Anunnaki

Anunnaki (Sumeria: 𒀭𒀀𒉣𒈾, juga ditransliterasikan sebagai Anunaki, Annunaki, Anunna, Ananaki, dan berbagai bentuk lainnya) adalah sekelompok dewa dalam kepercayaan kuno bangsa Sumeria, Akkadia, Assyria, dan Babilonia.
Dalam catatan Sumeria tertua yang menyebut nama mereka, yang berasal dari masa pasca-Akkadia, Anunnaki digambarkan sebagai para dewa dalam panthéon surgawi, keturunan dari An (dewa langit) dan Ki (dewi bumi). Tugas utama mereka adalah menetapkan takdir umat manusia.
Etimologi
[sunting | sunting sumber]
Nama Anunnaki berasal dari kata An,[1] dewa langit dalam kepercayaan Sumeria.[1] Nama ini ditulis dalam berbagai bentuk seperti "da-nuna", "da-nuna-ke4-ne", atau "da-nun-na", yang berarti "keturunan bangsawan" atau "anak-anak kerajaan".[2]
Bangsa Sumeria meyakini bahwa para Anunnaki adalah anak-anak dari An dan dewi bumi Ki.[2] Samuel Noah Kramer menyamakan Ki dengan dewi ibu Sumeria Ninhursag, menyatakan bahwa keduanya pada mulanya merupakan sosok yang sama.[3][4] Yang tertua di antara para Anunnaki adalah Enlil, dewa udara[5] sekaligus dewa utama dalam jajaran dewa Sumeria.[6] Menurut kepercayaan Sumeria, sebelum Enlil dilahirkan, langit dan bumi masih menyatu sebagai satu kesatuan yang tak terpisahkan.[7] Setelah kelahirannya, Enlil membelah langit dan bumi menjadi dua bagian,[7] lalu ia membawa bumi ke dalam genggamannya,[8] sementara sang ayah, An, mengangkat dan membawa langit ke tempatnya yang tinggi.[8]
Pemujaan dan ikonografi
[sunting | sunting sumber]Para Anunnaki terutama disebutkan dalam teks-teks sastra,[9] dan hanya sedikit bukti yang ditemukan untuk mendukung keberadaan suatu bentuk pemujaan terhadap mereka.[9][10] Kemungkinan besar hal ini disebabkan karena setiap anggota Anunnaki memiliki kultusnya sendiri-sendiri, terpisah dari yang lain.[11] Demikian pula, hingga kini belum ditemukan penggambaran para Anunnaki sebagai satu kelompok utuh,[11] meskipun sejumlah kecil representasi dua atau tiga dewa di antara mereka telah diidentifikasi.[11] Para dewa di Mesopotamia kuno hampir seluruhnya bersifat antropomorfis.[12] Mereka diyakini memiliki kekuatan yang luar biasa[12] dan sering dibayangkan memiliki ukuran tubuh yang sangat besar.[12] Para dewa lazimnya mengenakan melam, suatu zat yang samar maknanya, tetapi "menyelimuti mereka dengan kemegahan yang menakutkan."[13] Melam juga dapat dikenakan oleh para pahlawan, raja, raksasa, bahkan iblis.[14] Dampak yang ditimbulkan oleh penampakan melam dewa terhadap manusia digambarkan dengan kata ni, istilah yang merujuk pada sensasi kesemutan di kulit.[15] Para dewa hampir selalu digambarkan mengenakan mahkota bertanduk,[16][17] terdiri atas hingga tujuh pasang tanduk sapi yang tersusun bertingkat.[18] Mereka kadang juga digambarkan memakai pakaian berhias pernak-pernik emas dan perak yang dijahit dengan rumit.[17]
Bangsa Mesopotamia kuno memercayai bahwa para dewa bersemayam di Surga,[19] setelah sebelumnya, sebagaimana dikisahkan dalam teks-teks mitologi, mereka kerap turun mengunjungi bumi. Patung seorang dewa diyakini merupakan perwujudan jasmani dari sang dewa itu sendiri.[19][20] Karena itu, berhala dirawat dan diperlakukan dengan penuh perhatian,[19][21] dan sekelompok imam ditugaskan untuk mengurusnya.[22] Para imam ini akan mengenakan pakaian pada patung-patung tersebut[20] dan menyajikan jamuan di hadapannya agar sang dewa dapat "menyantapnya."[19][21] Kuil seorang dewa diyakini sebagai tempat tinggal sejatinya.