Benteng Zhongma

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

Benteng Zhongma atau Kamp Penjara Zhong Ma atau Unit Tōgō adalah suatu kamp penjara tempat Tentara Kwantung Jepang melakukan penelitian perang biologis rahasia pada subjek tes manusia. Dibangun di Beiyinhe, di luar Harbin, Manchukuo pada masa Perang Tiongkok-Jepang Kedua, kamp itu berfungsi sebagai pusat eksperiman dengan subjek manusia dan bisa menampung hingga 1.000 tahanan pada waktu tertentu.[1] Pada tahun 1937 kamp penjara itu dihancurkan dan operasi-operasi pengujian dipindahkan ke Pingfang di bawah Unit 731.

Latar belakang[sunting | sunting sumber]

Pada tahun 1930 Dokter Shirō Ishii, seorang peneliti biologi dan senjata kimia Angkatan Darat Kekaisaran Jepang, mengajukan petisi kepada Kementerian Perang Jepang untuk membangun program senjata biologi. Dengan dukungan dari Menteri Angkatan Darat Sadao Araki dan dekan Kolese Kedokteran Angkatan Darat Tokyo, Koizumi Chikahkiko, suatu program senjata biologi dimulai di bawah departemen imunologi yang baru dibentuk.[2] Ishii memulai penelitiannya dalam perang biologis sebagai kepala "Laboratorium Penelitian Pencegahan Epidemi."[2] Meskipun melindungi pasukan Jepang dari penyakit adalah bagian dari agendanya, tujuan utama laboratorium itu adalah untuk mengembangkan cara yang efektif dalam menyebarkan epidemi.[2] Didorong oleh hasil-hasil awal pada laboratorium hewan, Ishii berusaha meniru hasil-hasil tersebut dengan uji coba pada manusia. Karena masalah pembatasan dan kendala etika, eksperimen manusia tidak dapat dilakukan di laboratorium di Tokyo.

Pada tahun 1932 Angkatan Darat Kekaisaran Jepang menginvasi Manchuria menyusul Insiden Mukden. Pendudukan Manchuria kemudian memberikan lingkungan yang kondusif untuk penelitian Ishii karena subjek tes manusia "bisa dipetik dari jalanan, seperti tikus.".[2][3] Ishii merelokasi laboratoriumnya ke fasilitas militer di dekat Harbin. Tetapi, lingkungan fasilitas yang padat penduduk mengancam kerahasiaan eksperimen manusia yang sedang berjalan.[4] Akibatnya, dipilih lokasi kedua, sekitar 100 kilometer ke arah selatan dari Harbin di Desa Beiyinhe. Beiyinhe adalah suatu desa yang memiliki sekitar 300 rumah yang tersebar dan oleh penduduk setempat disebut Kota Zhong Ma. Angkatan Darat Kekaisaran Jepang mengusir penduduk setempat dan membakar desa untuk dijadikan lokasi sebuah bangunan besar yang akan digunakan sebagai kantor pusat.[2]

Deskripsi[sunting | sunting sumber]

Kamp penjara ini memiliki dinding tanah setinggi tiga meter dan di atasnya terpasang kawat berduri yang dialiri listrik, serta sebuah parit dengan jembatan mengelilingi bangunan-bangunan di dalamnya. Ada ratusan kamar dan laboratorium-laboratorium kecil di sekitarnya, bangunan kantor, barak dan ruang makan, gudang dan tempat penyimpanan amunisi, krematorium, dan sel-sel penjara. Angkatan Darat Kekaisaran Jepang memaksa tenaga-tenaga Tionghoa lokal mengerjakan pembangunannya. Untuk kerahasiaan, para pekerja dikawal oleh penjaga bersenjata dan dipaksa untuk memakai penutup mata, sehingga mereka tidak mengetahui yang sedang mereka bangun. Orang-orang yang bekerja di area-area paling sensitif di kamp penjara itu, seperti bagian dalam dari laboratorium medis, dieksekusi setelah pembangunan selesai untuk memastikan kerahasiaannya.[2] Para tahanan dibawa ke Zhongma, termasuk para pelaku kriminal, bandit-bandit yang ditangkap, partisan-partisan anti-Jepang, serta tahanan politik dan orang-orang yang ditangkap dengan tuduhan-tuduhan palsu oleh Kempeitai.

