Pura Sakenan

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari
Pura Sakenan
Informasi umum
Lokasi Bendera Indonesia Pulau Serangan, Bali
Alamat Pulau Penyu, Desa Serangan, Denpasar, Kabupaten Badung, Bali.
Direnovasi 1982[1]

Pura Sakenan adalah salah satu pura penting yang terletak di wilayah selatan Bali, berada di atas pantai di barat laut Pulau Serangan, yaitu sebuah pulau kecil yang berjarak sekitar 10 kilometer di selatan Denpasar.[2] Pura ini masih memiliki hubungan dengan Buddha, yang melinggih Ida Bhatara Sakya Muni.[1] Sebagaimana dengan pura-pura lain, setiap pengunjung yang hendak masuk ke tempat suci Pura Sakenan wajib mengenakan sarung dan sabuk kain khas Bali serta bagi yang wanita tidak sedang dalam masa menstruasi.[2]

Pulau Serangan tempat Pura Sakenan berada hanya berukuran 2,9 kilometer dengan lebar 1 kilometer. Nama Serangan berasal dari kata sira dan angen atau "kangen/ sayang". Pura Sakenan dibangun dengan latar belakang wujud syukur orang yang merasa sira angen dengan keindahan alam pulau ini.

Etimologi[sunting | sunting sumber]

Berdasarkan lontar DwijendraTattwa, nama Sakenan berasal dari kata sakya yang berarti "dapat langsung menyatukan pikiran".[3] "Sakya" tersebut, dalam sejarah Siwa Buddha di Bali, berasal dari kata Sakyamuni, yaitu nama asli dari Sidharta Gautama. Lontar tersebut menguraikan bahwa pada bagian tepi barat laut Serangan, Danghyang Niratha tertegun melihat keindahan alam laut yang tenang dengan pantai yang asri. Oleh karena itu, ia membangun tempat pemujaan yang diberi nama "Pura Sakenan".[3]

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Dalam lontar Usana Bali, Mpu Kuturan atau Mpu Rajakretha membangun pura berdasar konsep yang dibawanya dari Majapahit (Jawa Timur) untuk diterapkan di Bali seluruhnya.[3] Pura Sakenan ini dibangun oleh Mpu Kuturan pada abad ke-10 Masehi (sekitar 1005 M). Mpu Kuturan tiba di Bali pada tahun 1001 M sebelum runtuhnya Kerajaan Majapahit, dalam rangka menata-ulang aspek sosial-religius masyarakat Bali.[2] Prabhu Udayana dan Empu Kuturan merupakan penganut ajaran Buddha Mahayana Sakyamuni.

Pada masa pemerintahan Sri Dalem Ktut Ngulasir dari kerajaan Gelgel, rakyat Serangan diperintahkan untuk membuat pemujaan Bhatara di tempat yang sebelumnya disucikan Empu Kuturan dan menamainya "Parahyangan Dalem Sakenan". Nama Sakenan berasal dari kata Sakyamuni, yaitu ajaran Buddha yang dianut oleh Empu Kuturan. Pada masa pemerintahan Dalem Waturenggong (1411 saka atau 1489 masehi), ia bersama Dang Hyang Nirartha disebutkan membangun pelinggih Sekar Kancing Gelung di Pura Sakenan. Ketika Danghyang Nirartha mengadakan perjalanan keliling Bali untuk mengunjungi tempat-tempat suci, ia sampai di Pulau Serangan. Dalam Dwijendra Tattwa ditulis:

"... sesudah Danghyang Nirartha mensucikan diri di Bukit Payung, lalu dia meneruskan perjalanan dengan menyusur pantai laut yang sangat indah dan mempesonakan menuju arah utara. Pantai yang dilalui cukup permai dengan pasirnya yang memutih memberikan keindahan alam yang mempesonakan, ditambah lagi dengan herembusnya angin dan lautan yang dapat menyegarkan jasmani dia."

