Nederlandsch-Indische Artsen School

Nederlandsch-Indische Artsen School (bahasa Indonesia: Sekolah Dokter Hindia Belanda), yang lebih dikenal dengan singkatan NIAS, adalah sekolah pelatihan kedokteran untuk siswa Jawa dan Pribumi lainnya yang beroperasi di Surabaya, Hindia Belanda dari 1913 hingga 1942. Setelah kemerdekaan Indonesia, sekolah ini dilebur ke dalam Universitas Airlangga.[butuh rujukan]
Sejarah
[sunting | sunting sumber]Sebelum berdirinya NIAS pada 1913, pada abad ke-19, terdapat jenis pelatihan di Hindia Belanda yang disebut Dokter Djawa, suatu bentuk sertifikasi medis dasar bagi orang Jawa yang tidak diizinkan bersekolah di sekolah-sekolah Eropa. Sekolah Dokter Djawa, yang didirikan pada 1851, awalnya hanya terdiri dari beberapa ruangan di rumah sakit militer di Batavia; pengajaran dilakukan dalam bahasa Melayu hingga sekitar 1875, dan setelah itu dalam bahasa Belanda.[1] Pada 1902, sebuah program medis berbahasa Belanda yang lebih ketat diluncurkan di Batavia, yang disebut Sekolah Pendidikan Dokter Bumiputra STOVIA. Jenis pelatihan yang diberikan di sana lebih ketat dan para siswanya menerima gelar ‘Dokter Hindia’ bukan Dokter Djawa.[1]
NIAS didirikan pada 1913 di sebuah rumah tinggal di Surabaya, Jawa Timur. Pelatihan yang ditawarkan pada awalnya sangat mendasar, karena sumber daya dan guru sangat terbatas selama Perang Dunia I, dan tidak ada siswa yang lulus hingga awal 1920-an.[1] Setelah perang berakhir, dana pemerintah disetujui untuk pembangunan gedung baru yang akan dilengkapi auditorium dan perpustakaan.[2]
Pada 1923, gedung baru yang dibangun khusus tersebut diresmikan dan angkatan pertama lulusan bersertifikat dikirim untuk memulai pengabdian mereka.[3] Selama 1920-an, institusi ini mempekerjakan sejumlah dokter lulusan Eropa sebagai instruktur, yang paling terkenal adalah Dr. Soetomo. Pada 1928, sebuah sekolah kedokteran gigi baru didirikan di sebelah NIAS, yang disebut School Tot Opleiding van Indische Tandartsen (STOVIT).[butuh rujukan]
Setelah invasi Jepang ke Hindia Belanda pada 1941, NIAS ditutup. Mahasiswa dari program tersebut dipindahkan ke Jakarta dan terdaftar di sekolah kedokteran baru yang dikelola Jepang bernama Ika Daigaku.[butuh rujukan]
Setelah Indonesia merdeka dari Belanda, bekas NIAS tersebut digabungkan ke dalam universitas baru yang didirikan di Surabaya, Universitas Airlangga, yang diresmikan oleh Soekarno pada 1954.[4]
Lulusan terkemuka
[sunting | sunting sumber]- Ibnu Sutowo, pejuang kemerdekaan dan menteri kabinet di bawah Soeharto[butuh rujukan]
- Suharso, dokter yang dikenal sebagai pelopor rehabilitasi fisik dan prostetik di Indonesia[butuh rujukan]
- G. A. Siwabessy, menteri kabinet di bawah Soeharto[butuh rujukan]
- Satrio Sastrodiredjo, politikus Partai Komunis Indonesia[butuh rujukan]
Pranala luar
[sunting | sunting sumber]- "Sejarah Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga" Diarsipkan 2007-05-02 di Wayback Machine., Situs Resmi FK Unair, diakses Mei 2007.
Referensi
[sunting | sunting sumber]- 1 2 3 Pols, Hans (2018). Nurturing Indonesia : medicine and decolonisation in the Dutch East Indies. Cambridge, United Kingdom: Cambridge University Press. hlm. 47–51. ISBN 9781108424578.
- ↑ "De Nederlandsch-Indische artsenschool". Bataviaasch nieuwsblad (dalam bahasa Belanda). 1919-08-05.
- ↑ val Gelderen, J. (1927). Welvaart en welvaartsmeting in Nederlandsch-Indië (dalam bahasa Belanda). Nijhoff.
- ↑ "Sejarah Singkat Universitas Airlangga". www.unair.ac.id. Universitas Airlangga. Diakses tanggal 20 November 2020.