Sangjit

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

Sang jit-thau dalam dialek Hokkian (送日頭 Mandarin: Sòng rì tou) atau sering disebut sang jit adalah ritual pertunangan dalam tradisi Tionghoa-Indonesia. sang jit secara harafiah dalam bahasa Indonesia berarti hari seserahan atau proses lamaran dari pihak keluarga calon mempelai pria (bersama orangtua, saudara, atau kerabat yang belum menikah) dengan membawa seserahan yang diberikan kepada pihak keluarga calon mempelai wanita[1]. Prosesi sang jit biasanya dilakukan antara sebulan hingga seminggu sebelum pernikahan resmi dilangsungkan. Waktu pelaksanaan acara sang jit biasanya dilakukan pada siang hari sekitar pukul 10 pagi hingga 1 siang[2]. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam keseluruhan prosesi sang jit, diantaranya busana yang dipakai dan dekorasi, barang seserahan kepada keluarga calon mempelai wanita, dan cara penyambutan keluarga calon mempelai pria.

Busana dan Dekorasi[sunting | sunting sumber]

Congsam berkerah tinggi biasanya dikenakan selama prosesi sang jit. Warna merah juga biasanya dipilih untuk menghadirkan nuansa yang khas sesuai tradisi Tionghoa saat mengadakan suatu perayaan. Tapi di zaman modern ini, warna busana dalam sang jit tidak harus selalu merah atau kuning keemasan. Namun, calon mempelai bisa mengkombinasikan warna-warna tersebut pada detail busana agar tetap menghadirkan kesan cerah dan sesuai tradisi. Lokasi acara sang jit juga didekorasi dengan nuansa warna merah dan keemasan. Adapun elemen yang tak boleh terlewat yakni lambang yang dibaca Shuāngxǐ (双喜) berarti kebahagiaan ganda / double happiness[3] yang bermakna agar pengantin bahagia selalu hingga tua, biasanya dipasang di dinding sebagai dekorasi utama.

Barang Seserahan[sunting | sunting sumber]

Seserahan yang dibawa sudah dikemas cantik di atas nampan yang disebut baki. Baki tersebut dihias dengan warna didominasi merah dan kuning keemasan. Barang seserahan dan jumlah uang yang akan dibawa oleh calon mempelai pria sebelumnya sudah didiskusikan terlebih dahulu dengan keluarga calon mempelai wanita. Jumlah baki dan barang-barang didalamnya harus berjumlah genap, dimulai dari 6, 8, dan seterusnya sesuai yang telah disepakati. Namun, hindari angka berjumlah 4 karena dalam budaya Tionghoa angka 4 memiliki arti tidak baik. Barang seserahan yang dibawa memiliki maknanya masing-masing, yakni[4]:

