletak di Tengaran dan Ngaglik. Komandan COP Sektor I Tengaran adalah Kapten Sarsono. Sedangkan Komandan COP Sektor II Ngaglik dipegang oleh Letkol Slamet Riyadi. Sektor PP4A berhadapan langsung dengan pos-pos Belanda. Pos Belanda tersebar di Ngaglik (di rumah H. Nakhrowi), Ngrandon, Karang Duren (dinas petanian), Tingkir, Setugur, Dadapayam, Bawangan, Tempuran, Wiru, Getas, Bringin dan pos polisi Sumber Rejo (Chusnul Hajati, dkk., 1997: 125).
Geografi
[sunting | sunting sumber]Wilayah Desa Dadapayam memiliki ketinggian yang bervariasi antara 250 hingga 500 meter di atas permukaan laut. Bagian selatan desa umumnya beriklim lebih sejuk, sedangkan bagian utara terasa lebih panas. Secara geografis, desa ini berada di sisi barat Pegunungan Kendeng dan terletak di sebelah timur dari rangkaian pegunungan vulkanik Ungaran–Merapi. Salah satu anak sungai dari Kali Sungai Tuntang, yaitu Kali Gobak (juga dikenal sebagai Kali Bancak), mengalir melalui wilayah ini dan menjadi sumber air penting, khususnya untuk kebutuhan irigasi selama musim hujan.
Iklim
[sunting | sunting sumber]Desa Dadapayam memiliki iklim tropis, yang dalam klasifikasi Köppen–Geiger tergolong sebagai tipe Am (iklim monsun tropis). Suhu rata-rata tahunan di wilayah ini berkisar 24,7 °C, dengan suhu harian antara 28 hingga 33 °C. Suhu terendah biasanya terjadi pada bulan Agustus hingga September, mencapai sekitar 20 °C, sedangkan suhu tertinggi mencapai 35–36 °C pada bulan Oktober.
Menurut pembagian Zona Musim (ZOM) oleh BMKG, wilayah Dadapayam berada di perbatasan dua zona, yaitu ZOM 244/31 dan ZOM 253/40. Berdasarkan data BMKG periode 1991–2020 dan karakteristik anomali musiman seperti awal musim hujan serta sifat curah hujan saat kemarau, pembagian wilayahnya adalah sebagai berikut:

- Bagian utara Dadapayam — mencakup dusun Krajan, Pojok, Bulu, Ngenjer, Ngroto, dan Gempol — termasuk dalam ZOM 244/31.
- Bagian selatan Dadapayam — mencakup dusun Jambe, Kringin, Plaosan, Blimbing, Janglengan, Plasan, dan Kleco — masuk dalam ZOM 253/40.
| Lokasi | ZOM
BMKG |
Curah Hujan
Rata-rata |
Awal
Musim Hujan |
Puncak
Musim Hujan |
Awal
Musim Kemarau |
Panjang
Musim Hujan |
|---|---|---|---|---|---|---|
| Dadapayam bagian utara | 244/31 | 2.205 mm | Minggu ke 1 Oktober | Januari | Minggu ke 2 Mei | 20 Dasarian |
| Dadapayam bagian selatan | 253/40 | 2.344 mm | Minggu ke 4 Oktober | Januari | MInggu Ke 1 Mei | 19 Dasarian |
Desa Dadapayam memiliki iklim muson tropis yang ditandai oleh dua musim utama: musim hujan dan musim kemarau. Musim hujan di wilayah utara desa — seperti Dusun Krajan, Pojok, Bulu, Ngenjer, Ngroto, dan Gempol — biasanya dimulai pada minggu pertama Oktober. Sementara itu, bagian selatan — mencakup Dusun Jambe, Kringin, Plaosan, Blimbing, Jangglengan, Plasan, dan Kleco — memasuki musim hujan lebih lambat, yaitu pada minggu keempat Oktober. Curah hujan tertinggi umumnya terjadi pada bulan Januari, dengan peralihan ke musim kemarau berlangsung antara bulan April hingga Mei. Panjang dan intensitas kedua musim ini sangat dipengaruhi oleh fenomena global seperti El Niño, La Niña, serta anomali iklim regional, termasuk suhu permukaan laut di selatan Pulau Jawa dan Laut Jawa.
Ketika terjadi El Niño dengan intensitas sedang hingga kuat dan didukung oleh Indian Ocean Dipole (IOD) positif, terjadi penurunan curah hujan yang signifikan. Di bagian utara desa, dampaknya mencapai 80–90%, dengan mundurnya awal musim hujan hingga tiga dasarian atau sekitar 30 hari. Sedangkan di bagian selatan, pengaruhnya lebih ringan, sekitar 60–75%, dengan keterlambatan musim hujan selama dua dasarian atau 20 hari.
Letak geografis Dadapayam yang berada di zona pertemuan massa udara panas-kering dari selatan-tenggara dan udara lembap-dingin dari utara–barat laut menyebabkan seringnya terjadi angin kencang. Wilayah ini juga dipengaruhi perlambatan angin di kawasan tengah Jawa Tengah bagian timur, yang menghambat pembentukan awan hujan selama musim kemarau. Akibatnya, Desa Dadapayam rawan mengalami peristiwa angin ekstrem seperti puting beliung, lesus, dan downburst, dengan lima kejadian tercatat antara tahun 2000 hingga 2024, yang diyakini berhubungan dengan siklus El Niño setiap 4–7 tahun.
Dari sisi curah hujan, bagian selatan Dadapayam menerima lebih banyak hujan, yakni sekitar 2.344 mm per tahun, sedangkan bagian utara memperoleh 2.205 mm per tahun. Perbedaan ini disebabkan oleh posisi geografis di batas Zona Musim (ZOM) serta variasi ketinggian dari permukaan laut, yang turut memengaruhi suhu dan distribusi hujan. Suhu harian di wilayah utara cenderung lebih rendah, dengan rerata suhu minimum pada bulan Juli mencapai 24,9 °C dan suhu maksimum pada bulan Oktober sekitar 26,7 °C.
Pola curah hujan di utara mengikuti karakteristik ZOM 253/40, dengan hujan mulai turun sejak bulan September dan musim hujan berlangsung dari awal Oktober. Puncaknya terjadi di bulan Januari dengan curah hujan mencapai 344 mm, dan periode terkering terjadi pada Agustus dengan hanya 57 mm. Di sisi lain, bagian selatan memasuki musim hujan sekitar pertengahan atau akhir Oktober dan mengalami transisi ke musim kemarau lebih awal, yaitu di awal Mei. Meskipun durasi kemaraunya lebih panjang, wilayah ini justru memiliki curah hujan lebih tinggi, dengan puncak di bulan Maret sebesar 354 mm dan curah hujan terendah di bulan Agustus sebesar 53 mm.