[23] Para dewa memiliki perahu, kapal besar berukuran penuh, yang biasanya disimpan di dalam kuil[24] dan digunakan untuk membawa patung kultus mereka menyusuri sungai pada berbagai festival keagamaan.[24] Para dewa juga memiliki kereta perang, yang digunakan untuk mengangkut patung kultus mereka melalui daratan.[25] Kadang kala, patung dewa dibawa ke medan pertempuran agar sang dewa dapat menyaksikan jalannya perang secara langsung.[25] Para dewa utama dalam panteon Mesopotamia termasuk para Anunnaki diyakini turut ambil bagian dalam "majelis para dewa",[16] tempat di mana segala keputusan ilahi ditetapkan.[16] Majelis ini dipandang sebagai padanan surgawi dari sistem legislatif semi-demokratis yang pernah ada pada masa Dinasti Ketiga Ur (ca 2112 SM – ca 2004 SM).[16]
Mitologi
[sunting | sunting sumber]Sumeria
[sunting | sunting sumber]
Penggunaan paling awal dari istilah *Anunnaki* ditemukan dalam inskripsi yang berasal dari masa pemerintahan Gudea (ca 2144–2124 SM) dan masa Dinasti Ketiga Ur.[9][11] Dalam teks-teks paling tua, istilah ini digunakan untuk menyebut para dewa terkuat dan paling agung dalam panteon Sumeria, keturunan dari dewa langit An.[9][26] Kelompok dewa ini kemungkinan mencakup "tujuh dewa yang menetapkan takdir":[27] An, Enlil, Enki, Ninhursag, Nanna, Utu, dan Inanna.[28]
Meskipun sejumlah dewa digambarkan sebagai anggota Anunnaki, tidak ada daftar lengkap nama-nama mereka yang bertahan hingga kini,[11] dan mereka umumnya hanya disebut secara kolektif dalam teks-teks sastra.[9][11] Selain itu, teks-teks Sumeria menggambarkan Anunnaki dengan cara yang tidak seragam,[11] tanpa kesepakatan berapa jumlah mereka sebenarnya atau apa fungsi ilahi masing-masing.[9][11] Pada mulanya, Anunnaki tampaknya adalah para dewa langit dengan kekuatan yang amat besar.[11] Dalam puisi Enki dan Tata Dunia, para Anunnaki "bersujud" kepada Enki, menyanyikan kidung pujian baginya, dan "menetap di antara manusia Sumeria."[9][29] Karya yang sama dua kali menyebut bahwa para Anunnaki "menetapkan takdir umat manusia."[9]
Hampir setiap dewa utama dalam panteon Sumeria dipandang sebagai pelindung kota tertentu[30] dan diharapkan menjaga kesejahteraan kota itu.[30] Sang dewa diyakini bersemayam secara tetap di dalam kuil kota tersebut.[31] Sebuah teks bahkan menyebut hingga lima puluh Anunnaki yang dikaitkan dengan kota Eridu.[2][32] Dalam kisah Turunnya Inanna ke Dunia Bawah, hanya disebut tujuh Anunnaki yang tinggal di dalam Dunia Bawah dan bertugas sebagai para hakim.[9][33] Inanna diadili di hadapan mereka atas upayanya merebut kekuasaan Dunia Bawah;[9][33] mereka memutuskan bahwa ia bersalah karena kesombongan dan menjatuhkan hukuman mati kepadanya.[33]
Para dewa besar dalam mitologi Sumeria dikaitkan dengan benda-benda langit tertentu.[34] Inanna diyakini sebagai perwujudan planet Venus.[35][36] Utu dipandang sebagai sang matahari,[36][37] sementara Nanna adalah bulan.[36][38] An dihubungkan dengan seluruh bintang di langit khatulistiwa, Enlil dengan bintang-bintang di langit utara, dan Enki dengan bintang-bintang di langit selatan.[39] Lintasan orbit surgawi Enlil diyakini berbentuk lingkaran sempurna di sekitar kutub langit utara,[40] sementara orbit An dan Enki diyakini berpotongan di berbagai titik.[41]
Akkadia, Babilonia, dan Assyria
[sunting | sunting sumber]Rasa hormat menumbuhkan kemurahan, pengorbanan memperpanjang umur, dan doa menebus dosa. Siapa yang gentar kepada para dewa tak akan dihina oleh [...]. Siapa yang gentar kepada para Anunnaki, akan dipanjangkan [harinya].