  1. Pakaian untuk calon mempelai wanita dan biasanya juga dilengkapi dengan perhiasan dan kebutuhan wanita lainnya seperti kosmetik; yang berarti segala kebutuhan mempelai wanita kelak akan mampu dipenuhi oleh mempelai pria.
  2. Uang angpau (atau biasa disebut uang susu) dan uang pesta. Uang susu menandakan penghormatan calon mempelai pria kepada orangtua calon mempelai wanita yang sudah membesarkan calon pengantin sedari kecil. Uang pesta adalah uang yang diberikan sebagai modal untuk mengadakan pernikahan. Ada makna simbolis dibalik uang susu dan uang pesta ini. Biasanya keluarga calon mempelai wanita tidak akan mengambil semua uang susu dan hanya mengambil ekornya saja untuk uang uang pesta. Misalnya, uang pesta yang diberikan 13.000.000, maka yang akan diambil hanya 3.000.000 saja dan sisanya dikembalikan pada calon mempelai pria. Bila keluarga calon pengantin wanita mengambil semua uang pesta, menandakan semua biaya pernikahan akan ditanggung seluruhnya oleh keluarga dari pihak wanita. Bila keluarga calon mempelai wanita menerima semua uang susu, berarti pihak keluarga wanita menyerahkan anak mereka sepenuhnya kepada calon suaminya dan tidak akan ikut campur lagi akan segala kepentingan anaknya di kemudian hari.
  3. Buah-buahan yang manis, seperti pir, jeruk, apel sebagai lambang kedamaian, kesejahteraan dan rejeki. Nanti ini dikembalikan sebagian kepada pihak calon mempelai pria.
  4. Sepasang kaki babi atau makanan kaleng, yang masih bermaka kesejahteraan. Bila tidak memungkinkan menyediakan kaki babi, mempelai bisa membawa makanan kaleng kacang polong atau buah longan kaleng berjumlah 8-12 kaleng.
  5. Aneka macam manisan yang melambangkan kehidupan pernikahan yang manis dan harmonis. Pastikan manisan yang dibawa berjumlah genap.
  6. Dua botol arak/anggur/sampanye yang diambil seluruhnya oleh pihak wanita dan akan ditukar dengan dua botol sirup merah yang diberikan kepada pihak laki-laki. Hadiah ini melambangkan keberuntungan bagi orangtua kedua calon mempelai.
  7. Dua pasang lilin merah yang diikat dengan pita merah sebagai simbol penghalau energi negatif. Nantinya, pihak calon mempelai wanita akan mengambil sepasang lilin dan mengembalikan sepasang lainnya kepada pihak calon mempelai pria agar kedua pihak keluarga dijauhkan dari energi negatif.

Penyambutan Keluarga Calon Mempelai Pria[sunting | sunting sumber]

Beberapa hal yang harus diperhatikan terkait penyambutan keluarga calon mempelai pria, diantaranya:

  1. Seluruh keluarga dari pihak wanita akan dipimpin oleh anggota keluarga yang dituakan. Wakil dari keluarga calon mempelai wanita biasanya dipilih yang sudah menikah.
  2. Rombongan calon mempelai pria terdiri dari orang-orang yang belum menikah dan akan menyerahkan baki seserahan secara berurutan dimulai dari baki untuk orangtua calon mempelai wanita hingga baki untuk calon mempelai wanita.
  3. Para pembawa baki calon mempelai pria akan mendapatkan angpau dari ibu calon mempelai wanita agar mereka cepat mendapatkan jodoh. Bila calon mempelai wanita melangkahi (mendahului menikah) kakak perempuannya, maka keluarga calon mempelai pria juga harus membawa barang pelangkah, misalnya satu set pakaian.
  4. Acara dilanjutkan dengan perkenalan keluarga kedua belah pihak dengan tamu undangan dilanjutkan dengan penghormatan kedua calon mempelai kepada orangtuanya.
  5. Keseluruhan prosesi sang jit akan diakhiri dengan makan bersama yang sudah disediakan oleh keluarga calon mempelai wanita. Makanan yang dihidangkan biasanya sajian oriental seperti bubur dan misua kuah dengan potongan daging gurih.

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ "Tradisi SANGJIT Dalam Budaya Tionghoa | Tionghoa.INFO - Tradisi dan Budaya Tionghoa". www.tionghoa.info (dalam bahasa Inggris). 2013-06-03. Diakses tanggal 2020-01-01. 
  2. ^ Weddingku. "Tradisi Sangjit Sekarang Ini | Weddingku.com". Weddingku (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2020-01-01. 
  3. ^ "Tradisi SANGJIT Dalam Budaya Tionghoa | Tionghoa.INFO - Tradisi dan Budaya Tionghoa". www.tionghoa.info (dalam bahasa Inggris). 2013-06-03. Diakses tanggal 2020-01-01. 
  4. ^ "Panduan tentang Sangjit: Ritual Seserahan dari Tradisi Adat Tionghoa - Bridestory Blog". www.bridestory.com. Diakses tanggal 2020-01-01.