Padmavat

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Jump to navigation Jump to search
"Ratu Nagmati menanyakan burung beo barunya siapa yang lebih cantik, dia atau mantan pemiliknya Putri Padmini dari Sri Lanka. Ia mendapat jawaban yang tidak menyenangkan." Manuskrip dengan gambar dari tahun 1750[1]

Padmavat (atau Padmawat) adalah sebuah wiracarita yang ditulis pada tahun 1540 oleh seorang penyair Sufi, Malik Muhammad Jayasi.[2] Ia menulis wiracarita ini dalam bahasa Awadh[3][4] dan pada awalnya dengan menggunakan aksara Nastaʿlīq Persia.[5] Wiracarita ini merupakan teks dalam bahasa Awadh tertua yang masih ada hingga kini.[6] Wiracarita ini mengisahkan keinginan Sultan Delhi Alauddin Khalji untuk menikahi Rani Padmini.[7] Rani Padmini adalah seorang permaisuri dari Kerajaan Sinala dan merupakan sahabat karib burung beo yang dapat bicara, Hiraman. Ayahnya tidak menyukai hubungan ini dan memerintahkan agar burung itu dibunuh. Burung ini lari dan lalu ditangkap oleh pemburu, dan akhirnya menjadi hewan peliharaan penguasa Chittor, Ratansen.[8] Ia merasa terdorong dengan perkataan beo itu mengenai kecantikan Padmini dan ia memutuskan untuk mengunjungi Kerajaan Sinhala. Setelah melalui petualangan (termasuk menyeberangi tujuh lautan), ia akhirnya menikah dengan Padmini, tetapi Alauddin Khalji juga mendengar kabar mengenai kecantikan Padmini.[9] Alauddin lalu mengepung Chittor untuk merampas Padmini. Pada akhirnya pasukan Alauddin Khalji berhasil mengalahkan pasukan Ratansen, dan Ratansen sendiri tewas dalam pertarungan melawan Devpal, seorang raja dari Kumbhalner yang juga terpana dengan kecantikan Padmini. Sementara itu, Padmini melakukan ritual jauhar (bakar diri) untuk mempertahankan kehormatannya.[10]

Alauddin Khalji dan suami Padmini, Ratan Sen, adalah tokoh dalam sejarah, sementara Padmini merupakan tokoh legenda.[11]

Catatan kaki[sunting | sunting sumber]

  1. ^ "Homer on the Ganges". The Library of Congress. Diakses tanggal 12 October 2017. 
  2. ^ "Absurdity of epic proportions: Are people aware of the content in Jayasi's Padmavat?". 
  3. ^ Padmavati isn’t history, so what’s all the fuss about?
  4. ^ "Padmavati trailer: Sanjay Leela Bhansali's new film looks grand, spellbinding and very expensive!". Business Today. 9 October 2017. 
  5. ^ Ramya Sreenivasan 2017, hlm. 30.
  6. ^ Meyer, William Stevenson; Burn, Richard; Cotton, James Sutherland; Risley, Herbert Hope (1909). "Vernacular Literature". The Imperial Gazetteer of India. 2. Oxford University Press. hlm. 430–431. Diakses tanggal 2009-04-06. 
  7. ^ "'Padmavat' reminds us that a major casualty of the gory Rajput conflicts were Rajput women". 
  8. ^ Ramya Sreenivasan 2007, hlm. 207.
  9. ^ Ramya Sreenivasan 2007, hlm. 208.
  10. ^ Ramya Sreenivasan 2007, hlm. 209.
  11. ^ Asher, Catherine B.; Talbot, Cynthia (2006). India Before Europe (dalam bahasa Inggris). Cambridge University Press. hlm. 106. ISBN 9780521809047. 

Daftar pustaka[sunting | sunting sumber]