India-Indonesia

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Suku India-Indonesia
இந்தியர்கள் இந்தோனேஷியா
इंडोनेशिया में भारतीयों
India-Indonesia.jpg
Raam Punjabi, Ayu Azhari, H. S. Dillon, Sarah Azhari
Jumlah populasi

120.000[butuh rujukan]

Kawasan dengan konsentrasi signifikan
Aceh, Padang, Sumatera Utara, Bengkulu, Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, Nusa Tenggara Barat
Bahasa
Hindi, Tamil, Indonesia, dan lain-lain
Agama
Hindu, Sikh, Islam, Buddha, Jain, Kristen
Kelompok etnik terdekat
bangsa Arya, Orang Punjabi, Bali dan Tamil

Ada beberapa kelompok suku India-Indonesia yang telah lama menetap di Indonesia. Kelompok suku masyarakat Tamil dari India Selatan banyak terdapat di daerah Sumatera Utara (Medan, Pematang Siantar, dll). Banyak dari mereka yang didatangkan oleh pemerintah kolonial Inggris untuk bekerja di perkebunan-perkebunan yang dibuka di daerah tersebut. Marimutu Sinivasan adalah seorang pengusaha India-Indonesia yang berasal dari suku Tamil, yang dilahirkan di Sumatera Utara.

Di Jakarta, masyarakat Tamil-Indonesia mempunyai organisasi yang bernama Indonesia Tamil Tamram yang bergerak dalam pelestarian bahasa dan budaya Tamil, membangun saling pengertian antara orang India dan Indonesia, dan memberikan kesempatan belajar bagi anak-anak Tamil di Indonesia untuk belajar bahasa ibu mereka. Untuk maksud tersebut, organisasi ini mengadakan kursus bahasa dan budaya, membagikan literatur dalam bahasa Tamil, menyelenggarakan berbagai kegiatan terkait, seperti debat, drama, tarian, dan musik, mendatangkan artis-artis terkenal dari India dalam bidang tari, musik, drama, dll.[1]

Kelompok suku masyarakat Punjabi dari India Utara banyak terdapat di kota-kota besar di Jawa, seperti Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, dll. dan pada umumnya mereka hidup sebagai pedagang. Banyak dari mereka yang beragama Sikh. Beberapa tokoh terkemuka dari masyarakat ini misalnya adalah Raam Punjabi, raja sinetron Indonesia dan istrinya, Rakhee Punjabi, H.S. Dillon, pakar ekonomi pertanian.Kehidupan masyarakat Indonesia keturunan India dikemas dengan begitu unik dalam serial televisi "Raj's Family" di salah satu stasiun televisi swasta.

Seorang tokoh Punjabi-Indonesia yang sering terlupakan adalah Gurnam Singh, pelari maraton pada era 1960-an yang menjadi pelari tercepat Asia pada Asian Games 1962 di Jakarta.[2] Gurnam Singh juga berasal dari Sumatera Utara.

Selain itu, di Indonesia ada pula kelompok suku masyarakat Sindhi yang juga banyak berperan dalam dunia perdagangan di Indonesia. Mereka umumnya bergerak di bidang industri garmen dan tekstil, makanan dan pertanian, perfilman, intan permata dan batu-batu mulia. Masyarakat Sindhi di Indonesia mempunyai organisasi sosial yang bernama Gandhi Seva Loka yang banyak memberikan bantuan kepada komunitas mereka sendiri, serta menyelenggarakan proram orang tua asuh secara teratur. Organisasi ini juga menolong kaum fakir-miskin di kalangan masyarakat yang lebih luas, khususnya ketika ekonomi negara dilanda krisis yang berkepanjangan.

Di dalam aktivitas sosialnya, masyarakat India-Indonesia mendirikan sekolah Gandhi International School di Jakarta. Selain itu, ada pula beberapa gurdwara, tempat ibadah masyarakat Sikh, dan kuil Hindu untuk mereka yang beragama Hindu.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Dewa Harihara (gabungan Siwa dan Wisnu), dari situs Majapahit.

Berbagai kelompok masyarakat dari anak benua India telah datang ke kepulauan Indonesia sejak masa pra-sejarah. Di Bali, misalnya, berbagai sisa keramik sejak abad pertama Masehi telah ditemukan. Malah nama Indonesia sendiri berasal dari bahasa Latin Indus "India" dan bahasa Yunani nêsos "pulau" yang secara harafiah berarti 'Kepulauan India'.

