Sodium lauryl sulfate

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Sodium lauryl sulfate
Gambar
Gambar
Identifikasi
Nomor CAS [151-21-3]
Kode ATC
SMILES CCCCCCCCCCCCOS(=O)([O-])=O.[Na+]
Sifat
Rumus molekul NaC12H25SO4
Massa molar 288.38 g mol−1
Densitas 1.01 g/cm³
Titik lebur

206 °C

Kecuali dinyatakan sebaliknya, data di atas berlaku
pada temperatur dan tekanan standar (25°C, 100 kPa)

Sangkalan dan referensi

Sodium lauryl sulfate (SLS), sodium laurilsulfate atau sodium dodecyl sulfate (SDS atau NaDS) (C12H25SO4Na) adalah surfaktan anion yang biasa terdapat dalam produk-produk pembersih. Garam kimia ini adalah organosulfur anion yang mengandung 12-ekor karbon terikat ke gugus sulfat, membuat zat kimia ini mempunyai sifat ambifilik yang merupakan syarat sebagai deterjen.

SLS adalah jenis surfaktan yang sangat kuat dan umum digunakan dalam produk-produk pembersih noda minyak dan kotoran. Sebagai contoh, SLS ini banyak ditemukan dalam konsentrasi tinggi pada produk-produk industri seperti pembersih mesin (engine degreaser), pembersih lantai, dan shampo mobil. SLS digunakan dalam kadar rendah di dalam pasta gigi, shampo dan busa pencukur. Zat kimia ini merupakan bahan utama di dalam formulasi kimia untuk mandi busa karena efek pengentalnya dan kemampuan untuk menghasilkan busa.

Telah diteliti bahwa SLS bukan bahan karsinogen ketika dioleskan ke kulit maupun dikonsumsi.[1] Tetapi dari percobaan ditemukan SLS dapat menyebabkan iritasi kulit dan wajah ketika dioleskan dalam waktu yang lama dan terus menerus (lebih dari 1 jam) pada remaja.[2] Studi klinik terhadap 30 pasien yang sering mengeluhkan sariawan, membuktikan pasta gigi yang mengandung SLS dapat menyebabkan sariawan lebih besar dibandingkan dengan pasta gigi bebas detergen.[3] Sebuah studi klinik lain membuktikan tidak ada efek yang signifikan untuk penderita sariawan ketika dibandingkan menggunakan pasta gigi dengan dan tanpa SLS.[4]

Applikasi[sunting | sunting sumber]

Botol berisi sodium lauryl sulfate di laboratorium.

SLS ini banyak ditemukan dalam konsentrasi tinggi pada produk-produk industri seperti pembersih mesin (engine degreaser), pembersih lantai, dan shampo mobil. SLS digunakan dalam kadar rendah di dalam pasta gigi, shampo dan busa pencukur.

SLS berpotensi untuk digunakan sebagai anti bakterial dan juga untuk mencegah infeksi oleh virus seperti Herpes dan HIV.[5][6]

Belakangan ini telah ditemukan bahwa pada aplikasi sebagai surfaktan pada pembentukan reaksi gas hydrate atau methane hydrate, SLS dapat mempercepat reaksi hingga 700 kali lebih cepat.[7]

Dalam pengobatan, SLS digunakan sebagai pengobatan laksatif melalui dubur, juga digunakan sebagai eksipien dalam tablet.

Biokimia[sunting | sunting sumber]

Dapat digunakan untuk membantu pemecahan sel pada saat ekstrasi DNA dan menguraikan protein. SLS ini biasa digunakan untuk menyiapkan protein untuk proses elektroforesis. Teknik ini dinamakan SDS-PAGE.[8] Senyawa ini bekerja dengan mengganggu ikatan non-kovalen di dalam protein, mengubah sifatnya dan menyebabkan molekul berubah dari bentuk aslinya.

Seperti detergen lainnya, SLS mengambil minyak dan kelembaban pada kulit, sehingga berakibat iritasi pada kulit dan mata.

Produksi[sunting | sunting sumber]

Struktur dari SLS: CnH2n+1SO4Na (n12)

SLS disintetis dengan mencampur dodecanol dengan gas sulfur trioksida atau oleum atau asam klorinsulfur untuk menghasilkan hydrogen lauryl sulfate. Metode industrial biasanya menggunakan gas sulfur trioksida. Hasilnya lalu dinetralkan dengan sodium hidroksida atau sodium karbonat.[9] alkohol lauryl biasanya dihasilkan dari minyak kelapa atau minyak biji kelapa sawit melalui hidrolisis, yang memisahkan asam lemaknya, kemudian direduksi menjadi alkohol.

Karena metode sintesis ini, di pasaran SLS yang tersedia berupa campuran alkyl sulfate dengan dodecyl sulfate sebagai komponen utamanya.[10]

Toxikologi[sunting | sunting sumber]

Karsinogenik[sunting | sunting sumber]

SLS bukan bahan karsinogen ketika dioleskan ke kulit maupun dikonsumsi.[1] Review di dalam literatur ilmiah menyebutkan "SLS negatif dalam tes ames (tes mutasi bakterial), tes mutasi gen dan test pertukaran kromatid pada sel mamalia, juga di studi mikronukleus pada tikus. Hasil yang negatif ini membuktikan SLS tidak berinteraksi dengan DNA.[11]

Sensitivitas[sunting | sunting sumber]

