Bobos, Dukupuntang, Cirebon

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Bobos
Desa
Negara Indonesia
ProvinsiJawa Barat
KabupatenCirebon
KecamatanDukupuntang
Luas92 Ha
Jumlah penduduk4.850jiwa
Kepadatan... jiwa/km²

Bobos adalah desa di kecamatan Dukupuntang, Cirebon, Jawa Barat, Indonesia. Desa ini berjarak sekitar 9 Km ke arah barat dari Kota Sumber yang merupakan ibu kota Kabupaten Cirebon. Desa Bobos berbatasan langsung dengan Kabupaten Majalengka. Desa ini terdiri dari 31 RT, 8 RW dan 5 Dusun.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Sejarah desa ini berkaitan dengan Kerajaan Galuh. Kerajaan Galuh mencapai puncak kejayaan pada masa pemerintahan Pangeran Purbaya. Pangeran Purbaya adalah orang kuat, cakap dan gagah berani yang tahu akan martabatnya sebagai raja dari negara yang kuat dan merdeka, akan tetapi karena daerah kekuasaan Galuh sangat sempit maka Pangeran Purbaya ingin memperluas daerahnya dan ingin menguasai Pulau Jawa di bawah panji-panji Galuh. Karena prajurit Galuh sangat banyak dan terlatih, banyak kerajaan dan kesultanan yang ditaklukan. Demikian juga Cirebon telah lama di bawah kekuasaan Galuh.

Cirebon secara diam-diam dan sedikit demi sedikit berusaha ingin melepaskan diri dari belenggu penjajahan. Karena sikap kejam dan sewenang-wenang terhadap kerajaan dan kesultanan yang ditaklukan semakin banyak dan meningkat, apalagi setelah peraturan yang diberikan tidak sesuai dengan tradisi di Cirebon. Selain sikap Galuh yang tidak selaras itu, juga agama yang dianutnya bukan agama Islam, maka persengketaan Galuh dan Cirebon mulai timbul. Banyak perintah-perintah yang tidak diindahkan, begitu juga pembayaran upeti yang setiap tahun diberikan kepada kerajaan Galuh mulai saat itu tidak dikirim. Selain tidak membayar upeti juga banyak hal-hal lain yang tidak dituruti karena Cirebon ingin mempertahankan agamanya dan hidup bebas tanpa ikatan siapapun.

Melihat Pangeran Salingsingan demikian Galuh menaruh curiga apalagi setelah beberapa kali dipanggilnya Sultan Cirebon tidak memenuhi panggilannya, malahan sering membalas dengan kata-kata menantang. Dengan demikian Pangeran Purbaya mengambil keputusan untuk menghancurkan daerah Cirebon, maka dipanggilah semua panglima dan prajurit Galuh untuk merencanakan penyerangan. Setelah lengkap perlengkapan dan perlengkapan yang diperlukan maka semua prajurit berangkat ke daerah Cirebon. Karena perjalanan begitu jauh dan sangat sulit, prajurit Galuh datang setelah berbulan-bulan lamanya mereka beristirahat di daerah yang sekarang dinamakan Desa Cipanas.

Dalam peristirahatannya mereka tidak menaruh curiga sedikitpun karena dalam perasaannya Cirebon tidak mungkin berani melawan dan pasti akan hancur. Maka mereka bersuka ria dan bersenang-senang, makan minum yang tidak ada batasnya. Untuk menghabiskan kepuasannya maka disembelihlah seekor gajah untuk dibuat masakan sesuka hati, karena itu di Desa Cipanas sekarang ada nama ‘Batu Gajah’ ada ‘Kayu jati’ bekas masak, ada ‘bukit lumpang’ bekas menumbuk bumbu dan ada ‘wanggung wangi’ tempat bumbu yang wangi-wangian disimpan disana,mengapa sampai ada nama demikian? Karena mereka tidak sempat memasak daging gajah terburu ada serangan dari Cirebon.

Sultan Cirebon mendengar bahwa pasukan Galuh telah masuk di daerah Cirebon, yaitu di daerah Cipanas, sehingga prajurit-prajurit dipersiapkan untuk melawan dan mempertahankan barangkali pasukan Galuh menuju ke pusat kesultanan Cirebon. Berangkatlah pasukan Cirebon menuju ke Desa Cipanas walaupun banyak berhenti karena melakukan ibadah sholat, setelah sampai disuatu tempat semua bala Cirebon berhenti dan beristirahat. Tempat berhenti dan beristirahatnya bala Cirebon yang strategis untuk memperhitungkan siasat dan mengatur penyerangan bala Cirebon mereka bersepakat menamakan daerah tersebut daerah Balad hingga sekarang. Datangnya pasukan Cirebon membuat terkejutnya pasukan Galuh karena pasukan atau prajurit-prajurit Galuh belum selesai memasak dan berpesta pora, tiba-tiba datanglah tantangan dari Cirebon. Pasukan Galuh lebih banyak dan dan lebih sakti dibandingkan dengan bala Cirebon, walaupun demikian bala Cirebon tidak merasa gentar sedikitpun apalagi kecil hati, mereka tetap teguh akan berjuang dengan meminta kepada Tuhan Yang Maha Kuasa untuk diberi kekuatan dan kemenangan demi membela agama, bangsa dan negara.

