Perut buncit

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Obesitas sentral
Obesity6.JPG
Pria berperut buncit dengan berat 146 kg dan tinggi 177 cm. Indeks massa tubuhnya 46.
Klasifikasi dan rujukan luar
SpesialisasiEndokrinologi Sunting ini di Wikidata
ICD-10E66
ICD-9-CM278
Obesitas sentral men

Perut buncit atau perut gendut, dikenal dengan nama klinis obesitas abdominal atau obesitas sentral, adalah kumpulan lemak abdominal berlebih yang terdapat di daerah abdomen. Obesitas abdominal berkaitan erat dengan penyakit kardiovaskular.[1] Obesitas abdominal tidak hanya ditemukan pada orang tua dan penderita kegemukan.[2] Selain itu, obesitas abdominal telah dikaitkan dengan penyakit Alzheimer serta penyakit metabolis dan vaskular lainnya.[3]

Lemak visceral, dikenal pula sebagai lemak pelapis organ tubuh atau lemak intra-abdominal, terletak di dalam rongga peritoneum yang berada di antara organ dalam dan torso, berbeda dengan lemak subkutaneus yang berada di bawah kulit dan lemak intramuskuler yang berada di sela-sela otot rangka. Lemak visceral tersusun atas beberapa depot adiposa, meliputi mesenteris, jaringan adiposa berepididimis putih, dan lemak perirenal. Lebih lanjut, lemak visceral, abdominal sentral, dan ukuran lingkar pinggang menunjukkan hubungan yang kuat dengan penyakit diabetes tipe 2.[4]

Para peneliti mulai fokus meneliti obesitas abdominal pada tahun 1980-an saat mereka menyadari bahwa obesitas tersebut memiliki kaitan penting dengan penyakit kardiovaskular, diabetes, dan dislipidemia. Obesitas abdominal berkaitan lebih erat dengan disfungsi metabolis penyebab penyakit kardiovaskular daripada obesitas biasa. Pada akhir tahun 1980-an dan awal 1990-an, ditemukan teknik pencitraan yang canggih sehingga membantu kemajuan pemahaman terhadap risiko kesehatan yang berhubungan dengan timbunan lemak tubuh. Teknologi tomografi terkomputerisasi dan pencitraan resonansi magnetis memungkinkan penggolongan massa jaringan adiposa yang berada di daerah abdomen menjadi lemak intra-abdominal dan lemak subkutaneus.[5]

Penyebab[sunting | sunting sumber]

Perut yang condong kedepan dibandingkan dada, biasanya dapat terjadi karena beberapa faktor. Pertama mulai dari perubahan yang terjadi pada hormon seseorang, sampai kebiasaan sehari yang biasanya dapat disadari atau tidak. Tak hanya itu, ternyata penumpukan lemak yang ada didalam perut dapat juga memicu penyakit berbahaya. Seperti demensia[6], diabetes, penyakit jantung, dan Kanker di kemudian hari, hal ini pun tidak boleh di sepelekan.

Hormon dan Usia[sunting | sunting sumber]

Tubuh seorang wanita atau pria memiliki sebuah tempat yang berbeda penyimpanan lemak. Seorang pria memiliki jaringan adiposa atau jaringan yang menampung lemak, akan terakumulasi dari bagian perut dan pinggang. Sedangkan wanita akan berada di pinggul dan juga paha, seiring tambahnya umur seseorang pria akan lebih rentan memiliki perut buncit. Lebih dari umur seorang lelaki diatas 40 hormon testosteron akan berkurang yang menyebabkan kalori berlebih di tubuh sehingga menjadi lemak visceral.

  • Lemak di perut sangat identik dengan visceral lemak. Lemak ini adalah kumpulan molekul-molekul yang tidak hancur oleh air ditemukan pada dalam rongga perut seseorang. Lemak visceral bekerja membungkus organ internal didalam tubuh seperti hati dan limpa. Sebenarnya untuk melihat seberapa banyak lemak pada perut seseorang secara kasat mata sangat sulit sekali. Akan tetapi perut yang condong kedepan dibandingkan dada atau buncit dan berpinggan lebar bisa menjadi tanda bahwa memiliki lemak berlebihan pada perut.
  • Lemak di paha sangat identik dengan sebutan subkutan lemak. Lemak ini biasanya di simpan tepat dibawah kulit terutama pada bagian paha. Lemak paha yang satu ini mudah dan bisa di pegang seperti dicubit atau dijepit dengan tangan. Berbeda dengan lemak perut yang ada didalam, lemak paha pada jumlahnya sebenarnya cukup diperlukan untuk menghangatkan tubuh. Akan tetapi jika terlalu banyak juga dapat mengakibatkan fatal.
Stres[sunting | sunting sumber]

