Yenny Wahid

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Yenny Wahid

Lahir Zannuba Ariffah Chafsoh Rahman Wahid
29 Oktober 1974 (umur 39)
Jombang, Jawa Timur, Indonesia
Kewarganegaraan Indonesia
Dikenal karena Putri Presiden Abdurrahman Wahid
Agama Islam

Yenny Wahid yang bernama lengkap Zannuba Ariffah Chafsoh Rahman Wahid (lahir di Jombang, Jawa Timur, 29 Oktober 1974; umur 39 tahun) adalah seorang aktivis Islam dan politisi Indonesia. Selain itu dirinya telah sukses terpilih sebagai ketua umum PKB.[1]

Keluarga[sunting | sunting sumber]

Pada tanggal 15 Oktober 2009 Yenny menikah dengan Dhorir Farisi.[2] Tanggal 13 Agustus 2010 Yenny melahirkan putrinya, Malica Aurora Madhura.[3]

Latar Belakang[sunting | sunting sumber]

Yenny Wahid adalah anak Gus Dur yang kedua. Ia mempunyai seorang kakak, Alisa Wahid dan dua orang adik, Anita Wahid dan Inayah Wahid.

Seperti halnya ayahnya, ia terlahir dalam lingkungan keluarga NU. Pola pikirnya pun tidak jauh dengan ayahnya yang lebih mengedepankan Islam yang moderat, menghargai pluralisme dan pembawa damai. Meskipun mendapatkan gelar sarjana desain dan komunikasi visual dari Universitas Trisakti, tetapi ia memutuskan untuk menjadi wartawan.

Sebelum terjun secara khusus mendampingi ayahnya, Yenny bertugas sebagai reporter di Timor-Timur dan Aceh. Ia menjadi koresponden koran terbitan Australia, The Sydney Morning Herald dan The Age (Melbourne) antara tahun 1997 dan 1999. Saat itu, meski banyak reporter keluar dari Timor Timur[4], Yenny tetap bertahan dan melakukan tugasnya. Ia sempat kembali ke Jakarta setelah mendapat perlakuan kasar dari milisi, namun seminggu kemudian ia kembali ke sana. Liputannya mengenai Timor Timur pasca referendum mendapatkan anugrah Walkley Award.[5]

Belum terlalu lama menekuni pekerjaannya, ia berhenti bekerja karena ayahnya, Gus Dur, terpilih menjadi presiden RI ke-4. Sejak itu, kemanapun Gus Dur pergi, Yenny selalu berusaha mendampingi ayahnya, dengan posisi Staf Khusus Presiden Bidang Komunikasi Politik.

Setelah Gus Dur tidak lagi menjabat sebagai presiden, Yenny menempuh studi S2 di Harvard Kennedy School of Government di bawah beasiswa Mason[6]. Sekembalinya dari Amerika tahun 2004, Yenny menjabat sebagai direktur Wahid Institute yang saat itu baru berdiri. Hingga kini ia menduduki jabatan tersebut.

Yenny juga aktif dalam Partai Kebangkitan Bangsa.

Referensi[sunting | sunting sumber]