XTC

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

XTC atau Exalt To Coitus[note 1] adalah ormas otomotif yang berdiri pada tahun 1982 oleh 4 orang pemuda Bandung yaitu Ivan Rivky Kabira (Masbon), Kuat Suhardjono (U'ang), Agung Wijanarko (Encoem), Irfan Hadisiswanto (Zipponk). Belakangan nama itu diganti menjadi Exalt To Creativity dengan simbol kelompok berupa bendera berwarna paling atas putih-birumuda-birutua, tengahnya bergambar lebah yang secara harfiah oleh anggota kelompok XTC dimaknai sebagai solidaritas antar anggota, jauhnya, bila salah satu di antara mereka ada yang diserang, maka yang lainnya akan membela seperti halnya lebah.[2] Untuk menjadi anggota XTC, calon anggota harus mengikuti penggojlogan di Lembang. Biasanya calon Selanjutnya diadakan tes mengendarai motor ke rumah tanpa rem. Kegiatan lainnya konvoi,

Dan XTC INDONESIA sukses menyelenggarakan Musyawarah Pertama nya di Salah satu hotel termewah di kota Bandung yaitu Trans Luxury Hotel Jl.Gatot subroto kota bandung dan sebagai Ketua umum terpilih periode 2019 - 2024 adalah Donny Akbar pemuda asal bandung dan sebagai pemilik aplikasi transportasi online Bee Go. Itu semua sebagai bentuk Keseriusan XTC untuk melakukan perubahan perilaku, karena hajat besar XTC tersebut diselenggarakan dengan biaya yang cukup besar hampir mencapai 1 milyar, dan itu mandiri tanpa melibatkan sponsor dari pihak ketiga baik pemerintah ataupun swasta. Oleh karenanya, pengorbanan besar XTC ini diharapkan dapat memotivasi seluruh anggota XTC baik dalam ataupun luar negeri dalam membangun XTC jauh lebih baik dimana saat ini XTC wadah milenial yang memiliki anggota sesuai dengan survey record indonesia award memiliki 40ribu anggota yang tersebar di 34 Propinsi 7 Negara.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Berkas:XTC Indonesia (foto oleh Reni Susanti).jpg
XTC mengklaim mempunyai puluhan juta anggota di seluruh Indonesia bahkan di beberapa negara

Awalnya XTC yang berarti Exalt To Creativity didirikan paramuda Bandung sebagai bentuk identitas kelompok yang menggemari dunia otomotif. Lambat laun organisasi non-formal ini mendapat apresiasi dari kalangan muda, utamanya remaja Sekolah Menengah Pertama dan Atas. Kelompok XTC dalam persepsi sebagian masyarakat dianggap gangster karena aktivitas jalanan berupa kebut-kebutan, balapan liar, bahkan tindak pidana ringan hingga berat berupa aksi massa yang mengakibatkan perkelahian massal dengan korban jiwa.

Aktivitas komunal seperti XTC mengenal terminologi Panglima Perang (Koordinator Perang) atau Rampasan Perang sebagai bagian dari hierarki dan psikologi kelompoknya. Panglima Perang adalah orang yang ditunjuk berdasarkan musyawarah internal dan berkewajiban menjadi garda terdepan apabila terjadi bentrokan dengan kelompok otomotif atau gangster sejenis. Sedangkan Rampasan Perang dalam terminologi mereka adalah upaya untuk meningkatkan harga diri sebagai penguasa wilayah tertentu. Rampasan Perang dipandang mereka bukan aksi kriminal, kilahnya, Rampasan Perang yang rata-rata berupa kendaraan otomotif berupa motor mereka rampas dari rivalnya, tidak untuk diperjualbelikan melainkan hanya dibakar dan sebagai penanda unjuk kekuatan kelompok.

Pada masa pemilihan umum XTC menjadi simpatisan bayaran dari politisi dan partai politik dengan kompensasi berupa kucuran finansial. Semakin banyak massa semakin besar pula pendapatan kelompok yang masuk kas organisasi.

Menuju usia dekade ke-4, XTC Indonesia akhirnya mengikrarkan diri sebagai organisasi masyarakat (ormas) di tempat kelahirannya di Bandung, Minggu 7 Juni 2015. Perubahan tersebut menjadi yang kali kedua setelah pada 23 April 2013 eks geng bermotor terbesar di Bandung ini bertransformasi menjadi organisasi kepemudaan (OKP). "Organisasi kepemudaan tidak bisa bertahan lama karena terpatok oleh umur, sedangkan anggota XTC ada yang sudah berumur di atas 40 tahun. Ini wajar saja karena umur organisasi ini sudah jalan 37 tahun," ujar Ketua Umum DPP XTC Indonesia, Taufik Bagja Sumanpik, kepada awak media di Bandung.

Ivan menjelaskan, XTC Indonesia mengalami perubahan karena tuntutan zaman. Pada awal berdiri, 31 Desember 1982 silam, XTC berwujud sebagai organisasi otomotif. Anggota organisasi ini menyebar ke seluruh Indonesia, bahkan hingga ke Jepang, Taiwan, Malaysia, Jerman, Belanda, Dan Amerika Serikat.

Berbagai cara untuk mengubah stigma negatif pun ditempuh. XTC memperketat tata tertib keanggotaan dan menjalin komunikasi dengan berbagai instansi, seperti polisi, TNI, termasuk pemerintah. Ivan mengaku organisasinya siap membantu semua program pemerintah, TNI, ataupun Polri. "Kami organisasi nonpartisan, tetapi membuka diri untuk bekerja sama dengan organisasi politik maupun nonpolitik demi terwujudnya Indonesia yang tenteram, adil, makmur, dan sejahtera dengan memegang moto 'Kekuatan dalam Persaudaraan'," katanya.

Ivan mengaku hingga kini masih ada segelintir orang yang berperilaku sebagai anggota geng bermotor. Mereka terkadang mengatasnamakan XTC. Namun, pendiri XTC ini meyakinkan bahwa organisasinya sudah berubah. Bahkan, polisi sudah mengetahui mana XTC asli dan XTC palsu.

Pranala luar[sunting | sunting sumber]

Lihat juga[sunting | sunting sumber]

Catatan[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Exalt to Coitus artinya kurang lebih 'menyenangi segala sesuatu tentang seks'. Namun, sekarang berganti menjadi Exalt to Creativity. XTC dibentuk pada 1999 oleh empat orang pemuda Bandung,. Lambang XTC, lebah membawa samurai. Semboyan XTC: "Loe asik gw santai, loe usik gw bantai." Anggota XTC saat itu sekitar 5 ribu di Jawa Barat dengan pusat di Bandung.[1]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Evan. Pusat Data Analisis Tempo (SELASA, 17 APRIL 2012 11:44 WIB). "Ini Geng Motor Paling Ditakuti di Jakarta-Bandung". Tempo.co. metro.tempo.co. Diarsipkan dari versi asli tanggal September 28, 2015 4:04:01 AM UTC. Diakses tanggal 28 September 2014. 
  2. ^ Susanti, Reni (Minggu, 7 Juni 2015 17:41 WIB). Jatmiko, Bambang Priyo, ed. "Salah Satu Geng Bermotor Terbesar di Bandung Bertransformasi Menjadi Ormas". Kompas.com. regional.kompas.com. Diarsipkan dari versi asli tanggal 8 Jun 15. Diakses tanggal 28 September 2015.