Kabupaten Kotabaru

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Kabupaten Kotabaru
Lambang Kabupaten Kotabaru
Lambang Kabupaten Kotabaru
Moto: Sa-ijaan
artinya:Semufakat, satu hati dan se-iya sekata


Lokasi Kalimantan Selatan Kabupaten Kotabaru.svg
Peta lokasi Kabupaten Kotabaru
Koordinat: 114°19'13" - 116°33'28" BT
101°21'49" - 04°10'14" LS
Provinsi Kalimantan Selatan
Ibu kota Kotabaru
Pemerintahan
 - Bupati H. Irhami Ridjani, S.Sos, M.Si
 - DAU Rp. 564.592.305.000.-(2013)[1]
Luas 9.442,46 km2
Populasi
 - Total 290.142 jiwa (2010)
 - Kepadatan 30,73 jiwa/km2
Demografi
 - Kode area telepon 0518
Pembagian administratif
 - Kecamatan 20
 - Kelurahan 195
 - Situs web http://www.kotabarukab.go.id/

Kabupaten Kotabaru adalah salah satu kabupaten di provinsi Kalimantan Selatan, Indonesia. Ibu kota kabupaten ini terletak di Kota Kotabaru. Kabupaten ini merupakan salah satu kabupaten pertama dalam provinsi Kalimantan dahulu. Dan pada masa Hindia Belanda merupakan Afdeeling Pasir en de Tanah Boemboe dengan ibukota Kota Baru. Kabupaten ini memiliki luas wilayah 9.442,46 km² dan berpenduduk sebanyak 290.142 jiwa (hasil Sensus Penduduk Indonesia 2010) dengan nelayan laut sebanyak 15.961 jiwa. Motto daerah ini adalah "Sa-ijaan" (bahasa Banjar) yang memiliki arti: Semufakat, satu hati dan se-iya sekata.

Arti Lambang Daerah Kabupaten Kotabaru[sunting | sunting sumber]

Arti Lambang Daerah Kabupaten Kotabaru adalah sebagai berikut:

  • Lambang daerah berbentuk perisai segi lima, melambangkan ketuhanan dan pertahanan rakyat.
  • Lima buah sudut pada perisai, melambangkan kelima sila dari Pancasila.
  • Sisi atas berbentuk busur, gambaran dinamika dan stamina rakyat.
  • Sisi samping berbentuk tegak lurus, menggambarkan sifat gotong royong, kejujuran dan keadilan.
  • Sisi bawah perisai berbentuk lancip, menggambarkan suatu tujuan untuk membina masyarakat adil dan makmur.
  • Garis tebal berwarna kuning emas pada sisi dalam sekeliling perisai, melambangkan persatuan rakyat.
  • Dasar perisai berwarna merah, menggambarkan sifat keberanian.
  • Garis kuning tebal yang membagi dua lukisan bagian atas dan bawah, menggambarkan bidang agraris pertanian (padi).
  • Ikan todak, menggambarkan hasil tradisianal dari sektor prikanan kelautan.
  • Lautan dengan garis gelombang, menggambarkan panorama alam dan gelora semangat rakyat.

Letak Wilayah[sunting | sunting sumber]

Letak Kotabaru pada 01°21'49" sampai dengan 04°10'14" Lintang Selatan dan 114°19'13" sampai dengan 116°33'28" Bujur Timur.

Letak Kotabaru di sebelah timur laut provinsi Kalimantan Selatan, yaitu:

Utara Kabupaten Pasir, Kalimantan Timur
Selatan Kabupaten Tanah Bumbu dan Laut Jawa
Barat Kabupaten Balangan, Hulu Sungai Tengah, Banjar dan Tanah Laut
Timur Selat Makassar

Suku Bangsa[sunting | sunting sumber]

Suku bangsa yang mendiami daerah ini antara lain:

Kepulauan[sunting | sunting sumber]

Panorama Gunung Jambangan.

Kabupaten Kotabaru memiliki sekitar 110 pulau kecil, 31 di antaranya belum bernama. Kecamatan Kelumpang Tengah memiliki 21 pulau kecil, Kecamatan Pulau Sebuku memiliki 10 pulau kecil, Kecamatan Pulau Laut Selatan memiliki 23 pulau kecil dan lain-lain.