Distribusi hujan yang lebih stabil di utara, dengan kemarau yang lebih singkat dan hujan berlanjut hingga bulan Juni, memberikan keunggulan tersendiri bagi sektor pertanian, terutama untuk budidaya padi. Namun, desa ini juga menghadapi risiko bencana alam. Dusun Krajan, Pojok, Ngroto, dan Gempol menjadi lokasi yang paling sering dilanda angin puting beliung, dengan lima kejadian tercatat selama 2004–2022. Selain itu, wilayah seperti Jambe, Blimbing, dan Jangglengan dikenal rawan longsor dan perlu mendapatkan perhatian khusus dalam upaya mitigasi.
| Lokasi | Tanggal Kejadian | Tipe Angin | Kerusakan | Siklus |
|---|---|---|---|---|
| Gempol, Ngroto, Pojok, Krajan | 29 Oktober 2004 | Puting Beliung | Berat | 6-7 Tahun |
| Gempol, Ngroto, Pojok, Krajan, Glagah, Ngaglik, Pucung Timur | 23 Oktober 2010 | Badai Downbrust | Berat | 6-7 Tahun |
| Mendoh, Bungkel, Pucung, Krajan Dadapayam | 10 Maret 2014 | Badai Downbrust | Berat | Tidak diketahui |
| Krajan, Pojok, Ngaglik | 19 Desember 2015 | Badai Downbrust | Sedang | 6-7 Tahun |
| Gempol, Ngroto, Bulu, Sebagian Glagah | 2 April 2022 | Badai Downbrust | Sedang | Tidak diketahui |
| Gempol, Ngroto, Bulu | Desember 2023 | Badai Downbrust | Sedang | 6-7 Tahun |
Wilayah Desa Dadapayam telah beberapa kali mengalami bencana angin kencang dalam bentuk puting beliung dan badai downburst, yang menyebabkan kerusakan dengan tingkat bervariasi. Tercatat enam kejadian signifikan antara tahun 2004 hingga 2023, menunjukkan adanya pola siklus kejadian setiap 6–7 tahun, meskipun tidak semua kejadian dapat dipastikan siklusnya.
Kejadian pertama tercatat pada 29 Oktober 2004, ketika angin puting beliung menerjang Dusun Gempol, Ngroto, Pojok, dan Krajan, menimbulkan kerusakan berat. Selanjutnya, pada 23 Oktober 2010, badai downburst dengan dampak serupa kembali melanda wilayah yang hampir sama, dengan tambahan area Glagah, Ngaglik, dan Pucung Timur.
Badai serupa kembali terjadi pada 10 Maret 2014, kali ini menyasar Mendoh, Bungkel, Pucung, dan Krajan Dadapayam, juga dengan tingkat kerusakan berat. Kemudian, pada 19 Desember 2015, badai downburst yang menimbulkan kerusakan sedang melanda Krajan, Pojok, dan Ngaglik, dan ditandai sebagai bagian dari siklus 6–7 tahunan.
Dua kejadian terbaru tercatat pada 2 April 2022 dan Desember 2023. Angin kencang pada tahun 2022 menerjang Gempol, Ngroto, Bulu, serta sebagian wilayah Glagah, sedangkan peristiwa tahun 2023 kembali menyasar Gempol, Ngroto, dan Bulu. Kedua peristiwa tersebut tergolong sebagai badai downburst dengan tingkat kerusakan sedang.
Kejadian-kejadian ini menunjukkan bahwa wilayah Gempol, Ngroto, dan Pojok merupakan lokasi yang paling sering terdampak dan patut mendapatkan perhatian khusus dalam perencanaan mitigasi bencana angin ekstrem. Selain itu, tren berulang setiap 6–7 tahun mengindikasikan perlunya sistem peringatan dini dan penanganan darurat berbasis pola historis.
Mitigasi Risiko
[sunting | sunting sumber]Untuk menghadapi potensi bencana angin kencang seperti puting beliung dan badai downburst yang sering melanda Desa Dadapayam, pemerintah setempat perlu mengambil langkah-langkah mitigasi yang komprehensif. Beberapa tindakan yang bisa dilakukan adalah:
- Menebang atau memangkas pohon besar yang berada dekat dengan pemukiman penduduk, jalan, atau fasilitas umum lainnya. Pohon-pohon besar yang tumbang akibat angin kencang dapat menimbulkan kerusakan dan bahkan korban jiwa.
- Pemerintah dapat mengadakan pelatihan bagi masyarakat untuk meningkatkan kesiapsiagaan terhadap bencana angin kencang. Pelatihan ini bisa mencakup cara menyelamatkan diri, langkah-langkah evakuasi, dan tindakan-tindakan pertama saat terjadi bencana.
- Mengadakan program edukasi berkala mengenai potensi bencana dan cara menghadapi angin kencang. Informasi terkait perubahan iklim, seperti dampak El Niño dan La Niña, juga penting untuk disampaikan agar masyarakat lebih memahami dan siap menghadapi kondisi cuaca yang ekstrem.
- Meningkatkan koordinasi antara pemerintah desa, kecamatan, BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah), dan instansi terkait lainnya untuk memperkuat sistem mitigasi dan respons bencana. Koordinasi ini penting dalam upaya penanggulangan bencana secara terpadu dan efisien.
- Selain mitigasi angin, penting untuk memastikan sistem drainase yang baik untuk mencegah banjir saat curah hujan tinggi, yang bisa terjadi bersamaan dengan badai angin. Drainase yang baik juga bisa mengurangi risiko longsor di wilayah-wilayah yang rawan.
Kondisi Alam
[sunting | sunting sumber]Kondisi Tektonik
[sunting | sunting sumber]Desa Dadapayam tergolong dalam wilayah dengan risiko gempa sedang hingga berat, karena lokasinya yang berada di dekat sesar kerak dangkal. Desa ini terletak sekitar 10 km di sebelah timur Sesar Rawapening, yang berpotensi memicu gempa dengan magnitudo hingga 6 Mw. Di sebelah barat daya desa terdapat Sesar Merapi-Merbabu, sementara di barat laut terdapat Sesar Ungaran. Selain itu, di sebelah utara terdapat Kendeng Thrust, yang juga merupakan area dengan potensi aktivitas seismik.
Mengingat lokasinya yang dekat dengan beberapa sesar aktif, sangat penting untuk memperhatikan pembangunan perumahan yang tahan gempa di desa ini. Meskipun secara sejarah dan berdasarkan penuturan masyarakat setempat belum tercatat adanya gempa besar yang merusak, kewaspadaan tetap diperlukan.
Gempa bumi terakhir yang dirasakan oleh penduduk Desa Dadapayam adalah gempa Bantul pada tahun 2006, dengan kekuatan 6,0 Mw. Getaran gempa tersebut terasa selama sekitar 5-10 detik, menyebabkan perabotan rumah tangga berdenting, pohon-pohon bergetar, dan air di bak mandi beriak kecil.
