Adang Ruchiatna

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari
Mayor Jenderal TNI (Purn.)
Adang Ruchiatna
Anggota DPR RI Fraksi PDI-P
Masa jabatan
1 Oktober 2009 – 1 Oktober 2014
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono
Informasi pribadi
Lahir R. Adang Ruchiatna Puradiredja
24 November 1942 (umur 74)
Bendera Jepang Jakarta
Partai politik PDIPLogo.png Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan
Suami/istri Fofo Fauzia
Anak Yuke Yurike (Bandung, 22 Februari 1975)
Rhino Prayudhi (Bangkinang, 8 Juli 1978)
Orangtua Raden Sanoesi Poeradiredja (ayah)
Hj. Soekaya (ibu)
Alma mater Akademi Militer (1967)
Agama Islam
Dinas militer
Pengabdian  Indonesia
Dinas/cabang Lambang TNI AD.png TNI Angkatan Darat
Masa dinas 1967–1997
Pangkat Pdu mayjendtni komando.png Mayor Jenderal TNI
Unit Infanteri
Perang Pendudukan Indonesia di Timor Timur

Mayor Jenderal TNI (Purn.) Adang Ruchiatna atau yang bernama lengkap R. Adang Ruchiatna Puradiredja (lahir di Jakarta, 24 November 1942; umur 74 tahun) adalah mantan perwira tinggi militer Indonesia. Saat ini ia menjabat sebagai Anggota DPR RI Komisi VIII dari fraksi PDI Perjuangan periode 2009–2014.[1][2]

Biografi[sunting | sunting sumber]

Mereka yang sudah lama mengenalnya, menilai mantan Irjen Depsos, ini seorang intelektual yang memiliki kemampuan yang kuat dan tepat dalam memajukan Jawa Barat (Jabar). Ia diyakini tidak hanya paham terhadap visi dan misi Jawa Barat, tetapi juga dipercaya mampu melaksanakannya. Sebab, ia seorang pemimpin yang zikir (selalu ingat kepada Allah Swt), pikir (berpikir tentang apa yang harus dilakukan) dan ukir (mampu mewujudnyatakan apa yang telah dipikirkan).

Dalam percakapan dengan wartawan Tokoh Indonesia, Yusak Sahat, menyinggung adanya dorongan dan dukungan dari berbagai pihak tentang keikutsertaannya dalam pencalonan Gubernur Jawa Barat, dengan merendah ia mengatakan, sebagai seorang prajurit pejuang siap menerima amanah rakyat, apalagi di daerah leluhurnya sendiri. Ia mengaku dirinya sangat menyatu dengan Jawa Barat. Walaupun, menurutnya, seorang gubernur bukanlah berarti menjadi orang yang paling tahu dan paling pintar di gubernuran itu. Seperti, seorang Danyon bukan harus orang terpintar di pasukannya.

Menjadi seorang pemimpin bukan berarti menjadi orang yang serba tahu tetapi menjadi seorang pemimpin menguasai bagaimana mengatur dan menggunakan orang-orang yang tahu sehingga sistem yang ada berjalan dan menghasilkan hal-hal yang nyata. Kemudian pemimpin adalah siap untuk bisa dikritik dan ketika ia tahu bahwa dirinya telah menyimpang, ia harus berani untuk mengundurkan diri.

Jadi, jika ia menjadi Gubernur Jawa Barat, ia antara lain akan merangkul kalangan perguruan tinggi di Jawa Barat, dengan melibatkannya dalam pembangunan di setiap sektor. Karena hampir seluruh perguruan tinggi yang hebat ada di Jawa Barat, ITB, IPB, Universitas Parahyangan, Universitas Pasundan, Universitas Padjadjaran, dan perguruan tinggi lainnya, bahkan UI termasuk Jawa Barat.

Kemudian ia juga akan melakukan evaluasi dan inventarisasi. Hal-hal yang baik akan diteruskan dan yang kurang baik dikoreksi. "Kita harus belajar dari pengalaman untuk melihat ke depan. Bukan dengan menyalahkan dan menghapuskan hal-hal yang telah baik oleh karena kita sudah merasa berkuasa," ujar pengurus Gerakan Anti Narkotika (Granat) dan yang juga terlibat sebagai sponsor dan pembimbing di beberapa pesantren di Bogor dan sekitar Jawa Barat ini.

Jika rakyat mempercayakannya menjadi Gubernur Jabar, ia akan membenahi lebih dulu mengenai kebijaksanaan otonomi daerah. Sebab melihat kondisi saat ini, terutama mengenai kebijaksanaan otonomi daerah, tiap-tiap pihak masih memperebutkan otoritasnya masing-masing dan merasa tidak membutuhkan satu dengan yang lain. Kabupaten/Kota merasa tidak membutuhkan Gubernur dan pemerintah Pusat. Selengkapnya, simak wawancara khusus wartawan Tokoh Indonesia mengenai visinya 'Pikeun Ngawangun Masyarakat Jawa Barat'.