Sejak abad ke-4 dan ke-5, pengaruh budaya India menjadi semakin jelas. Bahasa Sanskerta digunakan dalam berbagai prasasti. Namun sejak abad ke-7, huruf India semakin sering dipergunakan untuk menulis bahasa-bahasa setempat yang kini sudah mengandung banyak kata pinjaman bukan saja dari bahasa Sanskerta, tetapi juga dari berbagai bahasa Prakerta dan bahasa-bahasa Dravida.

Selain itu, masyarakat pribumi Indonesia pun mulai memeluk agama-agama India, khususnya Siwaisme dan Buddhisme. Namun ada pula pemeluk Wisnuisme dan Tantrisme.

Diyakini pula bahwa berbagai penduduk India juga menetap di Indonesia, bercampur gaul dan berasimiliasi dengan penduduk setempat, karena pada abad ke-9 dalam sebuah prasasti dari Jawa Tengah disebutkan nama-nama berbagai penduduk India (dan Asia Tenggara):

[...] ikang warga kilalan kling ārya singhala pandikiri drawiḍa campa kmir […] (Brandes 1913:1021).
[...] warga sipil yang dapat dimanfaatkan adalah: orang-orang dari Kalinga (India Selatan), Arya (yakni, India Utara), Sri Lanka, orang-orang dari Pandikira(?), bangsa Dravida, Campa, dan Khmer […]

Belakangan, dengan bangkitnya Islam, agama Islam pun dibawa ke Indonesia oleh orang-orang Gujarat sejak abad ke-11, bukan untuk menggantikan sistem-sistem keagamaan yang sudah ada, melainkan untuk melengkapinya.

Warisan India di Indonesia[sunting | sunting sumber]

Toko India di Pasar Baru, sebuah wilayah pemukiman kaum India di Jakarta (1920)

Warisan agama Hindu yang masih tersisa di beberapa tempat di Sumatera, Jawa, Bali, dan Kalimantan, adalah bukti-buktinya. Kisah epos Mahabharata dan kisah klasik Ramayana telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari banyak orang Indonesia. Banyak nama orang Indonesia yang menggunakan nama-nama India atau Hindu, meskipun tidak berarti bahwa mereka beragama Hindu. Nama-nama seperti "Yudhistira Adi Nugraha", "Bimo Nugroho", "Susilo Bambang Yudhoyono", semuanya mencerminkan pengaruh India yang sangat kuat di Indonesia.

Selain itu di beberapa tempat, tampak sisa-sisa keturunan masyarakat India yang telah berbaur dengan masyarakat Indonesia. Nama-nama keluarga (merga) di kalangan masyarakat Batak Karo, seperti Brahmana dan Gurusinga yang tampaknya berasal dari nama-nama India, menunjukkan warisan tersebut.

Di Jakarta terdapat daerah yang dinamai Pekojan di Jakarta Kota, dan Koja di Jakarta Utara. Kedua daerah ini dulunya adalah pemukiman orang-orang India Muslim yang disebut juga orang Khoja. Mereka umumnya berasal dari daerah Cutch, Kathiawar dan Gujarat. Mereka berasal dari kasta Ksatria. Pada abad ke-14, komunitas ini mengalami perubahan besar ketika seorang mubaligh Persia, Pir Sadruddin, menyebarkan agama Islam di antara mereka dan memberikan kepada mereka nama "Khwaja", dan dari kata ini diperoleh kata "khoja" atau "koja". "Khawaja" sendiri berarti "guru, orang yang dihormati dan cukup berada".[3]

Pengaruh India di Masakan Indonesia[sunting | sunting sumber]

Pengaruh India terhadap masakan Nusantara, dapat ditelusuri lewat hubungan antara Kesultanan Mughal di India dengan Aceh, sekitar abad 15 hingga abad 16.[4] Beberapa pengaruh Mughal diduga dapat ditemukan dalam masakan yang pedas dan bersantan. Terdapat dua pendapat berbeda soal asal usul rasa pedas ini. Pertama, sumber pedas disebutkan berasal dari cabai yang dibawa oleh bangsa Portugis ke Mughal, hingga sampai ke Nusantara. Kedua, orang India sebenarnya sudah mengenal cabai, jauh sebelum orang Portugis datang.

Masakan Indonesia dengan pengaruh India, diduga terdapat dalam megana atau cacahan sayur nangka, yang masih bisa ditemui di daerah Pekalongan, Wonosobo, dan Temanggung.[4] Masakan ini berada di wilayah-wilayah yang merupakan bekas daerah kerajaan Hindu awal di Jawa, yaitu Kalingga.

