Byblos

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari
Byblos
City
Pelabuhan Byblos
Pelabuhan Byblos
Lokasi di Lebanon
Lokasi di Lebanon
Byblos
Lokasi di Lebanon
Koordinat: 34°07′25″LU 35°39′4″BT / 34,12361°LU 35,65111°BT / 34.12361; 35.65111Koordinat: 34°07′25″LU 35°39′4″BT / 34,12361°LU 35,65111°BT / 34.12361; 35.65111
Negara  Lebanon
Governorat Kegubernuran Gunung Lebanon
Distrik Distrik Jbeil
Area
 • City 5 km2 (2 mil²)
 • Metro 17 km2 (7 mil²)
Populasi
 • City 40.000
 • Metro 100.000
Zona waktu EET (UTC+2)
 • Musim panas (DST) EEST (UTC+3)
Dialing code +961
Byblos
Situs Warisan Dunia UNESCO
Negara  Lebanon
Tipe Budaya
Kriteria iii, iv, vi
Nomor identifikasi 295
Kawasan UNESCO Negara-negara Arab
Tahun pengukuhan 1984 (sesi 8)

Byblos (Βύβλος) adalah nama Yunani untuk kota Fenisia Gebal (awalnya Gubla; Fenisia: 𐤂𐤁𐤋). Kota ini berada dibawah pemerintahan Kegubernuran Gunung Lebanon (Jabal Lubnan; Governorat Mount Lebanon), Libanon dengan nama Arab (جبيل Ǧubayl). Byblos diyakinhi telah dihuni pertama kali antara tahun 8800 dan 7000 SM,[1] dan menurut fragmen-fragmen yang dibuat oleh imam Fenisia legendaris dari zaman sebelum Homer yang bernama Sanchuniathon, kota ini pertama kali dibangun oleh Cronus sebagai kota pertama di Fenisia.[2] Merupakan salah satu kota tertua di dunia yang terus menerus dihuni dan situs yang terus menerus dihuni sejak tahun 5000 SM.[3] Sekarang dinyatakan sebagai sebuah Situs Warisan Dunia UNESCO, dan merupakan salah satu objek pariwisata di Lebanon.

Nama[sunting | sunting sumber]

Souk tua di Byblos, Libanon
Kota tua Byblos
Byblos
Guci terracotta dari Byblos (sekarang di Louvre), Zaman Perunggu Akhir (1600–1200 SM)
Beach volleyball pada pantai Byblos

Byblos merupakan suatu kota Kanaan yang disebut Gubal selama zaman Perunggu dan muncul dengan nama Gubla di antara Surat-surat Amarna. Dalam Zaman Besi kota ini disebut Gebal dalam bahasa Fenisia (𐤂𐤁𐤋)

Dalam Alkitab Ibrani (Perjanjian Lama di Alkitab Kristen sebagai Gebal (bahasa Ibrani: גבל; ḡə·ḇal) dalam Kitab Yehezkiel.[4] Penduduknya disebut gi-bli (bahasa Ibrani: גבלי) yang diterjemahkan sebagai "orang Gebal" dalam Kitab Yosua dan Kitab 1 Raja-raja.[5]

Pada masa kemudian dirujuk sebagai Gibelet, dalam zaman Perang Salib. Nama Fenisia kuno kota ini (GBL, yaitu Gubal, Gebal, dsb.) dapat diturunkan dari gb, artinya "sumur" atau "sumber", dan El, nama dewa tertinggi dalam kepercayaan Byblos. Kota yang sekarang dikenal dengan nama Arab Jubayl atau Jbeil (جبيل), turunan langsung dari nama Kanaan. Namun, nama Arab ini kemungkinan besar diturunkan dari kata Fenisia GBL yang berarti "batas", "distrik" atau "puncak gunung"; dalam bahasa Ugarit GBL dapat berarti "gunung", mirip dengan kata Arab jabal.

Nama Byblos berasal dari bahasa Yunani (bahasa Yunani: Βύβλος). Papirus menerima nama kuno Yunani (byblos, byblinos) karena diekspor ke wilayah laut Aegea melalui Byblos, dan kata-kata Yunani biblion, jamak biblia, serta akhirnya kata "Bible" ("kitab (papirus)") dapat dilacak dari nama itu.[6][7][8]

Sejarah dan arkeologi[sunting | sunting sumber]

Byblos terletak sekitar 42 kilometres (26 mi) sebelah utara Beirut. Sangat menarik bagi para arkeolog karena adanya lapisan-lapisan berurutan dari bekas-bekas hunian manusia selama berabad-abad. Pertama kali di ekskavasi oleh Pierre Montet dari tahun 1921 sampai 1924, diikuti oleh Maurice Dunand dari tahun 1925 selama periode 40 tahun.[9][10]

Kontak dengan Mesir[sunting | sunting sumber]