Di mata mereka yang sudah sangat mengenalnya, Adang Ruchiatna adalah figur yang tangguh dan bermoralkan agama serta berani melakukan perubahan positif dengan segala konsekuensi dan eksistensinya. Maka, banyak kalangan meyakini, dengan jiwa leadership yang tinggi, putera Sunda yang 'menumpang' lahir di Jakarta 24 November 1942, ini visi-misi Jabar akan tercapai dan akan tercipta Jawa Barat raharja, rea ketan rea keton, anu tani pada marukti, sodagar pada baleunghar, nu jareneng teu matak ningnang, semah betah tumaninah di lemah anu genah tur merenah. Seni, budaya, jeung olah-raga oge tangtu nanjung, baranang mencrang tembong ka mana-mana.

Ia memang seorang figur yang memiliki moralitas, dalam arti takwa, amanah, menjadi teladan, bersikap konsisten, memiliki kepribadian yang utuh, tidak mudah terpengaruh oleh lingkungannya, dan nyaah kepada rakyat.

Dengan pengalamannya yang segudang serta memiliki kecakapan di atas rata-rata, baik dari segi pendidikan, keagamaan, akhlak, maupun kepemimpinan, banyak orang yakin, suami Fofo Fauzia, ini akan mampu menggerakkan potensi masyarakat dan SDM di bidang pemerintahan untuk membangun Jawa Barat.

Lulusan AMN (1964-1967) yang terakhir berpangkat Mayor Jenderal ini menyebut diri 'menumpang' lahir di Jakarta. Kebetulan saat itu ayahnya adalah seorang juragan komis di bidang agraria (sekarang BPN) yang ditugaskan di Jakarta. Pada saat itu orang Indonesia yang menjabat sebagai komis masih sangat sedikit. Ia anak keenam dari tujuh bersaudara. Ayahnya Raden Sanoesi Poeradiredja, lahir di Limbangan, Garut. Ibunya Hj. Soekaya berasal asli dari Bandung. Sejak Sekolah Dasar hingga SMA, ia bersekolah di Bandung. Ketika SD, pertama di SD jalan Balong Gede kemudian ketika naik kelas tiga, dipindahkan ke SD di jalan Pagarsih.

Ayahnya adalah seorang tentara pada zaman perjuangan kemerdekaan. Ketika itu pada tahun 1947, karena masa pergerakan kemerdekaan, mereka kembali ke Limbangan, Garut. Semua pemuda yang ada di daerah harus angkat senjata (berjuang) melawan Belanda. Karena ayahnya seorang yang cukup berpendidikan, maka diangkat menjadi Letnan Teritorial untuk wilayah Limbangan.

Ketika ia berusia empat tahun, ibunya sedang hamil tua (9 bulan), mengandung adik paling bungsu. Belanda dan tentara Nica masuk ke daerah Limbangan dan menangkap secara paksa (culik) semua perwira tentara Indonesia, termasuk ayahnya. Sejak itu, tahun 1947, keberadaan ayahnya tidak diketahui. Apakah masih hidup atau sudah meninggal. Jenazahnya pun tidak pernah ditemukan, walaupun telah dibuat sayembara dan usaha-usaha pencarian lainnya. Namun tidak seorang saksi atau bukti apapun yang memberikan keterangan apakah ayahnya telah meninggal ataukah masih hidup.

Sehingga sejak berumur lima tahun, ia dididik oleh seorang ibu dibantu saudara-saudara ibunya. Ibunya sendiri adalah bungsu dalam keluarganya. Dapat dibayangkan betapa sulitnya seorang ibu muda pada umur 32 tahun harus menjanda, merawat dan mendidik 7 anak. Saudaranya yang pertama waktu itu baru berumur 14 tahun.

Tapi kekompakan dalam keluarga ibunya membuat mereka terhibur dan tertolong dalam menapaki hidup setiap hari. Mereka memiliki uwa (paman) yang memberikan perhatian dalam berbagai keperluan mereka. Sehingga, ia sendiri nyaris tidak pernah merasa kehilangan seorang sosok ayah dalam keluarga.

Kebersamaan dan kekompakan di antara saudara ibunya luar biasa kuatnya. Terutama Wa' Icoh, yang selalu siap mengorbankan segalanya untuk mengurus mereka. Karena itulah sampai SMA, ia nyaris tidak pernah merasa bahwa tidak punya ayah. Inilah pelajaran pertama dari keluarga ibunya: Kebersamaan dan kekompakan. Tak perlu berhitung soal jasa dan kebaikan. Karena ini pula, bathin ibunya yang terpukul setelah ditinggal suaminya bisa mulai bangkit lagi, seiring dengan anak-anaknya yang mulai tumbuh besar.

