Mitos asal mula bahasa

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari

Telah banyak catatan mengenai asal mula bahasa dalam dunia mitologi dan cerita-cerita lainnya mengenai asal mula bahasa, perkembangan dari bahasa dan alasan di belakang beragamnya bahasa pada saat sekarang.

Mitos-mitos ini memiliki kesamaan, tema yang berulang-ulang, dan perbedaan, diturunkan lewat tradisi lisan. Beberapa mitos malah lebih dari hanya cerita dan kepercayaan, dengan beberapa kejadian memiliki interpretasi literal bahkan sampai sekarang. Tema yang berulang dalam mitos perbedaan bahasa adalah banjir dan bencana. Banyak cerita mengatakan sebuah banjir yang menyebabkan masyarakat di Bumi ini menyebar keseluruh permukaan planet. Hukuman oleh tuhan atau dewa-dewi karena melakukan kesalahan pada pihak manusia juga merupakan tema yang berulang.

Mitos mengenai asal mula bahasa secara garis besar digolongkan atau dicatat ke dalam mitos penciptaan, walaupun mereka berbeda. Beberapa cerita mengatakan pencipta memberkahi bahasa sejak dari awalnya, yang lain menganggap bahasa sebagai hadiah kemudian hari, atau sebagai kutukan.

Alkitab Ibrani[sunting | sunting sumber]

"confusion of tongues" (Kebingungan bahasa) oleh Gustave Doré, sebuah ukiran kayu yang menggambarkan Menara Babel dari mitos Abrahamik.

Alkitab Ibrani mengatribusikan asal mula bahasa hanya pada manusia, dengan Adam diperintahkan untuk memberi nama mahluk-mahluk yang Tuhan telah ciptakan.

Salah satu contoh yang terkenal yaitu Menara Babel bagian dari Kitab Kejadian. Di dalamnya dikatakan, Tuhan menghukum manusia karena kesombongan dan membangkang dengan memberikan kebingungan bahasa.

Dan Ia berfirman: "Mereka ini satu bangsa dengan satu bahasa untuk semuanya. Ini barulah permulaan usaha mereka; mulai dari sekarang apapun juga yang mereka rencanakan, tidak ada yang tidak akan dapat terlaksana.
Baiklah Kita turun dan mengacaubalaukan di sana bahasa mereka, sehingga mereka tidak mengerti lagi bahasa masing-masing."[1]

Hal ini menjadi cerita standar pada masa Pertengahan Eropa, direfleksikan dalam tulisan pada abad pertengahan seperti kisah dari Fénius Farsaid.

India[sunting | sunting sumber]

Vāc adalah dewi bahasa Hindu, atau "personifikasi bicara". Sebagai "penutur suci"-nya brahman, dia memiliki peran kosmologikal sebagai "Ibu dari Veda". Dia digambarkan sebagai pasangan dari Prajapati, yang juga direpresentasikan sebagai asal dari Veda. [1] Dia juga tercampur dengan Sarasvati dalam mitologi Hindu selanjutnya.

Amerika[sunting | sunting sumber]

Doré's "The Deluge". Manusia dan hewan liar berlindung di sebuah batu yang terisolasi selama Banjir Besar, sebuah corak dari mitos penciptaan dari seluruh dunia.

Mirip dengan mitologi dari peradaban dan kultur lainnya yang mengatakan sebuah Banjir Besar, beberapa Suku Indian mengatakan sebuah banjir besar melanda dunia. Setelah air surut, penjelasan beragam diberikan mengenai keragaman baru dalam berbicara.

Mesoamerika[sunting | sunting sumber]

Kisah Aztek menyokong bahwa hanya seorang laki-laki, Coxcox, dan seorang wanita, Xochiquetzal, yang bertahan, setelah terombang-ambing dalam sebuah patahan pohon. Mereka menemukan daratan dan melahirkan banyak anak yang mana pertama kalinya tidak dapat berbicara, tapi kemudian, lewat kedatangan seekor merpati yang diberkahi dengan bahasa, walaupun setiap mereka diberikan perkataan yang berbeda mereka tidak dapat memahami satu dengan yang lain. [2]

Amerika Utara[sunting | sunting sumber]

Banjir yang sama juga dijelaskan oleh orang-orang Kaska dari Amerika Utara, namun, seperti kisah Babel, orang-orang sekarang "tersebar secara luas di permukaan dunia". Pencerita dari kisah tersebut menambahkan bahwa hal ini menjelaskan banyaknya perbedaan antara populasi, banyaknya suku-suku dan banyaknya bahasa, "Sebelum banjir, hanya ada satu pusat; di mana seluruh orang hidup bersama dalam satu negara, dan berbicara satu bahasa." [3]

Mereka tidak tahu di mana orang lain hidup, dan mungkin saja menganggap mereka sendiri yang bertahan hidup. Tidak lama kemudian, dalam pengembaraannya mereka bertemu orang dari tempat lain, mereka berbicara bahasa yang berbeda, dan tidak memahami satu dengan yang lainnya.

