Minal 'Aidin wal-Faizin

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

Minal 'Aidin wal-Faizin adalah tradisi yang biasa diucapkan antara sesama Muslim Indonesia.

Saat merayakan Idulfitri, setelah menunaikan ibadah puasa pada bulan Ramadan. Kalimat tersebut adalah idiom dalam bahasa Arab yang dipopulerkan dalam dakwah di Indonesia.

Kalimat ini menjadi doa dengan terjemahan umum "semoga kita semua tergolong orang yang kembali (ke fitrah) dan menunai kemenangan dengan meraih surga".[1]

Makna kembali ke fitrah adalah kembali ke Islam, kembali pada ajaran, akhlak, dan keluhuran budaya Islam. Kembali kepada kesucian. Menjadi titik awal yang baru untuk membenahi diri setelah ditempa dengan ibadah ibadah yang dilakukan di bulan ramadhan.

Asal mula[sunting | sunting sumber]

Ucapan minal 'aidin wal-faizin ini menurut Muhammad Quraish Shihab dalam buku Lentera Hati [2] menjelaskan hal ini dengan lebih proporsional. Menurutnya, pertama kali kalimat tersebut jangan sampai salah penyebutan. Kata ‘aidin dan faizin jangan sampai disebut aidzin, aidhin, atau faidzin, faidhin. Mengenai penghilangan kata ja’alna atau ja’alnallahu (semoga kami dijadikan, semoga Allah menjadikan kami) merujuk pada tradisi Arab yang suka langsung dan menghilangkan beberapa kata sebelumnya. Atau hal ini juga bisa disebabkan orang Indonesia yang susah menyebut dan menghafal lafaz Arab yang terlalu kepanjangan.

Kalimat perkataan ini mulanya berasal dari seorang penyair pada masa Al-Andalus, yang bernama Shafiyuddin Al-Huli, ketika dia membawakan syair yang mengkisahkan dendang para wanita menyambut hari raya pada jaman itu.[3]

Ucapan Idulfitri sesuai sunnah[sunting | sunting sumber]

Menurut Ibnu Taimiyah, ucapan Idulfitri yang sesuai dengan Sunnah, Adapun ucapan selamat pada hari raya ‘Id, sebagaimana ucapan sebagian mereka terhadap sebagian lainnya jika bertemu setelah Sholat ‘Id, yaitu:

  • Taqabbalallahu minna wa minkum (Arab: تقبل الله منا ومنكم), artinya: "Semoga Allah menerima amal kami dan kalian" atau
  • Taqabbalallahu minna waminkum wa ahalahullahu ‘alaik (Arab: تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ, وَأَحَالَهُ اللَّهُ عَلَيْك), artinya: "Semoga Allah menerima (amalan) dari kami dan darimu sekalian dan semoga Allah menyempurnakannya atasmu" dan semisalnya.”[4]

Ucapan selamat atau tahniah atas datangnya momen tertentu bisa saja merupakan tradisi atau adat. Sementara hukum asal suatu adat adalah boleh, selagi tidak ada dalil tertentu yang mengubah dari hukum asli ini. Hal ini juga merupakan madzhab Imam Ahmad. Mayoritas ulama menyatakan, ucapan selamat pada hari raya hukumnya boleh. [5]

Al-Hafizh Ibnu Hajar menjelaskan, ucapan selamat (tahniah) secara umum diperbolehkan, karena adanya nikmat, atau terhindar dari suatu musibah, dianalogikan dengan validitas sujud syukur dan ta’ziyah.[6]

Berdasarkan keterangan di atas, maka setiap ucapan baik, apalagi merupakan doa, dalam momen nikmat atau bahkan musibah, adalah sesuatu yang boleh, bahkan baik untuk dilakukan. Dengan kalam lain, ucapan di Idul Fitri yang terbaik memang ‘taqabbalallahu minna wa minkum’. Namun bukan berarti doa dan ucapan lain yang baik itu tidak diperbolehkan.

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Nurcholish Madjid, Prisma Pergeseran Budaya Jawa ke Budaya Indonesia [1]
  2. ^ Lentera Hati: Kisah dan Hikmah kehidupan https://books.google.co.id/books?id=LFLGT-4_OCkC&printsec=copyright&redir_esc=y#v=onepage&q&f=false
  3. ^ Dawawin Asy-Syi’ri Al-’Arabi ‘ala Marri Al-Ushur, 19:182.
  4. ^ Majmu’ Fatawa, 24/253, lihat juga Ibnu Qudamah di Al Mughni, 3/294.
  5. ^ al-Adab al-Syar’iyah, jilid 3, hal. 219
  6. ^ al-Mausu’ah al-Fiqhiyah al-Kuwaitiyah, jilid 14, hal 99-100

Pranala luar[sunting | sunting sumber]