Cilandak, Anjatan, Indramayu

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Cilandak
Negara Indonesia
ProvinsiJawa Barat
KabupatenIndramayu
KecamatanAnjatan
Kodepos
45256
Kode Kemendagri32.12.23.2011 Edit the value on Wikidata
Luas5,57 km²
Jumlah penduduk4.288 jiwa
Kepadatan730 jiwa/km²

Demografi[sunting | sunting sumber]

Cilandak adalah desa yang terletak di wilayah kecamatan Anjatan, Indramayu, Jawa Barat, Indonesia. Berjarak 58,9 km dari ibu kota kabupaten Indramayu, Desa Cilandak merupakan wilayah Indramayu Barat dengan letak koordinat di - 6°,33028 LS dan 107°,94081 BT dan Memiliki luas wilayah 5,57 Km² . Terdiri dari 6 Dusun dengan 5 Rukun Warga ( RW ) dan 13 Rukun Tetangga ( RT ).

Desa Cilandak berbatasan dengan wilayah sebagai berikut :

Sebelah Utara Desa Cilandak Lor yang merupakan wilayah pemekaran Desa Cilandak tahun 1983 - Kecamatan Anjatan
Sebelah Timur Desa Anjatan dan Anjatan Baru - Kecamatan Anjatan
Sebelah Selatan Desa Bugis - Kecamatan Anjatan
Sebelah Barat Desa Kalensari - Kecamatan Compreng Subang

Kependudukan

Jumlah Penduduk Desa Cilandak pada tahun 2018 sebanyak 4.288 jiwa yang terdiri dari 2.172 jiwa jumlah penduduk laki - laki dan 2.116 jiwa penduduk perempuan. mayoritas penduduk Desa Cilandak beragama Islam, dan berprofesi sebagian besar merupakan Petani karena lahan pertanian di Desa Cilandak yang masih cukup luas.

Iklim dan Curah Hujan

Letak desa Cilandak yang berdekatan dengan pantai utara pulau jawa membuat suhu udara di desa Cilandak termasuk dalam wilayah yang bersuhu cukup tinggi / beriklim tropis berkisar antara 22.9° – 33° C, menurut klasifikasi schmidt dan ferguson termasuk iklim tipe D (iklim sedang) dengan karakteristik iklim antara lain:

  1. Suhu udara harian berkisar antara 22,9º - 33º dengan suhu udara tertinggi 32° C dan terendah 22° C
  2. Kelembaban udara antara 70-80%
  3. Curah hujan rata - ratanya adalah sebesar 83.3 mm dengan hari hujan 65 hari, termasuk kedalam daerah dengan curah hujan yang rendah.
  4. Angin barat dan angin timur tertiup secara bergantian setiap 5-6 bulan sekali.

Hidrologi

Secara hidrologi sumber air yang terdapat di Desa Cilandak meliputi air permukaan dan air tanah. Air permukaan berupa sungai dan air genangan yang merupakan Daerah Aliran Sungai (DAS) sedangkan air tanah dieksploitasi melalui sumur - sumur pompa. Desa Cilandak merupakan daerah hilir dari aliran sungai yang sangat potensial sebagai sumber air bagi kebutuhan masyarakat baik untuk pertanian, industri maupun bahan baku air bersih.

Sejarah Desa Cilandak[sunting | sunting sumber]

Legenda Desa Cilandak (Sasakala )

Konon cerita para sesepuh daerah kita, yang biasa disampaikan pada suasana kenduri (selamatan) yang yang ditampilakan dalam bentuk macapat. Penindasan dan penjajahan Belanda telah menimbulkan pergerakan rakyat yang dipimpin oleh para Bagusan, salah satunya Ki Bagus Pasek ( Pangeran Tambak Baya ) yang mempunyai keturunan 3 (tiga) orang anak yaitu :

  1. Ki Bagus Sura Persanda
  2. Nyi Jaya atau Nyi Resik
  3. Ki Bagus Sura Sakti

Dari Ki Bagus Sura Persanda melahirkan keturunan yang bernama Ki Bagus Wangsa Krama . Pada Tahun ± 1.812, Ki Bagus Sura Persanda, Ki Bagus Sura Sakti dan Ki Bagus Wangsa Krama menggabungkan diri dengan Ki Bagus Rangin yang dating dari Bantar Jati beserta pasukannya, untuk menyerang Pemerintahan di Indramayu yang mereka anggap banyak membantu Belanda ( saat itu pada masa Pemerintahan Wiralodra ).

