Lorong Waktu (serial televisi)

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Lorong Waktu
Lorongwaktu3.jpg
Poster Lorong Waktu 3
Format Serial religi
Pembuat PT Demi Gisela Citra Sinema
Penulis Wahyu HS
Sutradara Deddy Mizwar
Pemeran Deddy Mizwar
Hefri Olifian
Jourast Jordy
Ramdhani Qubil AJ
Opie Kumis
Komposer lagu tema Anes Bali
Chossy Pratama (hanya Lorong Waktu 2)
Negara  Indonesia
Jumlah musim 6
Jumlah episode 480
Produksi
Produser eksekutif Deddy Mizwar
Produser R. Giselawaty Wiranegara
Durasi 20 menit
Siaran
Saluran asli Bendera Indonesia SCTV (Lorong Waktu 1-6)
Bendera Indonesia TVRI (Lorong Waktu 3)
Bendera Indonesia TPI(Lorong Waktu 4)
Periode siaran Senin, 6 Desember 1999–Senin, 10 Juli 2006

Lorong Waktu adalah sinetron Ramadan yang pertama kali ditayangkan SCTV pada tahun 1999. Setelah itu dilanjutkan Lorong Waktu 2 (2000), Lorong Waktu 3 (2002), Lorong Waktu 4 (2003), Lorong Waktu 5 (2004), dan Lorong Waktu 6 (2006).

Sinetron Islami bernuansa fiksi ilmiah ini diproduksi oleh PT Demi Gisela Citra Sinema dan disutradarai oleh aktor kondang Indonesia, Deddy Mizwar, berkolaborasi dengan penulis skenario, Wahyu HS. Serial ini merupakan salah satu sinetron terlaris di Indonesia pada akhir 1990-an.

Sinopsis[sunting | sunting sumber]

Lorong Waktu 1 (1999)[sunting | sunting sumber]

Lorong Waktu bercerita tentang penemuan sebuah mesin waktu oleh Ustad Addin (Adjie Pangestu). Ustad Addin sendiri merupakan murid sekaligus anak angkat dari Haji Husin (Deddy Mizwar). Selain Ustad Addin, Haji Husin mempunyai seorang murid cilik bernama Zidan (Jourast Jordy).

Selanjutnya kisah ini berlanjut dengan diisi dakwah dan petuah bagi kaum Muslimin.

Lorong Waktu 2 (2000)[sunting | sunting sumber]

Pada musim ini, peran Ustad Addin diambil alih oleh Dicky Chandra. Tanpa sengaja seorang pencuri berniat mencuri kotak amal [[masjid]. Pencuri itu bernama Hafid (Opie Kumis). Namun Hafid mengurungkan niatnya mencuri setelah mendengar nasihat dan ceramah Haji Husin.

Di lain waktu, Haji Husin yang sudah tua berniat mencari murid tambahan. Dia mendapat seorang murid perempuan bernama Sabrina (Christy Jusung) yang ternyata pernah bertemu dengan Zidan di lorong waktu sebagai peramal. Ternyata Haji Husin yang duda naksir dengan Sabrina. Di lain pihak, anak asuhnya yaitu Ustad Addin juga ternyata naksir. Jadilah guru dan murid ini bersaing mendapatkan Sabrina. Akhirnya Haji Husin menyerah dan membiarkan Ustad Addin untuk melamar Sabrina.

Sementara Hafid akhirnya ditarik Haji Husin untuk menjadi salah satu muridnya. Pada akhir serial, Ustad Addin melamar Sabrina dan diterima oleh orang tua angkat Sabrina.

Lorong Waktu 3 (2002)[sunting | sunting sumber]

Setelah menikah dengan Sabrina, mantan paranormal Ustadz Addin (Hefri Olifian) terus mengembangkan proyek lorong waktunya untuk mengirim anggota kelompoknya menjelajah ke masa lalu, masa sekarang, dan masa datang. Meski demikian, proyek tersebut masih dirahasiakan.