Pulau-pulau di Kotabaru diantaranya adalah:

  1. Kepulauan Laut Kecil
  2. Kepulauan Samer Gelap
  3. Pulau Laut
  4. Pulau Sebuku
  5. Pulau Kerayaan
  6. Pulau Kerayaan Kecil
  7. Pulau Kerasian
  8. Pulau Kerumputan
  9. Pulau Serudung
  10. Pulau Birah-birahan
  11. Pulau Semut (Kalsel)
  12. Pulau Kelambau di Desa Labuan Barat, Pulau Sembilan, Kotabaru
  13. Pulau Manti
  14. Pulau Manti Kecil
  15. Pulau Keluang
  16. Pulau Perdamaian Besar
  17. Pulau Perdamaian Kecil
  18. Pulau Haur
  19. Pulau Samer Gelap
  20. Pulau Nangka
  21. Pulau Nangka Kecil
  22. Pulau Tabuan
  23. Pulau Tanah Merah
  24. Pulau Lari Larian, berjarak 60 mil dari pulau Sebuku dan 80 mil dari Sulawesi Barat, karena itu pulau ini sempat diklaim Sulawesi Barat.

Tanjung yang terdapat di Kotabaru:[2]

  1. Tanjung Dewa
  2. Tanjung Pamukan
  3. Tanjung Lolak
  4. Tanjung Pengujan
  5. Tanjung Kandang Haur
  6. Tanjung Urang

Lagu Daerah dan Upacara Adat[sunting | sunting sumber]

Lagu daerah dari kabupaten Kotabaru adalah:

Upacara adat di Kabupaten Kota Baru antara lain:

Peta Kabupaten Kotabaru[sunting | sunting sumber]

Petaadm-kotabaru.jpg

Keterangan nama-nama kecamatan sesuai dengan daftar dan nomor peta adalah sebagai berikut:

  1. Kecamatan Pamukan Selatan
  2. Kecamatan Pamukan Utara
  3. Kecamatan Pamukan Barat
  4. Kecamatan Sungai Durian
  5. Kecamatan Kelumpang Barat
  6. Kecamatan Sampanahan
  7. Kecamatan Kelumpang Utara
  8. Kecamatan Kelumpang Tengah
  9. Kecamatan Kelumpang Hulu
  10. Kecamatan Hampang
  11. Kecamatan Kelumpang Selatan
  12. Kecamatan Kelumpang Hilir
  13. Kecamatan Pulau Laut Utara
  14. Kecamatan Pulau Laut Tengah
  15. Kecamatan Pulau Laut Timur
  16. Kecamatan Pulau Sebuku
  17. Kecamatan Pulau Laut Barat
  18. Kecamatan Pulau Laut Selatan
  19. Kecamatan Pulau Laut Kepulauan
  20. Kecamatan Pulau Sembilan
  21. Kecamatan Pulau Laut Tanjung Selayar

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Menurut Hikayat Banjar pada abad ke-17, daerah-daerah di tenggara Kalimantan yang takluk kepada kerajaan Banjar diantaranya Pamukan dan Laut Pulau. Pada masa pemerintahan Sultan Mustain Billah (Marhum Panembahan), ia menyuruh Kiai Martasura ke Makassar/Gowa untuk menjalin hubungan bilateral kedua negara pada masa Karaing Patigaloang/I Mangadacinna Daeng Sitaba Karaeng Pattingalloang Sultan Mahmud yaitu Raja Tallo yang menjabat mangkubumi bagi Sultan Malikussaid Raja Gowa 1638-1654, dimana Karaing Patigaloang telah memohon izin untuk meminjam kawasan Pasir (termasuk Kabupaten Kotabaru) kepada Marhum Panembahan sebagai tempat berdagang dan ia telah bersumpah apabila anak cucunya hendak menganiaya negeri Banjar maka akan dibinasakan Allah.