— Himne Babilonia[42]

Teks-teks Akkadia dari milenium kedua SM menampilkan citra para Anunnaki dengan cara serupa seperti dalam kisah Turunnya Inanna ke Dunia Bawah, menggambarkan mereka sebagai dewa-dewa dunia bawah yang kelam. Dalam sebuah versi Akkadia singkat dari Turunnya Inanna yang ditulis pada awal milenium kedua, Ereshkigal, sang ratu dunia bawah, berkata bahwa ia "minum air bersama para Anunnaki."[43] Kemudian, dalam bagian lain dari puisi yang sama, Ereshkigal memerintahkan hambanya, Namtar, untuk memanggil para Anunnaki dari Egalgina,[44] "menghias anak tangga ambang pintu dengan karang,"[44] dan "mendudukkan mereka di atas takhta-takhta emas."[44]
Pada masa Dinasti Babilonia Pertama (ca 1830 SM – ±1531 SM), muncul sekelompok dewa baru yang dikenal sebagai Igigi.[45] Hubungan antara Anunnaki dan Igigi tidaklah jelas.[11] Dalam beberapa naskah, kedua sebutan itu digunakan secara bergantian,[9][11] tetapi dalam karya lain seperti Puisi tentang Erra, terdapat perbedaan yang nyata antara keduanya.[9][11] Dalam epos Akkadia akhir, Atra-Hasis, para Igigi digambarkan sebagai generasi keenam para dewa yang dipaksa bekerja bagi para Anunnaki.[46][47] Setelah empat puluh hari kerja, mereka memberontak; maka dewa Enki, salah satu dari Anunnaki, menciptakan manusia untuk menggantikan mereka.[46][47]
Mulai dari masa Babilonia Tengah (ca 1592 – 1155 SM), nama Anunnaki digunakan untuk menyebut para dewa dunia bawah,[2] sementara Igigi digunakan untuk para dewa langit.[2] Pada masa ini, para dewa dunia bawah seperti Damkina, Nergal, dan Madānu disebut sebagai yang paling berkuasa di antara Anunnaki,[2] berdampingan dengan Marduk, sang dewa nasional Babilonia kuno.[2]
Dalam versi baku epos Akkadia Gilgamesh (ca 1200 SM), Utnapishtim, sang abadi yang selamat dari Banjir Agung, menggambarkan para Anunnaki sebagai tujuh hakim dunia bawah, yang membakar bumi menjelang datangnya badai.[48] Kemudian, saat banjir melanda, Ishtar (padanan Semit Timur dari Inanna) bersama para Anunnaki meratapi kehancuran umat manusia.[9][49]
Dalam epos Babilonia Enûma Eliš, Marduk menetapkan kedudukan bagi para Anunnaki.[50] Sebuah versi Babilonia akhir dari kisah ini menyebut adanya 600 Anunnaki dunia bawah[2] dan hanya 300 Anunnaki langit,[2] menunjukkan adanya sistem kosmologi dunia bawah yang kompleks.[2] Sebagai ungkapan syukur, para Anunnaki, para "Dewa Agung", membangun Esagila, sebuah kuil megah yang dipersembahkan kepada Marduk, Ea, dan Ellil.[51] Dalam Puisi tentang Erra dari abad ke-8 SM, para Anunnaki digambarkan sebagai saudara-saudara dewa Nergal[9] dan ditampilkan sebagai kekuatan yang bermusuhan dengan umat manusia.[9]
Sebuah teks rusak dari masa Kekaisaran Neo-Assyria (911 – 612 SM) menuturkan kisah ketika Marduk memimpin bala tentaranya, para Anunnaki, memasuki kota suci Nippur dan menimbulkan kekacauan.[52] Kekacauan itu memunculkan banjir[52] yang memaksa para dewa Nippur berlindung di kuil Eshumesha milik Ninurta.[52] Enlil murka atas pelanggaran Marduk dan memerintahkan para dewa Eshumesha untuk menawan Marduk serta para Anunnaki lainnya.