Sang Ibu pun bisa mulai lagi berusaha. Di rumah, yang menjaga anak-anak adalah kakak-kakak ibunya yang laki-laki. Sementara, ibu bersama kakak-kakaknya yang perempuan, giat berusaha. "Sementara, anak-anak Wa yang sudah besar, yang sudah meraih gelar sarjana dan bekerja, seperti Ceu Kiki, Ceu Yati dan Ceu Halimah, setiap bulan selalu memberi kami uang. Seperti persenan atau gaji bulanan saja. Makanya waktu kami masih kecil, nyaris tak pernah tidak punya uang. Tak ada rasa minder jadinya, walaupun kami tidak punya ayah," kenang prajurit pejuang yang lulus Seskoad (1984) dan Sesko ABRI (1990) ini.

Waktu kecil, ia dan saudara yang laki-laki sebenarnya tukang ribut. Boleh dibilang nakal, tukang bikin masalah, tukang berkelahi di sana-sini. Sampai-sampai sering berurusan dengan polisi. Yang menyelesaikan ya Uwak-uwaknya itu. "Hampir tak pernah wa' bilang ke Ibu, segala permasalahan saya di luar rumah," kata pria yang gemar berolahraga renang, yudo, tenis, karate, silat , sepak bola dan golf ini.

Ia memang tidak ingin ibunya tahu tentang kenakalan di luar rumah. Ibunya tidak tahu kalau anak-anaknya pernah ditahan di kantor polisi. "Barulah setelah saya jadi tentara dan harus meninggalkan Bandung. Uwak-uwak saya bercerita sama Ibu bahwa saya ini tukang ribut, sering berkelahi di sana-sini, dan pernah di tahan di kantor polisi."

Sejak usia muda ia suka berguru silat, latihan bela diri dan berolahraga ke mana-mana. Sehingga seringkali sampai larut malam ibunya mencari ke sana ke mari. Sejak kelas 6 SD, ia sudah diikutkan dalam latihan silat. Ini mungkin karena faktor keturunan. Ayahnya ketika masih muda memiliki perkumpulan silat, seperti padepokan silat. Di situ pula ia dilatih oleh murid-murid ayahnya dan saudara-saudara sepeguruannya.

Ia banyak memanfaatkan masa-masa kecilnya melatih diri dalam berbagai macam olahraga seperti sepak bola, badminton, terutama olahraga beladiri yudo, ju jit su. Bahkan ketika di SMP, ia sempat belajar olahraga gulat. Tidak seperti sekarang, jaman dahulu tidak ada kursus-kursus. Jadi hampir satu hari penuh kegiatannya adalah olahraga. Tidak hanya pada siang, tetapi juga malam hari. Setelah bermain badminton sore hari, dilanjutkan latihan judo jam enam sampai tujuh malam. Kemudian, sekitar jam sepuluh hingga jam duabelas malam, ia latihan silat. Pada masa itu, ia bersama rekan-rekannya, merasa dapat berguna kalau bisa berkelahi atau bertarung.

Setelah lulus dari SMA, ia masuk AMN (1964-1967). Ketika masuk Taruna selama tiga bulan adalah kehidupan yang paling sengsara baginya. Karena ia harus belajar mandiri. Selama ia di rumah, segala kebutuhan dan keperluannya bisa didapatkan dengan mudah. Maklum, ia anak ke enam dari tujuh bersaudara dan mempuyai empat saudara perempuan. Tetapi setelah masuk Taruna, semua dikerjakan sendiri, mencuci pakaian sendiri, masak sendiri.

Di tiga bulan pertama itu dirasakan sebagai waktu yang paling sengsara. Ketika itu, ia baru menyadari tidak ada yang lebih enak dibandingkan dengan bersama keluarga dan orangtua. Ketika masih di rumah, ia anggap itu hal yang biasa-biasa saja. Tetapi ketika keadaan sangat sulit dan jauh dari rumah, masa-masa bersama orangtua terasa amat dirindukan. "Saya berpikir kalau orang lain bisa melakukannya kenapa saya tidak," kenangnya. Ia pun memperteguh tekadnya menjadi tentara. Apa yang akan terjadi-terjadilah. Ia membulatkan tekad sehingga menjadi kuat.

Setelah itu, akhirnya ia lulus dari Magelang, kemudian masuk ke Infantri, sekolah di Sussarcab, cabang dari Infantri di Cimahi, Bandung. Setelah sekolah 6 bulan, ia ditugaskan di Sumatera Barat. Pada tahun 1971, ia bersama Hendro Priyono disekolahkan ke Australia mengambil bidang intelejen, ketika itu masih Letnan Satu dan masih jarang orang yang disekolahkan ke luar negeri.