Penyerangan yang dilakukan Pasukan Ki Bagus Rangin ke Indramayu telah mengakibatkan berkobarnya perang yang hebat di wilayah Bantar Jati.Peperangan terus bergolak gagal mencapai perdamaian antara pasukan Ki Bagus Rangin dengan pasukan dalem Wiralodra yang dipimpin oleh Ki Patih Antasura dan menyebabkan Ki Patih Antasura terbunuh.

Dalam keadaan terdesak, Dalem Wiralodra meminta bantuan pada kompeni yang berada di Jakarta dan pada pasukan yang berada di Cirebon yaitu pasukan Kertawijaya. Pada saat pasukan Kim Bagus Rangin mengadakan persiapan di Pamayahan, pada malam harinya datang pasukan Belanda yang dipimpin oleh Komandan Poster, dengan segala tipu daya muslihatnya, Komandan Poster merayu Ki Bagus Rangin dengan mengiming-imingi jabatan yaitu berjanji akan mengangkat Ki Bagus Rangin menjadi seorang Tumenggung. Setelah Ki Bagus Rangin mengenakan pakaian kebesaran diadakan sebuah pesta yang sangat meriah, dan pada pagi harinya Belanda ke Indramayu. DEalam keadaan lelah dan mengantuk setelah berpesta semalam suntuk, datanglah serangan tiba-tiba dari Pasukan Kertawijaya dari Cirebon, hingga akhirnya dalam waktu yang sangat singkat pasukan Ki Bagus Rangin dapat dikalahkan dengan mudah.

Ki Bagus Rangin dapat meloloskan diri ke Barat dengan menyebrang sungai Citarum. Setelah kehancuran pasukan Ki Bagus Rangin maka Ki Bagus Sura Sakti, Ki Bagus Sura Persanda dan Ki Bagus Wangsa Krama ikut melarikan diri ke arah barat dan sampailah di sebuah pedukuhan. Ditempat tersebut ketiga buronan tersebut membuka pedukuhan baru. Perjuangan ketiga Tokoh tersebut berganti haluan , dari melawan penindasan Belanda menjadi bercocok tanam.

Untuk memenuhi kebutuhan air di musim kemarau, ketiga orang tersebut membuat kolam / waduk penampungan air hujan yang berukuran garis tengah ± 50 m, kedalaman ± 4 m dan terletak ± 300 m ke arah timur laut dari Bali Desa Cilandak lor sekarang, tempat tersebut sampai sekarang dinamakan Tri Kolot karena dibangun oleh ketiga orang tersebut diatas.

Pada tahun 1817, ada seorang pemuda bernama KI Nata yang berasal dari Bagelen merupakan Buronan belanda dan telah lama tinggal di daerah Lung Malang (Bugis).Pemuda tersebut akhirnya bertemu dengan ketiga orang tersebut sewaktu perjalanan sewaktu perjalanan beliau melanjutkan pengembaraannya setelah sekian lama tinggal di Lung Malang.Bersama mereka akhirnya bersama-sama membina masyarakat bercocok tanam dan menanamkan/mengajarkan ketauhidan dengan dibimbing oleh Ki Bagus Arsitem dari Sumber (Cisamblang).

Makin lama makin ramailah Daerah Tri kolot tersebut sehingga ke empat orang tersebut kwatir akan terdengar oleh Belanda, maka pada suatu hari mereka mengambil keputusan setelah berunding bersama, mereka memutuskan akan meninggalkan Tri Kolot dengan tujuan masing -masing :

1. Ki Bagus Nata, Ki Bagus Sura Persanda dan Ki Bagus Sura Sakti mereka bertiga sepak pergi kea rah timur dan akan membuka pemukiman baru untuk mendapat petunjuk. Mereka berhenti dan beristirahat di suatu tempat yqang sekarang disebut Buyut Krapyak. Ditempat itulah mereka medapat petunjuk untuk terus ngetan (ke timur), sehingga sekarang daerah tersebut dinamakan Anjatan, karena berasal dari kata “ Mancat ngetan “ atau disebut juga Penghajatan ( dari bahasa Sunda ) dan lama – lama berubah menjadi nama desa yaitu Anjatan.

