Lompat ke isi

Prasasti Pagaruyung IX

0°28′45″S 100°37′25″E / 0.47917°S 100.62361°E / -0.47917; 100.62361

Prasasti Pagaruyung IX
Bahan bakuBatu andesit
Sistem penulisanAksara Pasca Pallawa Sumatera
Dibuat1291 Saka / 1369 Masehi
DitemukanPonggongan, Pagaruyung, Tanjung Emas, Tanah Datar
Lokasi sekarangBalai Pelestarian Kebudayaan Wilayah III (d.h. BP3) Batusangkar, Sumatera Barat
Koordinat0°28′45″S 100°37′25″E / 0.47917°S 100.62361°E / -0.47917; 100.62361[1]
RegistrasiSMS-04/1/-/b/9
BahasaBahasa Sanskerta
Prasasti Pagaruyung IX di Sumatra
Prasasti Pagaruyung IX
Prasasti Pagaruyung IX
Prasasti Pagaruyung IX (Sumatra)
Lokasi Prasasti Pagaruyung IX

Prasasti Pagaruyung IX adalah sebuah prasasti batu yang diduga berasal dari masa pemerintahan Raja Adityawarman. Prasasti ini ditulis pada potongan batu andesit abu-abu dalam kondisi tulisan yang relatif masih dapat dikenali, meskipun hanya terdiri dari beberapa aksara saja.[1][2] Prasasti ini memuat penanggalan 1291 Saka atau 1369 Masehi, dan ditulis menggunakan bahasa Sanskerta serta aksara Pasca Pallawa Sumatera.[3] Prasasti ini ditemukan di kawasan Ponggongan, Nagari Pagaruyung, Kecamatan Tanjung Emas, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat, bersama sejumlah prasasti lainnya.[4]

Berbeda dengan keadaan prasasti-prasasti lain dari masa pemerintahan Adityawarman, yang umumnya memuat nama tokoh atau raja, prasasti ini tidak menyebut nama apa pun dalam isinya.[5] Beberapa peneliti berpendapat bahwa prasasti yang hanya memuat penanggalan ini merupakan bagian atas yang terpisah dari prasasti lain yang lebih lengkap.[1][2]

Prasasti Pagaruyung IX saat ini telah disimpan di Ruang Koleksi Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Batusangkar, bersama dengan beberapa koleksi prasasti dan artifak kuno lainnya.[1] Saat ini prasasti ini telah terdaftar sebagai cagar budaya di Sumatera Barat dengan nomor inventaris SMS-04/1/-b/9.[6]

Latar belakang

[sunting | sunting sumber]
Foto Benteng Van der Capellen (k. 1895) di Batusangkar, Sumatera Barat. Koleksi Tropenmuseum, Amsterdam.

Prasasti ini pertama kali diterbitkan oleh Nicolaas Johannes Krom, Ketua Komisi Penelitian Arkeologi di Hindia Belanda untuk Jawa dan Madura, dalam Oudheidkundig Verslag (Laporan Arkeologi) tahun 1912. Krom ditugaskan oleh Pemerintah Hindia Belanda melalui Peraturan Pemerintah No. 12 tanggal 23 Maret 1912 untuk meneliti artefak prasasti di sekitar Benteng Van der Capellen, Batusangkar, Sumatera Barat. Penelitian tersebut dilakukannya pada minggu terakhir April 1912 hingga awal Mei 1912.[7]

Dalam laporannya, Prasasti Pagaruyung IX tercatat dalam inventaris subdivisi Benteng van der Capellen dengan nomor 34, tepatnya di kawasan Ponggongan, Jorong Bukit Janggo, Nagari Pagaruyung, Tanjung Emas, Tanah Datar. Disebutkan pula bahwa di Ponggongan juga ditemukan beberapa prasasti lain, yaitu Prasasti Pagaruyung V, Prasasti Pagaruyung VIII, Prasasti Pagaruyung X, serta sebuah prasasti empat belas baris yang ditemukan di tengah sawah (saat ini dikenal sebagai Prasasti Ponggongan).[4]

