Lompat ke isi

Teori psikoanalitik

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Kursi Freud

Teori psikoanalitik adalah teori organisasi kepribadian dan dinamika perkembangan kepribadian yang berkaitan dengan praktik psikoanalisis, suatu metode klinis untuk mengobati psikopatologi. Pertama kali dikemukakan oleh Sigmund Freud pada akhir abad ke-19, teori psikoanalitik telah mengalami banyak penyempurnaan dalam sejarahnya. Teori psikoanalitik menjadi terkenal pada sepertiga terakhir abad kedua puluh sebagai bagian dari aliran wacana kritis mengenai perawatan psikologis setelah tahun 1960-an, jauh setelah kematian Freud pada tahun 1939.[1] Freud telah menghentikan analisisnya terhadap otak dan studi fisiologisnya dan mengalihkan fokusnya ke studi tentang jiwa, dan pada pengobatan menggunakan asosiasi bebas dan fenomena transferensi. Studinya menekankan pengenalan peristiwa masa kanak-kanak yang dapat memengaruhi fungsi mental orang dewasa. Pemeriksaannya terhadap aspek genetik dan perkembangan memberikan karakteristik pada teori psikoanalitik.[2] Dimulai dengan penerbitan The Interpretation of Dreams pada tahun 1899, teorinya mulai mendapat perhatian.

Psychoanalytic dan psychoanalytical adalah kata yang dikenal dalam Bahasa Inggris. Kata psikolanalitikal lebih dahulu dikenal dan kata psikoanalitik secara sederhana berarti "berhubungan dengan analisa atas psike manusia". Namun dengan berkembangangnya psikoanalisis sebagai praktis klinis yang berbeda, kedua istilah tersebut akhirnya sama-sama digunakan. Pada masa kini, kata psikoanalitik lebih banyak digunakan. .[3]

Psikoanalisis didefinsikan oleh Oxford English Dictionary sebagai:

Metoda terapetis, yang bersumber kepada Sigmund Freud, untuk mengatasi gangguan mental melalui investigasi interaksi elemen kesadaran dan ketidaksadaran di dalam pikiran pasien dan membawa ketakutan-ketakutan dan konflik-konlfik yang direpresi ke pikiran sadar, melalui teknik seperti interpretasi mimpi dan asosiasi bebas. Juga: Sebuah sistem dalam teori psikologi yang berasosiasi dengan metoda ini.[4]

Awal penemuan

[sunting | sunting sumber]

Ferud memulai studinya mengenai psikoanalitik dalam sebuah kolaborasi bersama Dr. Josef Breuer, terutama dalam studi kasus atas Anna O.[5] Anna O. mengalami gangguan psikosomatis, tidak bisa minum karena ketakutan yang dialami..[6] Breuer dan Freud menemukan bahwa hipnosis adalah cara yang luar biasa untuk menemukan akar masalah Anna O dan cara mengatasinya. Freud seringkali merujuk kepada pebgalaman ini dalam kuliahnya mengenai awal mula penemuan psikoanalitik.

Observasi atas Anna O membawa Freud membangun teori bahwa problem yang dihadapi pasien yang mengalami histeria bisa diasosiasikan dengan pengalaman masa kecil yang menyakitkan, yang bisa dipanggil kembali ke dalam ingatan masa kini. Pengaruh dari ingatan yang hilang membentuk perasaan, pikiran, dan kebiasaan pasien. Studi-studi in berkontribusi dalam pembentukan teori psikoanalitik.[7]

Pikiran bawah sadar

[sunting | sunting sumber]

Dalam teori psikoanalitik, pikiran bawah sadar terdiri dari ide-ide dan dorongan-dorongan yang telah menjadi subjek dari mekanisme represi yaitu impuls-impuls yang menghasilkan kecemasan pada masa kanak-kanak dilarang masuk ke dalam kesadaran, namun tidak berhenti eksis, dan memberikan tekanan terus-menerus ke arah kesadaran. Namun, isi dari alam bawah sadar hanya dapat diketahui oleh kesadaran melalui representasinya dalam bentuk yang disamarkan atau didistorsi, melalui jalan mimpi dan gejala-gejala neurotik, serta dalam freudian slip dan lelucon-lelucon.

