Yusha

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari

Yuwsya‘ bin Nūn (Arab:يوشع, Ibrani: יְהוֹשֻׁעַ‎ Yehoshua/Joshua; Yunani: Ἰησοῦς) adalah salah seorang nabi yang memimpin Bani Israel memasuki tanah Palestina (Kana'an) dan menyerbu kota Yareho. Yusha‘ bin Nūn mewarisi ajaran Taurat Musa ketika pertama kali tiba di "Tanah Yang di Janjikan". Ia mengatur penempatan kedua belas suku Israel setibanya di Kanʻān. Namanya tidak disebutkan secara langsung di dalam Al-Qur'an, tetapi Al-Qur'an mereferensikannya bersama dengan kisah Musa di dalam Al-Maydah, Al Kahfi dan Al-Waqi'ah.

Kisah Yusha‘[sunting | sunting sumber]

Dalam surah Al-Maidah disebut bahwa ada dua orang Israel pemberani dan beriman, yakni Yuwsya dari keturunan Yusuf dan Qalib dari keturunan Yehudah, yang memberi semangat kepada Bani Israel untuk memasuki negeri yang ditinggali para raksasa sementara mayoritas Bani Israel merasa gentar dan memilih untuk diam di padang pasir daripada melawan kaum raksasa. Akibat sikap mereka yang tidak mematuhi perintah untuk mengambil alih tanah Palestina melalui wahyu kepada Musa, Tuhan murka hingga Dia menghukum orang-orang itu berkeliling kebingungan di padang pasir selama 40 tahun oleh karena kurang memiliki kepercayaan yang kuat terhadap Janji Tuhan mereka walau berulang kali diselamatkan oleh-Nya dan diberi banyak anugerah-Nya yang tidak diberikan kepada bangsa lain.

Sesudah Harun dan Musa wafat, kaum Bani Israil dipimpin oleh Yusha‘ bin Nūn, yang memang telah ditunjuk oleh Musa untuk menggantikannya sesaat sebelum kewafatannya sebab Yuwsya adalah pengawal Musa yang setia telah mengiringinya selama perjalanan di padang pasir. Berkat kepemimpinan Yusha‘ bin Nūn mereka dapat mengambil alih negeri Palestina dan menggenapi Janji Tuhan kepada Ibrahim, Ishaq dan Ya'kub. Namun setelah Yusha‘ bin Nūn wafat, mereka terpecah belah, dalam ajaran Islam dikatakan bahwa isi kitab Taurat mereka rubah dan ditambah-tambah.[1] Mereka sering bersilang pendapat sesama mereka sendiri, hingga akhirnya hilanglah kekuatan persatuan mereka, yang mengakibatkan tanah Palestina berulang kali diserbu dan dikuasai oleh bangsa lain. Segi positifnya adalah ketika dia meninggal, semua tugas untuk mengatur kedua belas suku tersebut telah selesai sesuai dengan kehendak Allah.

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ “...dan mereka tidak menghormati Allah dengan penghormatan yang semestinya, di kala mereka berkata: "Allah tidak menurunkan sesuatupun kepada manusia". Katakanlah: "Siapakah yang menurunkan kitab (Taurat) yang dibawa oleh Musa sebagai cahaya dan petunjuk bagi manusia, kamu jadikan kitab itu lembaran-lembaran kertas yang bercerai-berai, kamu perlihatkan (sebahagiannya) dan kamu sembunyikan sebahagian besarnya, padahal telah diajarkan kepadamu apa yang kamu dan bapak-bapak kamu tidak mengetahui(nya)?" Katakanlah: "Allah-lah (yang menurunkannya)", kemudian (sesudah kamu menyampaikan Al Quran kepada mereka), biarkanlah mereka bermain-main dalam kesesatannya.” (Al An’am 6: 91)

Pranala luar[sunting | sunting sumber]