Pelabuhan Bitung
| Pelabuhan Bitung | |
|---|---|
| Lokasi | |
| Negara | Indonesia |
| Lokasi | Bitung, Sulawesi Utara |
| Koordinat | 01° 26’ 00” N / 125° 11’ 00” E |
| Detail | |
| Operator | Pelabuhan Indonesia |
| Jenis | Pelabuhan umum |
Pelabuhan Bitung adalah sebuah pelabuhan yang dibangun di Kota Bitung sebagai tempat berlabuh bagi kapal penumpang dan kapal barang dengan tonase besar. Pembangunan Pelabuhan Bitung selesai pada tahun 1954 dan awalnya digunakan sebagai pelabuhan logistik menggantikan peran Pelabuhan Manado. Pelabuhan Bitung menjadi salah satu pelabuhan di Pulau Sulawesi yang menjadi lokasi ekspor kopra serta menjadi sentra logistik untuk pasar bag hasil laut dan produk perikanan.
Sejak tahun 1954, kegiatan bongkar-muat barang dari Singapura dan Hong Kong di Pelabuhan Bitung dilakukan melalui kerja sama antara pegawai pabean dan bea cukai, pegawai pelabuhan dan polisi setempat. Kasus penyelundupan barang impor pernah terjadi di Pelabuhan Bitung pada bulan Juni 1958. Pada tahun 2008, pengelolaan Pelabuhan Bitung diserahkan oleh Pemerintah Indonesia kepada PT. Pelabuhan Indonesia (Persero).
Lokasi dan kondisi geografi
[sunting | sunting sumber]Pelabuhan Bitung selesai dibangun pada tahun 1954.[1] Lokasi Pelabuhan Bitung terletak di daratan utama Kota Bitung. Pelabuhan Bitung terlindungi secara alami oleh Pulau Lembeh. Perairan di antara Kota Bitung dan Pulau Lembeh memiliki kedalaman antara 0–30 meter dan lebih dari 30 meter sehingga kapal penumpang dan kapal barang dengan tonase besar dapat berlabuh di Pelabuhan Bitung.[2]
Pemanfaatan
[sunting | sunting sumber]Pelabuhan logistik
[sunting | sunting sumber]Sejak selesai dibangun pada tahun 1954, Pelabuhan Bitung digunakan sebagai pelabuhan logistik menggantikan peran Pelabuhan Manado.[1] Pelabuhan Bitung merupakan salah satu pelabuhan di Indonesia yang mengadakan kegiatan bongkar muat barang.[3] Beras, tekstil dan kendaraan menjadi barang muatan masuk dari Singapura maupun Hong Kong yang diturunkan di Pelabuhan Bitung.[1]
Di sisi lain, Pelabuhan Bitung menjadi salah satu pelabuhan di Pulau Sulawesi yang menjadi lokasi ekspor kopra. Pelabuhan Bitung menjadi tempat berlabuh bagi kapal-kapal besar yang akan mengangkut kopra sebagai barang ekspor utama dari kawasan Indonesia Timur. Pengangkutan kopra menuju ke Singapura atau Hong Kong dan hanya dilakukan ketika berat kopra sekurangnya mencapai seribu ton hingga beberapa ribu ton. Kopra diangkut oleh kapal dengan menggunakan karung.[4] Pelabuhan Bitung juga menjadi sentra logistik untuk pasar kelautan. Kegiatan penanganan dan distribusi hasil perikanan serta produk kelautan dari berbagai daerah di sekitar Kota Bitung diadakan di Pelabuhan Bitung.[5]
Pelabuhan hubung
[sunting | sunting sumber]Pelabuhan Bitung merupakan salah satu pelabuhan hubung di Indonesia.[6] Selain itu, Pemerintah Indonesia telah menetapkan Pelabuhan Bitung sebagai salah satu pelabuhan hubung internasional.[7]
Fasilitas
[sunting | sunting sumber]Fasilitas utama di Pelabuhan Bitung adalah dermaga. Jumlah dermaga di Pelabuhan Bitung sebanyak empat yaitu terdiri dari empat Dermaga Samudra, Dermaga Nusantara, Dermaga Peti Kemas VIII dan Dermaga Peti Kemas IX. Dermaga Samudra dibangun sepanjang 607 meter dengan kedalaman sekitar 5 meter. Dermaga Nusantara dibangun sepanjang 652 meter dengan kedalaman sekitar 6 meter. Dermaga Peti Kemas VIII dibangun sepanjang 182 meter dengan kedalaman sekitar 20 meter. Sedangkan Dermaga Peti Kemas IX dibangun sepanjang 60 meter dengan kedalaman sekitar 10 meter.[butuh rujukan]