[52] Mereka ditangkap,[52] tetapi Marduk mengutus panglimanya, Mushteshirhablim, untuk memimpin pemberontakan melawan para dewa Eshumesha[53] dan mengirim utusannya, Neretagmil, guna memperingatkan Nabu, dewa tulisan dan hikmat.[53] Tatkala para dewa Eshumesha mendengar suara Nabu, mereka keluar dari kuil untuk mencarinya.[54] Marduk menaklukkan para dewa Eshumesha dan menawan 360 di antara mereka, termasuk Enlil sendiri.[54] Enlil memprotes bahwa para dewa Eshumesha tidak bersalah,[54] maka Marduk menggelar pengadilan di hadapan para Anunnaki.[54] Teks ini diakhiri dengan peringatan dari Damkianna (nama lain Ninhursag), yang menyeru para dewa dan umat manusia agar tidak mengulangi perang antara para Anunnaki dan dewa-dewa Eshumesha.[54]
Hurri dan Het
[sunting | sunting sumber]
Dalam mitologi bangsa Hurri dan Het, yang mencapai puncak kejayaannya pada pertengahan hingga akhir milenium kedua SM, diyakini bahwa generasi tertua para dewa telah dibuang oleh para dewa muda ke dunia bawah,[56][58] di mana mereka diperintah oleh sang dewi Lelwani.[58] Para juru tulis Het mengidentifikasi dewa-dewa tua ini sebagai Anunnaki.[56][57]
Dalam bahasa Hurri kuno, para Anunnaki disebut karuileš šiuneš, yang berarti "para dewa purba dahulu kala",[59] atau kattereš šiuneš, yang berarti "para dewa bumi".[59] Dalam perjanjian-perjanjian Hurri dan Het, nama para dewa tua kerap dijadikan saksi sumpah, agar janji itu tetap terjaga dan tidak dilanggar.[56][59]
Dalam salah satu mitos, para dewa diguncang oleh ancaman raksasa batu Ullikummi,[60] sehingga Ea (nama lain dari Enki) memerintahkan Para Dewa Pendahulu untuk mencari senjata yang dulu digunakan untuk memisahkan langit dan bumi.[56][61] Mereka pun menemukannya, dan dengan senjata itu, kaki Ullikummi dipotong hingga terlepas dari tubuhnya.[61]
Meskipun nama-nama para Anunnaki dalam naskah Hurri dan Het sering berbeda-beda,[57] jumlah mereka selalu delapan.[57] Dalam sebuah ritual Het, nama-nama para dewa tua itu disebutkan sebagai: "Aduntarri sang penafsir pertanda, Zulki sang penafsir mimpi, Irpitia Penguasa Bumi, Narā, Namšarā, Minki, Amunki, dan Āpi."[57]
Para dewa tua ini tidak memiliki pemujaan yang khas dalam agama Hurri–Het;[57] sebaliknya, bangsa Hurri dan Het berupaya berkomunikasi dengan para dewa purba itu melalui kurban seekor anak babi yang disembelih di dalam lubang yang digali ke tanah.[62] Para dewa tua ini kerap pula dipanggil dalam upacara pemurnian ritual.[63]
Kisah Het tentang pembuangan para dewa tua ke dunia bawah memiliki kemiripan erat dengan kisah penyair Yunani Hesiodos tentang kejatuhan para Titan oleh tangan para Dewa Olimpus Dua Belas dalam karya Theogonia-nya.[64] Dewa langit Yunani Ouranos (yang namanya berarti "Langit") adalah ayah para Titan,[65] dan sosoknya berakar dari versi Het tentang Anu.[66] Dalam kisah Hesiodos, Ouranos dikebiri oleh putranya, Kronos,[67] sebagaimana Anu dikebiri oleh putranya, Kumarbi, dalam kisah Het yang lebih tua.[68]
Pseudoarkeologi dan teori konspirasi
