Menyimak

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Assistive Listening Devices 2

Keterampilan berbahasa mencakup empat kegiatan yang meliputi keterampilan menyimak, keterampilan berbicara, keterampilan menulis, dan keterampilan membaca.[1] [2]

Salah satu kegiatan yang paling penting namun sering ditinggalkan adalah kegiatan keterampilan meyimak.[1][2] Kegiatan menyimak saling berhubungan dengan satu sama lain.[2] Menyimak merupakan kegiatan meresepsi, mengolah, serta menginterpretasi suatu permasalahan dengan melibatkanpancaindera seseorang.[2] Menyimak berhubungan dan bermanfaat dengan menyimak dan berbicara, menyimak dan membaca, berbicara dan membaca, serta ekspresi lisan dan ekspresi tulis.[1][1][1][1]

Tahap-tahap menyimak[sunting | sunting sumber]

Kegiatan meyimak memerlukan proses dan tahapan yag perlu diperhatikan dan dilakukan ketika melakukan diskusi, tahapan-tahapan tersebut meliputi: [1][2]

  • Menyimak secara nalar, yang dilakukan secara berkala saat seseorang terlibat dalam suatu pembicaraan[1]
  • Mendengarkan secara intensional, mendengarkan secara dangkal atau sungguh-sungguh untuk memperoe informasi yang jelas[1]
  • Penyerapan absorpsi [1]
  • menyimak sekali-kali, menyimak secara sebentar-sebentar dimna perhatian seseoramg tida terlalu fokus pada topik[1]
  • menyimak asosiatif[1]
  • menyimak secara arif, menemukan pikian atau pendapat pembicara[1]

Faktor-faktor Pengaruh Menyimak[sunting | sunting sumber]

  • Faktor fisik seseorang sangat berpengaruh dalam kegiatan menyimak yang dilakukan oleh seseorang, misalnya seseorang harus berada dalam keadaan sehat dan pada lingkungan yang mendukung ketika melakukan keguatn menyimak.[1]
  • Faktor psikologis sesorang sangat berpengaruh dalam melibatkan sikap-sikap dan sifat-sifat pribadi seseorang ketika melakukan kegiatan menyimak, seperti rasa simpati dan empati, keegoisan, kurang luasnya pandangan, kebosanan, dan sikap yang tidak layak dalam kegiatan tersebut.[1]
  • Faktor Pengalaman pertumbuhan dan perkembangan pengalaman seseorang juga menentukan kesuksesan kegiatan menyimak.[1]
  • Kebiasaan kebiasaan seseorang dapat menentukan kesuksesan kegiatan menyimak karena jika seseorang terbiasa menyimak dengan melompat-lompat atau tidak secara utuh, akan sulit untuk menangkap isi dari informasi yang diberikan.[1]


Rujukan[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b c d e f g h i j k l m n o p q Dr. Henry Guntur Tarigan (1980). Menyimak Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung: Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Bandung. hlm. 1.  Kesalahan pengutipan: Tanda <ref> tidak sah; nama "”rujukan1”" didefinisikan berulang dengan isi berbeda Kesalahan pengutipan: Tanda <ref> tidak sah; nama "”rujukan1”" didefinisikan berulang dengan isi berbeda Kesalahan pengutipan: Tanda <ref> tidak sah; nama "”rujukan1”" didefinisikan berulang dengan isi berbeda Kesalahan pengutipan: Tanda <ref> tidak sah; nama "”rujukan1”" didefinisikan berulang dengan isi berbeda Kesalahan pengutipan: Tanda <ref> tidak sah; nama "”rujukan1”" didefinisikan berulang dengan isi berbeda Kesalahan pengutipan: Tanda <ref> tidak sah; nama "”rujukan1”" didefinisikan berulang dengan isi berbeda Kesalahan pengutipan: Tanda <ref> tidak sah; nama "”rujukan1”" didefinisikan berulang dengan isi berbeda Kesalahan pengutipan: Tanda <ref> tidak sah; nama "”rujukan1”" didefinisikan berulang dengan isi berbeda Kesalahan pengutipan: Tanda <ref> tidak sah; nama "”rujukan1”" didefinisikan berulang dengan isi berbeda Kesalahan pengutipan: Tanda <ref> tidak sah; nama "”rujukan1”" didefinisikan berulang dengan isi berbeda Kesalahan pengutipan: Tanda <ref> tidak sah; nama "”rujukan1”" didefinisikan berulang dengan isi berbeda Kesalahan pengutipan: Tanda <ref> tidak sah; nama "”rujukan1”" didefinisikan berulang dengan isi berbeda Kesalahan pengutipan: Tanda <ref> tidak sah; nama "”rujukan1”" didefinisikan berulang dengan isi berbeda Kesalahan pengutipan: Tanda <ref> tidak sah; nama "”rujukan1”" didefinisikan berulang dengan isi berbeda Kesalahan pengutipan: Tanda <ref> tidak sah; nama "”rujukan1”" didefinisikan berulang dengan isi berbeda Kesalahan pengutipan: Tanda <ref> tidak sah; nama "”rujukan1”" didefinisikan berulang dengan isi berbeda
  2. ^ a b c d e Herry Hermawan (2012). Menyimak Keterampilan Berkomunikasi yang terabaikan. Yogyakarta: Graha Ilmu. hlm. 5.  Kesalahan pengutipan: Tanda <ref> tidak sah; nama "”rujukan2”" didefinisikan berulang dengan isi berbeda Kesalahan pengutipan: Tanda <ref> tidak sah; nama "”rujukan2”" didefinisikan berulang dengan isi berbeda Kesalahan pengutipan: Tanda <ref> tidak sah; nama "”rujukan2”" didefinisikan berulang dengan isi berbeda Kesalahan pengutipan: Tanda <ref> tidak sah; nama "”rujukan2”" didefinisikan berulang dengan isi berbeda