Lompat ke isi

Camino de Santiago

Camino de Santiago
Peta jaringan Jalan Santo Yakobus di Eropa
Peta
Peta interaktif Camino de Santiago
JenisJalur ziarah
Nama resmiRute-Rute Santiago de Compostela: Camino Francés dan Rute-Rute Spanyol Utara
KriteriaKebudayaan: (ii)(iv)(vi)
Referensi669bis
Pengukuhan1993 (Sesi ke-17)
Perluasan2018
Zona pembatas16.286 hektar (62,88 mil persegi)
Nama resmiRute-Rute Santiago de Compostela di Prancis
KriteriaKebudayaan: (ii)(iv)(vi)
Referensi868
Pengukuhan1998 (Sesi ke-22)
Luas9.721 hektar (37,53 mil persegi)

Camino de Santiago (bahasa Latin: Peregrinatio Compostellana, terj. har. 'Ziarah ke Compostela'; bahasa Galisia: O Camiño de Santiago; bahasa Spanyol: El Camino de Santiago; bahasa Portugis: O Caminho de Santiago),[1] atau Jalan Santo Yakobus dalam bahasa Indonesia, adalah jaringan jalur ziarah menuju petilasan Rasul Yakobus Tua di Gereja Katedral Santiago de Compostela, Galisia, kawasan barat-laut Spanyol, yang menurut tradisi merupakan tempat jenazahnya disemayamkan. Para peziarah menempuh rute-rute tersebut sebagai salah satu bentuk olah rohani atau khalwat demi pertumbuhan rohani. Camino de Santiago juga populer di kalangan pecinta alam, pegowes, dan rombongan tur wisata.

Camino de Santiago, yang tercetus dan terbentuk pada awal abad ke-9 menyusul ditemukannya relikui Santo Yakobus Tua, merupakan salah satu jalur ziarah utama bagi umat Kristen zaman madya sejak abad ke-10. Seusai Perang Granada tahun 1492, pada masa pemerintahan Para Prabu Katolik, Raja Ferdinandus dan Ratu Isabela, Paus Aleksander VI secara resmi menyatakan perjalanan ziarah menempuh Camino de Santiago sebagai salah satu di antara "tiga ziarah besar dunia Kristen", setaraf dengan perjalanan ziarah ke Yerusalem dan perjalanan ziarah menempuh Via Francigena menuju Roma.

Pada tahun 1987, Camino de Santiago, yang meliputi beberapa rute di Spanyol, Prancis, dan Portugal, dinyatakan sebagai Rute Budaya Majelis Eropa yang pertama. Sejak tahun 2013, Camino de Santiago telah menarik lebih dari 200.000 peziarah per tahun, dengan laju pertumbuhan tahunan melebihi 10 persen. Pada umumnya peziarah berjalan kaki ke Camino de Santiago, seringkali dari kota-kota terdekat, sehingga baru sampai beberapa hari kemudian. Dua pertiga perjalan kaki menapaki rute Jalan Prancis, tetapi rute-rute lain yang lebih kecil pun kini semakin populer. Rute Jalan Prancis dan rute-rute di kawasan utara Spanyol dimasukkan ke dalam Daftar Pusaka Dunia UNESCO, disusul oleh rute-rute di Prancis pada tahun 1998, karena signifikansi kesejarahannya bagi agama Kristen sebagai rute ziarah yang penting, dan karena telah menjadi saksi pertukaran gagasan dan budaya yang berlangsung di sepanjang rute-rute tersebut.[2][3]

Rute ziarah penting

[sunting | sunting sumber]
Gereja Katedral Santiago de Compostela
Relikuarium Santo Yohanes di Gereja Katedral Santiago de Compostela

Camino de Santiago merupakan salah satu jalur ziarah Kristen yang sangat penting menjelang akhir Abad Pertengahan, dan salah satu jalur ziarah tempat peziarah bisa mendapatkan indulgensi penuh.[4] Rute-rute ziarah lain yang juga dianggap penting adalah Via Francigena menuju Roma dan ziarah ke Yerusalem. Menurut legenda, jenazah Santo Yakobus diangkut dengan perahu dari Yerusalem ke kawasan utara Spanyol, kemudian dikebumikan di tempat yang sekarang menjadi kota Santiago de Compostela[5] (menurut legenda-legenda Spanyol, Santo Yakobus dulunya mewartakan injil di Spanyol, tetapi kemudian pulang ke Yudea sesudah Bunda Maria menampakkan diri kepadanya di tepi sungai Ebro).[6][7]

