Lompat ke isi

Disonansi kognitif

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dari Teori disonansi kognitif)

Dalam bidang psikologi, disonansi kognitif digambarkan sebagai suatu fenomena mental di mana seseorang tanpa sadar memegang dua atau lebih gagasan yang secara mendasar saling bertentangan.[1] Ketika seseorang dihadapkan pada situasi yang menimbulkan disonansi ini atau menyoroti ketidaksesuaian tersebut, ia terdorong untuk mengubah cara berpikir atau tindakannya guna meredakan ketegangan tersebut—baik dengan mengubah suatu keyakinan maupun dengan mencari penjelasan yang dapat menutupi pertentangan itu.[1]

Aspek-aspek kognisi yang relevan meliputi tindakan, perasaan, gagasan, kepercayaan, nilai-nilai, serta hal-hal dalam lingkungan alam. Disonansi kognitif umumnya tidak tampak secara lahiriah, tetapi muncul melalui stres psikologis ketika seseorang terlibat dalam tindakan yang menimbulkan keyakinan, sikap, atau perilaku yang saling bertentangan, atau ketika informasi baru menantang keyakinan yang sudah ada.

Menurut teori ini, ketika suatu tindakan atau gagasan tidak selaras secara psikologis dengan yang lain, manusia secara otomatis berusaha menyelesaikan konflik tersebut—biasanya dengan menafsirkan kembali salah satu sisi agar keduanya tampak sejalan. Ketidaknyamanan timbul ketika keyakinan berbenturan dengan informasi baru atau ketika seseorang harus menghadapi persoalan yang secara konseptual melibatkan pertentangan; dalam keadaan demikian, individu berupaya menemukan cara untuk mendamaikan kontradiksi tersebut demi meredakan rasa tidak nyaman yang dialaminya.[1]

Dalam karya klasiknya, When Prophecy Fails: A Social and Psychological Study of a Modern Group That Predicted the Destruction of the World (1956) dan A Theory of Cognitive Dissonance (1957), Leon Festinger mengemukakan bahwa manusia senantiasa berupaya mencapai konsistensi psikologis internal agar dapat berfungsi secara mental dalam dunia nyata.[2] Individu yang mengalami ketidaksesuaian internal cenderung merasa tidak nyaman secara psikologis dan termotivasi untuk mengurangi disonansi tersebut.[1]

Untuk menenangkan diri, mereka kerap melakukan perubahan atau rasionalisasi terhadap perilaku yang menimbulkan stres tersebut—misalnya dengan menambah elemen baru pada struktur kognisi yang menimbulkan disonansi (rasionalisasi), memercayai bahwa "setiap orang mendapatkan apa yang pantas baginya" (kekeliruan dunia yang adil), hanya menerima sebagian informasi yang mendukung keyakinannya sambil menolak atau mengabaikan yang bertentangan (persepsi selektif), atau menghindari situasi maupun informasi yang dapat memperbesar ketegangan kognitif (bias konfirmasi).[3][4]

Festinger menggambarkan kecenderungan manusia untuk menghindari disonansi kognitif dengan pernyataannya yang terkenal: “Katakan padanya bahwa kau tidak sependapat, dan ia berpaling. Tunjukkan fakta atau angka, ia akan mempertanyakan sumbermu. Ajak berdiskusi dengan logika, dan ia tidak akan mampu melihat maksudmu.”[5]

Leon Festinger, yang lahir pada tahun 1919 di Kota New York,[6] merupakan seorang psikolog sosial asal Amerika Serikat yang kontribusinya terhadap ilmu psikologi meliputi teori disonansi kognitif, teori perbandingan sosial, serta efek kedekatan (proximity effect).[5][7]

Festinger menyelesaikan pendidikannya di City College of New York pada tahun 1939, kemudian meraih gelar doktor (PhD) dalam Psikologi Anak dari University of Iowa.[6] Ia terdorong untuk menekuni psikologi berkat pengaruh Kurt Lewin, yang dikenal sebagai “bapak psikologi sosial modern”, serta karyanya dalam bidang psikologi Gestalt. Sepanjang karier akademiknya, Festinger banyak belajar di bawah bimbingan Lewin dan kemudian bekerja sama dengannya di *Research Center for Group Dynamics* di Massachusetts Institute of Technology.[5]

Dalam sebuah artikel yang diterbitkan oleh American Psychological Association pada tahun 2002, Festinger tercatat sebagai psikolog kelima paling berpengaruh pada abad ke-20—setelah B.F. Skinner, Jean Piaget, Sigmund Freud, dan Albert Bandura.[8] Teori disonansi kognitif yang digagasnya hingga kini tetap menjadi salah satu teori sosial paling berpengaruh dalam psikologi sosial modern.[9]