Kemudian pada tahun 1974 ia dikirim ke Malaysia untuk disekolahkan di Sekolah Intel China untuk mempelajari bahasa Hokian. Kemudian ia ditempatkan di Riau. Ia termasuk pendiri Kodim di Tanjung Pinang. Saat itu belum ada Kodim, sehingga ia ditugaskan pada tahun 1972 untuk mendirikan Kodim bersama tim yang terdiri dari 10 orang. Pada tahun yang sama, ia juga orang pertama yang memimpin penerimaan pengungsi Vietnam.

Pada saat itu, pemerintah sama sekali belum memiliki pengalamaan apapun dalam menerima pengungsi. Ketika itu, ia berpangkat kapten. Ia mengkoordinasikannya sedemikian rupa. Boleh dibilang, pola yang sekarang dalam menangani pengungsi yang dilakukan oleh pemerintah adalah pola yang ia lakukan pada waktu itu, karena memang Indonesia samasekali belum mengetahui langkah apa yang perlu diambil dalam menangani pengungsi.

Setelah itu, ia masih banyak mengemban tugas-tugas lain hingga ditugaskan di Timtim dan lain-lain. Hampir setiap enam bulan ia harus siap dengan tugas yang baru. Dan baginya panggilan tugas-tugas itu menjadi tantangan dalam menghadapi hal-hal yang baru. Hingga pada tahun 1991 ia ditempatkan di Samarinda dan di situlah ia mengadakan move untuk menciptakan kondisi tertentu di Ligitan.

Waktu itu, ia kirimkan komandan Kodim dan bawahan untuk masuk ke wilayah Ligitan dengan menggunakan pakaian Pramuka. Wilayah tersebut seharusnya status quo atau semua pihak punya hak. Alasannya melakukan hal tersebut karena Indonesia puya hak atas wilayah Ligitan itu. Ia pun mempertanyakan saat komisi I datang, kenapa Indonesia seakan-akan diam saja terhadap wilayah RI.

Dari situ ia diangkat menjadi Kepala Staf Divisi I Kostrad (1992) yang bertempat di Cilodong, Bogor. Kemudian menjadi Panglima Divisi I Kostrad (1993). Ia sebagai seorang Kepala Staf Divisi dan Panglima Divisi membawahi 15.000 anak buah, daerah tugasnya mencakup seluruh Jawa Barat (dan Banten), Jakarta dan Ujungpandang sebanyak satu Brigade. Di Jawa Barat mencakup Tanggerang-Serang, Cianjur, Sukabumi, Purwakarta, Tasikmalaya, dan Cirebon-Kuningan. Tugasnya saat itu memonitor seluruh wilayah, berkeliling di Jawa Barat, Jakarta dan Ujungpandang.

Selanjutnya, penerima satya lencana Seroja Operasi Seroja Timor-Timur 1978-1979, Seroja Operasi Seroja Timor-Timur 1981, Kesetiaan XVI 1983, Seroja Operasi Seroja Timor-Timur 1987-1988 dan Kesetiaan 1991 tahun 1994, ini pun diangkat menjadi Panglima Kodam IX Udayana di Denpasar.

Setiap menjabat, termasuk ketika menjabat sebagai Pangdam IX Udayana itu, ia selalu bersikap memberikan kesempatan kepada anak buah. Seperti, ketika peristiwa di Kabupaten Liquisa,Timor Timur, Januari 1995. Komandan Koremnya waktu itu Kiki Syahnakri. Begitu ada keributan, ia langsung datang dan tetap mengikuti apa yang dikerjakan oleh Komandan Korem. Kalau semua berjalan dengan baik ia biarkan, kalau ada yang kurang benar ia bantu.

Ia membiarkan bawahan yang mengekspos dan menanganinya. Baginya jika ada seorang pemimpin yang terlalu ikut campur, itu juga salah. "Sedikit-sedikit atasan, itu kurang memberikan kesempatan anak buah untuk berkembang," kata pria berpostur 168 cm dan 74 Kg, bergolongan darah B, berambut hitam lurus serta berwarna kulit sawo matang ini.

Kalau seorang bawahan itu hebat, yang sebenarnya hebat adalah atasannya. Seperti juga kasus ketika, ia menjabat sebagai Irjen di Depsos, walaupun yang melakukan kesalahan anak buahnya, ia harus tetap bertanggung jawab dengan apa yang mereka lakukan.

Lalu, setelah menjabat Waka II TKN PKLH 1997 di Jakarta, ia pun diangkat menjabat Irjen Depsos 1998. Jabatan Irjen Depsos ini diembannya sampai pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid melikuidasi Departemen Sosial.

