Groupe Danone

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Groupe Danone S.A.
Jenis Société Anonyme
Simbol saham EuronextBN, OTCBB: GDNNY
Industri Pemrosesan makanan
Didirikan Barcelona, Spanyol (1919)
Kantor pusat Boulevard Haussmann
Arondisemen ke-9, Paris, Perancis
Tokoh penting Franck Riboud (Ketua dan CEO), Jacques Vincent (Wakil Ketua dan COO)
Produk Produk susu, air, makanan bayi
Pendapatan 17,01 miliar (2010)[1]
Laba usaha €2,578 miliar (2010)[1]
Laba €1,870 miliar (2010)[1]
Jumlah aset €28,10 miliar (akhir 2010)[1]
Jumlah ekuitas €11,99 miliar (akhir 2010)[1]
Karyawan 101.000 (akhir 2010)[1]
Situs web www.danone.com
Logo Danone
Pabrik Danone di Paris

Groupe Danone adalah perusahaan multinasional yang memproduksi berbagai jenis makanan dan minuman. Danone mengklaim sebagai pemimpin di pasar produk turunan susu[2] dan air minum dalam kemasan. Pada tahun 2007 Danone menjadi perusahaan makanan bayi terbesar kedua di dunia setelah membeli Numico.[3] Di Amerika Serikat, Danone dipasarkan dengan nama Dannon, yang merupakan anak perusahaan dari Groupe Danone.

Danone memegang beberapa merek terkenal seperti Volvic, Evian, Aqua, dan Badoit. Sekitar 56% dari penjualan pada tahun 2006 berasal dari produk turunan susu, 28% dari minuman, dan 16% dari biskuit dan sereal.[4]

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Nama[sunting | sunting sumber]

Nama Danone berasal dari sebuah perusahaan kecil yang didirikan pada tahun 1919 oleh Isaac Carasso di Barcelona (Spanyol). Perusahaan ini memproduksi yoghrut dan diberi nama berdasarkan anak pertama Carasso, Daniel Carasso.

Sepuluh tahun kemudian, pabrik pertama di Perancis dibangun. Selama masa pendudukan Jerman di Perancis pada Perang Dunia 2, Daniel memindahkan perusahaan ke New York untuk menghindari penyitaan akibat kepercayaan Yahudi yang dianutnya. Di Amerika Serikat, Daniel berpartner dengan Joe Metzger dan mengubah mereknya menjadi Dannon agar lebih cocok dengan orang Amerika.

Pada tahun 1951, Daniel Carasso menjual bisnisnya di Amerika Serikat dan kembali ke Paris untuk mengelola bisnis keluarga di Perancis dan Spanyol. Di Eropa, pada 1967, Danone melakukan merger dengan Gervais, produsen keju, dan mengubah nama menjadi Gervais Danone.

Pada tahun 1973, Gervais Danone melakukan merger dengan Boussois-Souchon-Neuvesel (BSN). BSN didirikan oleh keluarga Antone Riboud, yang mengubahnya dari perusahaan kecil menjadi perusahaan makanan terbesar di Eropa melalui merger dan akusisi pada tahun 1970-an.

Reorientasi strategi[sunting | sunting sumber]

Former Danone head office

Danone awalnya mengambil strategi integrasi vertikal dengan mengakuisisi pembuat bir Kronenbourg dan air mineral Evian, yang merupakan pelanggan terbesar BSN. Pada tahun 1979, perusahaan meninggalkan bisnis pembuatan botol dengan melepas anak perusahaannya, Verreries Buossois. Pada tahun 1987, Gervais Danone membeli perusahaan biskuit Eropa Général Biscuit, pemilik brand LU. Pada tahun 1989 perusahaan juga membeli bisnis biskuit Nabisco di Eropa.[5]

Pada tahun 1994, BSN mengubah namanya menjadi Groupe Danone, mengadopsi nama grup utama. Pada tahun 1996, Franck Riboud menggantikan ayahnya, Antoine, sebagai CEO. Di bawah Franck, perusahaan melanjutkan usahanya dengan fokus pada tiga kelompok produk utama: produk turunan susu (dairy), minuman, dan sereal, serta menjual bisnis-bisnis non-core.