Geologi
[sunting | sunting sumber]Daerah Dadapayam, yang terletak di wilayah Jawa Tengah, memiliki kondisi geologi yang kompleks dan menarik karena dipengaruhi oleh aktivitas vulkanik dan tektonik. Wilayah ini terbagi menjadi tiga zona utama berdasarkan satuan batuan yang berbeda: QVu (Undifferentiated Volcanic Rocks Ungaran) di bagian utara, TMk (Formasi Kerek) di bagian tengah, dan QVm (Undifferentiated Volcanic Rocks, Merbabu) di bagian selatan.

1. Bagian Utara - Satuan Batuan Qvu (Vulkanik Tak Terpisahkan, Gunung Ungaran)
[sunting | sunting sumber]Bagian utara Dadapayam didominasi oleh satuan batuan Qvu, yang terdiri dari batuan vulkanik tak terpisahkan dari aktivitas vulkanik Gunung Ungaran. Satuan batuan ini terbentuk selama periode Plistosen dan terdiri dari beragam material vulkanik seperti breksi, lahar, tufa, dan lava yang dihasilkan oleh erupsi Gunung Ungaran. Material vulkanik ini umumnya keras, tetapi memiliki potensi untuk mengalami pelapukan, terutama di area yang terkena aktivitas tektonik dan cuaca yang ekstrem. Aktivitas tektonik di wilayah ini, yang ditandai dengan adanya sesar aktif, berpotensi menyebabkan retakan pada batuan vulkanik dan memicu longsoran tanah di lereng-lereng curam.
2. Bagian Tengah - Formasi Kerek (TMk)
[sunting | sunting sumber]Di bagian tengah Dadapayam, terdapat satuan batuan Tmk, yang dikenal sebagai Formasi Kerek. Formasi ini terdiri dari napal, batugamping, dan batuan tufan yang bercampur dengan batupasir tuf. Formasi Kerek terbentuk pada periode Miosen dan merupakan hasil endapan laut dangkal yang mencerminkan lingkungan pengendapan laut purba. Formasi ini sering dijumpai dalam kondisi terlipat dan terpotong oleh sesar, yang merupakan indikasi dari aktivitas tektonik di wilayah ini. Batuan dari formasi ini dapat mengalami pelapukan dan menghasilkan tanah yang subur, tetapi rentan terhadap erosi di daerah yang curam.
3. Bagian Selatan - Satuan Batuan QVm (Vulkanik Tak Terpisahkan, Gunung Merbabu)
[sunting | sunting sumber]Bagian selatan Dadapayan dikuasai oleh satuan batuan Qvm, yang terdiri dari material vulkanik yang tidak terpisahkan dari Gunung Merbabu. Batuan ini terbentuk pada periode Plistosen dan mirip dengan satuan Qvu di utara, dengan komposisi utama berupa breksi vulkanik, lahar, dan tufa. Aktivitas vulkanik yang pernah terjadi di Gunung Merbabu menghasilkan lapisan material vulkanik yang tebal dan luas di bagian selatan wilayah ini. Batuan vulkanik di area ini cenderung padat dan keras, tetapi tetap memiliki potensi untuk mengalami retakan akibat aktivitas sesar dan erosi permukaan.
Potensi Bencana Geologi
[sunting | sunting sumber]Kondisi geologi di Dadapayan menunjukkan potensi risiko geologis yang signifikan. Aktivitas tektonik yang terindikasi oleh keberadaan sesar aktif di beberapa bagian wilayah ini menimbulkan risiko gempa bumi. Selain itu, keberadaan batuan vulkanik yang rentan terhadap retakan dan pelapukan, terutama di lereng-lereng curam, menambah risiko longsoran tanah, terutama pada musim hujan. Oleh karena itu, penting untuk melakukan pemantauan geoteknik dan mitigasi risiko bencana di wilayah ini.
Geomorfologi
[sunting | sunting sumber]Desa Dadapayam terletak di kawasan yang didominasi oleh bentang alam perbukitan struktural yang merupakan bagian dari sistem Lipatan Kendeng. Singkapan batuan di sepanjang lembah-lembah sungai setempat terutama terdiri atas Batugamping Napalan, batugamping, batulempung, tuf gamping, dan batupasir. Keberadaan batupasir yang melimpah di sepanjang aliran Kali Gobak, khususnya di kawasan lembah Curi Buthak, menunjukkan bahwa wilayah ini pernah menjadi bagian dari lingkungan laut dalam, tempat sedimen pasir terendapkan dan mengalami proses litifikasi. Beberapa batuan khas yang ditemukan di daerah ini, seperti Batu Curi Buthak dan Curi Bon Guru, tergolong dalam kelompok konglomerat.
Stratigrafi Bawah Permukaan
[sunting | sunting sumber]Urutan stratigrafi bawah permukaan wilayah ini tersusun atas beberapa satuan litologi, yaitu:
- Latosol–Padas Merupakan hasil pelapukan dari batuan vulkanik, membentuk tanah merah yang umum ditemukan di permukaan dan memiliki tingkat permeabilitas sedang.
- Batu Konglomerat Tersusun atas fragmen-fragmen batuan besar yang direkatkan oleh matriks pasir atau lempung, serta berfungsi sebagai akuifer dangkal karena porositasnya yang relatif tinggi.
- Batu Gamping Kasar Mengandung unsur karbonat berukuran kasar. Jika terdapat rekahan atau pelarutan, batuan ini dapat menyimpan dan menghantarkan air tanah (akuifer rekahan).
- Batu Tuf Terang Merupakan batuan piroklastik dari endapan abu vulkanik berwarna terang, dengan karakteristik hidrogeologis yang bergantung pada tingkat konsolidasi dan proses alterasi mineral.
- Batulempung dan Batupasir Berselingan Zona ini bersifat semi-kedap, yang memungkinkan pembentukan akuifer tertekan (confined aquifer) di bawahnya.
- Batu Napalan Lapisan batu lempung tua yang bersifat sangat kedap, berfungsi sebagai dasar sistem hidrogeologi di wilayah ini.
Struktur Geologi dan Topografi
[sunting | sunting sumber]Topografi Desa Dadapayam menunjukkan variasi ketinggian dan struktur yang kompleks. Di bagian selatan, perbukitan yang terbentuk merupakan hasil dari lipatan tekto-vulkanik akibat gaya kompresi yang berasal dari aktivitas Gunung Merbabu. Sebaliknya, wilayah utara desa lebih landai dan relatif sempit (kurang dari 3 km), mencerminkan batas pengaruh dari deformasi tektonik tersebut.
