Sultan Zainal Abidin II

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

Sultan Zainal Abidin II atau Sultan Zainal 'Abidin Ra-Ubabdar adalah sultan Samudera Pasai yang ke-5. Ia memerintah sampai dengan wafatnya pada tahun 841 H/1438 M. Nama lengkapnya adalah Zainal ‘Abidin bin Ahmad bin Ahmad bin Muhammad bin Al-Malik Ash-Shalih. Secara garis keturunan, Zainal ‘Abidin merupakan putra dari paman Ratu Nahrasyiyah yang bernama Ahmad. Pada masa dialah Kerajaan Samudra Pasai diperkirakan mencapai masa kejayaannya.

Dia memiliki gelar Ra-Ubabdar yang berarti penakluk gelombang. Diperkirakan pada masa itu, Zainal ‘Abidin telah melakukan perluasan wilayah kekuasaannya sampai semenanjung Melayu. Dia membuka kota Mulaqat (Malaka) dan mendudukkan putranya, Manshur untuk memerintah di sana. Mulaqat berarti tempat perjumpaan kapal-kapal dari timur dan barat.

Dia juga bergelar Al-Malik Azh-Zhahir, sebagaimana terdapat pada inskripsi nisan salah seorang keturunannya. Para sultan Samudra Pasai sampai dengan tahun berakhirnya kerajaan ini adalah anak dan cucu keturunannya. Itu sebabnya pada setiap dirham yang dicetak oleh para sultan disebutkan Malik Azh-Zhahir setelah nama mereka untuk memaksudkan bahwa mereka adalah anak-cucu keturunan Zainal ‘Abidin.

Makam[sunting | sunting sumber]

Makam Sultan Zainal 'Abidin Malik azh-Zhahir berada di kompleks kesultanan Samudra Pasai periode kedua di Desa Kuta Krueng, Kecamatan Samudera, Aceh Utara.

Adapun terjemahan inskripsi pada makam Zainal ‘Abidin Ra-Ubabdar:

Inilah pembaringan yang bercahaya bagi orang yang dirahmati lagi yang diampuni Sultan Zainal ‘Abidin Ra-Ubabdar bin Ahmad bin Ahmad bin Muhammad bin Al-Malik Ash-Shalih. Semoga Allah mengampunkan ia dan kedua orangtuanya serta seluruh muslimin. Diwafatkan pada hari Jumat waktu Zhuhur (tengah hari) 21 bulan Syawwal tahun 841 dari hijrah nabi yang terpilih, semoga kepada baginda itu dilimpahkan seutama-utamanya shalawat dan salam yang paling sempurna

Sumber[sunting | sunting sumber]