Maka diberikanlah daerah-daerah yang ada di sepanjang kawasan tenggara dan timur pulau Kalimantan sebagai tempatnya berdagang. Peristiwa pada abad ke-17 ini menunjukkan pengakuan Makassar (Gowa-Tallo) mengenai kekuasaan Kesultanan Banjar terhadap daerah di sepanjang tenggara dan timur pulau Kalimantan. Pada masa itu Sultan Makassar lebih terfokus untuk menaklukkan kerajaan-kerajaan di kawasan timur Nusantara. Tetapi pada abad ke-18 Raja Bugis-Wajo, La Madukelleng sempat menawan daerah Kutai dan Pasir serta berupaya menyerang Banjarmasin. Kerajaaan Pamukan yang terletak di sungai Cengal merupakan pemukiman pertama di daerah ini yang didiami suku Dayak Samihim/Dusun Maanyan yang dihancurkan oleh serangan dari laut. Suku Dayak kemudian meminta Sultan Banjar untuk mengirim seorang Pangeran yang akan memimpin mereka di wilayah bekas kerajaan Pamukan. Pangeran Dipati Tuha bin Sultan Saidullah kemudian diutus ke daerah ini dan ia menetap di sungai Bumbu di daerah Sampanahan. Kerajaan ini kemudian dikenal sebagai kerajaan Tanah Bumbu yang wilayahnya meliputi Cengal, Sampanahan, Manunggul, Bangkalaan, Cantung, Buntar Laut, dan Batulicin.[3] Mr. J. C. M. Radermacher dalam ekspedisi tahun 1780 melaporkan seorang Pangeran yang berkuasa di Sampanahan.[4] Pangeran ini diidentifikasi sebagai Pangeran Prabu/Sultan Sepuh bin Daeng Malewa/Pangeran Dipati yang menguasai daerah Sampanahan, Bangkalaan, Manunggul dan Cengal.

Raja Tanah Bumbu[5]

  1. Pangeran Dipati Tuha/Raden Basus bin Sultan Saidullah (1660-1700)
  2. Pangeran Mangu bin Pangeran Dipati Tuha (1700-1740)
  3. Ratu Mas binti Pangeran Mangu (1740-1780)[6]
  4. Kerajaan Tanah Bumbu berakhir karena wilayahnya dibagi menjadi wilayah kerajaan kecil sejak 1780. Ratu Intan I anak Ratu Mas mewarisi daerah Cantung dan Batulicin, Pangeran Prabu mewarisi Sampanahan, Bangkalaan, Manunggul dan Cengal, sedangkan Pangeran Layah mewarisi daerah Buntar-Laut.


Raja Bangkalaan[7]

  1. Pangeran Prabu/Sultan Sepuh - anak tiri Ratu Mas (1780-1800), Raja Sampanahan, Bangkalaan, Manunggul dan Cengal.
  2. Pangeran Nata bin Pangeran Prabu (1800-1820), Raja Sampanahan, Bangkalaan, Manunggul.
  3. Pangeran Seria/Ratu Agung bin Pangeran Prabu (1800-?) Raja Cengal, Sampanahan, Bangkalaan, Manunggul.
  4. Raja Gusti Besar binti Pangeran Prabu (1820-1830), Raja Bangkalaan, Manunggul, Sampanahan, Cengal, Cantung, Batulicin. Belakangan daerah Cantung diserahkan kepada Gusti Moeso dan Bangkalaan diserahkan kepada Gusti Kamir.
  5. Pangeran Muda/Gusti Kamir bin Pangeran Prabu (ditunjuk Gusti Besar sebagai Raja Bangkalaan 1830-1838)
  6. Pangeran Haji Musa bin Pangeran Haji Muhammad (Raja Bangkalaan 1838-1840), merangkap Raja Batulicin (1832-1840), kemudian keturunannya:
    1. Pangeran Jaya Sumitra bin Pangeran Musa (Raja Kusan dan Batulicin)
    2. Pangeran Abdul Kadir Kasuma bin Pangeran Musa (Raja Kusan, Batulicin dan Pulau Laut, belakangan tahun 1861 Kusan diserahkan kepada Raja Pagatan La Paliweng Arung Abdul Rahim)
    3. Pangeran Berangta Kasuma bin Pangeran Abdul Kadir Kasuma (Raja Pulau Laut dan Batulicin), menikah dengan Putri Intan Jumantan binti Pangeran Kasuma Indra bin Pangeran Kassir)
    4. Pangeran Amir Husin Kasuma bin Pangeran Berangta Kasuma (Raja Pulau Laut)
    5. Pangeran Aminullah Kasuma bin Pangeran Amir Husin Kasuma(Raja Pulau Laut)
    6. Pangeran Abdurrahman Kasuma bin Pangeran Berangta Kasuma (Penjabat Raja Pulau Laut)
  7. Raja Aji Jawa, putera Raja Gusti Besar, menjadi Raja Bangkalaan (1840-1841). Ia sebagai raja untuk 6 daerah sekaligus yaitu sebagai Raja Bangkalaan, Manunggul, Sampanahan, Cengal, Cantung, Buntar Laut. Belakangan Sampanahan diberikan kepada pamannya Gusti Ali bin Pangeran Prabu yang bergelar Pangeran Mangku Bumi.
  8. Aji Tukul/Ratu Agung/Ratu Intan II binti Aji Jawi (1845), Raja Bangkalaan, Manunggul, dan Cengal. Sedangkan Raja Aji Mandura bin Aji Jawi sebagai Raja Cantung dan Buntar Laut. Pangeran Panji bin Pangeran Haji Musa yang menikah dengan Aji Landasan binti Aji Jawi mendapatkan daerah Batulicin.
  9. Aji Pati/Pangeran Agung, suami Aji Tukul (1845-1846), Raja Bangkalaan, Manunggul, Cengal
  10. Aji Samarang/Pangeran Muda Muhammad Arifillah bin Aji Pati (1846-1883), Raja Bangkalaan, Manunggul, dan Cengal.
  11. Aji Mas Rawan/Raja Arga Kasuma bin Aji Samarang (1883-1905), Raja Bangkalaan, Manunggul, Cengal