Dalam penelitiannya, Festinger mengamati bahwa manusia cenderung mempertahankan kebiasaan dan rutinitas yang konsisten untuk menjaga keteraturan dalam hidupnya. Kebiasaan-kebiasaan ini dapat berupa tindakan sehari-hari seperti selalu duduk di kursi yang sama selama perjalanan harian atau makan pada waktu yang teratur.[5] Gangguan terhadap keteraturan tersebut dapat menimbulkan ketidaknyamanan mental yang kemudian termanifestasi dalam perubahan cara berpikir atau sistem kepercayaan seseorang.[2] Festinger menyimpulkan bahwa satu-satunya cara untuk meredakan ketegangan tersebut adalah dengan menyesuaikan tindakan atau keyakinan agar kembali selaras dan konsisten.[5][10]

Sejak penerbitan karyanya A Theory of Cognitive Dissonance pada tahun 1957, temuan Festinger telah membantu menjelaskan berbagai kecenderungan bias pribadi manusia,[11] bagaimana individu menafsirkan ulang situasi dalam pikirannya untuk mempertahankan citra diri yang positif, serta alasan di balik perilaku-perilaku yang tidak selalu sejalan dengan penilaian rasional mereka, baik melalui pencarian maupun penolakan terhadap informasi tertentu.[12][13]

Hubungan antar kognisi

[sunting | sunting sumber]

Agar dapat berfungsi dalam realitas sosial, manusia senantiasa menyesuaikan keselarasan antara sikap mental dan tindakan pribadi mereka. Penyesuaian berkelanjutan antara kognisi dan tindakan ini menghasilkan tiga kemungkinan bentuk hubungan dengan realitas:[2]

  1. Hubungan konsonan: ketika suatu kognisi atau tindakan selaras dengan yang lain. Contohnya, seseorang yang tidak ingin mabuk saat makan malam memilih memesan air putih alih-alih anggur.
  2. Hubungan tidak relevan: ketika suatu kognisi atau tindakan tidak berkaitan dengan yang lain. Misalnya, seseorang yang tidak ingin mabuk saat keluar malam tetapi memilih mengenakan kemeja tertentu—dua hal ini tidak saling berhubungan.
  3. Hubungan disonan: ketika suatu kognisi atau tindakan bertentangan dengan yang lain. Misalnya, seseorang yang tidak ingin mabuk, tetapi tetap meminum lebih banyak anggur.

Tingkat Disonansi

[sunting | sunting sumber]

Istilah “tingkat disonansi” mengacu pada derajat ketidaknyamanan psikologis yang dialami seseorang. Ketidaknyamanan ini dapat muncul akibat benturan antara dua keyakinan internal yang saling bertentangan, atau karena suatu tindakan yang tidak sejalan dengan sistem kepercayaan individu.[14] Ada dua faktor utama yang menentukan besarnya disonansi psikologis yang ditimbulkan oleh dua kognisi atau dua tindakan yang saling bertentangan:

  1. Tingkat pentingnya kognisi: semakin tinggi nilai pribadi atau makna emosional dari suatu unsur kognitif, semakin besar pula tingkat disonansi yang dihasilkan ketika unsur-unsur tersebut saling berbenturan. Ketika kedua unsur yang bertentangan sama-sama memiliki nilai penting yang tinggi, individu akan kesulitan menentukan mana yang seharusnya diutamakan, karena keduanya dianggap “benar” dari sudut pandang subjektif. Oleh karena itu, ketika ideal dan tindakan berseberangan, individu mengalami kebingungan dalam menetapkan prioritas.
  2. Rasio kognisi: yaitu perbandingan antara unsur-unsur disonan dan konsonan. Setiap individu memiliki ambang kenyamanan tertentu terhadap tingkat ketidaksesuaian dalam dirinya. Selama jumlah unsur disonan masih berada dalam batas toleransi, individu dapat berfungsi tanpa gangguan berarti. Namun, bila unsur-unsur disonan terlalu banyak dan tidak seimbang, individu akan melalui proses penyesuaian untuk mengembalikan keseimbangan. Ketika seseorang akhirnya memilih untuk mempertahankan satu unsur disonan, ia cenderung dengan cepat “melupakan” unsur lainnya demi memulihkan ketenangan batin.[15]

Dalam kehidupan sehari-hari, setiap orang selalu mengalami tingkat disonansi tertentu ketika mengambil keputusan, karena pengetahuan dan kebijaksanaan yang dimilikinya terus berubah seiring waktu. Besarnya disonansi ini bersifat subjektif, sebab pengukurannya didasarkan pada laporan pribadi; sejauh ini belum ada metode objektif yang mampu mengukur tingkat ketidaknyamanan tersebut secara akurat.[16]

