Nagasasra dan Sabukinten

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari
Nagasasra dan Sabukinten
Nagasasra01-1991.jpg
Pengarang Singgih Hadi Mintardja
Negara Indonesia
Bahasa Indonesia
Genre Roman
Penerbit Badan Penerbit ”Kedaulatan Rakyat(Yogyakarta)
Tanggal rilis 1966
Halaman 16 jilid (32 jilid edisi 1991)

Nagasasra dan Sabuk Inten adalah buku ceritera silat klasik karangan S.H. Mintardja[1]. Buku ini diterbitkan pertama kali oleh Badan Penerbit ”Kedaulatan Rakyat” Yogyakarta pada tahun 1966. Sebelumnya kisah ini muncul sebagai cerita bersambung dalam surat kabar Kedaulatan Rakyat (KR) semenjak 13 Agustus 1964[2]. Isinya bercerita tentang Mahesa Jenar yang pergi mengembara mencari keris pusaka Nagasasra dan Sabuk Inten yang hilang dari perbendaharaan Istana Demak. Roman ini memadukan kisah sejarah dengan mitos-mitos yang beredar di masyarakat Jawa[2].

Tokoh-tokohnya[sunting | sunting sumber]

Sebagaimana wiracarita pada umumnya, cerita silat ini juga berkisah tentang peperangan antara yang baik melawan yang buruk. Tokoh-tokoh yang baik (protagonis) di antaranya:

  1. Mahesa Jenar, dikenal juga sebagai Rangga Tohjaya, adalah seorang prajurit dari kesatuan Nara Manggala, pasukan pengawal raja Kesultanan Demak, yang menjadi tokoh utama dalam buku ini. Ia merupakan murid Pangeran Handayaningrat alias Ki Ageng Pengging Sepuh.
  2. Arya Salaka, murid Mahesa Jenar, putera Kepala Daerah Perdikan Banyu Biru.
  3. Rara Wilis, kekasih Mahesa Jenar, cucu Ki Ageng Pandan Alas dari Gunung Kidul.
  4. Ki Kebo Kanigara, paman guru Mahesa Jenar, putera Pangeran Handayaningrat. Namanya yang lain adalah Putut Karang Jati.
  5. Panembahan Ismaya alias Pangeran Buntara, alias Pasingsingan Sepuh. Salah seorang adik Prabu Brawijaya V yang mengasingkan diri.

Selain itu terdapat pula tokoh-tokoh jahat (antagonis) seperti:

  1. Lawa Ijo, murid Pasingsingan, musuh utama Mahesa Jenar yang mengepalai gerombolan begal di Alas Mentaok.
  2. Pasingsingan (Umbaran), murid Pasingsingan Sepuh yang terjerumus ke jalan sesat.
  3. Sima Rodra Muda, kepala gerombolan penjahat dari Gunung Tidar, yang sebetulnya adalah Ki Panutan, ayah Rara Wilis.
  4. Jaka Soka, kepala gerombolan bajak laut dari Nusa Kambangan, yang selalu mengejar-ngejar Rara Wilis.
  5. Ki Ageng Lembu Sora, Kepala Daerah Perdikan Pamingit, paman Arya Salaka.
  6. Uling Putih dan Uling Kuning, kepala-kepala gerombolan perampok dari Rawa Pening.

Ringkasan cerita[sunting | sunting sumber]

Mahesa Jenar pergi mengembara meninggalkan Istana Demak karena perselisihan soal keyakinan agama (Mahesa Jenar adalah murid Syekh Siti Jenar, seperti juga Ki Kebo Kenanga alias Ki Ageng Pengging) dan karena hilangnya pusaka-pusaka Kesultanan Demak, di antaranya keris-keris Kiai Nagasasra dan Kiai Sabukinten. Keris-keris itu ternyata tengah menjadi rebutan tokoh-tokoh golongan hitam, karena dianggap bisa menjadi sipat kandel (Jawa: modal spiritual) bagi penguasa Tanah Jawa.

Sementara itu dalam perjalanannya menemukan kembali keris Nagasasra dan Sabukinten, Mahesa Jenar menemukan beberapa persoalan lain yang saling kait mengait. Menghilangnya ayah Rara Wilis, yang kemudian menjadi kepala gerombolan di Gunung Tidar. Sementara itu sahabatnya, Ki Ageng Gajah Sora yang menjadi Kepala Daerah Perdikan Banyu Biru, difitnah oleh adiknya, Ki Ageng Lembu Sora, yang tamak ingin menguasai wilayah Banyu Biru, dan pada akhirnya harus ditangkap dan ditahan di Demak. Dalam pada itu, semua gerombolan dari golongan hitam itu berdatangan menyerbu ke Banyu Biru, karena adanya isu keberadaan keris Nagasasra dan Sabukinten di daerah tersebut. Mahesa Jenar, dengan dibantu sahabat-sahabatnya, berupaya keras menyelamatkan Banyu Biru dari bencana, sambil mendidik Arya Salaka sebagai pewaris wilayah Banyu Biru pada masa depan. Sedangkan keris-keris Nagasasra dan Sabukinten diselamatkan oleh seorang sakti yang selalu diliputi oleh rahasia, namun sangat dihormati oleh Baginda Sultan Trenggana dari Demak.

Daftar pustaka[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Supratikno Rahardjo. S.H. Mintardja dan Sejarah Mataram. Makalah BWCF (2013)
  2. ^ a b Teguh Supriyanto. Mitos: Antara mediasi dan tegangan dalam Nagasasra dan Sabukinten serta Api Di Bukit Menoreh karya SH Mintardja. Makalah BWCF (2013)

Pranala luar[sunting | sunting sumber]