Pulu Mandoti

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Pulu Mandoti adalah salah satu jenis beras lokal, berupa ketan wangi, yang langka. Beras pulu mandoti ini tumbuh di wilayah pegunungan dengan ketinggian sekira 700 Mdpl. Desa Salukanan dan Desa Kendenan, Kecamatan Baraka, berada sekitar 60 kilometer dari Kota Enrekang, Ibukota Kabupaten Enrekang. Pulu mandoti memiliki aroma yang wangi dan tekstur nasi yang pulen tersebut karena tumbuh di tempat yang unsur hara sangat spesifik dan tinggi, sehingga memberi nilai tambah tersendiri. Masyarakat Enrekang mengolah jenis beras tersebut menjadi berbagai kuliner yang enak disantap yang dikenal dengan kuliner khas Enrekang. Pulu mandoti sebagai jenis beras lokal Enrekang memiliki kualitas terbaik, harganya pun mahal di pasaran.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Berawalnya beras pulu mandoti di Sulukanan, sebuah desa di Kabupaten Enrekang, ada empat jenis padi yang pertama kali dibudidayakan oleh petani, antara lain pare pulu mandoti, pare bulu nyarang, pare tilok, dan jenis pare belanda. Asal-usul munculnya jenis pare pulu mandoti, menurut cerita yang berkembang sebenarnya bervariasi. Namun, pada umumnya masyarakat beranggapan bahwa pulu mandoti tersebut muncul secara tiba-tiba dan berasal dari langit yang dibawa oleh Towalli dan diwariskan kepada Bolong Ulu (diperkirakan Abad ke-17). Sedangkan sejarah munculnya pulu mandoti di Salukanan, berawal ketika padi dikembangkan oleh Bolong Ulu, dan saat beras hasil panen dimasak untuk persiapan upacara ritual, ternyata mengeluarkan aroma yang khas (tajam). Pada waktu itu, berkembang pemahaman di kalangan masyarakat bahwa apabila ada aroma yang tajam dan asing, seketika itu mereka lari menjauhi aroma tersebut. Kisah yang lain, yaitu ketika ada seseorang gagal mencuri dalam rumah karena merasakan aroma yang tajam dan asing, yang dianggapnya tuan rumah mempersiapkan sesaji untuk menolak bala.[1]

Etimologi[sunting | sunting sumber]

Kata pulu mandoti berdasarkan etimologi kaidah Bahasa Duri terdiri dari dua kata. Pertama, mang, yakni kata kerja yang berarti melakukan, mengerjakan. Kedua, doti, yakni perlakuan jampi-jampi untuk mempengaruhi akal pikiran orang lain. Sedangkan kata pare dalam hal ini berarti padi. Pulu dapat diartikan sebagai beras yang apabila dimasak akan terasa kenyal dan bergetah. Kata mandoti merupakan lafal masyarakat umum dari kata mangdoti. Keunikan dari pulu mandoti di samping mengeluarkan aroma khas/tajam, juga hanya dapat tumbuh di Desa Salukanan, Dusun Gandeng, Peawan, dan Tantido, serta di Desa Kendenan, dan Dusun Awo. Selain di lokasi tersebut, beras pulu mandoti tidak akan sama aromanya dengan yang ditanam di habitat aslinya. Masyarakat di Desa Salukanan dan Desa Kendenan, Kecamatan Baraka, Kabupaten Enrekang, senantiasa menjaga tradisi leluhur mereka yaitu membudidayakan beras ketan lokal yang diwariskan secara turun temurun. Pulu mandoti merupakan salah satu beras lokal jenis ketan wangi yang langka yang hanya dapat tumbuh di wilayah pegunungan setinggi 700 mdpl. Sudah sejak lama banyak yang mengambil bibit padi pulu mandoti untuk dikembangkan di luar wilayah Salukanan dan Kendenan, tetapi hasilnya tidak beraroma wangi seperti pulu mandoti yang ditanam di desa tersebut. Proses budi daya tanam itu pun masih bersifat tradisional yang berkonsep organik sebagai beras termahal di Indonesia.[2]

Fungsi[sunting | sunting sumber]

Pada Kalangan masyarakat, beras yang mengeluarkan aroma khas dan tajam juga digunakan untuk sarana upacara ritual guna menyerang orang lain, oleh kalangan masyarakat dinamakan doti, yang sangat ditakuti. Berkenaan dengan fakta tersebut, masyarakat setempat memberi nama pulu mandoti. Dari uraian sejarah tersebut, beras pulu mandoti yang beraroma tajam diartikan dua hal. Pertama, beras pulu mandoti mengeluarkan aroma atau bau yang tajam, berbeda dengan beras yang lain. Kedua, beras pulu mandoti digunakan oleh kalangan masyarakat pada saat upacara adat ritual dan digunakan sebagai sarana bahan sesaji untuk menyerang orang lain (doti). Budi daya menanam padi lokal di Desa Salukanan ini merupakan budi daya yang turun-temurun, diwariskan dari generasi ke generasi. Kalangan masyarakat dahulu kala, beras yang mengeluarkan aroma khas dan tajam tersebut digunakan untuk sarana upacara ritual atau mempersiapkan sesaji untuk menolak bala. Hingga saat ini, beras tersebut masih disajikan dalam acara-acara hajatan dan sebagainya, tetapi tidak lagi menganggap esensi beras tersebut sebagai penolak marabahaya atau hal yang lain yang berbau mistis. Masyarakat di desa ini tetap melestarikan budaya tersebut. Pemerintah kabupaten juga sering menjadikan pulu mandoti sebagai suguhan makanan untuk tamu-tamu kehormatan. Biasanya diolah dengan cara dimasak dan diulek dengan santan, ditambahkan lauk pauk berupa dangke atau bundu-bundu sebagai pasangannya. Harga beras pulu mandoti saat ini berkisar antara Rp35.000 hingga Rp55.000/liter.[3][4]