Banyak pikiran atau biasa disebut dengan stres juga bisa menyebabkan perut buncit. Faktor yang disebabkan dari stres berat berpengaruh besar terhadap kenaikan berat badan[7]. Kurangnya pergerakan seperti olahraga pada seseorang karena stres juga bisa membuat tumpukan lemak di perut. Pada dasarnya hampir semua orang yang sedang mengalami stres nafsu makan meningkat drastis. Makanan yang manis dan juga tinggi kadar lemak menjadi alternatif seseorang saat stres.

Selain daripada itu Kortisol atau hormon stres, akan meningkatkan jumlah lemak pada tubuh dan bertugas melebarkan ukuran sel-sel lemak. Karena akibat dari tingginya kadar hormon kostirol tersebut pada tubuh seseorang sangat sering dikaitkan dengan meningkatnya lemak pada perut sehingga menjadi buncit.

Malas Berolahraga[sunting | sunting sumber]

Masalah utama membuatnya perut semakin buncit ialah karena tidak berolahraga. Jika anda sangat jarang melakukan aktitas pergerakan pada fisik, setiap harinya hanya makan dan tiduran hal ini bisa membuat perut semakin buncit. Pasalnya lemak pada makanan yang ada didalam perut anda tidak terbakar tanpa melakukan aktifitas, dan bisa menyebabkan lemak tersebut tertimbun disatu bagian saja yaitu perut sehingga menjadi buncit.

Lemak visceral ini sangat responsif sekali terhadap diet dan juga teknik olahraga. Melakukan olahraga dengan intensitas sedang, seperti berjalan cepat, aerobik, zumba, jogging, dan berlari. Latihan pada otot juga sangat perlu sekali untuk menghilangkan buncit atau masa otot yang sudah mengendut karena efek penuaan. Selain itu fungsi olahraga selanjutnya ialah dapat menstabilkan gula darah tekanan darah tinggi dan kadar kolesterol.

Alkohol[sunting | sunting sumber]

Perut yang buncit biasanya juga di picu oleh minuman beralkohol, sehingga banyak sekali orang menyebut buncit dengan beer belly (perut bir). Saat mengkonsumsi alkohol berlebihan, biasanya aktivitas otak yang berhubungan dengan neuron akan meningkat. Biasanya hal ini menyebabkan rasa lapar sehingga membuat para pemabut cenderung ingin makan, hal ini bisa menyebabkan perut menjadi buncit juga. Selain itu mengkonsumsi alkohol yang berlebihan bisa meningkatkan asupan glukosa yang tidak dibutuhkan oleh tubuh sehingga akan memberikan tumpukan lemak pada perut[8].

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Yusuf S., Hawken S., Ounpuu S., Dans T., Avezum A., Lanas F., McQueen M., Budaj A., Pais P., Varigos J., Lisheng L., Investigator INTERHEART Study. (2004). "Effect of Potentially Modifiable Risk Factors Associated with Myocardial Infarction in 52 Countries (The INTERHEART Study): Case-Control Study". Lancet. 364 (9438): 937–52. doi:10.1016/S0140-6736(04)17018-9. PMID 15364185. 
  2. ^ Carey D.G.P. (1998). Abdominal Obesity. Current Opinion in Lipidology. (hlm. 35-40). Vol. 9, No. 1. Diakses pada tanggal 9 April 2012.
  3. ^ Razay, George, "Obesity, Abdominal Obesity and Alzheimer's Disease", Dementia & Genetic Cognitive Disorders, Juli 2006
  4. ^ Visceral and Central Abdominal Fat and Anthropometry in Relation to Diabetes in Asian Indians
  5. ^ Poehlman, Eric T. (1998). "Abdominal Obesity: The Metabolic Multi-Risk Factor". 9 (8): 469–471. 
  6. ^ "Memiliki Perut Buncit Ternyata Berisiko Menimbulkan Penyakit Demensia - Halaman 1 - National Geographic". nationalgeographic.grid.id. Diakses tanggal 2020-02-14. 
  7. ^ "6 Efek Berbahaya Stres pada Kesehatan Tubuh Anda". detikHealth. Diakses tanggal 2020-02-14. 
  8. ^ "Cari Tahu Ragam Penyebab Lemak Perut". Alodokter. 2016-01-27. Diakses tanggal 2020-02-14.