Kisah Iroguois menceritakan dewa Taryenyawagon (Penjaga Surga) memandu pengikutnya dalam sebuah perjalan dan mengarahkan mereka supaya untuk menetap di tempat yang berbeda saat bahasa mereka berubah. [4]

Mitos Salishan mengatakan bagaimana sebuah percakapan menjadi perbedaan dalam bahasa. Dua orang berargumentasi apakah suara senandung tinggi yang menyertai bebek saat terbang adalah dari udara yang melewati paruh atau dari kepakan sayap. Percakapan tersebut tidak terselesaikan oleh si pemimpin, yang kemudian mengadakan sidang dari semua pemimpin dari desa sekitar. Sidang ini menghasilkan argumen yang tidak ada seorang pun yang bersetuju, dan akhirnya pertengkaran mengakibatkan perpecahan di mana beberapa orang berpindah jauh tempat. Dari waktu ke waktu mereka perlahan berbicara berbeda, dan akhirnya bahasa lain terbentuk. [5]

Dalam mitologi Yuki, orang asli California, si pencipta, ditemani oleh Coyote membuat bahasa sebagaimana ia membuat suku-suku di berbagai tempat. Ia meletakkan tongkat yang berubah menjadi orang pada saat fajar.

Mengikuti perjalanan panjang dari pencipta, yang masih ditemani oleh Coyote, dalam kursus di mana ia membuat suku-suku di lokasi yang berbeda, dalam setiap kasus dengan meletakkan tongkat dalam rumah setiap malam, memberikan mereka adat mereka dan cara hidup, dan bahasa mereka sendiri.[6]

Amazon, Brazil[sunting | sunting sumber]

Orang Ticuna dari Amazon Atas mengatakan bahwa semua orang pada awalnya dari satu suku, berbicara bahasa yang sama sampai dua telur kolibri di mana, tidak diberitahu oleh siapa. Kemudian suku tersebut berpisah menjadi kelompok-kelompok dan tersebar jauh dan luas. [7]

Eropa[sunting | sunting sumber]

Dalam Yunani Kuno ada sebuah mitos yang mengatakan bahwa selama bertahun-tahun manusia hidup tanpa aturan di bawah pimpinan Zeus dan berbicara satu bahasa, dianugrahi kepada mereka oleh dewa dan dewi kepintaran, Philarios dan Philarion. Dewa Hermes membawa perbedaan dalam berbicara dan bersamaan dengan itu perpisahan menjadi berbangsa-bangsa dan perselisihan pun terjadi. Zeus kemudian mundur dari posisinya, menjadikannya sebagai raja pertama manusia, Phoroneus.

Dalam Mitologi Norse, kajian bicara adalah sebuah hadiah dari anak ketiga dari Borr, yang juga memberikan pendengaran dan penglihatan.

Saat anak-anak dari Borr berjalan sepanjang untai laut, ia menemukan dua pohon, dan mengambil pohon tersebut dan membentuknya menjadi manusia: yang pertama memberikan roh dan hidup; yang kedua, kecerdasan dan perasaan; yang ketiga bentuk, bicara, pendengaran, dan penglihatan.

Afrika[sunting | sunting sumber]

Wa-Sania, masyarakat asli Bantu dari Afrika Timur memiliki kisah bahwa sejak permulaan, masyarakat bumi hanya mengetahui satu bahasa, tapi selama kelaparan yang parah, kemarahan meliputi orang-orang, menyebabkan mereka berkelana di segala arah, mengoceh kata-kata yang aneh, dan inilah bagaimana perbedaan bahasa terjadi. [2]

Dewa yang berbicara semua bahasa adalah sebuah tema di antara mitologi Afrika, contohnya yaitu Eshu dari Yoruba, si penipu yang merupakan utusan dari dewa-dewi. Eshu memiliki kesamaan di Legba dari rakyat Fob dari Benin. Dewa Yoruba lain yang berbicara semua bahasa dunia adalah Orunmila, dewa ramalan. [3]

Asia Selatan dan Oceania[sunting | sunting sumber]

Polinesia[sunting | sunting sumber]

Kelompok masyarakat di pulau Hao di Polinesia mengisahkan cerita yang sama dengan Menara Babel, menceritakan Tuhan yang, "dalam kemarahan mengusir si pendiri (menara babel), meruntuhkan bangunan itu, dan mengubah bahasa mereka, sehingga mereka berbicara berbeda bahasa." [8]