[sunting | sunting sumber]Melalui serangkaian buku yang diterbitkan (dimulai dengan Chariots of the Gods? pada tahun 1968), pseudoarkeolog Erich von Däniken mengemukakan bahwa para antariksawan kuno dari luar angkasa pernah mengunjungi Bumi prasejarah. Däniken menafsirkan asal mula agama-agama dunia sebagai reaksi manusia terhadap perjumpaan dengan makhluk asing, dan menafsirkan teks-teks Sumeria serta Perjanjian Lama sebagai bukti dari pertemuan itu.[69][70][71]
Dalam bukunya tahun 1976, The Twelfth Planet, penulis Zecharia Sitchin berpendapat bahwa para Anunnaki sesungguhnya adalah spesies humanoid luar angkasa yang maju, berasal dari planet yang belum ditemukan bernama Nibiru. Mereka, konon, datang ke Bumi sekitar 500.000 tahun silam dan mendirikan pangkalan untuk menambang emas setelah mengetahui betapa kayanya planet ini akan logam mulia tersebut.[69][70][72] Menurut Sitchin, para Anunnaki kemudian melakukan hibridisasi antara spesies mereka dan Homo erectus melalui fertilisasi in vitro untuk menciptakan manusia sebagai ras budak penambang.[69][70][72] Ia juga menuturkan bahwa para Anunnaki terpaksa meninggalkan permukaan Bumi dan berorbit di sekitarnya ketika gletser Antarktika mencair, menyebabkan Air Bah Besar[73] yang menghancurkan markas mereka di Bumi.[73] Setelah bencana itu, mereka harus membangun kembali, dan karena membutuhkan lebih banyak manusia untuk membantu upaya besar tersebut, para Anunnaki mengajarkan manusia bercocok tanam.[73]
Ronald H. Fritze menulis bahwa, menurut Sitchin, “para Anunnaki membangun piramida dan seluruh struktur monumental lain di dunia kuno yang dianggap oleh para penganut teori antariksawan kuno mustahil dibangun tanpa teknologi yang sangat maju.”[69] Sitchin mengembangkan mitologi ini dalam karya-karya selanjutnya, termasuk The Stairway to Heaven (1980) dan The Wars of Gods and Men (1985).[74] Dalam The End of Days: Armageddon and the Prophecy of the Return (2007), ia meramalkan bahwa para Anunnaki akan kembali ke Bumi, mungkin pada tahun 2012, bertepatan dengan berakhirnya Kalender Hitungan Panjang Mesoamerika.[70][74] Tulisan-tulisan Sitchin secara universal ditolak oleh para sejarawan arus utama, yang melabeli karyanya sebagai pseudoarkeologi,[75] dengan tudingan bahwa Sitchin sengaja memelintir teks-teks Sumeria: mengutip di luar konteks, memotong kutipan, dan menerjemahkan kata-kata Sumeria secara keliru hingga maknanya menyimpang jauh dari pengertian yang diterima umum.[76]
David Icke, seorang teoretikus konspirasi asal Britania yang mempopulerkan teori konspirasi reptilian, mengklaim bahwa para penguasa reptilian dalam teorinya sejatinya adalah para Anunnaki. Terpengaruh jelas oleh tulisan Sitchin, Icke menyesuaikan gagasan itu “demi agenda spiritual dan konspiratif bergaya New Age miliknya sendiri.”[77] Spekulasinya tentang Anunnaki mengandung pandangan ekstrem kanan tentang sejarah, menempatkan ras Arya sebagai keturunan langsung para Anunnaki melalui darah.[78] Ia juga memasukkan unsur naga, Drakula, dan hukum-hukum drakonik;[79] tiga unsur yang tampaknya hanya disatukan oleh kesamaan bunyi kata. Icke merumuskan pandangannya tentang Anunnaki pada tahun 1990-an dan telah menulis sejumlah buku mengenai teorinya.[80]
Lihat pula
[sunting | sunting sumber]Referensi
[sunting | sunting sumber]Catatan kaki
[sunting | sunting sumber]- 1 2 Leemings 2009, hlm. 21.