Mulai tahun 1999 hingga 2000, perusahaan menjual kepemilikannya di bisnis pembuatan botol dan bir, termasuk menjual merek Kronenbourg dan 1664.[6] Perusahaan menjual bisnis keju dan daging di Italia, (Egidio Galbani Spa) pada Maret 2002;[7] Merek biskuit Jacob's dan produk sejenis di Irlandia juga dijual kepada United Biscuits pada bulan September 2004.[8] Pada bulan Agustus 2005, perusahaan menjual bisnis sausnya, HP Foods[7] dan Amoy Food.[5] Di luar divestasi ini, Danone terus mengembangkan bisnisnya di 3 unit bisnis inti dan menekankan pada produk kesehatan.[9]

Pada bulan Juli 2007, perusahaan mengumumkan bahwa mereka telah mencapai kesepakatan dengan Kraft Foods untuk menjual divisi biskuitnya, termasuk LU dan Prince, dengan harga sekitar 5.3 milyar.[3] Pada tahun 2013, divisi biskuit Kraft Foods akhirnya menjadi sepenuhnya milik Mondelēz International.

Perlindungan atas penjualan[sunting | sunting sumber]

Karena fokusnya yang sempit dan ukurannya yang relatif kecil, Danone sering kali menjadi sasaran takeover (pembelian) oleh kompetitornya, antara lain Nestlé dan Kraft Foods. Pada pertengahan Juli 2005, harga saham Danone melonjak 20% dalam 2 minggu akibat beredarnya kabar burung bahwa PepsiCo hendak membeli Danone, namun kabar ini ditepis.[10] Menyadari besarnya kemungkinan Danone, yang dianggap sebagai "aset nasional," dibeli oleh perusahaan asing, pemerintah Perancis membuat rancangan undang-undang untuk melindungi perusahaan-perusahaan "industri strategis", termasuk Danone, dari takeover pihak asing.[11] Rancangan ini kemudian dijuluki sebagai "Danone Law" ("Hukum Danone").[12]

Spekulasi kembali bermunculan pada musim panas 2006, ketika PepsiCo mengumumkan rencana untuk mengembangkan pasarnya di Perancis melalui beberapa akuisisi[13], Kraft juga merencanakan untuk melakukan hal yang sama.[14] Dugaan tersebut akhirnya hilang ketika Danone mengakuisisi Numico.[15]

Tata kelola perusahaan[sunting | sunting sumber]

Kantor pusat Danone

Dewan direksi Danone yang menjabat saat ini dijabat oleh Bruno Bonnell, Richard Goblet d'Alviella, Michel David-Weill, Emmanuel Faber, Jean Laurent, Naomasa Tsuritani, Bernard Hours, Christian Laubie, Hakan Mogren, Jacques-Alexandre Nahmias, Guylaine Saucier, Benoît Potier, Franck Riboud, dan Jacques Vincent.

Markas pusat Danone terletak di gedung 17 Boulevard Haussmann, 9th arrondissement of Paris.[16]

Daftar produk di Indonesia[sunting | sunting sumber]

Semua merek biskuit dari Danone diakuisisi oleh Kraft Foods pada tahun 2007-2008 yang kini menjadi produk biskuit dari Mondelēz International pada tahun 2013. Lihat pula: Biskuat

Perusahaan patungan[sunting | sunting sumber]

Lokasi pabrik Danone di seluruh dunia

Danone mengadopsi strategi pertumbuhan dengan membangun perusahaan patungan, terutama di emerging market. Di pasar tersebut, selama 10 tahun Danone membangun portofolio yang kini menghasilkan total 30% dari seluruh penjualannya.Danone has adopted a strategy of growth through joint ventures, particularly in fast-growing emerging markets, because it lacked the management depth and size to grow quickly. In its markets, Danone has built an attractive portfolio in emerging markets over the past 10 years which represents 30% of its sales.[17]

Danone terus menjalankan strategi ini dan belakangan menandatangani kerjasama dengan perusahaan seperti Al Safi di Arab Saudi (2001),[18] Yakult di India (2005) dan Vietnam (2006), Alqueria di Kolombia (2007), dan Mengniu di China (2006).[17]

Danone pernah mengalami beberapa masalah dengan perusahaan mitranya, salah satunya adalah dengan Hangzhou Wahaha Group (1996) dan Britannia Biscuits di India (1995). Arbritasi dengan Britannia Biscuits ditandatangani di Pengadilan Tinggi Bombay pada 29 Juni sementara arbitrasi dengan Wahaha Group disetujui di Hangzhou pada 17 Juni 2007.