Psikoanalitik berusaha menafsirkan manifestasi sadar ini untuk memahami sifat dari hal yang direpresi tersebut. Dalam istilah psikoanalitik, alam bawah sadar sebenarnya bukan merujuk kepada semua hal yang tidak disadari, melainkan lebih kepada hal-hal yang secara aktif direpresi dari pikiran sadar. Freud memandang alam bawah sadar sebagai gudang penyimpanan ide-ide yang tidak dapat diterima secara sosial, keinginan atau hasrat yang memicu kecemasan, ingatan traumatis, dan emosi menyakitkan yang dikeluarkan dari kesadaran oleh mekanisme represi. Proses mental bawah sadar tersebut hanya dapat dikenali melalui analisis terhadap efeknya dalam kesadaran. Pikiran bawah sadar tidak dapat diakses secara langsung melalui introspeksi biasa, tetapi mereka mampu secara parsial menghindari mekanisme sensor represi dalam bentuk yang disamarkan, yang bermanifestasi, sebagai contoh, sebagai elemen mimpi atau gejala neurotik. Mimpi dan gejala dianggap mampu "ditafsirkan" selama psikoanalisis, dengan bantuan metode-metode seperti asosiasi bebas, analisis mimpi, dan analisis keseleo lidah verbal.[8]

Struktur kepribadian

[sunting | sunting sumber]

Dalam model Freud, jiwa terdiri dari tiga elemen berbeda, yaitu id, ego, dan superego. Id adalah aspek kepribadian yang didorong oleh dorongan dan kebutuhan internal dan mendasar, seperti rasa lapar, haus, dan dorongan untuk berhubungan seks, atau libido. Id bertindak sesuai dengan prinsip kesenangan. Karena kualitas instingtual dari id, ia bersifat impulsif dan tidak menyadari implikasi dari tindakan. Superego didorong oleh prinsip moralitas. Ini menegakkan moralitas pemikiran dan tindakan sosial pada tingkat intrapsikis. Ia menggunakan moralitas, menilai salah dan benar, serta menggunakan rasa bersalah untuk mencegah perilaku yang tidak dapat diterima secara sosial.[9][10] Ego didorong oleh prinsip realitas. Ego berusaha menyeimbangkan tujuan-tujuan yang saling bertentangan antara id dan superego, dengan mencoba memuaskan dorongan-dorongan id dengan cara-cara yang sesuai dengan kenyataan. Ego adalah cara kita memandang diri kita sendiri: itulah yang kita sebut sebagai 'aku' (kata Freud adalah ich dalam bahasa Jerman, yang berarti 'aku').

Mekanisme pertahanan

[sunting | sunting sumber]

Ego menyeimbangkan tuntutan dari id, superego, dan realitas untuk mempertahankan kondisi kesadaran yang sehat, di mana hanya terdapat konflik intrapsikis yang minimal. Dengan demikian, ego bereaksi untuk melindungi individu dari stresor dan kecemasan dengan mendistorsi realitas internal atau eksternal pada tingkat yang lebih kecil atau lebih besar. Hal ini mencegah pikiran dan materi bawah sadar yang mengancam memasuki kesadaran. Sepuluh mekanisme pertahanan berbeda yang awalnya dirinci oleh Anna Freud[11] adalah: represi, regresi, pembentukan reaksi, isolasi afek, pembatalan (undoing), proyeksi, introyeksi, berbalik melawan diri sendiri (turning against the self), pembalikan menjadi lawan kata (reversal into the opposite), dan sublimasi. Namun, dalam karya yang sama, ia merinci manuver lain seperti identifikasi dengan agresor dan intelektualisasi yang di kemudian hari dianggap sebagai mekanisme pertahanan tersendiri. Selain itu, daftar ini telah diperluas secara besar-besaran oleh psikoanalis lain, dengan beberapa penulis[12] mengklaim telah merinci lebih dari seratus mekanisme pertahanan.

Teori psikoanalisis menjadi pengaruh utama dalam filsafat kontinental dan khususnya dalam estetika. Freud terkadang dianggap sebagai seorang filsuf. Psikoanalis Jacques Lacan, serta filsuf Michel Foucault dan Jacques Derrida, telah menulis secara ekstensif tentang bagaimana psikoanalisis memberikan informasi bagi analisis filosofis.[13][14][15][16] Filsuf lain seperti Alain Badiou dan Rafael Holmberg berargumen bahwa makna psikoanalisis bagi filsafat tidak langsung terlihat jelas, namun keduanya telah sampai pada titik di mana mereka saling mendefinisikan satu sama lain.[17][18]

Saat menganalisis teks sastra, teori psikoanalisis terkadang digunakan (seringkali secara khusus berkaitan dengan motif penulis dan karakter) untuk mengungkap makna tersembunyi yang dicurigai tersimpan dalam sebuah teks atau untuk menginformasikan pemahaman tentang niat penulis.[19]

