Soetjipto Soedjono

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

Ir. Soetjipto Soedjono (lahir di Trenggalek, 13 Agustus 1945 – meninggal di Surabaya, 24 November 2011 pada umur 66 tahun), merupakan tokoh inventor teknik sipil dan politisi terkemuka di Indonesia. Diawali dari Posko Pandegiling di Jawa Timur, Sutjipto adalah inisiator dan motor yang membidani lahirnya gerakan PDI-Perjuangan di bawah Ketua Umum Megawati Soekarnoputri. Kelak PDI-Perjuangan resmi menjadi partai politik baru di masa reformasi dan mengantarkan Megawati Soekarnoputri menjadi presiden kelima Republik Indonesia.

Biografi[sunting | sunting sumber]

Penemu Pondasi Sarang Laba-Laba[sunting | sunting sumber]

Soetjipto berasal dari Trenggalek, Jawa Timur. Gelar Sarjana Teknik Sipil diraih di Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya. Insinyur Soetjipto bersama Insinyur Ryantori menemukan teknik fondasi konstruksi sarang laba-laba. Sejak 2004 pemilik paten fondasi konstruksi sarang laba-laba adalah PT Katama Suryabumi. Fondasi ini terbukti aman dari gempa dan telah terbukti pada gempa di NAD, Sumatra Barat, Bengkulu, Manokwari, dan daerah rawan gempa lainnya.

Dalam jangka dua tahun (3 Desember 2007 hingga 1 Desember 2009), inovasi ini telah mendapat lima penghargaan, salah satunya Penghargaan Upakarti dengan kategori Rintisan Teknologi sebagai Pondasi Ramah Gempa.

Temuannya antara lain dipakai di Bandara Hang Nadim, Batam.

Karier[sunting | sunting sumber]

Insinyur Sutjipto lebih populer sebagai politisi ketimbang bidang konstruksi keahliannya. Nama pria kelahiran Trenggalek ini mencuat kepermukaan saat terjadinya konflik dalam tubuh PDI Jawa Timur. Soetjipto memilih mendukung DPP PDI pimpinan Megawati Soekarnoputri. Pilihan ini mengantarkannya menjabat Sekjen PDI-P dan Wakil Ketua MPR.

Ia memimpin kader dan simpatisian PDI di Jawa Timur melawan campur tangan pemerintah dalam tubuh PDI. Dia pun memindahkan markas PDI ke kantor CV. Bumi Raya, perusahaan jasa konstruksi miliknya. Kantor ini dikenal sebagai Posko Pandegiling, kemudian dikenal dengan nama PDI Perjuangan. Sebab kantor lama masih dikuasai kubu Latief Pudjosakti. Sebuah bentuk perlawanan kepada pemerintah yang otoriter sekaligus sebagai wujud dukungan kepada kepemimpinan Megawati yang didukung oleh arus bawah.

Pilihannya membela dan menjunjung demokrasi itu, telah mengantarkan lulusan Institut Teknologi Sepuluh Nopember ini menjadi seorang politisi kaliber nasional.

Memang, kehidupan politik (berorganisasi) bukan hal baru baginya. Sejak di SMA tahun 1964, ia sudah aktif di Gerakan Siswa Nasional Indonesia. Kemudian saat kuliah di ITS, ia aktif di Komisariat Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia, hingga menjabat menjabat wakil sekretariat GMNI Jawa Timur (1971). Pada tahun 1986, ia pun mulai aktif di PDI. Lalu, dua tahun kemudian terpilih sebagai bendahara PDI Jawa Timur.

Pranala luar[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]