Para peziarah dapat memilih salah satu dari lusinan rute ziarah menuju Santiago de Compostela. Sesuai tradisi, sebagaimana ziarah pada umumnya, Jalan Santo Yakobus berpangkal di rumah peziarah dan berujung di tempat tujuan ziarah. Meskipun demikian, ada beberapa rute yang dianggap sebagai rute utama. Pada Abad Pertengahan, rute-rute ini ramai dilalui orang, akan tetapi wabah Maut Hitam, Reformasi Protestan, dan gejolak politik di Eropa pada abad ke-16 mengendurkan gairah orang untuk menempuh Jalan Santo Yakobus.

Apabila Hari Santo Yakobus (tanggal 25 Juli) jatuh pada hari Minggu, Gereja Katedral Santiago de Compostela mencanangkan Tahun Suci (tidak sama dengan yubileum yang dirayakan setiap 25 atau 50 tahun sekali, dan yubileum luar biasa yang bisa dicanangkan sesuai kebutuhan). Tahun Suci jatuh setiap selang waktu 5 tahun, 6 tahun, atau 11 tahun, tergantung lama selang waktunya. Yang termutakhir adalah tahun 1993, 1999, 2004, 2010, dan 2021. Tahun Suci berikutnya akan jatuh pada tahun 2027.[8]

Zaman pra-Kristen

[sunting | sunting sumber]
Jembatan Romawi berpelengkung 19 melintasi sungai Órbigo, dijadikan bagian dari Camino Francés modern

Rute ziarah utama ke Santiago de Compostela mengikuti sebuah rute dagang Romawi terdahulu, yang bersambung dengan jalur menuju tepian samudra Atlantik di Galisia, dan berakhir di tanjung Finisterre. Meskipun tanjung Finisterre, ujung barat Spanyol, sekarang ini sudah diketahui bukan merupakan ujung barat Eropa (Cabo da Roca di Portugal adalah ujung barat Eropa), fakta bahwa bangsa Romawi menamakannya Finisterrae (secara harfiah berarti ujung dunia atau ujung bumi dalam bahasa Latin) menunjukkan bahwa bangsa Romawi memang menganggapnya sebagai ujung barat Eropa. Pada malam hari, Bima Sakti akan tampak seolah-olah searah dengan rute tersebut, sehingga membuatnya dijuluki "Voie lactée", yang berarti Jalan Susu alias Bima Sakti dalam bahasa Prancis.[9]

Lambang cangkang simping

[sunting | sunting sumber]
Cangkang Santo Yakobus, lambang rute Camino de Santiago, terpampang pada tembok sebuah bangunan di León, Spanyol
Stilisasi cangkang simping, penunjuk arah modern Camino de Santiago
Salah satu penanda rute Camino de Santiago
Pernak-pernik tradisional peziarah Camino de Santiago

Cangkang simping, yang lumrah dijumpai di daerah pesisir Galisia, sudah lama menjadi lambang Camino de Santiago. Dari abad ke abad, cangkang simping menjadi lekat dengan berbagai macam pemaknaan, baik yang bersifat kiasan, praktis, maupun mitos, termasuk pemaknaan yang relevansinya mungkin berasal dari keinginan para peziarah untuk membawa pulang cendera mata.

Menurut salah satu mitos, sesudah Santo Yakobus Tua tutup usia, jenazahnya dibawa kembali ke semenanjung Iberia dengan sebuah kapal yang dikemudikan malaikat untuk dikebumikan di tempat yang sekarang bernama Libredón. Ratu Lupa sedang menggelar hajatan perkawinan putrinya di tepi pantai saat kapal yang mengangkut jenazah Santo Yakobus Tua mendekati daratan.[10] Saat kapal mendekat, kuda yang sedang ditunggangi mempelai pria tiba-tiba ketakutan, lalu menceburkan diri bersama penunggangnya ke dalam laut. Namun kemudian terjadi keajaiban, kuda beserta penunggangnya terangkat keluar dari laut dalam keadaan selamat, tetapi dengan sekujur tubuh tertutup cangkang-cangkang simping.[11]: 71 

