Wawancara

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Wawancara Dada Rosada oleh beberapa wartawan.

Wawancara atau interviu adalah kegiatan tanya-jawab secara lisan untuk memperoleh informasi.[1] Bentuk informasi yang diperoleh dinyatakan dalam tulisan, atau direkam secara audio, visual, atau audio visual. Wawancara merupakan kegiatan utama dalam kajian pengamatan. Pelaksanaan wawancara dapat bersifat langsung maupun tidak langsung. Wawancara langsung dilakukan dengan menemui secara langsung orang yang memiliki informasi yang dibutuhkan, sedangkan wawancara tidak langsung dilakukan dengan menemui orang-orang lain yang dipandang dapat memberikan keterangan mengenai keadaan orang yang diperlukan datanya.[2] Pertukaran informasi dan ide melalui tanya-jawab dimaksudkan untuk membentuk makna dalam suatu topik tertentu. Wawancara digunakan dalam penelitian untuk mengatasi kelemahan metode observasi dalam pengumpulan data. Informasi dari narasumber dapat dikaji lebih mendalam dengan memberikan interpretasi terhadap situasi dan fenomena yang terjadi.[3]

Ankur Garg, seorang psikolog menyatakan bahwa wawancara dapat menjadi alat bantu saat dilakukan oleh pihak yang mempekerjakan seorang calon/kandidat untuk suatu posisi, jurnalis, atau orang biasa yang sedang mencari tahu tentang kepribadian seseorang ataupun mencari informasi.

Jurnalistik[sunting | sunting sumber]

Dalam bidang jurnalistik wawancara menjadi salah satu cara mendapatkan informasi bahan berita. Wawancara biasanya dilakukan oleh satu atau dua orang wartawan dengan seseorang atau sekelompok orang yang menjadi sumber berita (narasumber). Lazimnya dilakukan atas permintaan atau keinginan wartawan yang bersangkutan.

Sedangkan dalam jumpa pers atau konferensi pers, wawancara biasanya dilaksanakan atas kehendak sumber berita.

Bentuk wawancara[sunting | sunting sumber]

Bentuk-bentuk wawancara antara lain:

  1. Wawancara berita dilakukan untuk mencari bahan berita.
  2. Wawancara dengan pertanyaan yang disiapkan terlebih dahulu.
  3. Wawancara telepon yaitu wawancara yang dilakukan lewat pesawat telepon.
  4. Wawancara pribadi.
  5. Wawancara dengan banyak orang.
  6. Wawancara dadakan / mendesak.
  7. Wawancara kelompok di mana serombongan wartawan mewawancarai seorang, pejabat, seniman, olahragawan dan sebagainya.

Sukses tidaknya wawancara selain ditentukan oleh sikap wartawan juga ditentukan oleh perilaku, penampilan, dan sikap wartawan. Sikap yang baik biasanya mengundang simpatik dan akan membuat suasana wawancara akan berlangsung akrab alias komunikatif. Wawancara yang komunikatif dan hidup ikut ditentukan oleh penguasaan permasalahan dan informasi seputar materi topik pembicaraan baik oleh nara sumber maupun wartawan.

3 jenis wawancara jenis wawancara[sunting | sunting sumber]

Berdasarkan pelaksanaannya[sunting | sunting sumber]

Ditinjau dari segi pelaksanaannya, wawancara dibagi menjadi 3 jenis yaitu sebagai berikut.

  • Wawancara bebas

Dalam wawancara bebas, pewawancara bebas menanyakan apa saja kepada responden, namun harus diperhatikan bahwa pertanyaan itu berhubungan dengan data-data yang diinginkan. Jika tidak hati-hati, kadang-kadang arah pertanyaan tidak terkendali.

  • Wawancara terpimpin

Dalam wawancara terpimpin, pewawancara sudah dibekali dengan daftar pertanyaan yang lengkap dan terinci.

  • Wawancara bebas terpimpin

Dalam wawancara bebas terpimpin, pewawancara mengombinasikan wawancara bebas dengan wawancara terpimpin, yang dalam pelaksanaannya pewawancara sudah membawa pedoman tentang apa-apa yang ditanyakan secara garis besar.

Berdasarkan susunan isinya[sunting | sunting sumber]

Berdasarkan susunan isinya, wawancara dapat dibedakan menjadi:[4]

  1. Wawancara terstruktur, kegiatan wawancara dilakukan dengan menyediakan daftar isian untuk mendapat jawaban dari responden.
  2. Wawancara semi-terstruktur, kegiatan wawancara dilakukan dengan menggunakan bahasa yang berbeda, tetapi informasi yang akan dikumpulkan dapat diketahui dengan jelas.
  3. Wawancara tidak-terstruktur, kegiatan wawancara terjadi secara tiba-tiba tanpa menyediakan daftar pertanyaan terlebih dahulu.