India[sunting | sunting sumber]

Pada tahun 1995, Danone menandatangani perjanjian kerjasama untuk membeli Britannia Industries. Dalam perjanjian ini, Danone setuju untuk tidak meluncurkan merek makanan di India tanpa sepengetahuan keluarga Wadia.[19] Keduanya juga sepakat pada sebuah hak penolakan pertama (right of first refusal) bila salah satu di antara mereka berniat meninggalkan persekutuan.[20]

Namun Danone merasa kecewa dengan pertumbuhan dan strategi marketing di India sehingga menjalankan rencana untuk berinvestasi di perusahaan makanan berbahan baku susu (dairy) secara independen. Pada bulan Mei 2007, Nusli Wadia melayangkan surat pemberitahuan ke Menteri Perdagangan dan Industri bahwa Danone telah melanggar Nota Pers 1, 2005, yang mewajibkan perusahaan asing mendapatkan izin dari partnernya di India sebelum membangun bisnis secara independen setelah Danone melakukan investasi di Avesthagen, perusahaan bio-nutrisi yang berbasis di Bangalore. Danone berpendapat bahwa Nota Pers 1 tidak berlaku dalam kasus ini karena Danone tidak melakukan transfer teknologi maupun perjanjian merek dagang dengan Avesthagen, dan bahwa kepemilikannya atas 25% saham Briannia merupakan kepemilikan tidak langsung.[21] Wadia juga menuntut Danone atas pelanggaran klausa non-kompetisi dalam kontrak. Pengadilan kemudian memerintahkan Danone untuk tidak mengasingkan, membebani, atau menjual saham Avestagen.[22]

Pakistan[sunting | sunting sumber]

Danone acquired a 49.5% share in Pakistan's Continental Biscuits Limited in 1984. As part of Kraft's takeover of Danone biscuits division, this stake subsequently transferred to Kraft Foods Singapore.

China[sunting | sunting sumber]

Bright Dairy[sunting | sunting sumber]

In 2001, Danone acquired a 5% stake in Bright Dairy and, in March 2005, doubled its shareholding,[23] and again, to 20%, in April 2006, becoming the third largest shareholder after Shanghai Milk Group and S.I. Food, each holding 25.17%.[24] Danone and Bright set up a 50–50 yoghurt joint venture in 1992. Danone licensed Bright Dairy to produce and market products inside China using Danone brands. The joint venture underwent a stake-diversification reshuffle and went public in 2000.[25]

Shortly after increasing its stake, Danone's plans were upset when the Shanghai government announced it was to consolidate the city's food and beverages market by merging Shanghai Bright Dairy Group, the holding company for Bright Dairy, with Shanghai Sugar Tobacco Wine Co., Shanghai Agriculture Industry and Commerce Group and Jinjiang Food. The new conglomerate, named Bright Foods, would be managed by the Shanghai local administration and the State-owned Assets Supervision and Administration Commission.[24]

The parties announced in October 2007 that Danone would divest its stake by selling it to the other two main shareholders at a small profit.[25] Bright Dairy said Danone would pay 330m yuan (€31m) to terminate the existing distribution and production agreement with it.[26]

Wahaha[sunting | sunting sumber]

The Hangzhou Wahaha Group, the largest beverage producer in China,[27] and Danone entered into a dairy products joint venture in 1996, in which Danone held 51%. It was hailed by Forbes magazine as a "showcase" joint venture.[28]

As the businesses expanded and became more complex, Danone made several attempts to take a stake in the Wahaha companies external to the joint venture, but was rebuffed by Wahaha's General Manager Zong Qinghou.[29] Danone and Zong Qinghou had signed a deal in December 2006 allowing Danone to buy a majority stake in these non-JV operations. However, Zong had second thoughts about the deal and reneged, claiming the offer was underpriced and held out for a higher price from Danone.[30]

The dispute took on the shape of a trademark dispute, and Danone filed for arbitration in Stockholm on 9 May 2007.[25] On 4 June,[31] Danone filed suit in Los Angeles Superior Court against Ever Maple Trading and Hangzhou Hongsheng Beverage Co Ltd, companies controlled by Zong, his wife, and daughter.[32]

Danone Business Game: Trust[sunting | sunting sumber]

"TRUST" adalah permainan bisnis skala internasional yang diorganisasi oleh Groupe Danone dan anak perusahaannya. Permainan bisnis ini merupakan cara Danone mengidentifikasi dan merekrut karyawan yang sesuai dengan nilai-nilai serta cara perusahaan menjalankan bisnis, serta meningkatkan citra perusahaan di mata calon karyawan. Mahasiswa yang berpartisipasi dalam permainan ini berhadapan dengan berbagai aspek bisnis ketika menyusun strategi yang dibuat untuk sebuah anak perusahaan fiktif.

Permainan ini terdiri dari tiga tahapan:

  • Tahapan pertama: TRUST day: di negaranya masing-masing setiap mahasiswa harus menciptakan strategi 3 tahun untuk sebuah anak perusahaan fiktif.
  • Tahapan kedua, final nasional: Mahasiswa mempresentasikan rencana bisnisnya ke direktur Danone di negara masing-masing. Tim-tim yang bersaing dievaluasi dan satu tim terbaik dikirim ke Paris untuk menjalankan final internasional.
  • Tahapan ketiga, final internasional di Paris. Selama final, setiap finalis nasional bersaing dengan finalis dari negara lainnya.