Cerita tentang dilikuidasinya Depsos ini menjadi bagian tersendiri dari kisah hidupnya. Sebab, dalam Jumpa pers Presiden RI dengan wartawan media cetak dan elektronik tanggal 29 Desember 1999 di Bina Graha Jakarta, Presiden antara lain memberikan pernyataan yang kemudian dilansir oleh berbagai media tanggal 30 Desember 1999 yang antara lain isinya: "Adang Ruchiatna adalah dalang, provokator, penyandang dana dan menggunakan agama untuk kekerasan dalam unjuk rasa pegawai Depsos memprotes pembubaran Depsos RI."

Padahal yang sebenarnya terjadi adalah kekecewaan pegawai Depsos terhadap keputusan presiden menutup Depsos yang mengakibatkan pergerakan dari bawah. Waktu itu ia malah mendorong agar pegawai tidak bertindak gegabah yang akan menimbulkan tindakan-tindakan anarkis.

Ketika itu, pegawai memutuskan untuk bertanya langsung kepada Presiden dan wakil rakyat yang ada di DPR dan MPR melalui unjuk rasa.

Pada kesempatan pertama, aksi unjuk rasa tersebut dilaksanakan secara spontan dan tidak terkendali dan pada saat itu para pejabat Depsos berusaha mencegah agar tidak dilakukan unjuk rasa. Namun demikian, agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, dalam perkembangan unjuk rasa selanjutnya, para pejabat Depsos mau tidak mau mengakomodir tuntutan pegawai dengan membentuk FAKSOS (Forum Aksi Kesetiakwanan Sosial).

Pada awal pembentukannya, ia dicalonkan sebagai Ketua Faksos. Namun karena posisi formalnya sebagai lnspektur Jenderal, maka ia menolak, dengan alasan bahwa tidak menjadi ketua Faksos pun ia merasa akan selalu dimintai pertanggungjawaban atas segala aktivitas pegawai.

Upaya lain agar gejolak unjuk rasa tidak berlarut-larut, para pejabat Depsos melakukan pembagian kerja. Sekjen melobi Badan Kepegawaian Nasional (BKN) dan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara (Meneg PAN) sedangkan Adang Ruchiatna (lnspektur Jenderal) bersama-sama dengan pejabat Eselon I lainnya berusaha menjadi kelompok penyeimbang yang bertugas mencegah dilakukannya aksi unjuk rasa yang mengarah pada anarkisme.

Cara itu dilakukan melalui dialog intensif sebagai terapi dari kepanikan, keresahan yang cenderung mengarah pada kemarahan pegawai karena mereka tidak lagi memiliki menteri sosial dan sangat minimnya informasi dari Presiden tentang jalan keluar dari pembubaran Depsos.

Setelah melakukan berbagai dialog baik dengan pakar (melalui seminar dan dialog langsung), praktisi, LSM, Badan Kepegawaian Nasional, Menpan, DPR dan MPR, maka Faksos mengajukan alternatif untuk menampung aspirasi pegawai dan profesinya dalam bentuk Badan. Dengan pertimbangan praktis, psikologis dan politis, alternatif tersebut dianggap paling tepat dan layak untuk dibentuk.

Menanggapi gejola yang terjadi di Depsos, maka DPR menggunakan Hak Interpelasinya. Pada saat dilangsungkannya hearing tersebut, di Depsos sendiri dilakukan Shalat Istigoshah bagi yang beragama Islam dan kebaktian bagi yang beragama Kristen. Hal yang sama juga dilakukan di berbagai daerah (Kanwil Depsos, Kandepsos dan Panti-panti di lingkungan Depsos).

Setelah DPR menggunakan hak interpelasinya, Presiden mengajukan akan membentuk sebuah Badan yang langsung di bawah Presiden. Menneg MMK yang semula diduga sebagai pengganti Depsos, secara tegas ditolak presiden.

Setelah pernyataan Gus Dur di media massa, maka dalam salah satu apel rutin yang dilakukan pada Hari Jumat tanggal 30 Desember 1999, kembali pegawai Eks Depsos mengancam akan melakukan unjuk rasa, karena tuduhan pegawai dibayar untuk demo telah dianggap melecehkan aspirasi pegawai. Padahal jelas bahwa tidak seorangpun membiayai demo termasuk seorang Irjen Depsos.

Dalam kesempatan tersebut, ia berusaha meredam tanda-tanda akan dilaksanakannya aksi unjuk rasa terhadap pernyataan Gus Dur. Pada saat itu ia menyatakan, "Saya sangat hormat kepada Gus Dur seorang kyai yang Presiden, dan saya sudah memaafkan kepada orang-orang yang memberikan informasi yang salah kepada Presiden Rl. Dosa besar menipu Presiden dengan memberikan informasi yang palsu. Di bulan puasa ini, semakin besar amal seseorang jika kita memberi maaf kepada orang lain."

