Rasa tanggung jawab

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Jump to navigation Jump to search
David Eagleman menjelaskan bahwa tabiat dan kematangan seseorang mempengaruhi perilaku seseorang, salah satu kegagalannya akan dituntut secara hukum, yaitu dipenjara.[1] Dia juga percaya bahwa ilmu pengetahuan menuntut perubahan dan perbaikan, bukan rasa bersalah, harus menjadi fokus dari sistem peradilan hukum[1]

Rasa tanggung jawab adalah suatu pengertian dasar untuk memahami manusia sebagai makhluk susila, dan tinggi rendahnya akhlak yang dimilikinya.[2] Terkait rasa tanggung jawab[3], sebaiknya manusia melandasi anggapannya dengan mengakui kenyataan bahwa mansuia dalam hubungan yang sempit dan luas memerlukan satu sama lain untuk mewujudkan nilai-nilai kehidupan yang dirasanya baik dan menunjang eksistensi dirinya.[2] Rasa tanggung jawab kemudian berkembang bukan hanya pada tataran personal, namun selalu dikaitkan dengan hubungan dengan orang lain, sehingga dapat dibuat dalam sistem hukum, bahkan hukum pidana.[2] Seseorang yang terhubung dengan pihak-pihak lain tidak bisa lepas dari rasa tanggung jawab yang melekat pada dirinnya.[2]

Jenis-jenis tanggung jawab[sunting | sunting sumber]

  • Tanggung jawab moral.[4] Tanggung jawab identik dengan tindakan moral.[4] Tanggung jawab moral melingkupi tiga unsur: kebebasan bertindak dan tindakan integral tanggung jawab (lahir dari hati nurani).[4]
  • Tanggung jawab sebagai warga negara, baik sebagai pemikul jabatan pemerintah maupun kewajiban sebagai rakyat.[2] Seorang pejabat negara bertanggungjawab kepada instansi dan tugas-tugas yang diberikan kepadanya selaku pejabat.[2] Sedangkan seorang warga biasa, seseorang bertanggung jawab kepada negara, misalnya membayar pajak dan mematuhi peraturan pemerintah yang telah ditetapkan dalam peraturan-peraturan tertentu. Sebagai contoh, di negara demokrasi, kepala pemerintahan bertanggungjawab kepada parlemen dan rakyatnya sesuai undang-undang[2]

Rujukan[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b http://philosophybites.com/2011/05/david-eagleman-on-morality-and-the-brain.htmlDavidEagleman%7C"David Eagleman on Morality and the Brain"
  2. ^ a b c d e f g (Indonesia)Hassan Shadily & Redaksi Ensiklopedi Indonesia (Red & Peny)., Ensiklopedi Indonesia Jilid 6 (SHI-VAJ). Jakarta: Ichtiar Baru-van Hoeve, hal. 3443
  3. ^ "Bertanggung Jawab: Sikap Hebat Anti Pengecut". Hasan Prayoga. 2016-12-13. Diakses tanggal 2016-12-16. 
  4. ^ a b c (Indonesia)William Chang., Pengantar Teologi Moral. Yogyakarta: Kanisius, 2001, hal. 56-57