Beberapa orang mengklaim bahwa teori ini kekurangan data empiris dan terlalu berfokus kepada patologi[20] Kritik lainnya adalah teori ini kurang mempertimbangkan kebudayaan dan pengaruhnya kepada kepribadian seseorang. [21][22]

Teori psikoanalitik datang dari Freud dan berfokus kepada pengalaman masa kecilnya sendiri. Ini bisa menjadi masmalah karena banyak yang percaya bahwa mempelajari anak-anak bisa membawa kita kepada pemikiran yang sulit disimpulkan. Salah satu kekhawatiran yang sangat sering mengemuka adalah kepribadian yang sedang diamati tersebut memang menetap secara permanen, ataukah akan pudar dan berganti seiring pendewasaan yang terjadi. [23]

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. Tere sa de Lauretis, Freud's Drive (Basingstoke 2008) p. 3
  2. Tyson, Phyllis. (2002). The challenges of psychoanalytic developmental theory. Journal of the American Psychoanalytic Association, 50, 19–52.
  3. "psychoanalytical, adj. (and n.)." and "psychoanalytic, adj." OED Online. Oxford University Press, June 2015. Web. 7 September 2015.
  4. "psychoanalysis, n." OED Online. Oxford University Press, June 2015. Web. 7 September 2015.
  5. , Sigmund Freud: The Origin and Development of Psychoanalysis.
  6. , FreudFile: Anna O. Case.
  7. Schacter, Gilbert, Wegner. "Psychology". Second Edition. New York. Worth Publishers. 2009, 2011. p.12.
  8. Freud, S (1915). The Unconscious. XIV (2nd ed.). Hogarth Press, 1955.
  9. Friedman, H. W., & Schustack, M. W. (2011). Personality: Classics theories and modern research. (5th Edition). Boston, MA: Allyn & Bacon.
  10. Silberman, Edward. "Review of Psycho-dynamic Therapy: A Guide to Evidence-Based Practice." Psychiatry: Interpersonal and Biological Processes 75.3 (2012): 298–301. PsycINFO. Web.
  11. Freud, A. (1937). The Ego and the Mechanisms of Defense, London: Hogarth Press and Institute of Psycho-Analysis. (Revised edition: 1966 (US), 1968 (UK))
  12. Blackman, J. S. (2004). 101 Defenses: How the Mind Shields Itself, New York: Routledge.
  13. Felman, Shoshana. Jacques Lacan and the adventure of insight: Psychoanalysis in contemporary culture. Harvard University Press, 1987.
  14. Spector, Jack J. The aesthetics of Freud: A study in psychoanalysis and art. Lane, Allen, 1973.
  15. Segal, Hanna. "A psychoanalytic approach to aesthetics." Reading Melanie Klein (1998): 203.
  16. Glover, Nicky. Psychoanalytic aesthetics: An introduction to the British School. Karnac Books, 2009.
  17. Badiou, Alain (2012). The Adventure of French Philosophy. Verso. ISBN 978-1844677931.
  18. Holmberg, Rafael (2023). "The Failed Interventions of Psychoanalysis: Psychoanalysis and Neuroscience as a Proxy-Intervention to Psychoanalysis and Philosophy". Journal of Theoretical and Philosophical Psychology. 44 (4): 355-366. doi:10.1037/teo0000261.
  19. Lye, J. "Psychoanalysis and Literature". ;
  20. Mahmood, Omar M., and Sawssan R. Ahmed. Psychological Testing and Assessment. New York, NY, US: Routledge/Taylor & Francis Group, New York, NY, 2012. PsycINFO. Web.
  21. Hoggard, Lori S., Christy M. Byrd, and Robert M. Sellers. "Comparison of African American College Students' Coping with Racially and Nonracially Stressful Events." Cultural Diversity and Ethnic Minority Psychology 18.4 (2012): 329–39. PsycINFO. Web.
  22. Giamo, Lisa S., Michael T. Schmitt, and H. R. Outten. "Perceived Discrimination, Group Identification, and Life Satisfaction among Multiracial People: A Test of the Rejection-Identification Model." Cultural Diversity and Ethnic Minority Psychology 18.4 (2012): 319–28. PsycINFO. Web.
  23. Behrendt, Ralf-Peter (2018-04-17). The Evolved Structure of Human Social Behaviour and Personality. doi:10.4324/9780429481703. ISBN 9780429481703.