Australia[sunting | sunting sumber]

Di Australia Selatan, orang-orang Encounter Bay mengatakan sebuah cerita bagaimana perbedaan bahasa datang dari kanibalisme:

Pada waktu dahulu seorang wanita tua, bernama Wurruri hidup di timur dan sering berjalan dengan sebuah tongkat besar di tangannya, untuk menyebarkan kebakaran disekitar orang lain yang tidur, tidak lama kemudian Wurruri meninggal. Gembira dengan keadaan tersebut, mereka mengirim utusan ke semua arah untuk memberikan kabar kematiannya; laki-laki, wanita dan anak-anak datang, tidak untuk meratapi, tapi untuk memperlihatkan kegembiraan mereka. Raminjerar adalah yang pertama jatuh ke bangkai dan mulai memakan daging, dan langsung mulai berbicara. Suku lainnya dari arah timur datang kemudian, memakan isi usus, yang menyebabkan mereka berbicara sedikit berbeda. Suku dari utara datang terakhir dan melahap usus dan lainnya yang tersisa, dan langsung berbicara sebuah bahasa yang lebih jauh berbeda dari Raminjerar.[9]

Kelompok lain dari Aborin Australia, Gunwinggu, menceritakan seorang dewi dalam zaman impian memberikan setiap anaknya sebuah bahasa mereka sendiri untuk bermain.

Pulau Andaman[sunting | sunting sumber]

Kepercayaan tradisional dari penduduk asli Pulau Andaman di Bay of Bengal menjelaskan bahasa adalah diberikan oleh dewa Pūluga kepada laki dan wanita pertama saat mereka berkumpul setelah banjir besar. Bahasa yang diberikan disebut dengan bojig-yâb-, yang merupakan bahasa yang digunakan sampai sekarang, berdasarkan kepercayaan mereka, oleh suku yang mendiami bagian selatan dan selatan-timur dari pertengahan Andaman. Bahasa ini disebut oleh penduduk sebagai "bahasa ibu" asal dari dialek-dialek lainnya.

Kepercayaan mereka bahkan menceritakan sebelum kematian manusia pertama,

... anak-anak mereka menjadi begitu banyak sampai-sampai rumah mereka tidak dapat lagi menampung mereka. Dengan perintah Pūluga mereka dilengkapi dengan senjata, perkakas, dan api yang mencukupi, dan mereka menyebar secara berpasangan di seluruh benua. Saat pengungsian ini terjadi Puluga memberikan setiap kelompok sebuah dialek yang berbeda.[10]

Hal tersebut menjelaskan perbedaan pada bahasa.

Lihat juga[sunting | sunting sumber]

Catatan[sunting | sunting sumber]

  1. ^ "Veda, Prajāpati and Vāc" in Barbara A. Holdrege, 'Veda in the Brahmanas', in: Laurie L. Patton (ed.) Authority, anxiety, and canon: essays in Vedic interpretation, 1994, ISBN 978-0-7914-1937-3.
  2. ^ Turner, P. and Russell-Coulter, C. (2001) Dictionary of Ancient Deities (Oxford: OUP)
  3. ^ Teit, J. A. (1917) "Kaska Tales" in Journal of American Folklore, No. 30
  4. ^ Johnson, E. Legends, Traditions, and Laws of the Iroquois, or Six Nations, and History of the Tuscarora Indians (Access date: 4 June 2009)
  5. ^ Boas, F. (ed.) (1917) "The Origin of the Different Languages". Folk-Tales of Salishan and Sahaptin Tribes (New York: American Folk-Lore Society)
  6. ^ Kroeber, A. L. (1907) "Indian Myths of South Central California" in American Archaeology and Ethnology, Vol. 4, No. 4
  7. ^ Carneiro, R. (2000) "Origin Myths" in California Journal of Science Education
  8. ^ Williamson, R. W. (1933) Religious and Cosmic Beliefs of Central Polynesia (Cambridge), vol. I, p. 94.
  9. ^ Meyer, H. E. A., (1879) "Manners and Customs of the Aborigines of the Encounter Bay Tribe", published in Wood, D., et al., The Native Tribes of South Australia, (Adelaide: E.S. Wigg & Son) (tersedia online di sini)
  10. ^ Man, E. H. (1883) "On the Aboriginal Inhabitants of the Andaman Islands. (Part II.)" in The Journal of the Anthropological Institute of Great Britain and Ireland, Vol. 12, pp. 117–175.

Pranala luar[sunting | sunting sumber]