Di sisi barat desa, terdapat jajaran Perbukitan Tengis–Kredo–Santen, yang terbentuk sebagai hasil dari proses pelipatan dan kemungkinan merupakan sisa-sisa struktur kolaps Gunung Soropati. Sementara itu, bagian timur wilayah ini dibatasi oleh Perbukitan Ngebleng–Lembu, sebuah struktur antiklin yang menjadi bagian barat dari Pegunungan Kendeng. Sedangkan di sisi selatan, terdapat rangkaian Perbukitan Sumberejo–Cukilan–Jangglengan, yang terbentuk dari produk endapan piroklastik Gunung Merbabu, dan dibatasi oleh Perbukitan Blimbing–Jambe, yang masih termasuk dalam sistem pegunungan Kendeng.
Hidrogeologi
[sunting | sunting sumber]Kondisi Hidrogeologi Desa Dadapayam
1. Wilayah Utara Dadapayam Berwarna Pink (Akuifer dengan Produktivitas Kecil)
[sunting | sunting sumber]Wilayah yang ditandai dengan warna pink menunjukkan zona akuifer dengan produktivitas kecil. Dalam konteks hidrogeologi, akuifer dengan produktivitas kecil berarti bahwa lapisan batuan atau tanah di wilayah ini mengandung air, tetapi jumlah air yang tersedia untuk dieksploitasi terbatas. Hal ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor:
- Permeabilitas rendah: Batuan atau sedimen di wilayah ini mungkin memiliki pori-pori kecil atau saluran air yang terbatas, sehingga aliran air tanah sangat lambat.
- Ketebalan akuifer terbatas: Ketebalan lapisan akuifer di wilayah ini mungkin tidak cukup untuk menyimpan atau menyediakan air dalam jumlah besar.
- Sumber pengisian air terbatas: Air tanah di wilayah ini mungkin hanya diisi ulang oleh air hujan secara perlahan, yang menyebabkan ketersediaan air yang terbatas sepanjang tahun.
Meskipun air tanah tersedia di wilayah ini, produktivitasnya rendah, sehingga sumber air dari sumur atau sistem irigasi mungkin tidak cukup memadai untuk kebutuhan yang lebih besar, terutama selama musim kemarau.
2. Wilayah Selatan Dadapayam Berwarna Coklat (Air Tanah Langka)
[sunting | sunting sumber]Wilayah yang ditandai dengan warna coklat mengindikasikan zona dengan air tanah langka. Dalam konsep hidrogeologi, wilayah ini memiliki ketersediaan air tanah yang sangat terbatas atau hampir tidak ada, sehingga sulit untuk mengeksploitasi sumber air dari bawah tanah. Faktor yang menyebabkan kelangkaan air tanah di wilayah ini dapat meliputi:
- Batuan impermeabel: Wilayah ini mungkin terdiri dari batuan atau lapisan tanah yang sangat impermeabel, seperti batuan beku atau sedimen yang padat, yang mencegah air tanah untuk mengalir atau tersimpan.
- Daerah topografis tinggi: Wilayah yang terletak di daerah topografi tinggi sering kali memiliki aliran air tanah yang lebih sedikit karena air cenderung mengalir ke daerah yang lebih rendah.
- Kondisi pengisian air buruk: Kemungkinan air hujan di wilayah ini tidak cukup meresap ke dalam tanah atau cepat mengalir ke tempat lain, sehingga akuifer lokal tidak mendapatkan pengisian air yang memadai.
Wilayah dengan air tanah langka sering kali mengandalkan sumber air permukaan, seperti sungai atau waduk, dan dapat menghadapi masalah kekurangan air, terutama pada musim kemarau panjang. Untuk mengatasi kondisi ini, biasanya diperlukan solusi seperti pembangunan waduk, sistem distribusi air jarak jauh, atau pengelolaan air hujan yang lebih baik.
Kesimpulan Hidrogeologi
[sunting | sunting sumber]Wilayah yang berwarna pink dapat menyediakan air tanah dalam jumlah terbatas, tetapi produktivitasnya rendah. Wilayah ini dapat bergantung pada sumur dangkal atau akuifer kecil untuk kebutuhan lokal. Di sisi lain, wilayah coklat menghadapi tantangan signifikan dalam hal penyediaan air tanah karena kelangkaannya, sehingga memerlukan alternatif sumber air lain seperti pemanfaatan air permukaan atau teknologi penyimpanan air yang lebih canggih.

Topografi
[sunting | sunting sumber]
Topografi Desa Dadapayam dapat dibagi menjadi dua bagian utama berdasarkan bentuk permukaan tanahnya:
- Daerah Berbukit dan Miring (sekitar 65%):
- Wilayah ini mencakup Dusun Jangglengan, Dusun Blimbing, dan Dusun Jambe. Daerah ini memiliki kemiringan yang cukup signifikan, sehingga cocok untuk jenis tanaman tertentu yang dapat tumbuh di tanah miring.
- Daerah Datar-Miring (sekitar 25%):
- Wilayah ini meliputi Dusun Krajan, Dusun Pojok, Dusun Bulu, dan Dusun Ngroto. Topografi di sini lebih landai dibandingkan wilayah berbukit, sehingga aktivitas pertanian dan pemukiman lebih berkembang di area ini.
Jenis Tanah di Desa Dadapayam
[sunting | sunting sumber]Tanah di Desa Dadapayam dapat diklasifikasikan menjadi tiga jenis utama, yaitu:
- Tanah Latosol
- Tanah ini kaya akan kandungan besi dan aluminium, namun karena merupakan jenis tanah tua, kesuburannya tergolong rendah. Warna tanah ini bervariasi dari merah, coklat tua, hingga kekuningan. Tanah latosol terkenal cepat mengeras bila tersingkap di udara terbuka, dan dikenal sebagai tanah laterit bila dalam keadaan ini. Ketebalannya berkisar antara 10 hingga 20 cm, dengan lapisan tanah keras di bawahnya. Meskipun kesuburannya sedang, tanah latosol cocok untuk ditanami padi, palawija, sayur-sayuran, buah-buahan, serta tanaman keras seperti karet, sirsak, kakao, kopi, jati, dan sengon.
- Tanah Litosol
- Tanah ini terdiri dari bahan berbatu-batu, berasal dari batuan keras yang belum sepenuhnya mengalami pelapukan. Jenis tanah ini juga dikenal sebagai tanah azonal, karena pembentukannya tidak terkait dengan iklim atau vegetasi tertentu. Tanaman yang cocok tumbuh di tanah litosol antara lain rumput ternak, palawija, dan tanaman keras. Keterbatasan kesuburan dan struktur tanah yang berbatu membuatnya lebih sulit untuk diolah dibandingkan tanah lainnya.
- Tanah Lempung
- Tanah lempung memiliki tekstur yang kurang stabil dan cenderung rawan longsor, terutama di wilayah dengan kemiringan yang tinggi. Namun, tanah ini tetap cocok untuk ditanami palawija dan tanaman keras, asalkan dikelola dengan baik untuk mencegah erosi.