- 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Black & Green 1992, hlm. 34.
- ↑ Kramer 1961, hlm. 41.
- ↑ Kramer 1963, hlm. 122.
- ↑ Coleman & Davidson 2015, hlm. 108.
- ↑ Kramer 1983, hlm. 115–121.
- 1 2 Kramer 1961, hlm. 72–73.
- 1 2 Kramer 1961, hlm. 72–75.
- 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Leick 1998, hlm. 8.
- ↑ Falkenstein 1965, hlm. 127–140.
- 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Brisch 2016.
- 1 2 3 Black & Green 1992, hlm. 93.
- ↑ Black & Green 1992, hlm. 93–94.
- ↑ Black & Green 1992, hlm. 130–131.
- ↑ Black & Green 1992, hlm. 130.
- 1 2 3 4 Black & Green 1992, hlm. 98.
- 1 2 Nemet-Nejat 1998, hlm. 185.
- ↑ Black & Green 1992, hlm. 102.
- 1 2 3 4 Black & Green 1992, hlm. 94.
- 1 2 Nemet-Nejat 1998, hlm. 186.
- 1 2 Nemet-Nejat 1998, hlm. 186–187.
- ↑ Nemet-Nejat 1998, hlm. 186–188.
- ↑ Black & Green 1992, hlm. 174.
- 1 2 Black & Green 1992, hlm. 44–45.
- 1 2 Black & Green 1992, hlm. 52.
- ↑ Katz 2003, hlm. 403.
- ↑ Kramer 1963, hlm. 123.
- ↑ Kramer 1963, hlm. 122–123.
- ↑ Kramer 1963, hlm. 180.
- 1 2 Nemet-Nejat 1998, hlm. 179.
- ↑ Nemet-Nejat 1998, hlm. 187–189.
- ↑ Edzard 1965, hlm. 17–140.
- 1 2 3 Wolkstein & Kramer 1983, hlm. 60.
- ↑ Nemet-Nejat 1998, hlm. 201–203.
- ↑ Black & Green 1992, hlm. 108–109.
- 1 2 3 Nemet-Nejat 1998, hlm. 203.
- ↑ Black & Green 1992, hlm. 182–184.
- ↑ Black & Green 1992, hlm. 135.
- ↑ Rogers 1998, hlm. 13.
- ↑ Levenda 2008, hlm. 29.
- ↑ Levenda 2008, hlm. 29–30.
- ↑ Leick 2003, hlm. 100.
- ↑ Dalley 1989, hlm. 156.
- 1 2 3 Dalley 1989, hlm. 159.
- ↑ Black & Green 1992, hlm. 106.
- 1 2 Leick 1998, hlm. 85.
- 1 2 Leick 2003, hlm. 96.
- ↑ Dalley 1989, hlm. 112.
- ↑ Dalley 1989, hlm. 113.
- ↑ Pritchard 2010, hlm. 33–34.
- ↑ Pritchard 2010, hlm. 34-35.
- 1 2 3 4 5 Oshima 2010, hlm. 145.
- 1 2 Oshima 2010, hlm. 145–146.
- 1 2 3 4 5 Oshima 2010, hlm. 146.
- ↑ Collins 2002, hlm. 228.
- 1 2 3 4 5 Leick 1998, hlm. 141.