Tempat ibadah masyarakat India-Indonesia[sunting | sunting sumber]

Masyarakat India-Indonesia kontemporer di Kuil Sri Mariamman

Di bawah ini adalah tempat-tempat ibadah masyarakat India-Indonesia khususnya yang beragama Hindu dan Sikh.

  1. Satnam Sakhi Hall (Swami Teoram Satsang), JI. H. Samanhudi No. 6, Lt. 4, Jakarta Pusat. Kontak: Mr. Arjan D. Nanwani (3143618, 3147542, 3147543) atau Mr. Lachu Topandasani (3140207, 4241745)
  2. Sadhu Vaswani Centre, Jl. Kemayoran Ketapang No. 144 A Jakarta Pusat, Tel. 4209729
  3. Gurdwara Sikh Temple, Jl. Pasar Baru Timur No. 10, Jakarta Pusat, Tel. 3843338
  4. Gurdwara Sikh Temple, Jl. Melur 4 No. 8 Tanjung Priok, Jakarta Utara, Tel. 4304045
  5. Yayasan Sri Sathya Sai Baba Indonesia, Jl. Pasar Baru Selatan No. 26, Jakarta Pusat, Tel. 3842313, Fax: 3842312
  6. Anandpur Darbar, Jl. Pintu Air No. 45, Jakarta Pusat, Tel. 3457148
  7. Shiv Mandhir, Jl. Pluit Barat Raya No. 46, Jakarta 14450, Tel. dan Fax: 6616617
  8. Iskon Temple, Jl. Haji Suparman No. 10 Desa Citako, Cisarua Jalan Raya Puncak Km 81, Tel. 0251-253213
  9. Gurdwara Sosial Guru Nanak, Jl. Merpati Raya 103, Kampung Sawah, Ciputat, (dekat Bintaro Jaya IX, 2.5 km di belakang Bintaro International Hospital}, Tel. 74634688
  10. Swami Teoram Satsang, JI. Johar No. 11 Menteng, Jakarta Pusat, Tel. 3002987, 3909362
  11. Jiwan Sudhar Satsang, Gg. Kelinci I No. 15, Jakarta Pusat, Tel. dan fax: 3851451, 3521032
  12. Yayasan Radhasoami Satsang Beas Indonesia, Jl. Alternatif Cibubur, Cileungsi, Desa Jatikarya, Pondok Gede 17435, Jawa Barat, Tel. 8451612, fax 8451617.
  13. Yayasan Radhasoami Satsang Beas Indonesia, Jl. Amir Hamzah No. 3, Surabaya
  14. Dewi Mandhir, Jl. Angkasa Dalam I No. 29, Jakarta Pusat, Tel. 4243379
  15. Shanti Mandir, Jl. Batu Tulis X/14, Jakarta Pusat, Tel. 3849980
  16. Graha Sindhu (Sindhu House), Jl. Samanhudi No. 31, Jakarta Pusat, Tel. 34832751 (hunt), Fax 3850116
  17. Yayasan Seni Kehidupan (Art of Living), Jl. Danau Indah Raya Blok A-1 Kav. No. 2 Sunter Jaya, Jakarta Utara, Tel. 6513123, Fax 6513124
  18. Sri Gur Mandir, Jl. Tunjungan No. 28A, Surabaya, Tel. (031) 5314929
  19. Sherawali Mandhir, Gang Sentul No. 14 Pasar Baru, Jakarta, Tel. (021) 3810064, 3812324
  20. Mangala Vinayak Temple, Jl. Cikini 4 No. 16 - Menteng - Jakarta Pusat, Tel. 327563, 3144059

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

Catatan kaki[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Asosiasi Indonesia Tamil Tamram, dalam situs komunitas India-Indonesia. Diakses 26 Mei 2010.
  2. ^ Mantan Manusia Tercepat Asia yang Terlunta-lunta, Liputan6.com, 18 Agustus 2003. Diakses 26 Mei 2010.
  3. ^ Khoja - A Socio-Historical Perspective, The Heritage Web Site, milis diskusi komunitas Ismailiyah, 28 Januari 1996. Diakses 26 Mei 2010.
  4. ^ a b Jejak Pangan India di Nusantara Kompas, 1 Oktober 2010. Diakses 9 Juli 2011.

Pranala luar[sunting | sunting sumber]