Kegiatan logistik di Pelabuhan Bitung didukung oleh fasilitas pendukung kegiatan ekspor seperti tempat penyimpanan beku dan pusat pengolahan ikan. Fasilitas tersebut mempermudah kegiatan perolehan, pengolahan dan pendistribusian produk kelautan yang akan diekspor dari Pelabuhan Bitung.[5]
Pengelolaan
[sunting | sunting sumber]Sejak tahun 1954, kegiatan bongkar-muat barang dari Singapura dan Hong Kong dilakukan melalui kerja sama antara pegawai pabean dan bea cukai, pegawai pelabuhan dan polisi setempat.[1] Pada tahun 2008, pengelolaan Pelabuhan Bitung diserahkan oleh Pemerintah Indonesia kepada PT. Pelabuhan Indonesia (Persero). Status pengelolaan PT. Pelabuhan Indonesia (Persero) sebagai badan usaha pelabuhan. Penetapan statusnya berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2008.[6]
Permasalahan
[sunting | sunting sumber]Penyelundupan
[sunting | sunting sumber]Selama bulan Juni 1958, Pelabuhan Bitung ditutup sementara karena adanya permasalahan penyelundupan barang impor. Barang yang diselundupkan merupakan barang yang diperdagangkan secara barter. Produk yang dikirim sebagai barang ekspor ialah kopra. Sedangkan produk barternya berupa beras, tekstil, mobil, jip dan peralatan mesin. Penutupan sementara dilakukan karena penyelundupan diketahui juga menyertakan barang-barang yang digunakan untuk keperluan militer.[8]
Referensi
[sunting | sunting sumber]Catatan kaki
[sunting | sunting sumber]- 1 2 3 4 Dick 2011, hlm. 52.
- ↑ Arifin, T., dkk. (September 2019). Nugraha, Bayu (ed.). Status Sumber Daya Laut dan Pesisir Selat Lembeh-Bitung Sulawesi Utara (PDF). Bogor: PT Penerbit IPB Press. hlm. 53. ISBN 978-602-440-920-3. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- ↑ Supena, Stevy Hanny (Maret 2023). Ain, Qurratul (ed.). Sistem Logistik dan Ketahanan Nasional: Konsepsi Pengelolaan Lalu Litas Transportasi Logistik Nasional melalui Pendekatan Intelijen Buatan (AI) (PDF). Bandung: Widina Bhakti Persada. hlm. 25. ISBN 978-623-459-215-3. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- ↑ Dick 2011, hlm. 51.
- 1 2 Damanik, dkk. 2023, hlm. 29.
- 1 2 Nur, N. K., dkk. (Juli 2021). Watrianthos, Ronal (ed.). Perancangan Pelabuhan Laut (PDF). Penerbit Yayasan Kita Menulis. hlm. 43. ISBN 978-623-342-138-6. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- ↑ Damanik, dkk. 2023, hlm. 56.
- ↑ Dick 2011, hlm. 49.
Daftar pustaka
[sunting | sunting sumber]- Damanik, R., dkk. (Juli 2023). Proyek Strategis Ekonomi Biru Menuju Negara Maju 2045 (PDF). Jakarta: Laboratorium Indonesia 2045. ISBN 978-623-88635-3-2. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- Dick, Howard (2011). "Ekonomi Indonesia pada Tahun 1950an: Kurs Beraneka, Jaringan Bisnis serta Hubungan Pusat-Daerah". Dalam van Bemmelen, S., dan Raben, R. (ed.). Antara Daerah dan Negara: Indonesia Tahun 1950-an (Pembongkaran Narasi Besar Integrasi Bangsa). Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia & KITLV‑Jakarta. hlm. 37–63. ISBN 978‑979‑461‑772‑4. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: editors list (link) Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)