- 1 2 3 4 5 6 Collins 2002, hlm. 225.
- 1 2 Van Scott 1998, hlm. 187.
- 1 2 3 Archi 1990, hlm. 114.
- ↑ Puhvel 1987, hlm. 25–26.
- 1 2 Puhvel 1987, hlm. 26.
- ↑ Collins 2002, hlm. 225–226.
- ↑ Collins 2002, hlm. 226–227.
- ↑ Puhvel 1987, hlm. 26–27.
- ↑ Puhvel 1987, hlm. 27–29.
- ↑ Puhvel 1987, hlm. 29–30.
- ↑ Puhvel 1987, hlm. 27–30.
- ↑ Puhvel 1987, hlm. 25–26, 29–30.
- 1 2 3 4 Fritze 2016, hlm. 292.
- 1 2 3 4 Robertson 2016.
- ↑ Story 1976, hlm. 3–8
- 1 2 Fritze 2009, hlm. 212.
- 1 2 3 Fritze 2009, hlm. 212–213.
- 1 2 Fritze 2009, hlm. 213.
- ↑ Fritze 2009, hlm. 213–214.
- ↑ Fritze 2009, hlm. 214.
- ↑ Lewis & Kahn 2005, hlm. 51.
- ↑ Lewis & Kahn 2005, hlm. 51-52.
- ↑ Lewis & Kahn 2005, hlm. 69, footnote 6.
- ↑ "Conspiracy Theories". Time. 2008-11-20. ISSN 0040-781X. Diakses tanggal 2021-03-27.
Referensi umum dan kutipan
[sunting | sunting sumber]- Amin, Osama Shukir Muhammed (2014-03-31), "Copper alloy foundation figurines with pegs representing Gods", World History Encyclopedia
- Archi, Alfonso (1990), "The Names of the Primeval Gods", Orientalia, NOVA, 59 (2), Rome: Gregorian Biblical Press: 114–129, JSTOR 43075881
- Black, Jeremy; Green, Anthony (1992), Gods, Demons and Symbols of Ancient Mesopotamia: An Illustrated Dictionary, London: The British Museum Press, ISBN 0-7141-1705-6
- Brisch, Nicole (2016), "Anunna (Anunnaku, Anunnaki) (a group of gods)", Ancient Mesopotamian Gods and Goddesses, University of Pennsylvania Museum, diarsipkan dari asli tanggal 2019-09-03, diakses tanggal 2013-06-19
- Coleman, J. A.; Davidson, George (2015), The Dictionary of Mythology: An A-Z of Themes, Legends, and Heroes, London: Arcturus Publishing Limited, hlm. 108, ISBN 978-1-78404-478-7
- Collins, Billie Jean (2002), "Necromancy, Fertility and the Dark Earth: The Use of Ritual Pits in Hittite Cult", dalam Mirecki, Paul; Meyer, Marvin (ed.), Magic and Ritual in the Ancient World, Leiden, The Netherlands: Brill, hlm. 224–233, ISBN 90-04-10406-2
- Dalley, Stephanie (1989), Myths from Mesopotamia: Creation, the Flood, Gilgamesh, and Others, Oxford: Oxford University Press, ISBN 0-19-283589-0
- Edzard, D. O. (1965), "Mesopotamien. Die Mythologie der Sumerer und Akkader", Wörterbuch der Mythologie, erste Abteilung, I (Götter und Mythen im Vorderen Orient): 17–140
- Falkenstein, A. (1965), "Die Anunna in der sumerischen Überlieferung", Assyriological Studies (16): 127–140
- Fritze, Ronald H. (2009), Invented Knowledge: False History, Fake Science and Pseudo-Religions, London: Reaktion Books, ISBN 978-1-86189-430-4
- Fritze, Ronald H. (2016), Egyptomania: A History of Fascination, Obsession and Fantasy, London: Reaktion Books, ISBN 978-1-78023-639-1
- Katz, D. (2003), The Image of the Underworld in Sumerian Sources, Bethesda, MD: CDL Press, hlm. 403
- Kramer, Samuel Noah (1961), Sumerian Mythology: A Study of Spiritual and Literary Achievement in the Third Millennium B.C.: Revised Edition, Philadelphia: University of Pennsylvania Press, ISBN 0-8122-1047-6