Akhirnya, disana Danghyang Nirartha membangun pelinggih (bangunan suci) di Pura atau Kahyangan Sakenan.[3]

Menurut masyarakat setempat, Pura Sakenan awalnya hanya berbentuk sebuah batu bersinar yang ditemukan oleh Danghyang Astapaka ketika melakukan perjalanan ke Bali pada tahun 1530 M, akhirnya ia membuat pura. Selanjutnya Pedanda Sakti Wawu Rauh (Dang Hyang Nirartha) melihat pura itu dan menyempurnakannya dengan melakukan upacara. Pura tersebut kemudian dinamakan Pura Sakenan.[1]

I Wayan Leder, salah satu tokoh Desa Serangan, mengatakan bahwa sekitar tahun 1982, sebelum dilakukan reklamasi besar-besaran, masyarakat Serangan mengeluarkan tanah satu kepala keluarga satu jukung untuk melebarkan Pura Dalem Sakenan di sebelah barat. Di sebelah timur pura, saat air pasang, jalan menjadi terputus. Area tersebut kemudian direklamasi oleh masyarakat Serangan sehingga menjadi seperti sekarang. Proses pembebasan lahan dimulai semenjak tahun 1990 dan proses reklamasi akhirnya dimulai pada tahun 1996. Meskipun banyak diprotes, terutama dari kalangan nelayan perahu jukung yang menyewakan perahu untuk transportasi Bali-Serangan serta dari kalangan mahasiswa dan LSM, reklamasi tersebut kini memberikan manfaat besar bagi masyarakat Pulau Serangan, terutama di bidang pariwisata dan pendidikan, serta bagi peziarah yang tidak berani naik jukung atau terhambat karena harus mengantre jukung. Bahkan, nelayan jukung juga memperoleh pendapatan dari parkir kendaraan di Pura Sakenan.[1]

Pada tanggal 8 April 1999, Pura Sakenan diserahkan oleh Dispenda Badung kepada masyarakat Serangan. Masyarakat Serangan melaksanakan tanggung jawab tersebut sesuai konsep Tri Hita Karana: masyarakat Desa Adat Serangan melakukan gotong-royong mengadakan kebersihan di sekitar pura, menjadi panitia penyambut kedatangan panitia dari kabupaten, serta memiliki 27 orang pemangku.[1]

Arsitektur[sunting | sunting sumber]

Bangunan[sunting | sunting sumber]

Pura Sakenan berkonsep swamandala (terdiri atas pelinggih-pelinggih dan bangunan-bangunan) yang terbagi menjadi dua pelebah yaitu "Pura Dalem Sakenan" dan "Pura Pesamuan/Penataran Agung Sakenan".[4] Bangunan yang besar pernah direnovasi kecuali dinding antik yang mengelilingi halamannya, sementara yang lebih kecil masih mempertahankan corak lamanya. Bangunan yang lama dibangun dari batu kapur dan karang yang diperoleh dari karang pantai di sekitarnya.[2]

Halaman[sunting | sunting sumber]

Jumlah halaman di Pura Sakenan adalah tiga buah (trimandala)\, yaitu "utama mandala", "madya mandala", dan "nista mandala". Masing-masing halaman dibatasi oleh tembok keliling lengkap dengan kori agung yang puncaknya dihiasi pahatan kepala kala, apit lawang, dan bebetelan.[4]

Di dalam "utama mandala" terdapat sejumlah pelinggih seperti candi, bale tajuk, bale pesandekan, dan apit lawang. Pada halaman depan terdapat Candi Kurung (menghubungan "utama mandala" dengan "madya mandala") yang diapit oleh dua buah arca Ganesha. Di halaman ini juga terdapat pelinggih sebagai pemujaan Jro Dukuh Sakti; Meru Tumpang Tiga sebagai stana Batara Batur, Intaran, dan Ida Batara Muter; Gedong Jati sebagai stana Ida Ratu Ayu; serta Gedong (Tajuk) sebagai stana Batara Buitan dan Batara Muntur. Ada pula bale gede atau bale paruman yang berfungsi sebagai tempat pesamuan para pemangku, tempat penyucian pratima Ida Batara, serta tempat para sulinggih dan para raja pada saat ada upacara pujawali.[4]

Madya mandala dikelilingi tembok penyengker lengkap dengan Candi Bentar di sebelah barat dan petetesan di utara serta timur. Nista mandala hanya berupa halaman kosong. Di halaman pura terdapat dua pohon besar yang diberi kain bercorak papan catur khas Bali yang dianggap sebagai rumah bagi para roh pelindung di halaman pura.[2][4]

Religi[sunting | sunting sumber]

Pura Dalem Sakenan termasuk Samudra Kertih, tempat memuja (stana) Sang Hyang Sandhijaya (Tatmajuja) atau Ida Hyang Dewa Biswarna (Baruna) yang berdiri di tepi laut selatan Desa Serangan. Ia merupakan penjaga Segara Pakretih (ketenangan lautan/ samudera) untuk keselamatan dunia, menghilangkan segala jenis rintangan di dunia, dan segala jenis penyakit, serta menyucikan segala jenis kala, bhuta, dan manusia.[4]

