Pembuntutan dunia maya

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dari Cyberstalking)
Lompat ke: navigasi, cari

Pembuntutan dunia maya (bahasa Inggris: cyberstalking) adalah penggunaan internet atau alat elektronik untuk melecehkan seseorang, sekelompok orang, atau organisasi. Ini mungkin termasuk tuduhan palsu, pemantauan, membuat ancaman, pencurian identitas, kerusakan pada data atau peralatan, permohonan dari anak-anak untuk seks, atau mengumpulkan informasi dalam rangka untuk melecehkan.

Aksi ini dapat sangat berbahaya dan menakutkan, terutama bagi anak dan remaja. Hal ini lantaran informasi identitas pribadi seseorang yang tidak diketahui di Internet memberikan peluang bagi para penguntit untuk berkeliaran bebas menjalankan aksinya. Pelaku pembuntutan dunia maya (pelaku cyberstalker atau penguntit) bahkan sering melakukan tindakan ekstrem karena mereka merasa tidak dapat ditangkap dan/atau dihukum karena sulit dideteksi.

Teknik pembuntutan[sunting | sunting sumber]

  1. Tuduhan palsu. Banyak pelaku mencoba untuk merusak reputasi korban mereka. Mereka posting informasi palsu tentang mereka di situs dan situs web tertentu. Mereka mungkin mengatur situs mereka sendiri, blog atau halaman pengguna untuk tujuan kejahatan ini. Mereka memposting dugaan tentang korban untuk ruang obrolan atau situs lainnya yang memungkinkan kontribusi masyarakat.
  2. Upaya untuk mengumpulkan informasi tentang korban. Pelaku mungkin melakukan pendekatan dengan teman-teman korban mereka, keluarga dan rekan kerja untuk mendapatkan informasi pribadi. Mereka dapat memantau informasi di Internet, atau menyewa seorang detektif swasta. Mereka akan sering memonitor aktivitas daring korban dan berusaha untuk melacak alamat IP mereka dalam upaya untuk mengumpulkan informasi lebih lanjut tentang korban-korban mereka.
  3. Mendorong orang lain untuk melecehkan korban. Banyak cyberstalkers mencoba untuk melibatkan pihak ketiga dalam pelecehan ini. Mereka mungkin mengklaim korban telah merugikan penguntit atau keluarganya dalam beberapa cara, misalnya dengan memposting nama korban dan nomor telepon untuk mendorong orang lain ikut mengganggu korban.
  4. Salah korban. Pelaku akan mengklaim bahwa korban melecehkan dirinya.
  5. Serangan terhadap data dan peralatan. Mereka mungkin mencoba untuk merusak komputer korban dengan mengirimkan virus.
  6. Memesan barang dan jasa. Mereka memesan barang atau berlangganan majalah atas nama korban. Ini sering melibatkan langganan untuk melakukan tindakan pornografi atau memesan mainan seks kemudian dikirim ke tempat korban.
  7. Mengatur pertemuan. Para pemuda menghadapi risiko tinggi terutama terhadap pelaku yang mencoba untuk mengatur pertemuan di antara mereka.

Rujukan[sunting | sunting sumber]