Terjadilah peperangan yang sangat sengit antara pasukan Galuh di bawah pimpinan Pangeran Purbaya dan pasukan Cirebon di bawah pimpinan Pangeran Salingsingan. Pasukan Galuh terdesak, sebagian pasukan Galuh banyak tertawan. Walau demikian pasukan cirebon tidak bersikap kejam dan radikal, karena mereka bermaksud untuk berdamai. Tetapi banyak prajurit Galuh yang tidak mau berdamai mereka terus melawan sambil mundur. Bala Cirebonpun tidak membiarkan begitu saja,terus dikejar dan dihantamnya. Dari medan pertempuran pasukan Galuh lari ke sebelah selatan menyebrangi sungai, waktu menyebrang banyak prajurit yang totolonjongan (sempoyongan terpeleset) di sungai tersebut, sehingga tempat tersebut diberi nama ‘kedung tonjong’, setelah menyebrani mereka masuk ke daerah yang masih banyak rumpun-rumpun bambu, semak-semak belukar dan batu-batu besar.

Pengejaran bala Cirebon setelah sampai di daerah tersebut kehilangan jejak, tidak kelihatan musuh yang menerobos ke mana larinya, melihat keadaan demikian pasukan Cirebon berbincang-bincang membincangkan pengalamannya tentang daerah menerobos musuh itu. Dalam percakapannya daerah itu diberi nama Bobos yang berasal dari kata menerobos dan sekarang dinamakan Desa Bobos. Karena hilangnya jejak musuh itu terhalang oleh rumpun-rumpun yang begitu banyak, maka tempat yang menghalanginya diesbut alang-aling dan sekarang tempat itu diberi nama ‘Alingan’. Untuk menghilangkan rasa penasaran terhadap prajurit Galuh maka bala Cirebon membuntungi mereka yang tertawan, sampai sekarang tempat penganiayaan itu diberi nama ‘Cigintung’.

Pada waktu Pangeran Salingsingan dan bala Cirebon sedang menjaga daerah Bobos (sekarang daerah tempat penjagaan itu diberi nama “Pajagan’ yang pada tahun 1975 dibangun SD Inpres 3 dan 6 – 75),datanglah Pangeran Purbaya dan Pangeran Salingsingan ditangkap, tetapi menghilang konon menurut ceritanya kedua pangeran itu bisa menghilang.

Pangeran Purbaya menyusup (dalam bahasa Sunda nyusun) kedalam tanah (sekarang tempat penyusupan itu diberi nama ‘Seuseupan’) dan keluar atau muncul di Kepuh sehingga terdapat daerah ‘Munjul’. Setelah itu menghilang lagi dan bertemu di daerah Plered, karena pangeran itu saling tarik menarik yang akhirnya Pangeran Purbaya disered oleh Pangeran Salingsingan, sampai sekarang daerah tersebut dinamakan Plered. Lalu Pangeran Purbaya nerus bumi (bahasa Sunda) sehingga ada daerah sebelah Utara yaitu Turesmi. Di daerah keduanya menghilang dan menerobos lagi atau masuk kedalam tanah dan keluar di daerah Bobos lagi. Karena kedua pangeran sama dijayanya (sakti) maka kedua pangeran itu mengadakan perjanjian dan mengambil keputusan itu untuk berdamai yang tempatnya disebelah selatan Desa Bobos dengan syarat yaitu:

  1. Pangeran Salingsingan menjadikan telaga yang diberi nama ‘Telaga remis’
  2. Pangeran Purbaya menjadikan isinya yaitu kura-kura yang diberi nama si Mendung karena pada waktu perjanjian cuaca dalam keadaan mendung akan turun hujan.

Sewaktu kedua pangeran mengadakan perjanjian, bala Cirebon yang ada di Desa Bobos sedang mencari air, dan didapatnya sebuah kolam yang airnya sangat jernih dan disekelilingnya terdapat pohon-pohon yang indah, maka kolam itu diberi nama ‘Cibalong’ berasal dari kolam menjadi balong.

Batas wilayah[sunting | sunting sumber]

Batas-batas wilayahnya adalah sebagai berikut:

Utara Desa Dukupuntang
Timur Desa Cikalahang
Selatan Desa Cikalahang dan Kabupaten Majalengka
Barat Desa Cipanas dan Kabupaten Majalengka

Pembagian wilayah[sunting | sunting sumber]

  1. Dusun Alingan
  2. Dusun Cibalong
  3. Dusun Gerembel
  4. Dusun Pesantren
  5. Dusun Patebon