Teknik[sunting | sunting sumber]

Persiapan[sunting | sunting sumber]

Wawancara dapat dilakukan dengan dua tujuan. Pertama, wawancara yang dilakukan untuk mengetahui data dari individu tertentu guna memenuhi kebutuhan informasi tertentu. Individu yang diwawancarai disebut informan. Wawancara ini umumnya digunakan dalam penelitian kualitatif. Kedua, wawancara yang dilakukan untuk memperoleh data diri pribadi, prinsip, pendirian serta pandangan dari individu yang diwawancarai. Jenis wawancara ini umumnya digunakan dalam penelitian kuantitatif. Individu yang diwawancarai pada wawancara model pertama harus dipilih berdasarkan pada penilaian ahli. Sedangkan wawancara model kedua, individu yang diwawancarai harus mewakili populasi secara menyeluruh.[5]

Peran[sunting | sunting sumber]

Dalam wawancara diperlukan peran yang sesuai dengan prosedur wawancara. Individu yang terlibat di dalam wawancara harus saling memperkenalkan diri terlebih dahulu. Setelah itu, pewawancara menjelaskan tujuan dan kegunaan wawancara serta alasan individu dilibatkan. Selanjutnya, pewawancara harus dapat menyampaikan semua pertanyaan kepada responden serta menciptakan hubungan baik dengan responden. Pewawancara juga harus mampu mencatat semua jawaban dari responden sambil menggali informasi lebih mendalam dari responden dengan mengajukan beberapa pertanyaan tambahan.[6]

Sikap-Sikap Pewawancara[sunting | sunting sumber]

Saat melakukan wawancara, pewawancara harus dapat menciptakan suasana agar tidak kaku sehingga responden mau menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan. Untuk itu, sikap-sikap yang harus dimiliki seorang pewawancara adalah sebagai berikut:

  • Netral; artinya, pewawancara tidak berkomentar untuk tidak setuju terhadap informasi yang diutarakan oleh responden karena tugasnya adalah merekam seluruh keterangan dari responden, baik yang menyenangkan atau tidak.
  • Ramah; artinya pewawancara menciptakan suasana yang mampu menarik minat si responden.
  • Adil; artinya pewawancara harus bisa memperlakukan semua responden dengan sama. Pewawancara harus tetap hormat dan sopan kepada semua responden bagaimanapun keberadaannya.
  • Hindari ketegangan; artinya, pewawancara harus dapat menghindari ketegangan, jangan sampai responden sedang dihakimi atau diuji. Kalau suasana tegang, responden berhak membatalkan pertemuan tersebut dan meminta pewawancara untuk tidak menuliskan hasilnya. Pewawancara harus mampu mengendalikan situasi dan pembicaraan agar terarah.[7]

Kegunaan[sunting | sunting sumber]

Pengumpulan data penelitian[sunting | sunting sumber]

Jawaban-jawaban penelitian dapat diperoleh melalui wawancara. Hasil wawancara yang berisi jawaban dari responden, digunakan sebagai data untuk menganalisis kerangka acuan dalam menjawab pertanyaan penelitian atau menyelesaikan permasalahan penelitian. Wawancara yang ditujukan untuk kegiatan penelitian tidak hanya memiliki kegiatan interaksi dan komunikasi, melainkan menggunakan pedoman wawancara yang telah ditetapkan sesuai dengan kebutuhan penelitian.[8]

Wawancara digunakan sebagai alat pembuktian terhadap informasi atau keterangan yang telah diperoleh. Teknik wawancara umumnya digunakan dalam penelitian kualitatif. Tujuan penggunaan wawancara dalam penelitian kualitatif ialah untuk memperoleh keterangan sebagai data yang selanjutnya akan diproses sebagai informasi. Wawancara penelitian kuantitatif dilakukan secara tatap muka atau tanpa menggunakan pedoman wawancara. Dalam penelitian kualitatif, wawancara berlangsung lama karena peneliti dan informan terlibat langsung dalam kehidupan sehari-hari. Peneliti memperoleh informasi melalui dua jenis wawancara, yaitu autoanamnesa atau aloanamnesa. Autoanamnesa merupakan wawancara yang dilakukan dengan subjek atau responden, sedangkan aloanamnesa merupakan wawancara dengan keluarga responden.[9]

Membuat ide baru[sunting | sunting sumber]