Berawal dari kaitannya dengan Camino de Santiago, cangkang simping akhirnya lekat dengan peziarahan, baik sebagai lambang petilasan suci maupun sebagai lambang surga, mengacu kepada nas Ibrani 11:13, yang menyifatkan umat Kristen "orang asing dan pendatang di bumi ini".[12] Lambang cangkang simping digunakan sebagai penanda jalan di Camino de Santiago, dan lazim terlihat dibawa-bawa para peziarah sebagai tanda bahwa mereka adalah musafir. Pada Abad Pertengahan, cangkang simping lebih dipandang sebagai bukti sudah pernah berziarah ketimbang sebagai lambang yang dibawa orang pada saat berziarah. Tongkat ziarah adalah tongkat jalan yang digunakan oleh beberapa peziarah dalam perjalanan menuju petilasan Santiago de Compostela di Spanyol.[13] Hulu tongkat ziarah pada umumnya melengkung, tempat menggantungkan sesuatu. Hulu tongkat ziarah juga bisa dipasangi sepotong kayu melintang sehingga tampak seperti salib.[14] Tongkat ziarah biasanya dilambangkan dengan gambar tongkat berhulu gancu,[15] tetapi ada pula yang tidak bergancu.[16] Lambang tongkat ziarah digambar dengan beragam bentuk, dan disebut dengan beragam nama, misalnya kruk peziarah, tongkat kruk. Lambang kruk atau tongkat ketiak seharusnya berbentuk tongkat berhulu kayu palang (sehingga tampak seperti huruf "T") alih-alih berhulu salib.[17]

Sejarah rute Abad Pertengahan

[sunting | sunting sumber]
Patok jalan penanda Camino de Santiago di dekat laluan masuk ke Jembatan Taboada, jembatan dari abad ke-10 di Kotamadya Silleda, Provinsi Pontevedra, Spanyol. Jembatan ini masih digunakan sampai sekarang oleh para peziarah yang menempuh Jalan Perak (Vía de la Plata).
Santo Yakobus dan tongkat ziarahnya. Topinya merupakan unsur khas, tetapi kerap disemati lencananya, yaitu cangkang simping, di pinggiran topi sebelah depan`atau di bagian lain dari pakaiannya
Jalan Santo Yakobus pada tahun 1568

Catatan tertua mengenai kunjungan ke petilasan suci Santiago de Compostela berasal dari abad ke-9, zaman Kerajaan Asturias dan Kerajaan Galisia.

Abad Pencerahan

[sunting | sunting sumber]

Pada masa Revolusi Amerika, John Adams (kemudian hari menjadi Presiden Amerika Serikat yang kedua) diperintahkan oleh Kongres untuk berangkat ke Paris dalam rangka mengumpulkan dana perjuangan. Karena kapal yang ditumpanginya mengalami kebocoran, John Adams beserta kedua putranya turun di Finisterre pada tahun 1779. Dari Finisterre, dia meneruskan perjalanan ke Paris lewat darat menuju Paris melalui Camino de Santiago. Dia tidak sempat berkunjung ke Santiago, dan kemudian hari menyesalinya. Di dalam otobiografinya, John Adams menjabarkan kebiasaan berziarah dan penginapan yang disediakan bari orang-orang yang berziarah ke Santiago de Compostella pada abad ke-18, serta mengisahkan kembali legenda tempat itu sesuai yang diceritakan kepada:[18]

Yang selalu aku sesali adalah tak menyempatkan diri untuk berziarah ke Santoiago de Compostella. Kami diberi tahu ... beginilah asal-mula petilasan dan gereja Santo Iago. Syahdan seorang gembala melihat seberkas cahaya memancar dari tempat itu pada malam hari. Lalu seorang uskup agung mendapat wangsit bahwa jenazah Santo Yakobus dikebumikan di situ. Maka dibangunlah sebuah gereja, dan sebuah altar mereka dirikan di tempat si gembala melihat cahaya. Pada zaman penjajahan Moro, rakyat bernazar, kalau sampai orang Moro tersingkir dari negeri itu, mereka akan menyisihkan sebagian dari hasil bumi mereka bagi Santo Yakobus. Orang Moro dikalahkan dan diusir, lalu tersiar kabar yang dipercayai orang, bahwa Santo Yakobus hadir dalam pertempuran dan bertempur dengan pedang terhunus di depan pasukan Spanyol, sambil menunggang kuda. Lantaran yakin bahwa Santo Yakobus sudah membantu mereka meraih kemenangan, rakyat dengan penuh suka cita membayar nazar mereka. ... Atas dasar keyakinan bahwa di situlah letaknya pusara Santo Yakobus, orang berduyun-duyun menyiarahinya, tiap-tiap tahun, dari Prancis, Spanyol, Italia, dan tempat-tempat lain di Eropa, banyak yang melakukannya dengan berjalan kaki.

