Abdul Karim

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Abdul karim
Bismillahirahmanirahim
Mbah Manab Lirboyo
Hadratusy Syaikh
Kiai Haji
Abdul karim
Kh abdul karim.jpg
Nama dan Gelar
Semua Gelar
Gelar (Islam)Hadratusy Syaikh
Gelar
(Islam/Sosial)
Kiai Haji
Nama
NamaAbdul karim
Kelahirannya
Tahun lahir (M)1858
Tempat lahirMagelang
Negara lahir
(penguasa wilayah)
Dusun Banar, Desa Deyangan, Kecamatan Mertoyudan, Magelang, Jawa Tengah Bendera Hindia Belanda
Nama lahirManab
Agama Islam
Bantuan kotak info


Kiai Haji Abdul Karim (Arab: ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻜﺮﻳﻢ‎) atau Mbah Manab adalah pendiri pondok pesantren Lirboyo, pesantren Islam besar di Indonesia.

Biografi[sunting | sunting sumber]

KH. Abdul Karim (lahir di dusun Banar, Kawedanan, Mortoyudan, Magelang, 1858 - meninggal di Lirboyo,Kediri, 1910 pada umur antara 97-98 tahun) dari pasangan Kyai Abdur Rahim dan Nyai Salamah. Manab adalah nama kecilnya dan merupakan putra ketiga dari empat bersaudara. Saat usia 14 tahun, mulailah ia melalang dalam menimba ilmu agama dan saat itu ia berangkat bersama sang kakak (Kiai Aliman).[1]

Pesantren yang pertama ia singgahi terletak di desa Babadan, Gurah, Kediri. Kemudian ia meneruskan pengembaraan ke daerah Cepoko, 20 km arah selatan Nganjuk, di sini kurang lebih selama 6 Tahun. Setalah dirasa cukup ia meneruskan ke Pesantren Trayang, Bangsri, Kertosono, Nganjuk, Jawa Timur, disinilah ia memperdalam pengkajian ilmu Al-Quran. Lalu ia melanjutkan pengembaraan ke Pesantren Sono, sebelah timur Sidoarjo, sebuah pesantren yang terkenal dengan ilmu Shorof-nya. 7 tahun lamanya ia menuntut ilmu di Pesantren ini. Selanjutnya ia nyantri di Pondok Pesantren Kedungdoro, Sepanjang, Surabaya. Hingga akhirnya, ia kemudian meneruskan pengembaraan ilmu di salah satu pesantren besar di pulau Madura, asuhan Ulama’ Kharismatik; Syaikhona Kholil Bangkalan. Cukup lama ia menuntut ilmu di Madura, sekitar 23 tahun.

Pada usia 40 tahun, KH. Abdul Karim meneruskan pencarian ilmu di Pondok Pesantren Tebu Ireng, Jombang, Jatim, yang diasuh oleh sahabat karibnya semasa di Bangkalan Madura, KH. Hasyim Asy’ari. Hingga pada akhirnya KH. Hasyim asy’ari menjodohkan KH. Abdul Karim dengan putri Kyai Sholeh dari Banjarmlati Kediri, pada tahun1328 H/ 1908 M.

KH. Abdul Karim menikah dengan Siti Khodijah binti KH. Sholeh, yang kemudian dikenal dengan nama Nyai Dlomroh. Dua tahun kemudian KH. Abdul karim bersama istri tercinta hijrah ke tempat baru, di sebuah desa yang bernama Lirboyo, tahun 1910 M. Disinilah titik awal tumbuhnya Pondok Pesantren Lirboyo.

Kemudian pada tahun 1913 M, KH. Abdul karim mendirikan sebuah Masjid di tengah-tengah komplek pondok, sebagai sarana ibadah dan sarana ta’lim wa taalum bagi santri.

Secara garis besar KH. Abdul karim adalah sosok yang sederhana dan bersahaja. Ia gemar melakukan Riyadlah; mengolah jiwa atau Tirakat, sehingga seakan hari-harinya hanya berisi pengajian dan tirakat. Pada tahun 1950-an, tatkala KH. Abdul Karim menunaikan ibadah haji yang kedua kalinya -sebelumnya ia melaksanakan ibadah haji pada tahun 1920-an- kondisi kesehatannya sudah tidak memungkinkan, namun karena keteguhan hati akhirnya keluarga mengikhlaskan kepergiannya untuk menunaikan ibadah haji, dengan ditemani sahabat akrabnya KH. Hasyim Asy’ari dan seorang dermawan asal Madiun H. Khozin.

Sosok KH. Abdul Karim adalah sosok yang sangat istiqomah dan berdisiplin dalam beribadah, bahkan dalam segala kondisi apapun dan keadaan bagaimanapun, hal ini terbukti tatkala ia menderita sakit, ia masih saja istiqomah untuk memberikan pengajian dan memimpin sholat berjamaah, meski harus dipapah oleh para santri. Akhirnya, pada tahun 1954, tepatnya hari senin tanggal 21 Ramadhan 1374 H, KH. Abdul Karim berpulang kerahmatullah, ia dimakamkan di belakang masjid Lirboyo.

Pendidikan[sunting | sunting sumber]

Pesantren yang pertama ia singgahi terletak di desa Babadan, Gurah, Kediri. Kemudian ia meneruskan pengembaraan ke daerah Cepoko, 20 km arah selatan Nganjuk, di sini kurang lebih selama 6 Tahun. Setalah dirasa cukup ia meneruskan ke Pesantren Trayang, Bangsri, Kertosono, Nganjuk Jatim, disinilah ia memperdalam pengkajian ilmu Al-Quran]]. Lalu ia melanjutkan pengembaraan ke Pesantren Sono, sebelah timur Sidoarjo, sebuah pesantren yang terkenal dengan ilmu Shorof-nya, 7 tahun lamanya ia menuntut ilmu di Pesantren ini. Selanjutnya ia nyantri di Pondok Pesantren Kedungdoro, Sepanjang, Surabaya. Hingga akhirnya, ia kemudian meneruskan pengembaraan ilmu di salah satu pesantren besar di pulau Madura, asuhan Syaikhona Kholil Bangkalan. Cukup lama ia menuntut ilmu di Madura, sekitar 23 tahun.

Pada usia 40 tahun, KH. Abdul Karim meneruskan pencarian ilmu di Pondok Pesantren Tebu Ireng, Jombang, Jatim, yang diasuh oleh sahabat karibnya semasa di Bangkalan Madura, KH. Hasyim Asy’ari. Hingga pada akhirnya KH. Hasyim Asy’ari menjodohkan KH. Abdul Karim dengan putri Kyai Sholeh dari Banjarmlati Kediri, pada tahun1328 H/ 1908 M

Perjuangan[sunting | sunting sumber]

Dua tahun setelah menikah dengan Siti Khodijah Binti KH. Sholeh (Nyai Dlomroh), KH. Abdul karim bersama istri tercinta hijrah ke sebuah desa yang bernama Lirboyo, tahun 1910 M. Disinilah titik awal tumbuhnya Pondok Pesantren Lirboyo, yang kelak menjadi salah satu pesantren terbesar di Jawa dan dikenal luas hingga mancanegara.

Referensi[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]

Didahului oleh:
tidak ada
Pediri
Ponpes Lirboyo

1926-1947
Diteruskan oleh:
Para Dzuriyah