Kegiatan wawancara dapat menghasilkan ide baru jika disertai dengan imajinasi dan naluri penyelidikan. Sudut pandang manusia yang berbeda-beda dapat diperoleh sebagai hasil dari wawancara.[10] Wawancara yang digunakan untuk keperluan penulisan karya ilmiah dapat terjadi jika telah direncanakan terlebih dahulu. Pewawancara harus menentukan orang yang tepat untuk diwawancarai, mempersiapkan pedoman wawancara, dan mengolah hasil wawancara.[11]

Memahami subjek[sunting | sunting sumber]

Wawancara digunakan untuk mengumpulkan data yang beragam dari orang-orang pada berbagai peran dan situasi. Pandangan orang lain dapat diketahui melalui wawancara yang berpusat kepada subjek. Pemahaman terhadap subjek dapat dilakukan melalui wawancara dengan komunikasi dan dialog menggunakan bahasa. Pewawancara berperan sebagai pendengar langsung dari subjek. Informasi dari subjek akan dengan cepat dan langsung ke inti permasalahan jika proses wawancara berlangsung nyaman dan menggunakan prinsip keterbukaan informasi.[12]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Arum Sutrisni Putri (27 Januari 2020). "Wawancara: gurhvt dgv Pengertian dan Tahapan". Kompas.com.  line feed character di |title= pada posisi 22 (bantuan)
  2. ^ Mustari dan Rahman 2012, hlm. 54.
  3. ^ Zulmiyetri, dkk. (2019). Penulisan Karya Ilmiah (PDF). Jakarta: Prenadamedia Group. hlm. 258. ISBN 978-623-218-360-5. 
  4. ^ Mustari dan Rahman 2012, hlm. 54-55.
  5. ^ Mamik 2015, hlm. 111-112.
  6. ^ Mamik 2015, hlm. 112.
  7. ^ Kun Maryati & Suryawati. 2007. Sosiologi untuk SMA dan MA Kelas XII. Jakarta: Esis. Hlm. 138-139.
  8. ^ Ahyar 2018, hlm. 23.
  9. ^ Ahyar 2018, hlm. 37.
  10. ^ Suaedi 2015, hlm. 63.
  11. ^ Suaedi 2015, hlm. 36.
  12. ^ Idrus, M. S., dan Priyono (2014). Penelitian Kualitatif di Manajemen dan Bisnis (PDF). Sidoarjo: Zifatama Publishing. hlm. 135. ISBN 978-602-1662-08-3. 

Daftar pustaka[sunting | sunting sumber]

  1. Ahyar, Juni (2018). Penuntun Membuat Skripsi dan Menghadapi Presentasi Tanpa Stres (PDF). Bojonegoro: Pustaka Intermedia. 
  2. Mamik (2015). Metode Kualitatif (PDF). Sidoarjo: Zifatama Publishing. ISBN 978-602-1662-65-6. 
  3. Mustari, M., dan Rahman, M. T. (2012). Pengantar Metode Penelitian (PDF). Yogyakarta: LaksBang Pressindo. ISBN 978-979-26856-2-6. 
  4. Suaedi (2015). Penulisan Ilmiah (PDF). Bogor: IPB Press. ISBN 978-979-493-889-8. 

Bacaan lanjutan[sunting | sunting sumber]

  • Campion, M.A., Campion, J.E., & Hudson, J.P., Jr. “Structured Interviewing: A Note on Incremental Validity and Alternative Question Types”,Journal of Applied Psychology, 79, 998-1002, 1994
  • Dick, Bob. Convergent Interviewing. Sessions 8 of Areol-Action Research and Evaluation, Southern Cross University, 2002
  • Foddy, William. Constructing Questions for Interviews, Cambridge University Press, 1993
  • General Accounting Office. Using Structured Interviewing Techniques. Program Evaluation and Methodology Division, Washington D.C., 1991
  • Groat, Linda & Wang, David. Architectural Research Methods, John Wiley & Sons, Inc
  • Hollowitz, J. & Wilson, C.E. “Structured Interviewing in Volunteer Selection”.Journal of Applied Communication Research, 21, 41-52, 1993
  • Kvale, Steinar. Interviews An Introduction to Qualitative Research Interviewing, Sage Publications, 1996
  • McNamara, Carter, PhD. General Guidelines for Conducting Interviews, Minnesota, 1999
  • Pawlas, G.E. “The Structured Interview: Three Dozen Questions to Ask Prospective Teachers”,NASSP Bulletin, 79, 62-65, 1995
  • Trochim, William, M.K. Types of Surveys, Research Methods Knowledge Base, 2002
  • Watts, G.E. “Effective Strategies in Selecting Quality Faculty”,Paper presented at the International Conference for Community College Chairs, Deans, & Other Instructional Leaders, Phx, AZ, 1993