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b c d e f "Annual Report 2010" (PDF). Danone. Diakses 16 April 2011. 
  2. ^ "Fresh dairy products: our brands". Danone Group. Diakses 21 September 2008. 
  3. ^ a b "Danone mulls Kraft biscuit deal". BBC News. 3 July 2007. Diakses 9 July 2007. 
  4. ^ "Annual Report 2006" (PDF). Danone. Diakses 12 July 2008. 
  5. ^ a b "Setting out to conquer Europe". Danone Group. Diakses 11 April 2007. 
  6. ^ "Scottish & Newcastle acquires Kronenbourg in £1.7bn deal". The Independent (UK). Diakses 12 April 2007. [pranala nonaktif]
  7. ^ a b "European Buy-Outs: Italy’s many privately owned businesses are welcoming private equity as a way to drive consolidation". Real Deals. 26 January 2006. Diakses 12 April 2007. [pranala nonaktif]
  8. ^ "Danone sells its UK biscuits to United". The Independent (UK). 24 July 2004. Diakses 12 April 2007. [pranala nonaktif]
  9. ^ "Annual Report on Form 20-F". Danone Group. Diakses 11 April 2007. 
  10. ^ "PepsiCo ne lance pas d'OPA sur Danone". Associated Press. 25 July 2005. Diakses 11 April 2007. (Perancis)
  11. ^ "Le gouvernement interdira le rachat de groupes français dans les secteurs stratégiques". Associated Press. Boursorama. 29 August 2005. Diakses 11 April 2007. (Perancis)
  12. ^ David Rothnie, US companies may bid for Danone division, Financial News, 28 Jun 2007
  13. ^ "Pepsico travaille sur des projets de croissance externe en France". AOF. Boursorama. 21 July 2006. Diakses 11 April 2007. (Perancis)
  14. ^ "Danone: Reprise des spéculations un an après les rumeurs PepsiCo". Associated Press. 23 June 2006. Diakses 11 April 2007. (Perancis)
  15. ^ "Eschewing Snacks, Danone Goes for Baby Food". Forbes. 9 July 2007. Diakses 9 July 2007. 
  16. ^ "Contacts." Groupe Danone. Retrieved on 23 March 2010.
  17. ^ a b James T. Areddy & Deborah Ball, Danone's China Strategy Is Set Back, Wall Street Journal, Page A10, 15 June 2007
  18. ^ Sejarah Al Safi Danone
  19. ^ Ruth David, Danone's Indian Cookie JV Set To Snap, Forbes, 25 June 2007
  20. ^ Danone may dissolve ties with Britannia, IRIS NEWS DIGEST, 21 June 2007, Retrieved 18 July 2007
  21. ^ Danone denies JV with India's Britannia; to proceed with solo plans – report, Thomson Financial, 25 May 2007
  22. ^ Wadias take Danone to court, 5 December 2006
  23. ^ Danone to double Bright Dairy stake, People's Daily, 4 March 2005
  24. ^ a b Vivian Wai-yin Kwok, Danone Sells Out Of Bright Dairy, Forbes, 16 October 2007
  25. ^ a b c Xinhua, "Partnership ends as China's Bright Dairy confirms Danone's stake sale", Sina.com, 16 October 2007, retrieved 18 October 2007
  26. ^ Neil Merrett, Danone sells Chinese dairy stake, Dairy Reporter, 17 October 2007
  27. ^ "Danone set to sue Wahaha over breach of contract". South China Morning Post (Hong Kong). 11 April 2007. hlm. B3. 
  28. ^ Elaine Kurtenbach (27 June 2007). "Wahaha-Danone Feud Highlights Pitfalls". Forbes. Diakses 17 July 2007. [pranala nonaktif]
  29. ^ "Danone and Wahaha vie for the last laugh". South China Morning Post (Hong Kong). 11 June 2007. hlm. B3. 
  30. ^ 签约与悔约(regrets) Wahaha – atypical commercial dispute, Caijing Issue 185, 14 May 2007 (Tionghoa)
  31. ^ Danone Group (12 June 2007). current developments regarding Wahaha dispute. Siaran pers. Diakses pada 21 June 2007.
  32. ^ Danone, Wahaha set for arbitration dispute in China, Agence France-Presse story, France24, 18 June 2007

Pranala luar[sunting | sunting sumber]