Dengan perbedaan jenis tanah dan topografi yang beragam, Desa Dadapayam memiliki potensi pertanian yang baik, namun juga memerlukan perhatian khusus dalam pengelolaan lahan, terutama di daerah berbukit yang rawan longsor dan di wilayah dengan tanah litosol yang berbatu. Pengelolaan tanah dan penggunaan tanaman yang tepat dapat membantu meningkatkan produktivitas pertanian serta menjaga stabilitas ekologi desa.
Administratif
[sunting | sunting sumber]Jumlah RW sebanyak 7 RW dengan 13 Dusun

| Nama | RW | Jumlah RT |
|---|---|---|
| Krajan | 1 | 8 |
| Pojok | 2 | 7 |
| Ngenjer | 3 | 2 |
| Bulu | 3 | 4 |
| Ngroto | 4 | 4 |
| Gempol | 4 | 2 |
| Ngringin | 5 | 2 |
| Jambe | 5 | 6 |
| Plaosan | 5 | 2 |
| Blimbing | 6 | 6 |
| Jangglengan | 7 | 4 |
| Plasan | 7 | 1 |
| Kleco | 7 | 1 |
Demografi
[sunting | sunting sumber]Dengan jumlah penduduk 5.841 jiwa pada tahun 2020, Penduduk Pria 2.912 Penduduk Wanita 2.931, dengan penduduk beragama Islam 99,8% (5.745 jiwa) Kristen Protestan 0.2% (11 Jiwa di Dusun Jangglengan).
Pada Tahun 2023 jumlah penduduk menjadi 6103 jiwa, penduduk pria 3053 jiwa, perempuan 3050 jiwa. dengan penduduk beragam islam 99.89% (6090), Kristen Protestan 0,1% (11 jiwa) dan 1 Penghayat Kepercayaan
Tingkat Pendidikan
[sunting | sunting sumber]Sabagian besar penduduk lulusan SD 52%, SMP 17%, SMA 9%, Diploma & Sarjana 2% & Tidak Sekolah 17%.
Ekonomi
[sunting | sunting sumber]Sebagian besar penduduk bermatapencaharian sebagai petani, buruh lepas dan pedagang. Banyak warga desa yang merantau ke Sumatera. Akibatnya daerah ini menjadi daerah pinggiran dan kurang berkembang. dulu pasar Dadapayam lumayan ramai, tetapi penggerak ekonomi ini kian hari semakin sepi dan tidak berkembang, pusat perdagangan lebih berkembang di Pasar Kalimaling dan Pasar Wates. Analisa melemahnya perdagangan:
- Infrastruktur jalan Kabupaten & Desa yang rusak
- Penduduk Desa banyak yang merantau ke Luar Daerah (Sumsel, Lampung, Jakarta)
- Sebagian besar pemuda memilih mencari pekerjaan di luar desa
- Kurangnya perhatian dari pemerintah setempat
Komoditas yang dikembangkan ialah Padi Gogo, Padi Irigasi, Jagung dan Kacang tanah. Tanaman produksi seperti Jati, Sengon dan Karet mulai dibudidayakan. Peralihan lahan Jati menjadi Karet dan Sengon menjadikan lahan lebih produktif.
Persawahan
[sunting | sunting sumber]Luas sawah produktif Desa Dadapayam sekitar 255 Hektar dengan perkiraaan produksi gabah basah dalam 1 kali musim panen sekitar 1.371 Ton atau dalam setahun sekitar 2.742 Ton. Berikut lokasi lahan produktif:
| Lokasi | Hektar | Produksi Gabah
(Ton) |
Keterangan
Irigasi |
|---|---|---|---|
| Lor Omah | 39.1 | 265.3 | D.I Plaosan/Dresi |
| Kidul Omah | 35.3 | 233.7 | D.I Plaosan/Dresi |
| Ngroto-Bulu | 56 | 303.9 | D.I Sipengkok -Tadah Hujan |
| Ngenjer | 8.25 | 41.98 | Tadah Hujan |
| Ngringin | 20 | 102.1 | Tadah Hujan |
| Jambe | 40 | 217.88 | Tadah Hujan |
| Plaosan | 23.3 | 95.2 | Tadah Hujan |
| Blimbing | 10 | 30.64 | Tadah Hujan |
| Jangglengan | 24 | 81.7 | Tadah Hujan |
| Total | 254.95 | 1371.73 |
Data di atas merupakan perkiraan dengan menghitung rata-rata per 100 meter persegi menghasilkan 69 Kg Gabah basah. Jadi Produktivitas Lahan sawah di Dadapayam diperikarakan 6,2 Ton Per Hektarnya.
Lahan sawah di Desa Dadapayam masih terhitung belum produktif jika dibandingkan dengan rata-rata per hektar sawah menhasilkan 24 ton Gabah.
Kedala-kendala yang dihadapi petani:
- SDM terutama anak muda yang enggan bertani memilih bekerja di Pabrik dll
- Harga pupuk yang mahal, pupuk subsidi sangat terbatas
- Belum melek teknologi pertanian yang modern dan efisien
- Biaya operasional jasa pengolahan tanah dan perawatan yang terus meningkat
- Ketidakpastian Iklim / awal musim hujan dan akhir musim hujan, sehingga sering menyebabkan gagal panen
- Debit air anak sungai Gobak / Kali Dresi sangat berpengaruh terhadap produktifitas Persawahan Dusun Krajan & Pojok
Perkebunan Karet
[sunting | sunting sumber]Sejarah Pengembangan Budidaya Tanaman Karet Desa Dadapayam:
- Dimulai Sejak 2008-2009 saat warga mulai mengganti tanaman Jati menjadi tanaman karet
- Tanaman karet yang dibudidaya varietas jenis Klon IRR 5, IRR107 , PB 260 baik itu Bibit stek ataupun bibit biji
- Mulai memasuki penderesan / panen tahun ke-5 / ke-7 untuk bibit stek, warga mulai menderes karet tahun 2015, sedangkan bibit biji masa panen pada umur 10 -15 tahun lebih
- Untuk penyaluran atau penjualan hasil getah karet sangat mudah dikarenakan banyak tengkulak yang mengambil ke rumah-rumah para petani karet setiap seminggu sekali
- Masyarakat semakin banyak yang mengalihkan lahan / tegalan mereka dari Tanaman Jati diganti karet dikarenakan lebih produktif dan menguntungkan
Kendala budidaya karet di Dadapayam:
- Harga Bibit Karet yang berkualitas cenderung mahal, dan bantuan pembelian bibit dari pemerintah sangat minim
- Luas tanah yang tidak sebanding dengan jumlah bibit yang ditanam
- Jenis tanah yang latosol dan litosol yang berbatu dan tipis rata-rata ketebalan tanah < 30 cm
- Musim kemarau yang relatif kering dan panjang (rata-rata 4 - 5 bulan) menyebabkan produksi getah menurun ketika kemarau dan atau pohon karet mati terutama tanaman yang masih muda
- Musim kemarau berangin sehingga menyebabkan stres pada tanaman dikarenakan daun-daun dan ranting rusak bergesekan
- Harga Pupuk Mutiara yang mahal, sedangkan pupuk subsidi sangat sulit di dapat (hanya untuk padi)
- Edukasi / Penyuluhan dari Dinas terkait yang minim
Untuk menghitung total produksi dan pendapatan dari kebun pohon karet dalam satu bulan, dengan luas tanah 2000 meter persegi dan jumlah pohon 250 Batang. Produksi per minggu = 30 kg:
Total produksi dalam satu bulan = Produksi per minggu * Jumlah minggu Total Produksi=30 kg/minggu×4minggu
Setelah itu, kita dapat menghitung pendapatan dengan mengalikan total produksi dengan harga karet per kilogram.
