Terapi Perilaku Dialektika

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Terapi Perilaku Dialektika atau Dialectic Behaviour Therapy (DBT) adalah terapi yang dilakukan pada anak yang mengalami gangguan kepribadian dengan tanda anti sosial tahap melewati batas hukum yang tarafnya ditetapkan negara. [1]

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Terapi Perilaku Dialektika adalah terapi yang dikembangkan oleh Psikolog Marsha M. Linehan pada tahun 1980-an. Terapi ini menjadi bagian dari psikoterapi khusus yang berasal dari perilaku-kognitif. Pada awalnya terapi ini bertujuan untuk perawatan untuk gangguan kepribadian borderline. [2]

Karakteristik[sunting | sunting sumber]

  1. Berorientasi dukungan, yaitu proses yang membantu seseorang dalam pembentukan identifikasi diri untuk menyadari kekuatan yang dimiliki sehingga ada perasaan lebih baik yang timbul.
  2. Berorientasi kognitif, yaitu proses pembentukan pikiran, keyakinan serta asumsi yang memudahkan cara pandang terhadap kehidupan.
  3. Kolaborasi, yaitu simbiosis antara pasien dan terapis dalam DBT ini yang berkontribusi pula pada pada pemecahan masalar yang ada.

Modul[sunting | sunting sumber]

  1. Mindfulness atau kesadaran penuh yang memiliki definisi di mana seseorang dibantu untuk memusatkan perhatiannya pada sesuatu dan memegang kendali atas perasaan, pikiran dan sensasi.
  2. Efektivitas Interpersonal, yaitu proses untuk membantu seseorang meyakini bahwa tujuan itu dapat terpenuhi dan sekaligus tetap menjaga hubungan dengan dirinya sendiri maupun orang lain.
  3. Tolerance terhadap tekanan jiwa (stres), yaitu menyunting hal-hal yang mengarah ke pada titik berdamai dengan masalah yang dihadapi. Hal-hal yang dilakukan biasanya adalah: pengalihan perhatian, menenangkan diri, peningkatan situasi terkini, dan memikirkan pro serte kontra. Sehingga seseorang dapat memberikan respon yang baik saat datangnya tekanan jiwa.
  4. Pengaturan Emosi dengan regulasi sebagai berikut:
  • Identifikasi dan pelabelan emosi
  • Identifikasi hambatan pengubah emosi
  • Pengurangan kerentanan terhadap 'Pikiran Emosi'
  • Peningkatan peristiwa emosi yang positif
  • Peningkatan kesadaran terhadap emosi terkini
  • Pengambilan tindakan yang berlawanan
  • Penerapan teknik tolerans pada kesulitan.

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Dewi, Ratna (2015). "Perilaku Anti Sosial pada Anak Sekolah Dasar". Jurnal Pendidikan Sekolah Dasar. 1 (2): 1. doi:http://dx.doi.org/10.30870/jpsd.v1i2.690 Periksa nilai |doi= (bantuan). [pranala nonaktif permanen]
  2. ^ "Terapi Perilaku Dialektis". tirtojowo.org. 21 Juni 2012. Diakses tanggal 25 Januari 2019. [pranala nonaktif permanen]