Suku Igorot

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari
Igorot atau Cordillera
Banaue Philippines Ifugao-Tribesman-01.jpg
Pria Ifugao di Banaue
Total populasi
1,500,000[1]
Kawasan dengan populasi yang signifikan
 Filipina
(Cordillera)
Bahasa
Bontoc, Ilocano, Ibaloi, Isnag, Kalinga, Kankanaey, Ifugao
Agama
Paganisme, Kristen, Islam

Igorot, Ifugao atau Cordillera, adalah nama kolektif dari beberapa kelompok etnis Austronesia di Filipina, yang tinggal di wilayah pegunungan Luzon. Suku-suku dataran tinggi tersebut tingga di enam provinsi Wilayah Administratif Cordillera: Abra, Apayao, Benguet, Kalinga, Ifugao, dan Provinsi Pegunungan, serta Kota Baguio dan provinsi tetangganya Nueva Vizcaya.

Suku bangsa ini hidup dengan menggantungkan diri pada alam, terutama sektor pertanian dan pariwisata alam. Beberapa penelitian menyebutkan bahwa kehidupan mereka kini menghadapi ancaman, terutama berkaitan dengan perubahan iklim. Kehidupan Suku Bangsa Ifugao yang sangat bergantung pada kelestarian alam mengalami kemrosotan akibat berkurangnya hasil panen dan rusaknya beberapa objek wisata alam yang menjadi tumpuan hidup mereka. Objek wisata alam itu adalah tangga-tangga sawah atau yang biasa disebut dengan istilah terasering. Menurut catatan sejarah, tangga-tangga tersebut telah dibuat 2.000 tahun yang lalu. Beberapa kalangan menyebut tangga-tangga tersebut sebagai "tangga menuju surga". UNESCO bahkan menyebutnya sebagai salah satu warisan keajaiban dunia.

Asal usul[sunting | sunting sumber]

Penamaan “Ifugao” bermula ketika kedatangan bangsa Spanyol ke wilayah tempat tinggal mereka. Ketika Spanyol menanyakan mengenai siapa mereka, Suku Bangsa Ifagao hanya menyebut “I-PAGO”. Oleh sebab orang Spanyol merasa kesulitan melafalkan kata tersebut, mereka memanggil Ifugao dengan istilah Igorrote yang berarti bangsa yang berasal dari gunung. Bangsa-bangsa lain yang hidup berdampingan dengan Suku Bangsa Ifugao bersedia menerima panggilan tersebut, namun tidak dengan Suku Ifugao. Mereka lebih suka disebut sebagai “Ifugao” karena menurut mereka, Ifugao memiliki arti people from the eart/human being atau manusia yang berasal dari bumi. Mereka sangat mengagungkan hubungan manusia dengan alam, terutama yang mengatur keseimbangan antara manusia dengan bumi. Sejarah asal usul “Ifugao” pun banyak ditulis dalam beberapa versi. Berdasarkan mitologi lokal yang berasal dari Kaiyangan Ifugao, ipugao diyakini sebagai varietas padi pertama yang ditanam oleh Ballituk dan Kabigat di Bukit Imbiday, sebuah are perbukitan di wilayah Kaiyangan. Di wilayah lain, Suku Bunga Ifugao diyakini berasal dari nenek moyang mereka yang berasal dari Wigan dan Bugan yang merupakan wilayah paling utara di Pulau Luzon. Sementara itu, Henry Otley Beyer meyakini bahwa Suku Ifugao merupakan etnis atau ras suku bangsa asli wilayah tersebut. Menurutnya, 2.000 tahun yang lalu, sekelompok masyarakat dari Indo-China telah melakukan migrasi ke wilayah timur laut Ifugao. Di tempat itu, mereka menerapkan pengetahan mereka tentang pertanian lahan basah. Lambat laun, mereka membangun tangga-tangga terasering sebagai sistem pertanian sawahnya dan kemudian membangun terasering di sepanjang perkampungan mereka. Dalam sejarahnya, masyarakat Ifugao adalah salah satu kelompok masyarakat lokal di Filipina yang menolak penjajahan Spanyol. Wilayah tempat tinggal mereka yang melewati perbukitan dan cenderung terpencil membuat Spanyol kesulitan menjangkau lokasi tempat tinggal mereka. Meskipun mengalami penolakan, Spanyol tidak tinggal diam. Mereka juga melakukan tindakaan represif kepada Suku Ifugao dengan menghancurkan rumah-rumah, tempat ibadah, dan terasering sawah mereka. Tujuannya adalah untuk menghancurkan kehidupan sosial mereka sehingga mereka akan memiliki ketergantungan dengan Spanyol. Namun demikian, Suku Bangsa Ifugao tidak tinggal diam, mereka juga terus melakukan perlawanan, terutama selama periode tahun 1896-1898. Semenjak perlawanan yang mereka lakukan terus-menerus itu, Spanyol dapat angkat kaki dari wilayah tempat tinggal mereka. Spanyol tidak meninggalkan jejak apa pun, kecuali bangunan-bangunan tua, bahasa, dan peninggalan ajaran Katolik.

Selang waktu berjalan, Suku Bangsa Ifugao kini membentuk wilayah administrasinya sendiri yang juga bernama Ifugao. Wilayah berbentuk provinsi sejak tahun 1966 yang sebelumnya mereka menjadi bagian dari wilayah Provinsi Nueva Vizcaya pada tahun 1902 sampai 1905. Dibandingkan provinsi-provinsi lain, Suku Ifugao yang mendiami Provinsi Ifugao yang luas wilayahnya hanya 0,8% dari total wilayah Filipina, tergolong miskin dan terbelakang. Provinsi-provinsi lain telah menikmati investasi dari investor asing menyangkut pengelolaan emas dan sumber daya alam mereka. Sementara itu, Suku Ifugao yang tinggal di wilayah terpencil masih cukup sulit untuk dijangkau.

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Editors, The (2015-03-26). "Igorot | people". Britannica.com. Diakses tanggal 2015-09-03. 

Bacaan tambahan[sunting | sunting sumber]

  • Boeger, Astrid. 'St. Louis 1904'. In Encyclopedia of World's Fairs and Expositions, ed. John E. Findling and Kimberly D. Pelle. McFarland, 2008.
  • Conklin, Harold C., Pugguwon Lupaih, Miklos Pinther, and the American Geographical Society of New York. (1980). American Geographical Society of New York, editor. Ethnographic Atlas of Ifugao: A Study of Environment, Culture, and Society in Northern Luzon. Yale University Press. ISBN 0-300-02529-7. 
  • Narita, Tatsushi."How Far is T. S. Eliot from Here?: The Young Poet's Imagined World of Polynesian Matahiva". In How Far is America from Here?, ed. Theo D'haen, Paul Giles, Djelal Kadir and Lois Parkinson Zamora. Amsterdam and New York: Rodopi, 2005, pp. 271–282.
  • Narita, Tatsushi. T. S. Eliot, the World Fair of St. Louis and 'Autonomy' (Published for Nagoya Comparative Culture Forum). Nagoya: Kougaku Shuppan Press, 2013.
  • Rydell, Robert W. All the World's a Fair: Visions of Empire at American International Expositions, 1876-1916. The University of Chicago Press, 1984.
  • Cornélis De Witt Willcox (1912). The head hunters of northern Luzon: from Ifugao to Kalinga, a ride through the mountains of northern Luzon : with an appendix on the independence of the Philippines. Volume 31 of Philippine culture series. Franklin Hudson Publishing Co. Diakses tanggal 24 April 2014. 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]