Tanggal 29 Desember 1999, Presiden melakukan jumpa pers yang kemudian disiarkan di berbagai media elektronik sore harinya, isi beritanya: Presiden menganggap bahwa aksi unjuk rasa Depsos telah dibiayai oleh Adang Ruchiatna. Pada saat itu ia sendiri sedang berbuka puasa bersama Quraish Shihab, Dubes Indonesia untuk Mesir di kawasan Kemang.

Tanggal 30 Desember 1999, ia menemani Menneg MMK melakukan peninjauan bencana gempa bumi ke Pandeglang. "Sepanjang perjalanan saya nyaris tidak percaya bahwa nama saya disebut. Kemarin saya pikir Presiden membuat pernyataan tersebut hanya canda dari teman-teman saya yang melaporkan, tetapi kemudian sebagian koran memuat berita tersebut di halaman muka. Subhanallah, Alhamdulillah."

Sehubungan dengan pernyataan Presiden tersebut, ia menyatakan hanya akan mengambil hikmahnya bahwa tidak semua pekerjaan baik akan dinilai baik oleh orang lain dan semua pekerjaan pasti menghadapi risiko. Sebagai seorang prajurit yang loyal kepada atasan, ia akui perlu terus melakukan instrospeksi diri baik atas pernyataan tersebut ataupun hal yang lain.

Suara Rakyat[sunting | sunting sumber]

Setelah berkarier dalam kemiliteran, ia banyak juga belajar di berbagai disiplin ilmu. Ia kuliah di Universitas Terbuka mengambil gelar S.Ip. Kemudian meraih sarjana hukum di PTHM pada tahun 1996. Pada tahun 2000, ia meraih gelar Magister di Universitas Satyagama. Bahkan dari tahun 2001, ia kuliah pasca sarjana Magister Hukum di Universitas Gajah Mada. Baginya pendidikan menjadi modal dalam mengemban tugas-tugas di luar kemiliteran. "Kembali ke bangku kuliah merupakan hal yang menarik bahkan menjadi budaya tersendiri bagi saya," kata ayah dari dua anak yakni Yuke Yurike (Bandung 22-02-1975) dan Rhino Prayudhi (Bangkinang, 08-07-1978) ini.

Padahal, sebenarnya dengan pendidikan militer sudah mencakup semua pendidikan. Maka ketika kuliah di bidang bisnis ataupun hukum, ia tidak merasakan sama sekali kesulitan. Sebab hal-hal yag dibahas di bangku kuliah sudah merupakan pengalaman hidup ketika bertugas dalam kemiliteran.

Tentang kondisi bangsa ini, terutama dalam beberapa tahun terakhir ini, secara pribadi ia tetap optimis dalam melihat ke depan bangsa ini. Ia melihat kondisi bangsa saat ini, adalah merupakan sebuah proses yang harus dilewati dan juga pernah dilewati oleh berbagai bangsa di muka bumi ini. Sebuah proses menuju yang lebih baik. "Pada waktunya nanti kita akan dapat bangkit kembali dengan memulainya melalui mempersiapkan orang-orang yang akan memimpin," ujarnya optimis.

Menurutnya, keadaan sekarang adalah sebuah akibat. Jika semuanya dibuka secara mendadak, terjadi kebablasan atau eforia. Karena kita tidak punya persiapan dalam menghadapi kebebasan yang dahulu tidak pernah kita rasakan. Suara-suara yang menyampaikan banyak hal saat ini, kita harus biarkan sebagai bagian dari proses perkembangan yang nanti semua akan teruji dan terkristal oleh waktu.

Tetapi sekaligus kita tetap mengingatkan bahwa tidak ada di dunia ini yang tidak jatuh, sehingga perlu diatur. Masyarakat kita saat ini sangat sulit diatur. Ketika diatur, nanti akan mengatakan otoriter dan sebagainya. Tetapi nanti ada masanya mereka yang akan meminta agar dirinya diatur. Apalagi dengan bergulirnya otonomi daerah semua orang ingin mendapatkan bagiannya masing-masing dan tidak dapat memuaskan semua pihak.

Dalam kaitan ini, ia mengatakan kalau kita mau mengetahui apa yang dibutuhkan bangsa ini, kita harus mampu mendengarkan suara rakyat. Sehingga dengan begitu setiap rencana pembangunan harus berwawasan budaya artinya apa yang menjadi kehendak rakyat bukan kehendak pemerintah atau kehendak pemimpin.

Ia juga berpendapat, ketika berbicara tentang KKN, bukan lagi berbicara tentang demokrasi atau tranpransi dan sebagainya, tetapi melakukan keteladan. Siapkah kita menjadi teladan? Karena dengan menjadi pemimpin yang berkuasa, sangat mudah cenderung untuk korup. Istilah orang jawa bilang, "Tidak kuat derajat aneh-aneh kelakuannya". Ketika menjadi pejabat berubah kelakuannya karena tidak kuat derajatnya.

