Belanti Siam, Pandih Batu, Pulang Pisau

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Belanti Siam
Negara Indonesia
ProvinsiKalimantan Tengah
KabupatenPulang Pisau
KecamatanPandih Batu
Luas... km²
Jumlah penduduk... jiwa
Kepadatan... jiwa/km²

Belanti Siam adalah sebuah nama desa di wilayah Pandih Batu, Kabupaten Pulang Pisau, Provinsi Kalimantan Tengah, Indonesia. Dengan penduduk yang mayoritas mata pencaharian penduduknya sebagai petani.

Sejarah

Belanti Siam selama masih menjadi desa definitif di awal masa transmigrasi (1983) lebih dikenal dengan sebutan Belanti II, Belanti Muara atau desa Talio Unit Pangkoh VIII dengan Kepala Desa Bp. Slamet Riyadi (1988 – 1992). Pada saat itu setelah berakhirnya program bantuan sembako dari pemerintah Orde Baru di era kepemimpinan Bapak Soeharto kehidupan masyarakat Belanti II sangat memprihatinkan, kebanyakan dari masyarakat memilih merantau agar dapat mencukupi kebutuhan sehari-hari dengan bekerja serabutan di daerah unit transmigrasi lainnya yang berada di seberang Sungai Kahayan seperti Pangkoh I, Pangkoh II, Pangkoh III, Pangkoh V, Pangkoh VI, Pangkoh IX dan Pangkoh X, pada saat itu kondisi tanah di Belanti Siam masih mengandung zat asam yang cukup tinggi sehingga bibit tanaman yang dibawa penduduk dari daerah asal sulit tumbuh bahkan tak jarang dari penduduk yang memutuskan menjual aset mereka dan memilih kembali ke daerah asal masing-masing karena tidak tahan dengan kondisi geografis yang ada.

Setelah ditetapkan menjadi Desa dan berubah nama menjadi Belanti Siam dengan Kepala Desa Bp. Mujianto (1993 – 2002) kehidupan masyarakat berangsur membaik terlebih dengan masuknya jaringan listrik di Desa Belanti Siam di pertengahan tahun 1993, meski kebanyakan masyarakat masih tetap mengandalkan pekerjaan sampingan (merantau). Di awal tahun 90’an masyarakat sudah mulai giat membuka sawah dan menerapkan bercocok tanam padi meski baru mampu menanam padi 1 tahun sekali karena benih yang ditanam adalah jenis padi lokal (padi tahun), kebiasaan merantau tetap dilakukan setelah selesai masa tanam atau selama masa menunggu musim panen, biasanya mereka ke kota menjadi pekerja bangunan, ada juga yang memilih membatang (menebang kayu) bahkan mendulang emas karena tidak ada pilihan lain dan karena alasan itulah mereka bertahan.

Seiring perkembangan zaman dan dari pengalaman yang diperoleh selama merantau pada masa kepemimpinan Bp. Kalijo (2003 – 2007) masyarakat Belanti Siam semakin memahami kondisi lahan yang dimiliki mereka juga mulai memanfaatkan teknologi dengan menggunakan alat pertanian seperti Hand Traktor dan Power Tresser (mesin perontok) untuk mempermudah pekerjaan menggarap sawah dan memanen, pada waktu itu masyarakat Belanti Siam mulai menanam padi jenis IR dengan harapan dapat memperbaiki keadaan ekonomi karena dapat menikmati hasil panen sebanyak 2 kali dalam setahun.

Lambat laun budaya merantau mulai ditinggalkan masyarakat Belanti Siam, meski sampai sekarang masih ada beberapa yang menekuni profesi tersebut namun jumlahnya tidak sebanyak dulu lagi. Semenjak masa pemerintahan Bp. Mu'alim (2008 – sekarang) masyarakat Belanti Siam benar-benar bertransformasi menjadi petani yang giat dan mumpuni meskipun banyak faktor yang dapat mempengaruhi hasil produksi tanaman padi di Belanti Siam. Saat ini Desa Belanti Siam menjelma lumbung padi dan mampu menyuplai kebutuhan beras untuk wilayah Kabupaten Pulang Pisau dan sekitarnya bahkan sekarang beras Belanti atau yang lebih dikenal beras pangkoh begitu akrab di telinga ketika kita berada di pasar atau di warung-warung sembako di kota Kapuas, Palangka Raya, Kasongan, Kerengpangi, Banjarmasin, Kuala Kurun, Buntok, Ampah bahkan Tamiyang Layang Apa yang sekarang Belanti Siam miliki adalah sebagai hasil usaha dan berkat kegigihan serta semangat yang tak kenal menyerah demi cita-cita mulia, sesungguhnya kita tidak pernah mengerti apa yang esok akan terjadi selagi kita bisa tidak ada salahnya kita berusaha melakukan perbuatan baik untuk diri kita dan orang lain.

Pranala luar[sunting | sunting sumber]