Pendapatan = Total Produksi×Harga Karet Pendapatan=(Total Produksi)×(8000Rp/kg)
Total Produksi = 30 kg/minggu×4minggu=120 kg
Pendapatan = 120 kg×8000Rp/kg
Pendapatan = 960,000Rp
Jadi, jika kebun pohon karet menghasilkan 30 kg getah karet per minggu dan harga karet adalah 8000 Rp per kilogram, pendapatan dalam satu bulan akan menjadi 960,000 Rp. - 1.000.000 Rp. Tergantung fluktuasi harga karet alam.
Luas Perkebunan / tegalan yang ditanami karet diperkirakan kurang lebih 40an hektar, namun belum ada sensus pasti untuk luasan perkebunan karet ini. Berikut potensi hasil karet alam Desa Dadapayam:
| Luas Lahan | Jumlah Pohon | Hasil Getah Karet |
|---|---|---|
| 40 Hektar | ~45000 | ~24000 kg - 30000 kg |
Jadi tingkat Tingkat produktivitas lahan per hektar dapat dihitung dengan membagi produksi total dengan luas lahan dalam hektar:
Tingkat Produktivitas = Luas Lahan dalam Hektar / Produksi Total :
Tingkat Produktivitas = 600 kg /hektar
Jika dibandingkan pada umumnya di lahan perkebunan 1 hektar lahan bisa menghasilkan 1 ton getah karet alam basah, sehingga produktivitas lahan karet di Desa Dadapayam masih dibawah rata-rata.
Pendidikan
[sunting | sunting sumber]Terdapat 5 TK/PAUD, 3 SD Negeri (SDN Dadapayam 1, 2 & 3), 2 MI Swasta, 1 SMP Swasta (SMP Islam Sudirman), 2 Pondok Pesantren.
Transportasi
[sunting | sunting sumber]Desa Dadapayam dilalui beberapa ruas jalan Kabupaten yang menghubungkan antar desa dan kecamatan.
Jalan Kabupaten - Lokal Primer:
- Ruas jalan : Ujung - Ujung – Dadapayam Ruas No. 40 Panjang 12,68 KM
- Ruas jalan : Plumutan – Dadapayam Ruas No. 39 Panjang 6,8 KM
- Ruas Jalan : Semowo – Dadapayam Ruas No. 43 Panjang 5,2 KM
Jalan Kabupaten - Poros Antar Desa:
- Dusun Jangglengan Desa Dadapayam - Dusun Salak Desa Cukilan No Ruas SUR 015 Panjang 1,97 KM
- Dusun Krajan Dusun Pojok, Dusun Bulu Desa Dadapayam – Batas Kabupaten (Desa Gilirejo Kec. Wonosamudro Kab. Boyolali) No Ruas SUR 021 Panjang 1,82 KM
Jalan Desa antar Dusun:
- Jalan Dusun Krajan - Dusun Pojok Panjang 0,6 KM
- Jalan Dusun Bulu - Ngroto - Gempol Panjang 1,3 KM
- Jalan Dusun Krajan - Kringin - Jambe -Plaosan Panjang 3,5 KM
- Jalan Dusun Jambe - SMP Sudirman Panjang 0,8 KM
- Jalan Dusun Blimbing - Batas Kabupaten (Gumul, Gilirejo, Kab Boyolali) panjang 0,88 KM
- Jalan Dusun Blimbing - Batas Kabupaten (Cengkal, Kalinanas, Kab Boyolali) panjang 0,85 KM
- Jalan Dusun Jangglengan - Plasan - Kleco Panjang 2 KM
Usulan menjadi pembangunan jalan antar dusun (alternatif):
- Jalan Dusun Pojok - Glagah Rejosari Bancak Panjang 1,3 KM Perlu pengerasan dan pelebaran, Sebagai jalan alternatif menuju Desa Rejosari
- Jalan Dusun Bulu - Dusun gempol Panjang 1,1 KM Perlu pengerasan dan Pelebaran, alternatif lalu lintas antar dusun
- Jalan Dusun Bulu - Ngebleng Lembu Bancak Panjang 1,8 KM Perlu pembangunan jalan mengingat terdapat 2 air terjun Gedad dan sabrangan yang berpotensi menjadi tempat wisata alternatif lalu lintas antar Desa
- Jalan Dusun Plaosan - Gentan Tukang Pabelan Panjang 1,5 KM Perlu pengerasan dan pembangunan jembatan, sebagai alternatif menuju Desa Tukang dan Pasar Wates
Terdapat angkutan desa PP dari Pasar Dadapayam - Cukilan - Sumberejo - UjungUjung - Kalibening - Nanggulan - Pasar Blauran Salatiga.
Kebudayaan
[sunting | sunting sumber]Merti Desa
[sunting | sunting sumber]Merti Desa (MD) adalah istilah yang digunakan oleh masyarakat Desa Dadapayam (Dusun Krajan & Dusun Pojok), Kecamatan Suruh, Kabupaten Semarang, untuk menyebut upacara tradisi bersih desa, sebuah kegiatan adat yang bertujuan untuk membersihkan desa secara spiritual. Upacara ini merupakan bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, sekaligus upaya melestarikan tradisi nenek moyang dan memberikan penghormatan kepada dhanyang desa atau penjaga gaib Desa Dadapayam.
Upacara MD dilaksanakan setiap tahun secara turun-temurun, karena masyarakat setempat percaya bahwa MD adalah warisan leluhur yang harus tetap dijaga. Mereka menganggap bahwa tradisi ini merupakan bagian dari naluri nenek moyang yang disebut nalar sing wus kauri, yang berarti sebuah nalar yang telah mendarah daging di benak masyarakat Desa Dadapayam. Karena itu, pelaksanaan MD dianggap wajib, dan jika upacara ini tidak dilaksanakan atau tidak dilakukan sesuai tradisi, diyakini akan mendatangkan musibah bagi desa, baik bagi masyarakatnya maupun kondisi alam sekitarnya.