Tetapi dari percobaan ditemukan SLS dapat menyebabkan iritasi kulit dan wajah ketika dioleskan dalam waktu yang lama dan terus menerus (lebih dari 1 jam) pada remaja.[2] SLS dapat memperparah masalah kulit yang dialami individu memiliki kulit hipersensitif, beberapa orang akan lebih sensitif terhadap zat ini dibanding yang lain.[12][13][14] Dalam percobaan dengan hewan ditemukan juga iritasi di kulit dan mata[11]

Sariawan[sunting | sunting sumber]

Sebuah studi awal menyimpulkan SLS di dalam pasta gigi menyebabkan munculnya sariawan.[15] Studi ini menunjukan secara statistik penurunan drastis dalam jumlah sariawan dari 14,3 menggunakan pasta gigi SLS menjadi 5,1 menggunakan pasta gigi bebas SLS.[15] Hasil dari studi klinik saat membandingkan kemungkinan terjadi sariawan dengan penggunaan pasta gigi mengandung atau bebas SLS, menyimpulkan individu dengan penderita sariawan dianjurkan menggunakan pasta gigi bebas SLS.[16]

Perubahan rasa[sunting | sunting sumber]

Sodium lauryl sulfate dapat mengurangi kecapan rasa manis,[17] efek ini yang biasa muncul setelah penggunaan pasta gigi mengandung SLS[18]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b CIR publication (1983). "Final Report on the Safety Assessment of Sodium Lauryl Sulfate and Ammonium Lauryl Sulfate". International Journal of Toxicology 2 (7): 127–181. doi:10.3109/10915818309142005. .
  2. ^ a b Marrakchi S, Maibach HI (2006). "Sodium lauryl sulfate-induced irritation in the human face: regional and age-related differences". Skin Pharmacol Physiol 19 (3): 177–80. doi:10.1159/000093112. PMID 16679819. 
  3. ^ Herlofson BB, Barkvoll P (June 1996). "The effect of two toothpaste detergents on the frequency of recurrent aphthous ulcers". Acta Odontol. Scand. 54 (3): 150–3. doi:10.3109/00016359609003515. PMID 8811135. 
  4. ^ Healy CM, Paterson M, Joyston-Bechal S, Williams DM, Thornhill MH (1999 Jan). "The effect of a sodium lauryl sulfate-free dentifrice on patients with recurrent oral ulceration". Oral Dis. 5 (1): 39–43. doi:10.1111/j.1601-0825.1999.tb00062.x. PMID 10218040. 
  5. ^ Piret J, Désormeaux A, Bergeron MG. (2002). "Sodium lauryl sulfate, a microbicide effective against enveloped and nonenveloped viruses.". Curr Drug Targets 3 (1): 17–30. doi:10.2174/1389450023348037. PMID 11899262. 
  6. ^ Piret J, Lamontagne J, Bestman-Smith J, Roy S, Gourde P, Désormeaux A, Omar RF, Juhász J, Bergeron MG. (2000). "In vitro and in vivo evaluations of sodium lauryl sulfate and dextran sulfate as microbicides against herpes simplex and human immunodeficiency viruses.". J Clin Microbiol 38 (1): 110–9. PMC 86033. PMID 10618073. 
  7. ^ Watanabe K, Imai S, Mori YH (September 2005). "Surfactant effects on hydrate formation in an unstirred gas/liquid system: An experimental study using HFC-32 and sodium dodecyl sulfate.". Chemical Engineering Science 60 (17): 4846–4857. doi:10.1016/j.ces.2005.03.043. 
  8. ^ The acronym expands to "sodium dodecyl sulfate-polyacrylamide gel electrophoresis.
  9. ^ SODIUM LAURYL SULFATE. Chemical Land21 
  10. ^ European Pharmacopoeia: Sodium laurilsulfate
  11. ^ a b NICNAS - Sodium Lauryl Sulfate
  12. ^ Agner T (1991). "Susceptibility of atopic dermatitis patients to irritant dermatitis caused by sodium lauryl sulphate". Acta Derm. Venereol. 71 (4): 296–300. PMID 1681644. 
  13. ^ Nassif A, Chan SC, Storrs FJ, Hanifin JM (November 1994). "Abnormal skin irritancy in atopic dermatitis and in atopy without dermatitis". Arch Dermatol 130 (11): 1402–7. doi:10.1001/archderm.130.11.1402. PMID 7979441. 
  14. ^ Löffler H, Effendy I (May 1999). "Skin susceptibility of atopic individuals". Contact Derm. 40 (5): 239–42. doi:10.1111/j.1600-0536.1999.tb06056.x. PMID 10344477. 
  15. ^ a b Herlofson BB, Barkvoll P (October 1994). "Sodium lauryl sulfate and recurrent aphthous ulcers. A preliminary study". Acta Odontol. Scand. 52 (5): 257–9. doi:10.3109/00016359409029036. PMID 7825393. 
  16. ^ Chahine L, Sempson N, Wagoner C (December 1997). "The effect of sodium lauryl sulfate on recurrent aphthous ulcers: a clinical study". Compend Contin Educ Dent 18 (12): 1238–40. PMID 9656847. 
  17. ^ Adams, Michael J. Characterization and Measurement of Flavor Compounds: Substances That Modify the Perception of Sweetness. ACS Publications, 1985, p.11-25. Abstract online at http://pubs.acs.org/doi/abs/10.1021/bk-1985-0289.ch002
  18. ^ Clark, Josh. "Why does orange juice taste bad after you brush your teeth?" Discovery Health. http://health.howstuffworks.com/wellness/beauty-hygiene/orange-juice-toothpaste.htm