Krom melaporkan bahwa ketika itu Prasasti Pagaruyung IX ini masih disimpan di Pagaruyung namun telah direncanakan untuk dipindahkan ke museum di Batavia (nama lama Jakarta).[8] Meskipun demikian, Istiawan (2006) mencatat bahwa prasasti ini sekarang berada di Ruang Koleksi Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) di Batusangkar, bersama koleksi prasasti dan fragmen artefak kuno lainnya. Dengan demikian, lokasinya tetap berada di Sumatera Barat.[1]

Deskripsi

[sunting | sunting sumber]

Prasasti Pagaruyung IX berupa potongan batu (fragmen) andesit berwarna keabu-abuan, berbentuk pipih dengan dimensi panjang sekitar 40 cm dan lebar sekitar 12 cm. Ketebalannya yang cukup minim menjadikannya tidak biasa untuk sebuah prasasti batu. Ukuran prasasti ini adalah yang terkecil bila dibandingkan dengan prasasti-prasasti lainnya dari masa Adityawarman.[9][10]

Prasasti ini berisi sebaris penggalan kalimat penanggalan (candra sengkala).[2] Kondisi tulisannya secara umum cukup baik walau hanya terdiri atas satu baris saja. Krom mendeskripsikan prasasti ini dihiasi dengan ilustrasi lingkaran yang dikelilingi delapan garis menyerupai sinar. Pada garis yang menyerupai pancaran sinar tersebut, terdapat teks yang diukir pada kedua sisinya.[9]

Alih aksara

[sunting | sunting sumber]

Budi Istiawan (2006) pertama kali melakukan alih aksara dan alih bahasa prasasti ini dan berpendapat bahwa prasasti ini ditulis dalam aksara Jawa Kuno.[1] Selanjutnya, Sri Ambarwati Kusumadewi (2012), seorang peneliti dari Universitas Indonesia, melakukan pembacaan ulang dengan sedikit perbedaan. Ia menyimpulkan bahwa aksara yang digunakan adalah aksara Pasca Pallawa. Berikut adalah alih aksara prasasti ini menurut Kusumadewi:[6]

Śaka i ti(thi) satwa gun1a sa t(rs2) ni(?) ta _ ni_ (wa)rasati gata tha(wa)n(a) nr□pa_pata[a]

Alih bahasa

[sunting | sunting sumber]

Istiawan berpendapat bahwa bahasa yang dipakai pada prasasti ini mendekati bahasa Jawa Kuno,[1] sementara Kusumadewi menegaskan isi keseluruhan prasasti ditulis hanya menggunakan bahasa Sanskerta.[11] Berikut adalah alih bahasa prasasti tersebut oleh Istiawan dan Kusumadewi:

  • Istiawan (2006):

Pada tahun Saka (12)91 yang lalu --raja—

  • Kusumadewi (2012):

Ketika tahun Ṥaka (12)91 berlalu___raja

Interpretasi

[sunting | sunting sumber]

Prasasti Pagaruyung IX berbeda dari prasasti-prasasti lainnya karena sama sekali tidak menyebutkan nama tokoh, sehingga unik dalam konteks peninggalan sejarah kerajaan bercorak Hindu-Buddha di Sumatera. Sebagian besar prasasti pada masa pemerintahan Adityawarman justru mencatat nama-nama tokoh penting, terutama Adityawarman sendiri dengan berbagai gelarnya. Hal ini tampak pada Prasasti Ombilin, Prasasti Amoghapasa, prasasti-prasasti Pagaruyung I, II, III, IV dan V, Prasasti Saruaso I dan II, Prasasti Rambatan, Prasasti Kuburajo I, serta Prasasti Bandar Bapahat, yang bahkan mencatat tokoh penguasa tambahan seperti Ananggawarman dan Sri Akarendrawarman.[5]