Upacara Merti Desa ini menjadi salah satu simbol keberlanjutan tradisi lokal yang masih kental dalam kehidupan masyarakat Desa Dadapayam, di mana kepercayaan dan nilai-nilai leluhur terus dilestarikan demi menjaga keharmonisan desa dan alamnya.
Tradisi Merti Desa di Desa Dadapayam dilaksanakan setelah masyarakat menyelesaikan panen raya, tanpa terikat pada bulan tertentu. Penentuan waktu upacara selalu jatuh pada hari Rabu Pahing, yang dipercaya memiliki makna khusus dalam kalender Jawa. Tradisi ini tidak hanya bergantung pada waktu panen, tetapi juga dukungan dari masyarakat. Kelancaran pelaksanaan upacara ini sangat bergantung pada dana yang dikumpulkan dari warga setempat, menunjukkan semangat gotong royong dan kebersamaan yang kuat di antara penduduk desa.
Rangkaian Upacara dalam Tradisi Merti Desa di Desa Dadapayam, Kecamatan Suruh, Kabupaten Semarang
[sunting | sunting sumber]Tradisi Merti Desa (MD) di Desa Dadapayam, Kecamatan Suruh, Kabupaten Semarang, terdiri dari empat rangkaian upacara, yang masing-masing memiliki tata cara pelaksanaan yang berbeda. Setiap upacara juga disertai perlengkapan sesaji yang unik. Berikut adalah uraian empat rangkaian upacara tersebut:
Nawu Kali (Menguras Air Sungai)
[sunting | sunting sumber]Pelaksanaan Merti Desa diawali dengan upacara *nawu kali* atau menguras air sungai. Nawu kali dilakukan pada sore hari sebelum upacara utama MD, yaitu pada hari Selasa Legi. Tujuan dari kegiatan ini adalah membersihkan seluruh sungai di desa, agar mata air tetap mengalir dan hidup. Masyarakat Desa Dadapayam masih bergantung pada sungai untuk keperluan sehari-hari, seperti mandi dan mencuci, sehingga menjaga kebersihan sungai menjadi sangat penting.
Selain membersihkan sungai, nawu kali juga bertujuan untuk menangkap hewan-hewan air yang ditemukan, yang dikenal sebagai *sajodho*, yang berarti sepasang. Hewan-hewan ini bisa berupa ikan, siput, atau kepiting, yang kemudian akan dijadikan bagian dari sesaji pada upacara pagelaran wayang kulit yang diadakan pada hari Rabu Pahing.
Beberapa sungai yang dibersihkan dalam kegiatan ini meliputi kali Sendhang, kali Balong, kali Sawah, kali Gempol, kali Dhawung, kali Reca, dan kali Pancur. Sebelum proses pembersihan dimulai, ada seseorang yang bertugas untuk *nembung* (berkomunikasi atau meminta izin) kepada *dhanyang* yang menjaga sungai tersebut.
Meski upacara *nawu kali* tidak melibatkan sesaji secara langsung, hasil tangkapan hewan air dari proses ini digunakan sebagai bagian dari sesaji yang akan dipersembahkan saat pagelaran wayang. Hewan air tersebut merupakan bagian penting dan unik dari sesaji dalam tradisi Merti Desa di Desa Dadapayam.
Beleh Kebo
Beleh Kebo merupakan salah satu rangkaian penting dalam tradisi Merti Desa di Desa Dadapayam, yang dilaksanakan pada pagi hari sekitar pukul tujuh di hari Rabu Pahing. Ritual ini bertujuan untuk akekohan (penyembelihan kerbau sebagai bentuk persembahan) bagi kepentingan seluruh masyarakat desa. Darah kerbau yang disembelih dikubur di tanah sebagai bagian dari ritual ini.
Setelah penyembelihan, daging kerbau tersebut dijadikan salah satu komponen sesaji yang akan dipersembahkan di kali-kali yang sudah dikuras sebelumnya. Sajen untuk kali-kali terdiri dari beberapa unsur, antara lain:
- Kebo Siji – Bagian dari kerbau yang diambil sedikit dari berbagai bagian tubuhnya, mulai dari kepala, bagian dalam, hingga kaki.
- Jadah – Makanan terbuat dari ketan yang ditumbuk.
- Wajik – Makanan dari ketan yang dicampur dengan gula jawa.
- Gedhang Raja Temen – Jenis pisang raja yang dianggap paling enak oleh warga setempat.
- Ampyang – Sejenis makanan kerupuk yang terbuat dari ketan.
- Tape – Makanan dari ketan yang difermentasi dengan ragi.
- Kinang – Sirih kapur yang biasanya dikunyah.
- Rokok – Rokok sebagai simbol persembahan.
- Kaca – Cermin.
- Jungkat – Sisir.
- Kembang – Bunga sebagai pelengkap sesaji.
- Ancak – Wadah untuk sesaji, terbuat dari bambu atau dikenal juga dengan besek.
Selain sajen kali, ada juga pembagian daging kerbau bagi masyarakat yang berkontribusi lebih besar dalam iuran dana Merti Desa. Mereka akan mendapatkan bagian paha kerbau (sampil) yang dibagi rata menjadi empat bagian. Sisanya digunakan untuk konsumsi bersama di dapur. Kepala kerbau dibagi dua untuk Dusun Krajan dan Pojok.
Sajen untuk Ritual Beleh Kebo
[sunting | sunting sumber]- Gedhang Raja Temen Setangkep – Pisang raja jenis raja temen, dua sisir.
- Suruh Secandhik – Daun sirih yang diikat satu ikat.
- Beras Saliter – Beras sebanyak satu liter.
- Gula Jawa Setangkep – Gula jawa utuh berjumlah dua buah.
- Klapa Tuwa – Kelapa tua.
- Uyah Saglundhung – Garam dalam satu bongkahan besar.
- Brambang – Bawang merah.
- Bawang – Bawang putih.
- Lombok – Cabai atau lombok.
- Jadah – Makanan dari ketan yang ditumbuk.
- Wajik – Makanan dari ketan yang dicampur dengan gula jawa.
- Kembang – Bunga untuk sesaji.
- Menyan – Menyan yang dibakar sebagai bagian dari persembahan.
Ritual Beleh Kebo ini merupakan salah satu elemen yang paling sakral dalam rangkaian Merti Desa, di mana kerbau yang disembelih tidak hanya menjadi simbol pengorbanan, tetapi juga bagian penting dari sesaji yang akan dipersembahkan kepada penjaga alam dan sungai di desa, sebagai wujud rasa syukur dan harapan untuk keberkahan di masa mendatang.
Jolenan
Jolenan merupakan rangkaian upacara ketiga dalam Tradisi Merti Desa setelah Beleh Kebo. Istilah jolenan berasal dari kata jolen yang ditambah sufiks -an. Kata jolen sendiri memiliki makna ojo lalen, yang berarti "jangan lupakan." Tradisi Jolenan ini merupakan wujud dari upaya masyarakat untuk tidak melupakan leluhur dan tetap melestarikan nilai-nilai budaya serta rasa syukur kepada Tuhan.