Baca juga

[sunting | sunting sumber]
  1. ↑ Dalam bahasa-bahasa lain: bahasa Spanyol: El Camino de Santiago; bahasa Portugis: O Caminho de Santiago; bahasa Prancis: Le chemin de Saint-Jacques; bahasa Jerman: Der Jakobsweg; bahasa Italia: Il Cammino di san Giacomo.
  2. ↑ "Routes of Santiago de Compostela: Camino Francés and Routes of Northern Spain". UNESCO World Heritage Centre. United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization. Diakses tanggal 4 November 2021.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  3. ↑ "Routes of Santiago de Compostela in France". UNESCO World Heritage Centre. United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization. Diakses tanggal 4 November 2021.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  4. ↑  Herbermann, Charles, ed. (1913). Catholic Encyclopedia. New York: Robert Appleton Company. {{cite encyclopedia}}: |title= tidak ada atau kosong Uraian tentang indulgensi ini menyiratkan bahwa evolusi doktrin pada akhirnya merangkul ziarah ke tempat-tempat suci sebagai suatu tren yang berkembang sejak abad ke-8 tarikh Masehi: "Salah satu di antara bentuk-bentuk lain dari komutasi hukuman adalah ziarah ke tempat-tempat suci terkenal seperti St Albans di Inggris atau Compostela di Spanyol. Namun tempat ziarah yang paling penting adalah Roma. Bahkan menurut Beda (674–735), visitatio liminum, atau mengunjungi pusara para rasul, pada masa itu dianggap sebagai amal kebajikan yang besar faedahnya (Hist. Eccl., IV, 23). Mulanya para peziarah datang sekadar untuk menghormati relikui-relikui para rasul dan martir, tetapi seiring bergulirnya waktu tujuan utama mereka bergeser ke mengalap indulgensi-indulgensi yang dilimpahkan oleh paus dan dikaitkan secara khusus pada perhentian-perhentian ziarah."
  5. ↑ "Santiago de Compostela | Spain". Encyclopedia Britannica (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 16 Februari 2021.
  6. ↑ Chadwick, Henry (1976), Priscillian of Avila, Oxford University Press
  7. ↑ Fletcher, Richard A. (1984), Saint James's Catapult : The Life and Times of Diego Gelmírez of Santiago de Compostela, Oxford University Press
  8. ↑ "Holy Years at Santiago de Compostela". Diarsipkan dari asli tanggal 16 September 2014. Diakses tanggal 6 Maret 2014.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  9. ↑ "Jalan setapak Abad Pertengahan di bawah bintang-bintang Bima Sakti Diarsipkan 17 December 2006 di Wayback Machine.". Telegraph Online.
  10. ↑ Bahrami, Beebe (2009). The Spiritual Traveler: Spain : a Guide to Sacred Sites and Pilgrim Routes. Paulist Press. hlm. 36. ISBN 978-1-58768-047-2.
  11. ↑ Starkie, Walter (1965) [1957]. The Roads to Santiago: Pilgrims of St. James. University of California Press.
  12. ↑ Kosloski, Philip (25 Juli 2017). "How the scallop shell became a symbol of pilgrimage".
  13. ↑ "Pilgrim's Way to Santiago: Curiosities". Navarre Tourist Board.
  14. ↑ Tongkat ziarah atau Tongkat Palma Prancis: bourdon: benda ini digunakan sebagai salah satu tanda pada lambang kebesaran setidaknya sejak masa pemerintahan Raja Edward II, sebagaiman yang akan kita lihat. Tongkat dan cangkang simping merupakan lencana peziarah, sehingga tidak heran jika akhirnya muncul pada perisai orang-orang yang pernah berkunjung ke Tanah Suci.
  15. ↑ "figure 1". heraldsnet.org.
  16. ↑ "figure 2". heraldsnet.org.
  17. ↑ "J". A GLOSSARY OF TERMS USED IN HERALDRY.
  18. ↑ "John Adams autobiography, part 3, Peace, 1779–1780, sheet 10 of 18". Harvard University Press, 1961. Agustus 2007.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)

Pranala luar

[sunting | sunting sumber]

Templat:Situs Warisan Dunia di Spanyol 42°27′32″N 5°52′59″W / 42.459°N 5.883°W / 42.459; -5.883