Eksperimen manusia[sunting | sunting sumber]

Berbagai eksperimen medis dilakukan pada tahanan-tahanan dalam kamp. Para tahanan biasanya diberi makan dengan baik dengan makanan-makanan yang biasa mereka konsumsi dari beras atau gandum, daging, ikan, dan kadang-kadang bahkan alkohol – dengan maksud memulai eksperimen pada subjek-subjek dalam kondisi kesehatan mereka yang biasa. Pada banyak kasus, para tahanan dikeringkan darahnya selama beberapa hari dan kondisi fisik mereka yang memburuk selalu dicatat. Yang lain menjadi subjek percobaan kekurangan nutrisi atau kekurangan air. Para tahanan juga disuntik dengan mikroba dan bakteri penyakit. Lembar data mengungkapkan bahwa dalam setidaknya satu kasus, setelah tahanan menderita demam dengan suhu 104 F, mereka dibedah saat tidak sadar.[2]

Harapan hidup rata-rata seorang tahanan di kamp itu adalah satu bulan.[2] Para tahanan yang selamat dari percobaan, tapi dianggap terlalu lemah untuk pemeriksaan lebih lanjut dieksekusi. Fasilitas itu diperkirakan pernah menahan 500-600 orang pada satu waktu, dengan kapasitas lebih dari 1000 orang.[2]

Penutupan[sunting | sunting sumber]

Bulan Agustus 1934,[5] pada saat festival musim panas tradisional, para tahanan diberikan ransum makanan khusus. Salah seorang tahanan, bernama Li, berhasil mengalahkan penjaganya, merebut kunci dan membebaskan sekitar empat puluh tahanan lainnya. Meskipun kaki mereka diborgol, tangan mereka bebas, dan para tahanan itu mampu memanjat dinding luar. Hujan lebat membantu memadamkan listrik, mematikan lampu sorot dan pagar listrik. Sekitar sepuluh buronan ditembak oleh penjaga, yang lain ditangkap atau dibunuh karena ketahuan, tetapi beberapa orang berhasil melarikan diri, dan menyebarkan berita kejahatan terhadap kemanusiaan yang dilakukan oleh Shiro dan bawahannya. Sebagai hasil dari pemberitaan itu, Benteng Zhongma ditutup, dan kegiatannya dipindahkan ke sebuah tempat baru yang lebih dekat ke Harbin yang disebut Pingfang (Heibo), yang kemudian dikenal sebagai Unit 731. Kesaksian dari salah seorang pelarian, Ziyang Wang, dikumpulkan oleh Xiao Han, wakil direktur Museum Pingfang pada tahun 1980-an.[5] Novel grafis Maruta 454 (2010), oleh Paul-Yanic Laquerre, Song Yang, dan Pastor, menggambarkan pelarian 12 orang tahanan Tionghoa dari Unit Tōgō, berdasarkan kesaksian Wang.

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Lockwood 2009, hlm. 93.
  2. ^ a b c d e f g h i Lockwood 2009, hlm. 91.
  3. ^ Gold 2004.
  4. ^ Lockwood 2009.
  5. ^ a b Barenblatt 2004, hlm. 35–36.

Bacaan lanjutan[sunting | sunting sumber]

  • Lockwood, Jeffrey A. (2009). Six-Legged Soldiers: Using Insects as Weapons of War. Oxford University Press. ISBN 978-0-19-533305-3. 
  • Barenblatt, Daniel (2004). A Plague on Humanity: The Secret Genocide of Axis Japan's Germ Warfare Operation. Harper Collins. ISBN 978-0060186258. 
  • Harris, Sheldon H. (2002). Factories of Death: Japanese Biological Warfare, 1932-45 and the American Cover-Up. Harper Collins. ISBN 978-0415932141.