Masjid Al-Ijabah

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Masjid al-Ijabah
Masjid Ijabah Imam Khairul Annas.JPG
Masjid al-Ijabah
Informasi umum
LetakMadinah, Arab Saudi
Deskripsi arsitektur
Peletakan batu pertama622
Spesifikasi
Kubah1
Menara1

Masjid Al-Ijabah (bahasa Arab: مسجد الإجابة‎), Masjid Bani Muawiyah atau Masjid al-Mubahalah adalah sebuah masjid di Madinah, Arab Saudi yang dibangun pada masa Muhammad di lahan milik Muawiyah bin Malik bin 'Auf dari suku al-Aus.

Letak[sunting | sunting sumber]

Masjid Al-Ijabah berjarak 385 meter di utara Baqi’ dan berada di jalan raya As-Sittin. Jarak dengan Masjid Nabawi (setelah perluasan) hanya sekitar 580 meter.[1] Saat ini, wilayah ini termasuk bagian dari Distrik Bani Muawiyah.

Penamaan Masjid[sunting | sunting sumber]

Dalam Shahih Muslim, Amir bin Sa’dari menuturkan dari ayahnya, “Suatu hari Rasulullah datang dari Al-Aliyah. Dia melewati masjid Bani Muawiyah. Dia masuk masjid itu dan salat dua rakaat. Kami pun ikut salat bersama dia. Rasulullah berdoa lama sekali, lalu menuju kami.” “Dia mengatakan, ‘Aku meminta tiga hal kepada Rabbku. Tetapi, hanya dua hal dikabulkan, dan satu hal tidak diperkenankan. Aku meminta agar umatku tidak dibinasakan dengan paceklik. Permintaanku pun dikabulkan. Aku memohon agar umatku tidak ditenggelamkan. Permohonanku pun dikabulkan. Aku mengharap agar permusuhan umatku tidak terjadi antar sesama mereka, tetapi permintaanku tidak dikabulkan.”

Malik meriwayatkan dari Abdullah bin Jabir bin Atik, dia berkata, “Abdullah bin Umar datang kepada kami di Bani Muawiyah—salah satu desa kaum Anshar—dan bertanya, ‘Apakah kalian tahu di mana dulu Rasulullah salat di masjid kalian ini?’ Aku menjawab, ‘Ya.’ Lalu aku menunjuk ke satu arah. Dia kembali bertanya, ‘Apakah engkau tahu tiga hal yang diminta oleh Rasulullah?’ Aku menjawab, ‘Ya, aku tahu. Dia berkata, ‘Beri tahu aku tiga hal itu!’ Aku berkata, ‘Rasulullah berdoa agar tidak dikalahkan oleh musuh dari golongan orang kafir. Dan agar tidak dibinasakan dengan paceklik. Keduanya dikabulkan oleh Allah. Rasulullah juga berdoa agar permusuhan umatnya tidak terjadi antar sesama mereka. Tetapi, permohonan ini tidak dikabulkan.’ Ibnu Umar berkata, ‘Engkau benar. Sehingga peperangan, fitnah, dan perselisihan terus berlangsung hingga Hari Kiamat nanti.[2]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ مسجد الإجابة ( بني معاوية )
  2. ^ Masjid-masjid bersejarah di Madinah, Masjid al-Ijabah

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]