Mengenai harga jual pulu mandoti di luar Kabupaten Enrekang, termasuk di Kota Makassar hampir sama atau sering kali lebih rendah dari harga jual di Desa Salukanan. Harap dimaklumi pulu mandoti yang dijual di luar Desa Salukanan, sudah banyak yang dicampur dengan beras lain. Tidak 100% asli lagi, sejumlah penduduk yang dihubungi terpisah di Dusun Piawan, dan Dusun Mataring. Dalam hitungan, hanya ada sekitar 300 ton pulu mandoti yang diproduksi desanya setiap tahun. Karena umumnya, sawah-sawah penduduk lebih banyak ditanami padi untuk beras konsumsi. Hanya sekitar sepertiga bagian dari sawah yang ada di Salukanan yang digunakan untuk pengembangan pulu mandoti.[5][6]

Langkah pengemasan pulu mandoti tersebut, tentu saja, hanya merupakan promosi produk lokal khas daerah, karena produksi pulu mandoti dari Desa Salukanan saat ini masih belum mampu memenuhi permintaan pasar lokal. Terbukti, dalam waktu-waktu tertentu justru menjadi barang langka, termasuk di tempat asalnya, Desa Salukanan. Pangan merupakan kebutuhan dasar utama bagi manusia karena sangat penting untuk menjaga ketersediannya. Perubahan pertanian pada kontes pembangunan adalah sesuatu yang direncanakan untuk menuju implementasi pemerintah dan petani sehingga rencana strategis akan tercapai. Pembangunan pertanian yaitu menjaga kesediaan bahan pangan baik nabati maupun hewani yang sehat bagi masyarakat sehingga tercipta kwalitas manusia yang maju dan mandiri, melalui kebijakan-kebijakan dalam perencanaan yang strategis dalam pengembangan pangan di Indonesia. Pangan merupakan bidang yang sangat penting keberadaannya karena dituntut untuk terus berkembang dalam memenuhi kebutuhan masyarakat.[7]

Keunggulan[sunting | sunting sumber]

Pulu mandoti mempunyai keunggulan yaitu tidak mudah rusak dibanding dengan bahan pangan lainnya dan merupakan sumber pangan bergizi sehingga dapat menunjang program diversifikasi pangan. Padi merupakan salah satu komuditas yang mempunyai nilai ekonomi yang tinggi karena mampu memberikan pendapatan yang tinggi bagi petani yang mempunyai prospek yang baik dalam pemasaran baik lokal maupun ekspor. Salah satu beras yang mahal yang ada di Indonesia yaitu beras pulu mandoti. Beras ketan pulu mandoti yang lebih khas disebut beras beraroma pulu mandoti merupakan varietas padi lokal yang berniai ekonomi tinggi.[8]

Rujukan[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Hasmah (2020). "Makanan Tradisional Pulu Mandoti di Enrekang". Walasuji. 11 (1): 177. ISSN 1907-3038. 
  2. ^ Merahnews.com (9 April 2020). "Pulu' Mandoti, Beras Ketan Wangi Khas Enrekang". Merahnews.com. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2020-06-29. Diakses tanggal 28 Juni 2020. 
  3. ^ Nawir, Hasrul (13 Juni 2017). "Pulu Mandoti Enrekang, Beras Termahal dan Konon Disukai Soeharto". Rakyatku News. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2020-06-28. Diakses tanggal 28 Juni 2020. 
  4. ^ Pemda kabupaten enrekang (1 Mei 2017). "Pulu Mandoti Khas Enrekang". Pemda kabupaten enrekang. Diakses tanggal 28 Juni 2020. 
  5. ^ Araman Irmayani; Mais Ilsan; Ida Rosada; Nur Ilmi; Ansyari (23–25 Maret 2018). "Strategi Pengembangan Beras Beraroma "Pulu Mandoti" Berbasis Agribisnis di Kabupaten Enrekang" (PDF). Asosiasi Program Pascasarjana Perguruan Tinggi Muhammadiyah Aisyiyah (APPPTMA). ISBN 978-602-5071-07-2. 
  6. ^ Ruslan, Nur Rafiyah (21 Desember 2018). "Karakterisasi Lahan Penghasil Padi Ketan Lokal Enreking (Pulu Mandoti)". Fakultas Pertanian Universitas Hasanuddin. Diakses tanggal 28 Juni 2020. 
  7. ^ Hasmah (2020). "Makanan Tradisional Pulu Mandoti di enrekang". Walasuji Volume 11, No. 1, Juni 2020:. 11 (1): 180. 
  8. ^ Irmayani, Arman; Mais Ilsan; Ida Rosada; Nur Ilmi; Ansyari (23–25 Maret 2018). "Strategi Pengembangan Beras Beraroma "Pulu Mandoti" Berbasis Agribisnis di Kabupaten Enrekang". Asosiasi Program Pascasarjana Perguruan Tinggi Muhammadiyah Aisyiyah (APPPTMA): 189. ISBN 978-602-5071-07-2.