Penanggalan

[sunting | sunting sumber]

Bagian awal prasasti menunjukkan adanya candra sengkala, yaitu sistem penanggalan simbolis (kronogram) yang menyembunyikan angka tahun dalam bentuk kalimat atau frasa. Istiawan menyatakan sistem penanggalan ini biasa dijumpai pada prasasti-prasasti Jawa Kuno periode abad ke-8 hingga ke-14 Masehi di Pulau Jawa.[1]

Dalam bukunya Selintas Prasasti dari Melayu Kuno, ia menyatakan bahwa bagian teks yang masih terbaca pada potongan Prasasti Pagaruyung IX memuat unsur penanggalan. Teks yang dimaksud berupa tulisan satwa guna sa(trs)ne, dengan bagian selanjutnya yang tidak terbaca. Berdasarkan nilai angka simbolis, satwa bermakna 1 dan guna bermakna 9. Istiawan memperkirakan dua kata selanjutnya bermakna 2 dan 1, berdasarkan ciri prasasti yang diperkirakan berasal dari masa Adityawarman. Melalui pembacaan terbalik (sesuai kaidah candra sengkala), maka didapatkan angka tahun 1291 Saka atau 1369 Masehi.[1][2]

Aksara dan bahasa

[sunting | sunting sumber]

Prasasti Pagaruyung IX ini ditulis menggunakan aksara Pasca-Pallawa dan berbahasa Sansekerta, yaitu suatu jenis aksara yang digunakan di banyak prasasti-prasasti pada masa Adityawarman. Louis-Charles Damais (1995) menyebutkan bahwa turunan dari aksara Pallawa ini berkembang secara mandiri di Sumatera, dan menghasilkan bentuk tulisan yang ia sebut sebagai aksara Sumatera Kuno, dengan kekhasan yang tidak ditemukan di daerah lain. Aksara Pasca Pallawa Sumatera ini, yang digunakan pada Prasasti Pagaruyung IX dan prasasti-prasasti Adityawarman lainnya, telah memperlihat ciri-ciri yang berbeda dari aksara Jawa Kuno (Kawi). Hal ini menunjukkan bahwa di Sumatera terjadi perkembangan aksara yang berbeda dan terpisah dari evolusi tulisan di Jawa.[12][13]

Bahasa Sanskerta dalam prasasti-prasasti Ādityawarman berfungsi penting, terutama untuk menyebut penanggalan, memberikan pujian kepada raja atau pihak yang memerintahkan penulisan prasasti, menuliskan gelar penguasa, serta menjelaskan ajaran Buddha.[14] Dari sisi aksara dan bahasa, prasasti Adityawarman memperlihatkan variasi, seperti memadukan penggunaan Sanskerta, Melayu Kuno, dan Jawa Kuno. Sebagian besar prasasti yang dikeluarkan oleh Adityawarman, termasuk Prasasti Pagaruyung IX, ditulis menggunakan bahasa Sanskerta. Sebaliknya, Bahasa Melayu Kuno sebagai bahasa lokal di Sumatera lebih banyak digunakan untuk kata sandang, nama jabatan dan pejabatnya, serta beberapa kata kerja. Begitu pula dengan pemakaian bahasa Jawa Kuno, tetapi penggunaannya paling sedikit.[15]

Penggunaan beragam aksara dan bahasa tersebut mencerminkan konteks geopolitik, ekonomi dan budaya kerajaan Adityawarman pada masa itu, yang berada di persimpangan tradisi lokal dan pengaruh luar.[16][17][18] Penelitian terhadap prasasti-prasasti tersebut umumnya menyoroti aspek penggunaan bahasa, khususnya karena terdapat sejumlah ketidakkonsistenan, baik dalam pemberian tanda baca maupun dalam penulisan bentuk kompositum (kata majemuk).[19] Selain itu, ditemukan pula kerancuan dalam penentuan kasus gramatikal.[20] Walaupun demikian, secara keseluruhan tata bahasa Sanskerta yang digunakan tetap sesuai dengan kaidah umum yang berlaku di India.[19]

