Pepermin

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Pepermin
Pfefferminze natur peppermint.jpg
Pepermin (Mentha x piperita)
Klasifikasi ilmiah
Kerajaan:
(tanpa takson):
(tanpa takson):
(tanpa takson):
Ordo:
Famili:
Genus:
Nama binomial
Mentha × piperita

Pepermin merupakan tumbuhan yang sebagian besar ditanam di Eropa. Tanaman ini telah digunakan untuk keperluan pembuatan obat-obatan selama bertahun-tahun. Pepermin terkenal ampuh meredakan sakit perut, dan sering kali digunakan sebagai bahan utama dalam minuman hangat seperti teh. Pepermin juga merupakan obat ideal untuk menghilangkan sakit kepala.

Taksonomi[sunting | sunting sumber]

Pepermin (Mentha piperita L.) termasuk dalam famili Lamiceae.[1] Nama sinonim dari Mentha piperita L. adalah M. Balsamea.[2] Deskripsi mengenai pepermin pertama kali dilakukan pada tahun 1753 oleh Carolus Linnaeus.[3] Di Dunia Timur maupun Dunia Barat, pepermin telah dikenal sebagai obat tradisional. Pada tahun 2004, pepermin ditetapkan sebagai tumbuhan herbal yang penting.[2]

Komposisi[sunting | sunting sumber]

Daun pepermin mengandung minyak asiri dengan kadar antara 0,5–4%. Di dalam minyak asiri ini terdapat mentol (30–55%) dan menton (14–32%). Mentol dalam daun pepermin bersifat bebas alkohol yang tersusun dari asetat dan valerat ester sebanyak 3–5%. Di dalam daun pepermin juga terdapat monoterpen lain yaitu isementon (2–10%), 1,8-cineole (6–14%), a-pinen (1–1,5%), b-pinen (1–2%), limonen (1–5%), neomentol (2,5–3,5%), dan mentofuran (1–9%).[4]

Kandungan fenol pada daun pepermin kering sebanyak 1,56–27,12 mg GAE/g pada tiap daun. Sementara kandungan polifenol pada air seduhan daun pepermin berkisar 1,0–21,8 %.[5]

Penyebaran[sunting | sunting sumber]

Dunia Barat[sunting | sunting sumber]

Pepermin tumbuh di sebagian besar wilayah benua Eropa dan Amerika Utara. Pertumbuhannya dapat mencapai satu meter. Di dua benua ini, pepermin digunakan sebagai obat gangguan pencernaan.[6]

Fungsi[sunting | sunting sumber]

Penguat sistem pernapasan[sunting | sunting sumber]

Pepermin dapat menguatkan sistem respirasi dan sistem sirkulasi pada pernapasan dengan berperan sebagai sumber nutrisi.[7]

Pengobatan sindrom iritasi usus[sunting | sunting sumber]

Pepermin mengandung minyak yang dapat digunakan untuk mengurangi gejala sindrom iritasi usus. Obat berbahan pepermin dibentuk menjadi kapsul berlapis enterik. Pepermin dalam hal ini berperan sebagai metode terapi tambahan dan pengobatan alternatif. Sebuah penelitian terbesar mengenai hubungan antara terapi tambahan dan pengobatan alternatif dengan sindrom iritasi usus telah dilakukan di Amerika Serikat pada tahun 2012. Metode penelitannya adalah survei skala nasional. Hasilnya menunjukkan bahwa pepermin menjadi bahan pemanfaatan terbanyak pada terapi tambahan dan pengobatan alternatif di Amerika Serikat.[8]

Produks[sunting | sunting sumber]

Minyak asiri[sunting | sunting sumber]

Daun pepermin digunakan untuk membuat minyak asiri. Minyak yang dihasilkan diberi nama minyak permen.[9]

Teh instan[sunting | sunting sumber]

Produk teh instan biasanya kehilangan senyawa aromatis selama pembuatannya. Senyawa yang hilang adalah alkohol, aldehid dan keton. Ketiga senyawa ini memiliki sifat mudah menguap. Karena itu, teh instan perlu diberi penguat rasa yang salah satunya adalah pepermin.[10]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Kartikasari, R., Suryajaya, I. W., dan Sintoro, H. P. (2020). "Effect Of Peppermint Aromatherapy On Menstruation Scale Of Pain In Fakultas Kedokteran Hang Tuah Surabaya Students(Msg)". AGRI-TEK: Jurnal Ilmu Pertanian,Kehutanan dan Agroteknologi;. 21 (1): 11. ISSN 1411-5336. 
  2. ^ a b Rita, P., dan Animesh, D. K. (2011). "An Updated Overview on Peppermint (Mentha piperita L.)" (PDF). International Research Journal of Pharmacy. 2 (8): 1. ISSN 2230-8407. 
  3. ^ "Peppermint Mentha piperita 15 mL" (PDF). Dōtterra Holdings, LLC. 2019. 
  4. ^ Setiawan, A., Kunarto, B., dan Sani, E. Y. "Ekstraksi Daun Peppermint (Mentha Piperita L.) Menggunakan Metode Assisted Extraction Terhadap Total Fenolik, Tanin, Flavonoid dan Aktivitas Antioksidan" (PDF). Repositori Universitas Semarang. hlm. 2. 
  5. ^ Apriliyani, D. A., Prabawa, S. ,dan Yudhistira, B. (2021). "Pengaruh Variasi Formulasi dan Waktu Pengeringan terhadap Karakteristik Minuman Herbal Daun Beluntas dan Daun Mint". Agrointek. 15 (3): 880. ISSN 1907-8056. 
  6. ^ Keifer, D., dkk. (2007). "Peppermint (Mentha Xpiperita): An Evidence-Based Systematic Review by the Natural Standard Research Collaboration" (PDF). Journal of Herbal Pharmacotherapy. 7 (2): 94. doi:10.1300/J157v07n02_07. Peppermint (Mentha piperita), a perennial herb growing to the size of one meter and found throughout much of Europe and North America, has a long history of use for digestive disorders. 
  7. ^ Akbar, Zaidul (2020). Jurus Sehat Rasulullah: Hidup Sehat Menebar Manfaat. Syamil Quran. hlm. 170. ISBN 978-623-928-735-1. 
  8. ^ Selina, C., Darwis, I., dan Graharti, R. (2019). "Peppermint (Mentha piperita) sebagai Pengobatan Alternatif pada Irritable Bowel Syndrome (IBS)" (PDF). Majority. 8 (1): 212. 
  9. ^ Suralaga, C., Mirunggan, D. A., dan Rukmaini (2022). "Efektivitas Pemberian Aromatherapy Daun Peppermint terhadap Penurunan Frekuensi Morning Sickness pada Ibu Hamil Trimester I di PMB Anis Jakarta Pusat". Jurnal Akademi Keperawatan Husada Karya Jaya. 8 (1): 40. ISSN 2442-501X. 
  10. ^ Sukardi, Pulungan, M. H., dan Kurniawan, K. (2009). "Perencanaan Produksi Teh Instan dengan FlavorPepermin Skala Rumah Tangga". Jurnal Teknologi Pertanian. 10 (2): 107. 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]