Dalam perjalanan menembus lorong waktu itulah, Haji Husin dan Zidan serta beberapa murid lainnya menemui berbagai kejadian maupun tokoh-tokoh unik yang secara tidak langsung memberikan pelajaran berharga dalam menghayati nilai-nilai kehidupan yang lebih baik. Mulai dari kisah pencuri kain kafan, pedagang kecil yang doanya lebih makbul ketimbang imam masjid, pemuda yang jujur yang direpotkan oleh sebutir jeruk, Mpu Gandrung yang merupakan saudara jauhnya Mpu Gandring yang membuat keris kyai unik bernama Aa Gyman, dukun setan, dan banyak lainnya.

Sementara itu, dua murid Haji Husin yang sekaligus bertugas sebagai pengurus masjid, Havid dan Jambrong pada perkembangannya jatuh cinta pada gadis yang sama. Keseharian masjid diwarnai aneka muslihat untuk berkompetisi merebut cinta sang gadis yang bernama Adinda (Irma de Vanty). Haji Husin sendiri mulai agak bosan menduda, hatinya mulai berbunga-bunga ketika seorang janda muda berkeluh kesah padanya meminta nasihat. Di bagian lain, Zidan yang tengah mememasuki masa transisi dari anak-anak menjadi remaja, sikapnya mulai berubah. Zidan mulai mandiri dan cenderung berontak atas aturan yang selama ini ia turuti, tanpa terkecuali kepada ibunya. Beruntung selalu ada orang yang ikhlas yang selalu menjewer kupingnya setiap kali ia bandel, yaitu Haji Husin.[1]

Lorong Waktu 4 (2003)[sunting | sunting sumber]

Suasana masjid sedang sentimentil, ada tiga orang yang tengah memasuki fase-fase rawan dalam hidupnya. Orang pertama adalah Havid yang rencana pernikahannya dengan Adinda mengalami pengunduran berkali-kali karena kakek Adinda sebagai pemegang keputusan tertinggi di keluarga besarnya belum bisa memutuskan siapa yang akan ia tunjuk sebagai calon suami cucunya. Kebetulan ia sendiri sedang sakit. Setiap kali didesak untuk mengambil keputusan, selalu ia bilang, “Gue udeh mau mati, masih sempet-sempetnya lu mikirin kawin”. Walhasil, tidak ada lagi yang berani menanyakan hal tersebut. Posisi Havid dan Adinda menjadi terombang-ambing dalam ketidakpastian.[2]

Orang kedua yang memasuki fase rawan adalah Sabrina. Istri Ustadz Addin ini sedang hamil muda dan menjadi sangat manja. Lazimnya wanita Indonesia kalau sedang hamil, Sabrina pun ngidam. Sebagai suami dan calon ayah yang bertanggung jawab, Addin berusaha memenuhi tuntutan ngidam istrinya. Jika Addin kelihatan keberatan, maka Sabrina akan mengeluarkan kata-kata mujarab para ibu hamil, "Ini 'kan permintaan bayi." Kesibukan Addin bertambah selain mengurus ulak-alik perjalanan di lorong waktu, ia pun mulai akrab dengan mangga muda, rujak, menemani Sabrina duduk di halte menonton lalu lintas, hingga kadang ia harus mengenakan baju polka dot demi memenuhi "permintaan bayi".

Pada akhir cerita, muncul kejutan lain. Mantan narapidana dan teman Jambrong dan Hafid yang insyaf bernama Jagur (Asrul Dahlan) datang dan melamar untuk menjadi murid Haji Husin. Haji Husin menerima, namun kekhawatiran muncul di hati Jambrong dan Hafid, karena Jagur adalah seorang penjahat. Namun ternyata mereka salah besar, sebab Jagur telah 100% bertobat dari semua kejahatannya. Bahkan dia meminta Zidan untuk menghapus tato di tubunya dengan cara disetrika.