Pertanian dan pariwisata[sunting | sunting sumber]

Berdasarkan Purana Pura Sakenan yang disusun oleh Tim Dinas Kebudayaan Bali, pada zaman dulu Pura Sakenan merupakan tempat krama subak untuk memohon agar sawah-ladang tidak terkena penyakit serta hama tanaman, memohon berkah, serta kesejahteraan hidup. Purana ini juga menyebutkan bahwa Hyang Sakenan menjaga walang sangit dan Hyang Masceti menjaga tikus agar tidak merusak sawah dan ladang petani.[4]

Kini mata pencaharian penduduk di sekitar wilayah Sakenan telah beralih ke sektor pariwisata, khususnya wisata bahari (selancar). Pura Sakenan menjadi tempat pemujaan untuk memohon kesejahteraan hidup serta keselamatan pada obyek–obyek wisata yang berada di Sanur, Kuta, Nusa Dua, serta Denpasar.[4]

Perayaan ulang tahun pura[sunting | sunting sumber]

Pujawali (perayaan agung) dan piodalan (ulang tahun) Pura Sakenan jatuh setiap hari Sabtu Kliwon Kuningan menurut kalender Pawukon Bali yang panjangnya adalah 210 hari. Perayaan berlangsung selama tiga hari dengan puncaknya di hari Minggu. Perayaan piodalan bertepatan dengan perayaan Kuningan (hari raya), 10 hari setelah Galungan. Ratusan peziarah dari berbagai pura datang dengan berjalan kaki atau menggunakan perahu kayu menuju Pura Sakenan di Pulau Serangan. Biasanya perayaan tersebut juga diramaikan berbagai pentas seperti tari Barongan hingga tari Topeng.[2] Kuningan sendiri merupakan salah satu hari raya yang dikhususkan untuk memuja Dewa Wisnu yaitu dewa pembawa kesejahteraan di dunia. Bagi umat Hindu di Bali, Kuningan merupakan satu waktu dimana para leluhur kembali ke langit setelah beberapa saat berada di bumi.[4]

Sebelum reklamasi daratan yang dilakukan pada tahun 1990an, para peziarah membawa benda pusaka kuno serta benda-benda suci lainnya dengan berjalan kaki melintasi hutan bakau menuju Pulau Serangan. Jika air laut sedang tinggi, mereka menggunakan perahu bercadik tradisional untuk melintas. Kini, daratan pulau mudah dicapai melalui jembatan sepanjang 110 meter.[2]

Setelah tiba di Pulau Serangan, para peziarah singgah di Pura Susunan Wadon, berlokasi sekitar setengah kilometer di sebelah timur Pura Sakenan. Selanjutnya ziarah berlanjut ke Pura Susunan Agung, barulah Pura Dalem Sakenan yang dekat dengan pantai paling barat dari Pulau Serangan.[2] Dalam kajian sastranya, rangkaian ini bisa di telusuri dari kata Pura Susunan Wadon, Susunan Agung, dan Pura Dalem Sakenan. Terdapat suatu pengertian Purusa, Pradhana, dan Susunan Agung sebagai "Lingga", "Yoni", dan "tempat penyatuan antara Purusa dan Pradana" (penyatuan sang diri dengan maharoh sebagai asal mula setiap mahluk hidup). Pemahaman inilah yang ditemukan Mpu Kuturan sehingga melahirkan Pura Sununan Lanang dan Susunan Wadon. Juga terjadi hal yang sama pada saat kehadiran Dang Hyang Nirartha sehingga, sebagai penghormatan kepadanya, dibuatlah pelinggih Pura Dalem Sakenan yang merupakan penyatuan antara Siwa dan Budha.[3]

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b c d e Gungman, Budarsana, dan Gusmartin. Minggu, 25 Januari 2004. Bali Post. I Wayan Leder: Di Sekitar Pura Sakenan Banyak Wong Samar.
  2. ^ a b c d e f g h Bali Magazine. Sakenan Temple in Bali - Pura Sakenan, Denpasar Attractions. (Inggris)
  3. ^ a b c d e Babad Bali. Pura Sakenan, Tempat Memohon Keselamatan Umat Manusia di Dunia.
  4. ^ a b c d e f g h Wisata Dewata. Pura Sakenan.

Lihat pula[sunting | sunting sumber]