- Kramer, Samuel Noah (1963), The Sumerians: Their History, Culture, and Character, Chicago: University of Chicago Press, ISBN 0-226-45238-7
- Kramer, Samuel Noah (1983), "The Sumerian Deluge Myth: Reviewed and Revised", Anatolian Studies, 33, British Institute at Ankara: 115–121, doi:10.2307/3642699, JSTOR 3642699, S2CID 163489322
- Leemings, David (2009), The Oxford Companion to World Mythology, Oxford University Press, hlm. 21, ISBN 978-0-19-538708-7
- Leick, Gwendolyn (1998) [1991], A Dictionary of Ancient Near Eastern Mythology, New York: Routledge, ISBN 0-415-19811-9
- Leick, Gwendolyn (2003), The Babylonians: An Introduction, New York and London: Routledge, ISBN 0-415-25315-2
- Levenda, Peter (2008), Stairway to Heaven: Chinese Alchemists, Jewish Kabbalists, and the Art of Spiritual Transformation, New York and London: Continuum International Publishing Group, Inc., ISBN 978-0-8264-2850-9
- Lewis, Tyson; Kahn, Richard (2005), "The Reptoid Hypothesis: Utopian and Dystopian Representational Motifs in David Icke's Alien Conspiracy Theory", Utopian Studies, 16 (1), Pennsylvania: Penn State University Press: 45–74, doi:10.5325/utopianstudies.16.1.0045, JSTOR 20718709, S2CID 143047194
- Nemet-Nejat, Karen Rhea (1998), Daily Life in Ancient Mesopotamia, Santa Barbara, Calif.: Greenwood, ISBN 978-0-313-29497-6
- Oshima, Takayoshi (2010), ""Damkianna Shall Not Bring Back Her Burden in the Future": A new Mythological Text of Marduk, Enlil and Damkianna", dalam Horowitz, Wayne; Gabbay, Uri; Vukosavokić, Filip (ed.), A Woman of Valor: Jerusalem Ancient Near Eastern Studies in Honor of Joan Goodnick Westenholz, vol. 8, Madrid: Biblioteca del Próximo Oriente Antiguo, ISBN 978-84-00-09133-0
- Pritchard, James B., ed. (2010), The Ancient Near East: An Anthology of Texts and Pictures, Princeton University Press, hlm. 34, ISBN 978-0-691-14726-0
- Puhvel, Jaan (1987), Comparative Mythology, Baltimore: Johns Hopkins University Press, ISBN 0-8018-3938-6
- Robertson, David G. (2016), Cox, James; Sutcliffe, Steven; Sweetman, William (ed.), UFOs, Conspiracy Theories and the New Age: Millennial Conspiracism, Bloomsbury Advances in Religious Studies, London: Bloomsbury Publishing, ISBN 978-1-4742-5320-8
- Rogers, John H. (1998), "Origins of the Ancient Astronomical Constellations: I: The Mesopotamian Traditions", Journal of the British Astronomical Association, 108 (1), London: The British Astronomical Association: 9–28, Bibcode:1998JBAA..108....9R
- Story, Ronald (1976). The Space-gods revealed. A close look at the theories of Erich von Däniken. Harper & Row. ISBN 0-06-014141-7.
- Van Scott, Miriam (1998), The Encyclopedia of Hell: A Comprehensive Survey of the Underworld, New York: Thomas Dunne Books/St. Martin's Griffin, ISBN 0-312-18574-X
- Willis, Roy (2012), World Mythology, New York: Metro Books, hlm. 62, ISBN 978-1-4351-4173-5
- Wolkstein, Diane; Kramer, Samuel Noah (1983), Inanna: Queen of Heaven and Earth: Her Stories and Hymns from Sumer, New York: Harper & Row, Publishers, ISBN 0-06-090854-8