  1. Kusumadewi memberikan catatan tambahan untuk alih aksara kritis pada kata-kata tertentu, yakni 1 guna: guṇa, dan 2 tṛṣni

Lihat pula

[sunting | sunting sumber]

Referensi

[sunting | sunting sumber]

Catatan kaki

[sunting | sunting sumber]
  1. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Istiawan 2006, hlm. 25.
  2. 1 2 3 4 Miksic 2015, hlm. 38.
  3. Kusumadewi 2012, hlm. 38, 59.
  4. 1 2 Krom 1912, hlm. 44-45.
  5. 1 2 Pratiwi, Sunliensyar & Adi 2024, hlm. 125.
  6. 1 2 Kusumadewi 2012, hlm. 38.
  7. Krom 1912, hlm. 9.
  8. Krom 1912, hlm. 34.
  9. 1 2 Krom 1912, hlm. 44.
  10. Kusumadewi 2012, hlm. 42.
  11. Kusumadewi 2012, hlm. 53.
  12. Kusumadewi 2012, hlm. 47.
  13. Damais 1995, hlm. 12-13.
  14. Kusumadewi 2012, hlm. 59.
  15. Kusumadewi 2012, hlm. 57.
  16. Kusumadewi 2012, hlm. 26.
  17. Pratiwi, Sunliensyar & Adi 2024, hlm. 123-125.
  18. Griffiths 2012, hlm. 197.
  19. 1 2 Kusumadewi 2012, hlm. 54.
  20. Nilakanta Sastri 1949, hlm. 136-137.

Bacaan lanjutan

[sunting | sunting sumber]
  • Damais, Louis-Charles (1995). Epigrafi dan Sejarah Nusantara (dalam bahasa Inggris). Jakarta: École française d'Extrême-Orient. ISBN 979-8041-16-X. Diakses tanggal 2025-10-06.
  • Griffiths, Arlo (2012). "Inscriptions of Sumatra: II. Short Epigraphs in Old Javanese". Journal of the Humanities of Indonesia. Wacana: 197–201. doi:10.17510/wjhi.v14i2.61. ; ;
  • Istiawan, Budi (2006). "Selintas Prasasti dari Melayu Kuno" (PDF) (Edisi 1). Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Batusangkar (Wilayah Kerja Provinsi Sumatera Barat dan Riau): 25. ;
  • Krom, Nicolaas Johannes (1912). "Inventaris de Oudheden in de Padangsche Bovenlanden". Oudheidkundig verslag (dalam bahasa Belanda). 49. Weltevreden: Albrecht & Co.: 33–50. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  • Kusumadewi, Sri Ambarwati (2012). Adityawarman (1347-1374 Masehi): Kajian Epigrafi (Thesis). Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia. Diakses tanggal 17-08-2025. ;
  • Miksic, John (2015). "Kerinci and the Ancient History of Jambi". A 14th Century Malay Code of Laws: The Nitisarasamuccaya of Nalanda-Sriwijaya Series (dalam bahasa Inggris). 16. Institute of Southeast Asian Studies. ISBN 981-4459-74-7, 978-981-4459-74-7. ;
  • Nilakanta Sastri, K.A. (1949). History of Sri Vijaya (PDF). University of Madras.
  • Pratiwi, Eka; Sunliensyar, Hafiful Hadi; Adi, Ari Mukti Wardoyo (2024). "Legitimasi Kekuasaan Ādityawarman di Kerajaan Malayu Berdasarkan Sumber-Sumber Prasasti". Berkala Arkeologi. No.44 (No. 2): 121–138. doi:DOI:10.55981/jba.2024.6852. ; ;

Pranala luar

[sunting | sunting sumber]