Air Terjun Sekar Langit

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari
Air Terjun Sekarlangit
Air Terjun Sekar Langit.JPG
Air Terjun Sekarlangit
Air Terjun Sekar Langit is located in Indonesia
Air Terjun Sekar Langit
Lokasi di Indonesia
Informasi
Lokasi
Negara  indonesia Indonesia
Koordinat 6°57′LS 110°23′BT / 6,95°LS 110,38°BT / -6.95; 110.38Koordinat: 6°57′LS 110°23′BT / 6,95°LS 110,38°BT / -6.95; 110.38
Pengelola Pemerintah Kab. Magelang
Jenis objek wisata Wisata alam
Fasilitas Pemandangan alam, air terjun, telaga.

Air Terjun Sekar Langit (sekar dalam bahasa Jawa: bunga) adalah kawasan wisata alam yang terletak di desa Telogorejo, Kecamatan Grabag, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Air terjun ini berada di lereng gunung Telomoyo, berbatasan dengan wilayah Kabupaten Semarang dan Kota Salatiga. Ketinggian airnya mencapai 25 meter dari permukaan telaga.[1][2]

Latar belakang[sunting | sunting sumber]

Air terjun sekar langit terletak di Desa Telogorejo, Kecamatan Grabag, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, yang berada di lereng gunung Telomoyo, gunung yang membatasi Kabupaten Magelang, Kabupaten Semarang, dan Kota Salatiga. Keindahan alam masih terjaga dan alami, dengan tumbuhan dan pepohonan hijau di kiri dan kanan jalan masuk sepanjang 400 meter dari jalan besar, sampai ke lokasi air terjun. Sekar Langit juga pernah menjadi lokasi pengambilan gambar untuk film Yohana Gadis Rimba yang dibintangi oleh Lidya Kandou dan Atek Soedharmo dan disutradarai oleh Wim Umboh (1983). Beberapa tahun lalu, jalan masuk menuju air terjun sempat mengalami kerusakan yang disebabkan oleh bencana longsor, namun pemerintah setempat telah membangun kembali dengan pengerasan menggunakan semen.[3][4]

Mitos Jakatarub[sunting | sunting sumber]

Yang menjadi daya pikat kehadiran bagi pengunjung air terjun ini, selain keindahan alamnya adalah adanya legenda Jakatarub. Konon, di telaga inilah Jakatarub mengintip dan mencuri selendang salah satu bidadari yang sedang mandi di telaga. Bidadari yang tercuri selendangnya itu, Nawangwulan, akhirnya tidak dapat pulang ke kahayangan dan hidup berumah tangga dengan Jakatarub karena selendang, baginya, merupakan kesaktian.[5][6]

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]