Baginya, seorang pemimpin selain menjadi teladan, juga harus menjadi pelayan. Termasuk melayani dalam bentuk mendengar, melihat dan merasakan. Jadi ketika seorang pemimpin sudah tidak lagi mau mendengar, melihat dan merasakan penderitaan rakyatnya, pemimpin itu telah gagal menjadi pemimpin.

Kalau berbicara tentang visi dan misi, bangsa kita adalah yang paling hebat, dan kita selalu jatuh ke dalam sikap simbolisme. Tetapi ketika ditanya, bagaimana menjalankannya kita tidak tahu. Menurut Komisaris Utama PT. Bina Prima Perdana dan Wakil Komisaris PT. Dipasena Citra Darmaja ini, masyarakat kini memerlukan bukti dan keteladanan.

Keteladanan Ibu[sunting | sunting sumber]

Dalam pembentukan karakter sebagai pribadi, baginya ajaran orang tua paling melekat. Sejak kecil, kedua orang tuanya, terutama ibunya, telah membekalinya dengan pepatah yang sederhana dan selalu ia ingat setiap saat: "Ulah kumaha engke, tetapi engke kumaha." Pepatah yang mengandung makna bahwa kita harus selalu berpikir panjang, jangan bagaimana nanti, tetapi nanti bagaimana.

Pepatah lain yang selalu ia ingat adalah: "Ulah eleh rigig, sing bisa ngigelannana" yang mengandung makna bahwa kita harus bisa menyesuaikan diri. Kedua pepatah yang sederhana itulah yang selalu ia pakai sebagai pakarang dan ageman dalam mengarungi kehidupan ini, dalam rangka ikhtiar neangan karaharjaan lahir jeung batin.

Juga ajaran-ajaran yang sederhana tetapi tampak secara konkrit dalam perilaku ibunya. Misalnya, dalam menerima tamu, minum dan makan harus disuguhkan. Ibunya dalam setiap menerima tamu pasti menawarkan minum dan makan. Dan jika sudah bertemu orang lain itu selalu menjadi seperti saudaranya.

"Dia juga orang yang bukan pilih kasih apalagi terhadap anak-anak dan cucu-cucunya. Dia memperlakukan cucu-cucunya harus menghormati orangtuanya. Ibu juga seorang yang mandiri, sejak muda ia telah menjadi pendiri sebuah rumah jompo. Alasan antara lain 'kalau nanti anak-anaknya tidak mau mengurusinya, ia akan tinggal di situ'. Dia bersikap tidak mau berhutang kepada orang lain termasuk anak-anaknya," ucapnya mengenang Sang Ibu yang sangat dikaguminya.

Satu lagi teladan ibunya. Sebelum meninggal, Sang Ibu mengumpulkan anak-anaknya untuk membicarakan sebuah tanah warisan. "Ibu meminta untuk di bangun di atas tanah 800 m2 tersebut sebuah masjid yang indah." Masjid itu pun mereka bangun dengan biaya berkisar Rp 430 juta. Masjid yang diberi nama Masjid Al-Fath di Jalan Pagarsih -Gg Maskardi, Bandung, itu diresmikan Walikota Bandung A'a Tarmana pada 11 Maret 2001.

Sifat dari Sang Ibu yang sangat ia kagumi adalah kerendahan hatinya. Sebagai gambaran, ibunya mempuyai seorang pembantu pribadi, namanya Miah. Jika masa cuti Miah tiba, ibunya yang mengantarkan pulang langsung ke kampung dan setelah masa cuti selesai Sang Ibu juga yang menjemput kembali. Dan yang lebih mengharukan adalah ketika hari Lebaran datang. Sang Ibu sebelum menerima "Sungkeman" dari anak-anaknya, terlebih dahulu meminta maaf kepada Miah, pembantunya. Sang Ibu mengatakan minta maaf jika berbuat salah atau terlalu cerewet. Padahal Sang Ibu bukan seorang cerewet atau bawel.

Suatu hal lagi yang amat dikenang dari ibunya. Setelah ia meraih pangkat kapten, Wa' Icoh bercerita, "Dang, kamu harus sayang dan jangan berbuat dosa sama ibu kamu." "Memangnya kenapa Wa?",tanyanya. Kemudian Wa' Icoh melanjutkan, "Tahu nggak kamu, ibu kamu itu sangat prihatin sama kamu. Dia sampai berpuasa empat puluh hari muasain kamu, mutih, supaya kamu menjadi orang baik dan bener." Rupanya begitulah bathin seorang ibu. Bisa merasakan segala sesuatu yang terjadi sama anaknya. Jauhnya jarak di antara mereka, tidak memberatkan ibu untuk terus melakukan kontak.