Watson Mills dan Roger Bullard berpendapat selama Kerajaan Lama Mesir, Byblos terus merupakan koloni dari Mesir.[9] Kota ini berkembang menjadi kaya dan nampaknya menjadi sekutu Mesir ("di antara yang berada di perairannya") selama berabad-abad. Makam firaun Dinasti pertama Mesir menggunakan kayu-kayu dari Byblos. Salah satu kata Mesir tertua untuk kapal yang mengarungi samudra adalah "kapal Byblos". Para arkeolog telah menemukan di Byblos artefak-artefak buatan Mesir pada fragmen tempayan yang memuat nama penguasa dari Dinasti kedua Mesir,Khasekhemwy, meskipun barang ini "dapat saja mencapai Byblos melalui perdagangan pada masa kemudian."[11] Selain itu juga ditemukan di Byblos barang-barang yang menyebut nama raja Dinasti ke-13 Mesir, Neferhotep I, dan juga diketahui bahwa para penguasa Byblos memelihara hubungan dekat dengan para firaun Kerajaan Baru Mesir kuno.

Sekitar tahun 1350 SM, Surat-surat Amarna meliputi 60 surat dari Rib-Hadda dan penerusnya Ili-Rapih yang merupakan penguasa-penguasa Byblos, menulis kepada pemerintah Mesir. Komunikasi ini terutama menyangkut permohonan terus menerus dari Rib-Hadda kepada raja Akhenaten guna meminta bantuan militer, serta menyebutkan penyerangan negara-kota di sekitarnya oleh orang Hapiru (atau Habiru).

Rupanya kontak dengan Mesir memuncak pada Dinasti ke-19 Mesir, kemudian menurun pada zaman Dinasti ke-20 dan ke-21. Meskipun bukti-bukti arkeologi menunjukkan ada peningkatan komunikasi sesaat selama periode dinasti ke-22 dan ke-23, jelas bahwa setelah Periode Menengah Ketiga orang Mesir mulai lebih suka berkomunikasi dengan Tirus dan Sidon daripada Byblos.[12]

Bukti arkeologi di Byblos bertarikh sejak sekitar 1200 SM, menunjukkan adanya abjad Fenisia yang terdiri dari 22 huruf. Sebuah contoh penting tulisan aksara ini ditemukan pada kotak mayat ("sarkofagus"; sarcophagus) raja Ahiram. Penggunaan aksara ini disebarkan oleh para pedagang Fenisia melalui perdagangan maritim ke bagian-bagian Afrika Utara dan Eropa. Salah satu monumen terpenting pada periode ini adalah kuil Resheph, dewa perang Kanaan, tetapi sudah menjadi reruntuhan pada zaman Aleksander Agung.

Gereja abad pertengahan St. John di Byblos, Lebanon
Rumah tradisional Lebanon memandang Laut Tengah di Byblos. Rumah ini di dalam kompleks daerah tua dan menunjukkan dataran tanah modern yang diekskavasi.

Kota kembar[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ E. J. Peltenburg; Alexander Wasse; Council for British Research in the Levant (2004). Garfinkel, Yosef., "Néolithique" and "Énéolithique" Byblos in Southern Levantine Context* in Neolithic revolution: new perspectives on southwest Asia in light of recent discoveries on Cyprus. Oxbow Books. ISBN 978-1-84217-132-5. Diakses 18 January 2012. 
  2. ^ The Theology Of The Phœnicians: From Sanchoniatho
  3. ^ Dumper, Michael; Stanley, Bruce E.; Abu-Lughod, Janet L. (2006). Cities of the Middle East and North Africa. ABC-CLIO. hlm. 104. ISBN 1-57607-919-8. Diakses 2009-07-22. "Archaeological excavations at Byblos indicate that the site has been continually inhabited since at least 5000 B.C." 
  4. ^ Yehezkiel 27:9
  5. ^ Yosua 13:5 dan 1 Raja-raja 5:18
  6. ^ Brake, Donald L. (2008). A visual history of the English Bible: the tumultuous tale of the world's bestselling book. Grand Rapids, MI: Baker Books. hlm. 29. ISBN 978-0-8010-1316-4. 
  7. ^ "Byblos (ancient city, Lebanon) – Britannica Online Encyclopedia". Britannica.com. Diakses 2012-10-31. 
  8. ^ Beekes, R. S. P. (2009). Etymological Dictionary of Greek. Leiden and Boston: Brill. hlm. 246–7. 
  9. ^ a b Watson E. Mills; Roger Aubrey Bullard (1990). Mercer dictionary of the Bible. Mercer University Press. hlm. 124–. ISBN 978-0-86554-373-7. Diakses 8 July 2011. 
  10. ^ Moore, A.M.T. (1978). The Neolithic of the Levant. Oxford University, Unpublished Ph.D. Thesis. hlm. 329–339. 
  11. ^ Wilkinson, Toby, 1999, Early Dynastic Egypt p.78.
  12. ^ Shaw, Ian: "The Oxford History of Ancient Egypt", page 321. Oxford University Press, 2000. ISBN 978-0-19-280458-7

Pustaka[sunting | sunting sumber]


Pranala luar[sunting | sunting sumber]