Pada tahun 1844, distrik-distrik dalam onderafdeeling van Tanah Boemboe yaitu Pagatan, Kusan, Batulicin, Cantung dengan Buntar Laut, Bangkalaan, Sampanahan, Manunggul dan Cengal. Pada waktu itu distrik Pulau Laut belum dibentuk. Tahun 1845, Pulau Laut dan Batulicin berada di bawah pemerintah Kusan.[8] Cantung, Buntar Laut, Bangkalaan berada di Teluk Kelumpang, sedangkan Sampanahan, Manunggul dan Cengal berada di Teluk Pamukan atau Cengal.[9] Wilayah kabupaten Kotabaru hari ini merupakan gabungan wilayah bekas distrik (swapraja) pada masa kolonial Hindia Belanda, yaitu Poelau Laoet, Sampanahan, Tjangtoeng, Bangkalaan, Tjingal dan Manoenggoel.[10]

Pemilihan umum kepala daerah[sunting | sunting sumber]

Pilkada Kotabaru[sunting | sunting sumber]

Sejak reformasi 1998 dan pemberlakuan otonomi daerah, Kabupaten Kotabaru pertama kali menggelar pemilihan umum kepala daerah dan wakil kepala daerah pada tahun 2005.

Nama Pasangan Perolehan Suara[11]
Sjachrani Mataja–Fatizanolo 36.977 suara (32,06%)
Irhami–Dulman 26.759 suara (23,20%)
Tata M Anwar–Sabaruddin 23.685 suara (20,54%)
Suriatinah–Saidi Noor 14.001 suara (12,40%)
Firdaus Mansyori–Gerilyansyah Basrindu 13.901 suara (12,05%)

Sesuai dengan hasil rapat pleno terbuka rekapitulasi penghitungan suara pilkada di KPUD Kotabaru tanggal 8 Juli 2005, dari 18 kecamatan dan 190 desa yang ada di Kotabaru, pasangan Sjachrani Mataja–Fatizanolo ditetapkan sebagai bupati dan wakil bupati Kotabaru terpilih untuk masa jabatan 20052010.

Pada tanggal 2 Juni 2010, Kotabaru kembali menggelar pemilu kada yang juga bersamaan dengan Pilgub Kalimantan Selatan dan pilkada-pilkada lainnya di kabupaten/kota di Kalimantan Selatan. Empat pasangan ditetapkan sebagai kandidat calon pemimpin Kabupaten Kotabaru.

No. Nama Pasangan Perolehan Suara[12][13]
1 Irhami Ridjani–Rudy Suryana 43.358 suara (33,38%)
2 Alamsyah–Abdul Haris 42.392 suara (32,64%)
3 Bahruddin–Mursyid Arsyad 20.021 suara (15,41%)
4 Abdul Hakim–Sugiannor 24.111 suara (18,56%)

Namun dengan persentase yang tipis antara pasangan nomor 1 dan nomor 2, maka pasangan nomor 2, yakni Alamsyah-Abdul Haris menggugat ke Mahkamah Konstitusi[14] karena menduga terjadinya kecurangan dalam pilkada Kotabaru. Namun, gugatan itu akhirnya ditolak oleh MK dalam sidang keempat kalinya karena tidak terbukti adanya pelanggaran sistematis dan terstruktur.[15]

Dengan demikian, pasangan Irhami-Rudy resmi menjadi bupati dan wakil bupati Kotabaru terpilih. Pelantikan dilaksanakan pada tanggal 10 Agustus 2010 oleh gubernur Rudy Ariffin di gedung Mahligai Pemuda, Kotabaru.[16]

Referensi[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]