Siklus bisnis

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

Siklus bisnis adalah suatu pola pergerakan yang menggambarkan kondisi ekonomi (naik atau turun) mengenai aspek-aspek tentang kondisi ekspansi maupun kondisi puncak suatu pergerakan aktivitas ekonomi bisnis suatu negara yang akan memberikan pengaruh positif terhadap kinerja suatu perusahaan.[1] Sehingga siklus bisnis merupakan bentuk fluktuasi dari sekumpulan kegiatan ekonomi suatu negara dari semua bidang usaha. Fase siklus bisnis dapat dilacak dari indikator aktivitas ekonomi seperti produk domestik bruto riil dan pertumbuhan produksi industri. Fase-fase tersebut meliputi ekspansi, puncak, kontraksi, dan palung dan dapat berulang setiap waktu tetapi bervariasi. Siklus bisnis dikenal juga sebagai siklus ekonomi.

Siklus bisnis terbagi dalam empat periode: (1) periode pada waktu kegiatan ekonomi mencapai puncaknya. (2) periode pada waktu kegiatan ekonomi mengalami penurunan. (3) periode pada waktu kegiatan ekonomi mencapai titik terendah; (4) periode pada waktu kegitan ekonomi mulai meningkat. Lama siklus bisnis adalah antara 8-10 tahun. Menurut pengamatan Harvard Business Review, rata-rata lama setiap siklus terjadi antara tahun 1795 dan 1937 di Amerika adalah 8,35 tahun. Secara garis besar teori siklus bisnis dibagi dalam dua golongan, yaitu: teori yang lebih menekankan faktor-faktor eksternal, dan teori-teori yang menekankan faktor-faktor internal. Teori eksternal mencari penyebab terjadinya siklus bisnis, teori internal mencari mekanisme siklus bisnis di dalam sistem ekonomi itu sendiri, proses ini menjadi mata rantai yang tak putus.[2]

Pengamatan[sunting | sunting sumber]

Siklus bisnis dapat diamati dan diperkirakan menggunakan pendekatan umum yang disebut sebagai analisis indikator siklus bisnis. Dalam proses analisa, indikator siklus bisnis dibedakan menjadi tiga kelompok indikator, yaitu indikator pendahulu, indikator seiring dan indikator pengikut. Indikator pendahulu ditandai dengan adanya pergerakan dari sekumpulan variabel ekonomi yang mendahului pergerakan aktivitas perekonomian. Proses mendahului ini terjadi secara agregat. Indikator seiring merupakan pergerakan dari sekumpulan variabel ekonomi yang bersamaan dengan pergerakan aktivitas perekonomian. Proses keduanya juga terjadi secara agregat. Sedangkan indikator pengikut adalah pergerakan dari sekumpulan variabel ekonomi yang mengikuti pergerakan aktivitas perekonomian. Sama seperti indikator pendahulu dan indikator seiring, indikator pengikut juga terjadi secara agregat. Keberadaan agregat perekonomian biasanya melalui satu variabel ekonomi yang umum yaitu produk domestik bruto. Pengamatan ini berbentuk seri rujukan. Peran dari ketiga jenis indikator siklus bisnis berbeda-beda. Peran utama berada pada indikator pendahulu. Sedangkan dua jenis indikator lainnya tidak mempengaruhi kondisi ekonomi secara langsung. Indikator pendahulu secara langsung memperkirakan perkembangan kondisi ekonomi atau bisnis dalam jangka pendek.[3]

Dampak[sunting | sunting sumber]

Siklus bisnis yang berubah-ubah dapat memunculkan permasalahan ekonomi berupa inflasi dan pengangguran. Masalah inflasi dan pengangguran akibat siklus bisnis yang berubah dapat memunculkan masalah ekonomi lainnya. Beberapa masalah ini meliputi kemiskinan penduduk, kesenjangan sosial akibat penyebaran pendapatan yang tidak merata dan masalah sosial. Dampak dari siklus bisnis yang berubah-ubah diatasi dengan kebijakan ekonomi yang mencakup kebijakan moneter dan kebijakan fiskal.[4]

Kebijakan fiskal[sunting | sunting sumber]

Siklus bisnis menentukan strategi kebijakan fiskal yang akan diterapkan oleh suatu negara. Perubahan siklus bisnis membuat kebijakan fiskal berperan sebagai penstabil otomatis terhadap sistem perekonomian. Pengeluaran pemerintah dikurangi atau penerimaan pajak ditingkatkan ketika perekonomian mengalami ekspansi. Sebaliknya, kebijakan fiskal harus menetapkan peningkatan belanja atau penurunan penerimaan pajak ketika terjadi kontraksi ekonomi. Keadaan siklus bisnis membuat kebijakan fiskal harus memiliki pengamatan siklus bisnis.[5]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ I.A., Suparman (1985). "Teori dan Teknik Penyusunan Indikator Business Cycle" (PDF). EKI. XXXIII (4): 373–374. 
  2. ^ Ensiklopedi Ekonomi, Bisnis dan Manajemen. Cipta Adi Pustaka. 1992. 
  3. ^ Sub Direktorat Analisis Statistik (2010). Analisis Statistik Ekonomi (Indikator Pendahulu) Tahun 2010. Badan Pusat Statistik. hlm. 3–4. ISBN 978-979-064-261-4. 
  4. ^ Seftarita, Chenny (2014). Kebijakan Ekonomi Makro dan Siklus Bisnis: Kajian Teori dan Studi Empiris. Banda Aceh: Syiah Kuala University Press. hlm. 1–2. ISBN 978-602-1270-10-3. 
  5. ^ Mubyarto, Novi (2014). "Kebijakan Fiskal dan Respon Belanja Negara Terhadap Siklus Ekonomi (Pelajaran dari Kisah Nabi Yusuf dan Pendapat Ibnu Khaldun)" (PDF). Nalar Fiqh. 10 (2): 2. ISSN 2086-5058.