Lorong Waktu 5 (2004)[sunting | sunting sumber]

Tak banyak yang berubah dari Lorong Waktu 5, namun yang pasti Jambrong dan Hafid telah berkeluarga. Sementara peran Sabrina yang dipegang oleh Christy Jusung kali ini diambil alih oleh Aditya Novika.

Perubahan signifikan mungkin terjadi pada perangkat komputer. Pada kisah sebelumnya, komputer Lorong Waktu meenggunakan komputer meja, kali ini Ustad Addin memakai komputer jinjing.

Lorong Waktu 6 (2006)[sunting | sunting sumber]

Jalan cerita Lorong Waktu 6 tak banyak berubah, namun durasi sinetron ini meningkat menjadi satu jam. Semua pemeran tetap sama, kecuali peran Sabrina yang kembali berubah. Kali ini peran Sabrina diisi oleh Zaskia Adya Mecca.

Dikarena banyak kritik dari pemirsa yang kurang suka dengan komputer jinjing yang dipakai, maka Deddy Mizwar memutuskan kembali menggunakan komputer ala NASA yang dipakai di Lorong Waktu 1-4.

Pemeran[sunting | sunting sumber]

Pemeran utama[sunting | sunting sumber]

Peran Aktor Keterangan
Haji Husin Deddy Mizwar
Ustadz Addin Adjie Pangestu Lorong Waktu 1
Dicky Chandra Lorong Waktu 2
Hefri Olifian Lorong Waktu 3-6
Zidan Jourast Jordy
Sabrina Christy Jusung Lorong Waktu 2-4
Aditya Novika Lorong Waktu 5
Zaskia Adya Mecca Lorong Waktu 6
Havid Opie Kumis
Jambrong Ramdhani Qubil AJ
Jagur Asrul Dahlan
Adinda Irma de Vanty Lorong Waktu 3-5
Sofia Inneke Koesherawati

Bintang tamu[sunting | sunting sumber]

Lagu tema[sunting | sunting sumber]

  • Maka Jadilah (Lorong Waktu 1, ciptaan Anes Bali)[3]
  • KepadaMu Allah (Lorong Waktu 2, ciptaan Chossy Pratama)
  • Karunia (Lorong Waktu 3, ciptaan Anes Bali)[4]
  • Bening (Lorong Waktu 4, ciptaan Anes Bali)[5]
  • Bismillah (Lorong Waktu 5, ciptaan Anes Bali)[6]

Kritik[sunting | sunting sumber]

Tak selamanya penayangan sinetron selalu berjalan mulus. Demikian juga yang terjadi dengan Lorong Waktu. Meskipun dianggap terbaik oleh beberapa kalangan penonton, namun ada juga yang mengkritik serial ini.

Kebanyakan mereka yang mengkritik menganggap bahwa serial ini melenceng dari kaidah Islam tentang waktu. Manusia tidak bisa melihat masa lalu atau masa depan. Mereka mengambil referensi ini dari ucapan Emha Ainun Nadjib yang mengatakan, "hidup itu ibarat kita berjalan di kegelapan, kita tidak akan tahu apa yang akan terjadi semenit kemudian."

Bahkan beberapa ustad dan kyai menganggap bahwa serial ini tidak relevan dengan Alquran yang menjelaskan bahwa manusia tidak dapat melihat atau mengubah masa depannya dengan suatu alat. Dan hanya Allah yang menentukan jalan hidup manusia. Manusia memang boleh berusaha, tapi Allah yang menentukan segalanya.

Namun di balik semua itu, Lorong Waktu tergolong sinetron Islami bernuansa fiksi ilmiah terbaik karya bangsa Indonesia. Deddy Mizwar dianggap sebagai pembaharu sinetron, sebab memang sebelumnya belum pernah ada rumah produksi di Indonesia yang pernah membuat sinetron seperti ini. Lorong Waktu dianggap mengadaptasi film Back to the Future karya Steven Spielberg, dan film-film yang menggunakan mesin waktu dari Hollywood lainnya.

Referensi[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]