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. 1 2 3 4 Harmon-Jones, Eddie, ed. (2019). Cognitive Dissonance: Reexamining a Pivotal Theory in Psychology (Edisi 2nd). Washington, DC: American Psychological Association. ISBN 978-1-4338-3077-8. JSTOR j.ctv1chs6tk.
  2. 1 2 3 Festinger, Leon (1957). A Theory of Cognitive Dissonance. Stanford University Press.
  3. Hogg, Michael A., ed. (2003). Social psychology. Sage benchmarks in psychology. London: Sage Publ. ISBN 978-0-7619-4044-9.
  4. Ellis, Ralph D.; Newton, Natika, ed. (2005). Consciousness & emotion: agency, conscious choice, and selective perception. Consciousness & emotion book series. Amsterdam ; Philadelphia: John Benjamins Pub. ISBN 978-1-58811-596-6. OCLC 57626418.
  5. 1 2 3 4 5 Collin, Catherine; Benson, Nigel C.; Ginsburg, Joannah; Grand, Voula; Lazyan, Merrin; Weeks, Marcus, ed. (2012). The psychology book (Edisi 1st American). London New York Melbourne: DK. ISBN 978-0-7566-8970-4.
  6. 1 2 Hatfield, Elaine; Carpenter, Megan; Thornton, Paul; Rapson, Richard (2014-11-25), "Leon Festinger", Psychology (dalam bahasa Inggris), Oxford University Press, doi:10.1093/obo/9780199828340-0157, ISBN 978-0-19-982834-0, diakses tanggal 2024-03-29
  7. Festinger, Leon (May 1954). "A Theory of Social Comparison Processes". Human Relations (dalam bahasa Inggris). 7 (2): 117–140. doi:10.1177/001872675400700202. ISSN 0018-7267.
  8. Haggbloom, Steven J.; Warnick, Renee; Warnick, Jason E.; Jones, Vinessa K.; Yarbrough, Gary L.; Russell, Tenea M.; Borecky, Chris M.; McGahhey, Reagan; Powell, John L.; Beavers, Jamie; Monte, Emmanuelle (June 2002). "The 100 Most Eminent Psychologists of the 20th Century". Review of General Psychology (dalam bahasa Inggris). 6 (2): 139–152. doi:10.1037/1089-2680.6.2.139. ISSN 1089-2680.
  9. Harmon-Jones, Eddie; Mills, Judson (2019), "An introduction to cognitive dissonance theory and an overview of current perspectives on the theory.", Cognitive dissonance: Reexamining a pivotal theory in psychology (2nd ed.). (dalam bahasa Inggris), Washington: American Psychological Association, hlm. 3–24, doi:10.1037/0000135-001, hdl:1959.4/unsworks_74486, ISBN 978-1-4338-3010-5
  10. Summers, Randal W., ed. (2017). Social psychology: how other people influence our thoughts and actions. Santa Barbara, California Denver, Colorado: Greenwood. ISBN 978-1-61069-592-3.
  11. Stager, Pamela Elizabeth (September 2006). "The use of the false consensus bias as a means of cognitive dissonance reduction". Queen's University. ProQuest 304970757.
  12. Mills, Judson (2019), "Improving the 1957 version of dissonance theory.", Cognitive dissonance: Reexamining a pivotal theory in psychology (2nd ed.). (dalam bahasa Inggris), Washington: American Psychological Association, hlm. 27–39, doi:10.1037/0000135-002, ISBN 978-1-4338-3010-5
  13. Festinger, Leon; Gerard, Harold B.; Hymovitch, Bernard; Kelley, Harold H.; Raven, Bert (November 1952). "The Influence Process in the Presence of Extreme Deviates". Human Relations (dalam bahasa Inggris). 5 (4): 327–346. doi:10.1177/001872675200500402. ISSN 0018-7267.
  14. Festinger L (October 1962). "Cognitive dissonance". Scientific American. 207 (4): 93–102. Bibcode:1962SciAm.207d..93F. doi:10.1038/scientificamerican1062-93. PMID 13892642. S2CID 56193073.
  15. Boring EG (August 1964). "Cognitive Dissonance: Its Use in Science: A scientist, like any other human being, frequently holds views that are inconsistent with one another". Science. 145 (3633): 680–685. doi:10.1126/science.145.3633.680. PMID 17754664.
  16. Oshikawa S (January 1972). "The Measurement of Cognitive Dissonance: Some Experimental Findings". Journal of Marketing. 36 (1): 64–67. doi:10.1177/002224297203600112. S2CID 147152501.