Sang Ibu sering mengirim surat yang isinya nasihat kepadanya supaya membaca surat anu, ayat sekian, sebanyak sekian kali. Sambil membayangkan wajah Sang Ibu, ia sering berfikir, ada apa ini? Rasanya tidak ada masalah. Baru kemudian ia mengerti. Waktu sedang menjalani tugas intelijen setelah sebelumnya membaca ayat-ayat AI-Qur'an yang ibu anjurkan, ia menghadapi tiga peristiwa berbahaya. Tapi alhamdulillah bisa keluar dengan selamat. "Oh, ini rupanya khasiat bacaan ayat-ayat AI-Qur'an yang seperti dianjurkan oleh ibu," kenangnya.

Maka, semakin hari, semakin bertambah kekagumannya terhadap Sang Ibu. Suatu kali, Sang Ibu berkata dalam suratnya, "Dang, Mak mimpi tentang kamu. Mak minta kamu supaya membaca ini." Ia pun patuh membaca ayat Al-Quran yang disarankan Sang Ibu sebelum semua peristiwa berbahaya itu terjadi. Rupanya ibu sudah mendapat isyarat tentang apa yang akan dihadapi oleh anaknya.

Tambah tua, ia semakin mengerti dan yakin akan kasih sayang ibunya. Nasihat ibunya selalu sederhana. Ketika ia bertugas, ibunya menasehati, "Laksanakanlah tugas kamu sebaik-baiknya." Walaupun sebenarnya Sang Ibu tidak suka ia jadi tentara. "Kamu tentara. Mak tahu tentara itu tidak akan menjadi kaya. Kalau ada apa-apa, bilang sama Mak," begitu Sang Ibu sering mengingatkannya.

Menyangkut kehidupan rumah tangga, Sang Ibu juga tak pernah ikut campur. Termasuk dalam memutuskan siapa yang menjadi isterinya. Ketika itu, ia sedang bertugas di Sumatera Barat. Ia punya teman latihan Yudo, yang ternyata punya adik yang cantik bernama Fofo Fauzia. Ia pun mendekati dan cukup berlangsung cepat, hanya dalam waktu 2 bulan ia melamar dan kemudian menikah di Bandung tahun 1974. Mereka dikarunai 2 orang anak, satu perempuan dan satu laki-laki.

Ketika itu, ia meminta nasihat dari Sang Ibu. Sang Ibu memberi nasihat begini: "Dang, coba kamu pikirkan baik-baik. Sholat tahajud dan berpuasalah, sebelum kamu menentukan bakal calon istri kamu. Pernikahan itu sakral." Setelah berkeluarga dan punya anak, Sang Ibu sering mengingatkan, "Jaga istrimu! Mak do'akan kamu supaya bisa ngurus anak dan istri."

Sang Ibu juga sering mengingatkannya untuk selalu memperhatikan orang kecil. Setiap kali ia mau pulang dari rumah ibunya, dia suka bilang, "Kalau ada uang, kasih tuh pembantu dan sopir. Merekalah yang mengurus Mak selama ini. Kalau kamu tidak punya uang, ini ada uang Mak," katanya, sambil mengeluarkan uang untuk diberikan kepada pembantu dan sopir ibu. Tak habis-habisnya rasa kagumnya terhadap sang Ibu, yang ternyata dia punya banyak anak angkat. Sang Ibu yang baik hati ini telah menghembuskan nafas terakhirnya pada 4 Juli 2002. Tapi semangatnya tetap hidup dalam sanubari setiap generasi penerusnya.[3]

Riwayat Pendidikan[sunting | sunting sumber]

  • Akmil (1967)
  • Seskoad (1984)
  • Sesko ABRI (1990)

Riwayat Jabatan[sunting | sunting sumber]

  • Asisten Intelejen Kodam IV/Diponegoro
  • Komandan Korem 091/Aji Surya Natakesuma
  • Kepala Staf Divisi I/Kostrad
  • Panglima Divisi I/Kostrad
  • Panglima Daerah Militer IX/Udayana
  • Komandan Pusat Teritorial ABRI
  • Waka II TKN PKLH (1997)
  • Inspektur Jenderal Departemen Sosial (1998-1999)
  • Anggota DPR RI Fraksi PDI-P (2009-2014)

Tanda Jasa[sunting | sunting sumber]

  • Satya Lencana Seroja Operasi Seroja Timor-Timur (1978-1979)
  • Satya Lencana Seroja Operasi Seroja Timor-Timur (1981)
  • Satya Lencana Kesetiaan XVI (1983)
  • Satya Lencana Seroja Operasi Seroja Timor-Timur (1987-1988)
  • Satya Lencana Kesetiaan Kesetiaan XXIV (1991)

Catatan Kaki[sunting | sunting sumber]