2. Ki Bagus Wangsa Krama memutuskan untuk pergi kea rah barat, ketiga tokoh diatas tidak dapat menghalangi maksud dari Ki Bagus Wangsa Krama tersebut yang atas kehendaknya sendiri memisahkan diri dari ketiga tokoh tersebut dan pergi kea rah barat, tetapi sebelum kepergiannya ketiga tokoh tersebut hanya bias menasehati dan mewanti – wanti yaitu jika hendak pergi ke barat hati-hati Becik Kecandak Belanda ( dari bahasa Jawa Indramayu ), dari kata “ Cik Kecandak “ itulah nama Cilandak berasal, sejak itulah nama Tri Kolot disebut atau berganti nama menjadi “ Cilandak”.

Di Cikampek, Ki Bagus Wangsa Krama tertangkap oleh Belanda, setelah diperiksa dan ternyata benar Ki Bagus Wangsa Krama adalah buronan belanda, maka Beliau dirantai dan hendak dibawa ke markas Belanda di Jakarta, sesampainya di Karawang Ki Bagus Wangsa Krama meminta ijin untuk mandi dulu di sungai dan Belanda pun mengijinkannya, namun tetap dalam keadaan dirantai. Entah bagaimana ceritanya mungkin dikarenakan kesaktiannya Ki Bagus Wangsa Krama mampu meloloskan diri saat terjun / mandi di sungai Citarum tersebut dan tidak pernah muncul lagi. Menurut cerita rantai bekas mengikat Ki Bagus Wangsa Krama masih ada di sana.

Sementara di daerah asalnya ( Cilandak ), sebelum pergi ke daerah barat, Ki Bagus Wangsa Krama telah mempunyai keturunan Ki Bagus Jaenal lahirlah Ki Bagus jeri, beliau inilah yang merupakan sesepuhnya Desa Cilandak, Keturunannya yaitu H. Moh. Dasli (mantan Kepala Desa Cilandak) merupakan keturunan Ki Bagus Jeri yang Ke V.


Terbentuknya Desa Cilandak

Pada Tahun 1819 Desa Cilandak pertama kalinya dipimpin oleh seorang Kuwu bernama Ki Mangi ( Bidod ), setelah mengalami perkembangan zaman Desa Cilandak pada Tahun 1983 mengalami pemekaran menjadi dua Desa yaitu, Desa Cilandak dan Desa Cilandak Lor.

Adapun Nama-nama Kuwu atau Kepala Desa Cilandak diantaranya :

  1. KI MANGI ( 1819 s/d 1849 )
  2. SOGI ( 1849 s/d 1863 )
  3. SINYA ( 1863 s/d 1867 )
  4. TALIM / JABAR ( 1867 s/d 1870 )
  5. SARWIYEM 1 ( 1870 s/d 1890 )
  6. WARSIYAH ( 1890 s/d 1910 )
  7. SARWIYEM 2 ( 1910 s/d 1927 )
  8. WASJIM ( 1927 s/d 1932 )
  9. MADEM ( 1932 s/d 1935 )
  10. WARGA ( 1935 s/d 1949 )
  11. NURJALI ( 1949 s/d 1950 )
  12. WARYANA ( 1950 s/d 1952 )
  13. CAREM ( 1952 s/d 1956 )
  14. KANGSA ( 1956 s/d 1959 )
  15. TOY I B ( 1959 s/d 1962 )
  16. NA ‘ I M ( 1962 s/d 1970 )
  17. TAWANG ( 1970 s/d 1974 )
  18. H. MOH. DASLI ( 1974 s/d 1984 )
  19. D. NARITA ( 1984 s/d 1993 )
  20. M. RASKIMAN ( 1993 s/d 2001 )
  21. H. SANDI ( 2001 s/d 2011 )
  22. SAKI TATA SUMANA ( 2012 s/d 2018 )
  23. SAKI TATA SUMANA ( 2018 s/d Sekarang )