Dalam tradisi ini, setiap dua hingga tiga RT (Rukun Tetangga) membuat satu jolen, yang merupakan wadah hiasan berbentuk berbagai benda, seperti kapal, rumah-rumahan, kendaraan, atau hewan, yang dihiasi dengan bendera merah putih. Setiap jolen tersebut mencerminkan kreativitas dan kemampuan masing-masing kelompok RT.
Setelah semua jolen terkumpul di lokasi yang telah ditentukan, akan ada sambutan dari seseorang yang diberi tugas untuk membuka acara. Setelah acara resmi selesai, warga disuguhkan hiburan tradisional, seperti reog dan rodad, yang ditampilkan oleh warga setempat.
Setiap jolen diisi dengan makanan sederhana yang dipersembahkan sebagai simbol persembahan syukur, antara lain:
- Gedhang – Pisang.
- Tape – Tape.
- Tela – Ubi.
- Pohung – Ketela.
- Uwi – Salah satu jenis umbi-umbian.
- Bili – Salah satu jenis umbi-umbian.
- Kerupuk – Kerupuk.
- Sega Ambengan – Nasi yang ditata di atas tempat seperti baki.
- Rempeyek – Rempeyek.
- Gorengan – Gorengan.
- Lawuh – Lauk pauk.
- Sambel Goreng – Sayur sambal goreng.
Makanan dalam jolen disiapkan untuk konsumsi bersama, terutama untuk dalang dan anggota pengisi acara. Setelah upacara selesai, kerangka jolen dibawa pulang oleh pembuatnya, sementara makanan yang ada di dalam jolen dikonsumsi bersama oleh warga dan juga digunakan untuk jamuan dalam pagelaran wayang pada malam harinya.
Selama prosesi jolenan, sebagian dari makanan yang disajikan diambil untuk dijadikan sesaji, yang disebut sonthongan. Sesaji ini terdiri dari:
- Kerupuk – Kerupuk.
- Jadah – Makanan dari ketan yang ditumbuk.
- Wajik – Makanan dari ketan yang dicampur gula jawa.
- Gedhang – Pisang.
- Tape – Tape.
- Palawija – Tanaman pangan kering (seperti jagung, kacang, dll.).
- Kinang – Sirih.
- Rokok – Rokok.
- Jungkat – Sisir.
- Kaca – Cermin.
- Dhuwit Receh – Uang receh.
- Gorengan – Gorengan.
- Sega – Nasi.
Masing-masing dari sesaji ini diambil sedikit-sedikit sebagai persembahan dalam rangka menghormati leluhur dan dhanyang desa. Tradisi Jolenan ini memperlihatkan bagaimana masyarakat Desa Dadapayam menjunjung tinggi nilai kebersamaan, gotong royong, dan penghormatan kepada tradisi leluhur dalam wujud yang sederhana tetapi penuh makna.
Wayangan
Upacara Wayangan dilaksanakan pada malam hari setelah rangkaian upacara Jolenan selesai. Pagelaran wayang ini mengambil lakon yang sudah menjadi pakem dalam tradisi Merti Desa di Desa Dadapayam, yaitu lakon “Boyong Mbok Sri.” Lakon ini memiliki makna simbolis, di mana Mbok Sri melambangkan padi yang telah dipanen, sebagai bentuk rasa syukur masyarakat kepada Tuhan atas hasil panen yang melimpah.
Dalam upacara Wayangan, berbagai sesaji disiapkan sebagai bagian dari persembahan adat. Sesaji-sesaji ini memiliki makna dan fungsi tertentu dalam konteks spiritual dan simbolis. Berikut adalah daftar sesaji yang disiapkan dalam upacara Wayangan:
- Beras Kuning – Beras yang diberi pewarna kunyit.
- Beras Saliter – Beras putih sebanyak satu liter.
- Bucu – Nasi yang disajikan dalam bentuk kerucut.
- Empluk-empluk – Wadah berbentuk mangkuk yang terbuat dari tanah liat.
- Gedhang Raja Temen Setangkep – Pisang raja jenis temen, sebanyak dua sisir.
- Gula Jawa Setangkep – Gula jawa utuh berjumlah dua.
- Iwak Sajodho – Ikan satu pasang.
- Jadah – Makanan dari ketan yang ditumbuk.
- Kebo Siji – Bagian-bagian kerbau yang diambil rata dari kepala hingga kaki untuk dijadikan sesaji.
- Kembang – Bunga sebagai pelengkap sesaji.
- Kendhi Cilik – Kendi kecil.
- Keyong Sajodho – Siput satu pasang.
- Kerupuk – Kerupuk.
- Kinang – Kapur sirih.
- Klapa Tuwa – Kelapa tua.
- Klasa Anyar – Tikar baru yang terbuat dari anyaman alang-alang.
- Kupat Loro – Ketupat sebanyak dua buah.
- Lampu Senthir – Lampu minyak tanah tradisional.
- Menyan – Kemenyan yang dibakar untuk ritual.
- Mori – Kain kafan.
- Endhog Jawa – Telur ayam kampung.
- Palawija – Hasil bumi berupa umbi-umbian.
- Panggang – Ayam panggang utuh untuk sesaji.
- Pari Saiket – Padi yang diikat sebanyak satu ikat.
- Rempeyek – Rempeyek (makanan ringan yang terbuat dari tepung).
- Tampir – Anyaman bambu berbentuk bulat rata, digunakan sebagai wadah sesaji.
- Tawon-tawonan – Bentuk rumah lebah yang terbuat dari janur.
- Tumbu – Wadah berbentuk seperti baskom yang terbuat dari anyaman bambu.
- Wajib – Uang sebagai persembahan wajib.
- Wajik – Makanan dari ketan yang diolah dengan gula jawa.
- Yuyu Sajodho – Kepiting satu pasang.
Sesaji ini tidak hanya digunakan sebagai bagian dari persembahan kepada leluhur dan dewa pelindung desa, tetapi juga sebagai simbol keberkahan dan harapan untuk kesejahteraan masyarakat Desa Dadapayam. Wayangan menjadi puncak dari serangkaian ritual dalam Merti Desa, memperlihatkan penghormatan yang mendalam kepada alam dan tradisi nenek moyang.
Objek Wisata
[sunting | sunting sumber]- Curi Buthak - Dusun Krajan
- Air terjun Gedad - Dusun Bulu
- Air Terjun Sabrangan - Dusun Bulu
- Goa Winong - Dusun Krajan
- Kali Gobak - Dusun Krajan
Kesenian
[sunting | sunting sumber]- Rodad
- Reog
- Drumblek
Kesehatan
[sunting | sunting sumber]Puskesmas UPTD Dadapayam
Olah Raga
[sunting | sunting sumber]Lapangan Dadapayam
